Hortikultura Masa Depan Karawang

Jus kawista menyegarkan

Jus kawista menyegarkan

Bandara dan pelabuhan internasional bakal berdiri di Karawang.  Perkembangan industri sekaligus membuka pasar komoditas hortikultura.

Pohon-pohon kawista itu tumbuh berjajar di sepanjang Sungai Citarum yang melintasi Kabupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat. Buah Limonia acidissima berukuran dua kepalan tangan itu santapan menyegarkan. Wawan Syarif acap memetik buah bertempurung keras itu, memecahnya, menaburi gula pasir di atas daging buahnya, dan menikmati buah kerabat jeruk itu. Wawan Syarif yang kini berusia 45 tahun  menyimpan kenangan itu.  Penangkar bibit buah di Telagasari, Kabupaten Karawang, itu detail menggambarkan kenangan mengonsumsi kawista pada 1970-an.

Sayangnya banyak orang menebangi pohon anggota famili Rutaceae itu. “Kayunya keras bagus untuk bangunan dan tak ada yang mengembangkan,” kata Wawan.  Itulah penyebab menyusutnya populasi kawista di Karawang. Kondisi itu mendorong Wawan memperbanyak pohon kawista sejak 2000. Ia memanfaatkan pohon induk yang tumbuh di Kecamatan Tempuran, Karawang. Kini ia menghasilkan rata-rata 1.000 bibit okulasi kawista per tahun.

 

Pohon kawista berbuah sepanjang tahun

Pohon kawista berbuah sepanjang tahun

Serbakawista

Selain itu petani binaan Wawan Syarif juga menghasilkan 5.000 bibit per tahun. Produksi sekitar 6.000 bibit per bulan itu terserap pasar. Wawan memenuhi permintaan bibit kawista dari berbagai kota seperti Surabaya dan Gresik, Jawa Timur. Selain itu Wawan juga menanam kawista di kantor-kantor kecamatan, perkantoran pemerintah, dan lembaga pendidikan  di Karawang. Ia ingin masyarakat Karawang memiliki penghasilan tambahan  selain dari padi.

“Pulang dari sawah tinggal memunguti buah kawista, seperti memungut telur bebek. Sekarang harga buah tak pernah di bawah Rp5.000,” kata Wawan. Itu harga buah kecil, berbobot 300 gram. Jika berbobot 300 gram, harga buah yang dahulu dikonsumsi putri keraton untuk deodoran itu mencapai Rp10.000—Rp15.000 per buah. Di halaman rumah Wawan tumbuh pohon kawista berumur 17 tahun yang berbuah 3 kali setahun. Produksi mencapai 500 buah per periode pembuahan.

Wawan Syarif kembangkan kawista

Wawan Syarif kembangkan kawista

Dari buah-buah yang sohor dengan sebutan apel gajah itu Wawan mengolah menjadi dodol, sirop, dan jus. Wawan memproduksi 300—500 kemasan dodol per bulan. Setiap kemasan terdiri atas 15 dodol. Banyak permintaan dodol yang belum terlayani. Pedagang di Semarang, Jawa Tengah, misalnya memesan rutin 300 kemasan per bulan. Namun, Wawan tak sanggup melayani karena terbatasnya bahan baku.  Adapun produksi minuman kawista mencapai 500 botol berisi 30 ml.

Alumnus Universitas Pasundan itu membuka gerai yang menjajakan jus kawista. Siti Mar’atusholichah, istri Wawan Syarif,  mengolah satu buah kawista menjadi 4 gelas yang dijual Rp10.000 per gelas. Ibu tiga anak itu menjual 20—50 gelas sehari. Pada bulan puasa penjualan mencapai 100 gelas per hari.

 

Hortikultura

Karawang seluas 1.578 km2 memang strategis karena dilalui jalan penghubung ke Provinsi Jawa Tengah, Jawa Timur, dan kota-kota besar seperti Bandung dan Jakarta. “Dari segi geografis Karawang memang diuntungkan,” kata Kepala Dinas Pertanian, Kehutanan, Perkebunan, dan Peternakan Kabupaten Karawang, Kadarisman. Ia mengatakan hortikutura seperti jamur amat potensial dikembangkan di Karawang. Harap mafhum kabupaten yang berumur  381 tahun pada 14 September 2014  itu memiliki 94.000 hektar sawah.

