Berbagai penyakit menyerang melon pada musim hujan.

Berbagai penyakit menyerang melon pada musim hujan.

Kini bukan hanya buah melon eksklusif yang langka di pasaran. Buah Cucumis melo konvensional pun langka. Menurut pekebun melon di Bogorejo, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, Faruq Kusumanegara, hujan yang terus-menerus selama 2 bulan terakhir membuat penanaman melon gagal di berbagai daerah. Buah yang dihasilkan pun rasanya hambar sehingga konsumen menolak.

Menurut Faruq kualitas yang hancur menyebabkan harga anjlok. Lihat saja harga satu truk melon hanya Rp6-juta. Padahal, pada kondisi normal, harga melon itu Rp20-juta. Itu pun pedagang yang memilih melon agar dapat menjual kembali. Biasanya dari desa itu, setiap pekan sebanyak 12 ton melon golden diangkut ke Pasar Induk Kramatjati Jakarta dan Bali. Namun, kini volume itu berkurang.

Pada saat yang sama, banjir pun menjadi momok. Produsen PT Tunas Agro Persada yang rugi hingga Rp600-juta akibat 4 ha melon siap panen terendam banjir. Kondisi iklim yang tidak bersahabat menjadi penghalang utama menghasilkan melon berkualitas. Tatang Halim pedagang dan pekebun melon di Muarakarang, Jakarta Utara, mengatakan hampir semua jenis melon langka di pasaran.

Hujan terus-menerus menyebabkan tanaman gagal produksi. Bila lolos dari serangan penyakit, rasanya pun amburadul. “Seperti makan bonggol pisang karena tidak ada rasa,” ujar Tatang Halim. Golden melon yang digadang-gadang rasanya sangat manis, pun tidak lepas dari masalah itu bila perawatan kurang tepat. Menurut Tatang ada tiga penyakit utama yang menyerang melon, yaitu virus, bakteri, dan cendawan.

Pekebun masih bisa mengatasi serangan cendawan. Namun, virus dan bakteri membuat isi kebun habis total. Pekebun sulit mengatasi bakteri karena berdiam di tanah. Virus relatif sulit diatasi bila tidak menanam jenis melon antivirus. Kini memang beredar melon tavi alias melon anti virus seperti aragon, gracia madona, melisa, melani, joston, melindo, erna, mayaro, dan viva.

Baca juga:  Labu Anyar Serbu Pasar

Namun, karena cara budidaya dan kesesuaian lahan tanam belum teruji sehingga hasilnya belum menggembirakan. Melon varietas tahan virus itu rasanya tidak “seindah” penampilannya sehingga tidak mampu menolong anjloknya pasar melon. Membudidayakan tananam anggota famili Cucurbitaceae dalam greenhouse pun tidak menyelesaikan masalah. Menurut Tatang Halim rumah plastik tidak bisa mencegah serangan penyakit, meski dapat mengurangi serangan.

Untuk mengatasi penyakit, Iwan Subakti memanfaatkan trichoderma dan gleiocladium untuk disiramkan ke tanah. Agen hayati itu dimasukkan dalam air bercampur dengan pupuk. Untuk 1 drum 200 l air, dimasukkan 1 kg agen hayati tadi, lalu disramkan ke tanah. (Syah Angkasa)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d