Benih padi organik

Benih padi organik

Dari luasan itu terdapat 470.000 ton jerami kering per tahun. “Kami memanfaatkan jerami itu untuk budidaya jamur merang sebanyak 2.600 kumbung. Dalam setahun sebuah kumbung bisa menghasilkan 12 kuintal jamur merang,” kata Kadarisman. Karawang menggalakkan budidaya jamur merang yang menghasilkan total 3,9- juta ton jamur merang per tahun. Ia menekankan jerami berasal dari sawah dan kembali lagi ke sawah untuk menjaga kesuburan lahan.

Komoditas hortikultura lain, tanaman hias juga potensial. Di Karawang berdiri PT Benar Flora Utama yang mengelola lebih dari 500 jenis tanaman hias di lahan 28 ha. Sekadar menyebut beberapa spesies tanaman hias tropis yang dikembangkan Benara  adalah palem bismarckia Bismarckia nobilis, palem botol Hyophorbe lagenicaulis, palem waregu Raphis excelca, palem kuning Chrysalidocarpus lutescens, dan sikas Cycas revoluta.

Perusahaan yang berdiri pada 1995 itu mengekspor tanaman hias dalam kontainer-kontainer 20 feet per tahun. Negara tujuan ekspor antara lain Kuwait, Uni Emirat Arab, dan Maladewa. Di Karawang juga berdiri kebun pembesaran anggrek bulan milik PT Eka Karya Graha Flora. Anggrek bulan produksi Eka Karya mengisi pasar ekspor dan domestik.

 

Beras organik dari karawang diminati pasar

Beras organik dari karawang diminati pasar

Potensi organik

Keruan saja, selain komoditas hortikultura, Karawang identik dengan padi. Oleh karena itu bahan pangan tetap menjadi prioritas besar kabupaten itu. Beras organik salah satu potensi besar Kabupaten Karawang yang sohor sebagai lumbung padi nasional itu. Lihat saja Rohmat Sarman, petani di Desa Pasirkaliki, Kecamatan Rawamerta, Karawang, yang menanam padi organik sejak 2008. Rohmat menjual rata-rata 10 ton beras organik ke berbagai kota seperti Pekanbaru, Provinsi Riau dan Lubukpakam, Sumatera Utara. Ia menjual beras organik Rp15.000—Rp17.000 per kg.

Hasrat  Rohmat Sarman menanam padi organik muncul ketika ibunya masuk ruang perawatan intensif akibat penyumbatan pembuluh darah jantung. Ia ingin memberikan makanan sehat berupa beras organik kepada ibunya. Saat itu, pada 2008, para petani di Karawang lazim menanam padi secara konvensional atau anorganik. Itulah sebabnya Rohmat berupaya memurnikan air yang masuk ke sawahnya dari lahan tetangga yang belum mengadopsi budidaya organik.

Rohmat sarman kembangkan beras organik

Rohmat sarman kembangkan beras organik

Di dekat pintu masuk air, ia membuat kolam berisi eceng gondok Eichornia crassipes. Akar tanaman anggota famili Pontederiaceae itu  menyerap racun. Rohmat mengorbankan 5% sawahnya untuk kolam eceng gondok dan saluran di sekeliling sawah. Pada 2008 petani kelahiran 8 Desember 1969 itu menanam padi organik di lahan 4,8 ha. Artinya ia “membuang” lahan rata-rata 500 m2 per ha. Sebagai sumber nutrisi, ia hanya memanfaatkan mikroorganisme lokal. Pupuk dan pestisida kimia ia tinggalkan.

Panen perdana padi organik itu menghapus keraguan ibunya yang khawatir produksi anjlok. Ketika memulai menanam padi organik, sang bunda berpesan, “Jangan lega-lega (jangan terlalu luas, red).” Sang bunda yang kini tetap bugar itu cemas jika produksi padi terjun bebas. Rohmat menuai 6,2 ton gabah kering panen (GKP) per ha—luas penanaman sebetulnya 9.500 m2 karena dikurangi kolam eceng gondok dan saluran air. Produktivitas itu sama dengan panen sebelumnya ketika orangtuanya menanam padi anorganik.

Itulah sebabnya pada tahun berikutnya, Rohmat memperluas penanaman padi organik di lahan 20 ha bekerja sama dengan anggota Kelompok Studi Pertanian Organik (KSPO) yang dipimpinnya. Rohmat yang juga dosen Fakultas Ekonomi Universitas Pasundan itu beralasan memperluas penanaman padi organik. Sebab,  beras lebih sehat karena tanpa residu kimia, ramah lingkungan, menjadikannya petani mandiri, dan harga jual lebih tinggi. Singkat kata, bagi Rohmat  membudidayakan padi organik memiliki banyak keunggulan. “Meski di pasaran pupuk langka, saya tetap bisa menanam padi,” kata Rohmat.

 

Ir Mulyono Machmur MS

Ir Mulyono Machmur MS

Surplus beras

Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan, Kehutanan, dan Peternakan Kabupaten Karawang, Kadarisman, mengatakan luas sawah mencapai 95.000 ha. Dari luasan itu 87.000 ha di antaranya merupakan sawah berigasi teknis. Kadarisman mengatakan produktivitas padi di Karawang berkisar 6—6,8 ton per ha. Produksi padi  pada 2013 mencapai 1.507.000 ton gabah kering panen setara 904.000 ton beras. Itu  meningkat 3% dibanding produksi pada 2012. Sementara penduduk kabupaten di timur Jakarta itu mencapai 2.124.565 jiwa. Saat ini konsumsi beras masyarakat Indonesia 139 kilogram per kapita per tahun.

Artinya kebutuhan beras Karawang hanya 295.300 ton per tahun. Karawang surplus beras hingga 608.700 ton per tahun. Itulah sebabnya kabupaten yang pada 14 September 2014  berumur  381 tahun itu berperan penting dalam kestabilan pangan nasional.

Tokoh masyarakat Karawang, Ir Mulyono Machmur MS, mengatakan bahwa daerah itu bergerak menjadi wilayah industri dan kota jasa. Pemerintah berencana membangun pelabuhan dan bandara internasional di Karawang. Pada 2013 Karawang menjadi menyerap investasi tertinggi di Provinsi Jawa Barat. Mulyono mengatakan perkembangan itu menjadi pasar produk hortikultura seperti buah, sayuran, dan tanaman hias.

Yoyo sutaryo

Yoyo sutaryo

Pengembangan produk hortikultura itu juga tengah digalakkan oleh Ketua Perhimpunan Penyuluh Pertanian Indonesia (Perhiptani) Karawang, Yoyo Sutaryo SPKP. Yoyo dan anggota Perhiptani sedang mempersiapkan kebun contoh produksi aneka buah dan sayuran hidroponik. Kebun itu kelak menjadi pusat sosialisasi pengembangan buah dan hidroponik kepada para petani.

Namun, di sisi lain perkembangan industri juga berarti alih fungsi lahan pertanian sulit terelakkan. Sawah di Karawang yang beralih fungsi pada 2012 mencapai 180 ha. Kadarisman mengatakan saat ini pemerintah tengah mengkaji berapa sebetulnya luas lahan pertanian yang harus dipertahankan di Karawang sampai 20 tahun kedepan. Tujuannya agar surplus beras tetap lestari. Oleh karena itu inovasi teknologi seperti sistem budiidaya padi intensif (SRI) dan jajar manten  amat penting.

Selain itu peran penyuluh  amat penting agar ketahanan pangan tetap terjaga. Dinas Pertanian, Kehutanan,  Perkebunanan, dan Peternakan antara lain membangun cyber extention alias penyuluhan di jagat maya.  “Saya mengharapkan bahwa ketika petani menemukan masalah, PPL (petugas penyuluh lapangan, red) langsung mencari informasinya di internet,” kata Kadarisman. Dengan beragam cara itulah Karawang bukan hanya menjadi lumbung padi, tetapi juga sentra hortikultura. Itulah masa depan wilayah yang dahulu berawa-rawa—Karawang berasal dari kata ka-rawa-an alias daerah berawa. (Sardi Duryatmo/Peliput: Dian Adijaya Susanto)

 

FOTO:

–              Jus kawista menyegarkan

–              Pohon kawista berbuah sepanjang tahun

–              PT benar flora utama mengelola 500 jenis tanaman hias

–              Wawan Syarif kembangkan kawista

–              Benih padi organik

–              Rohmat sarman kembangkan beras organik

–              Beras organik dari karawang diminati pasar

–              Yoyo sutaryo

–              Ir Mulyono Machmur MS

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d