Kujang 2 Fishing Club memiliki 86 lapak

Kujang 2 Fishing Club memiliki 86 lapak

Pemancingan Kujang 2 Fishing Club menggunakan air limbah rumahtangga.

Kolam pemancingan berukuran 150 m x 50 m x 1,2 m di Kompleks Brigif 15, Kota Cimahi, Jawa Barat, itu memanfaatkan air limbah rumahtangga. “Kami sengaja memanfaatkan air tidak terpakai,” ujar Ahdar Kusnandar, koordinator lapangan pemancingan Kujang 2. Kusnandar menampung air itu terlebih dahulu di kolam berukuran 50 m x 50 m x 4 m. Tujuannya untuk meminimalisir kotoran dan logam berbahaya.

Di kolam penampungan sementara, Kusnandar menanam eceng gondok Eichornia crassipes. Tanaman air anggota famili Pontederiacaeae itu menyerap polutan logam berat dan menetralisir air. Selain itu ia pun menggunakan kerikil setinggi 60 cm sebagai dasar kolam untuk menyaring kotoran dan sampah. Untuk mencegah terjadinya penumpukan kotoran, kerikil rutin dibersihkan setiap   6 bulan.

Kolam penampungan air ditanami eceng gondok untuk mengurangi polutan pada air

Kolam penampungan air ditanami eceng gondok untuk mengurangi polutan pada air

Semigalatama

Menurut Ade Sunarma, peneliti di Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar, Sukabumi, Jawa Barat, penggunaan eceng gondok dan kerikil di kolam peanampungan memang tepat. “Kerikil menjadi tempat menempel biobakteri sementara eceng gondok menangkap polutan dan mengurainya,” ujarnya.

Untuk memastikan air terpurifikasi sempurna, sebaiknya air di kolam penampungan tidak langsung dialirkan ke pemancingan. “Air perlu didiamkan minimal 1 hari agar eceng gondok dan kerikil bekerja maksimal,” ujarnya. Kujang 2 sudah menerapkan metode itu sejak awal pembuatan pemancingan. Air limbah rumahtangga yang paling berbahaya berasal dari sabun cuci. Jika air kolam terlihat tidak berbusa artinya purifikasi berjalan baik.

Air hasil saringan mengalir ke kolam pemancingan melalui dua pipa pemasukan (inlet) berukuran 8 inci. Air akan memancar melalui 70 pipa berukuran 5 inci yang diletakkan di tengah kolam. Untuk pembuangan air saat pengurasan, Kujang 2 menggunakan 4 pipa pengeluaran (outlet) berukuran 6 inci. Berkat perlakuan khusus itu, air di kolam pemancingan yang beroperasi sejak Januari 2012 itu sama sekali tidak mengeluarkan bau menyengat meskipun berasal dari limbah.

Memasukkan ikan dibagi menjadi 2 tahap dalam setiap lomba: 60% sebelum lomba dimulai dan 40% pada pertengahan lomba

Memasukkan ikan dibagi menjadi 2 tahap dalam setiap lomba: 60% sebelum lomba dimulai dan 40% pada pertengahan lomba

Menurut Ade Sunarma salah satu indikator keamanan air kolam adalah nafsu makan ikan. “Jika nafsu makannya baik, artinya ikan nyaman dan oksigen yang ada mencukupi kebutuhannya,” kata Ade. Penggunaan air limbah rumahtangga juga mempengaruhi sistem mancing yang diberlakukan Kujang 2. “Kami menggunakan sistem semigalatama untuk mengurangi risiko ikan mati,” ujar Kusnandar. Dengan menggunakan sistem semigalatama pemancing dapat membawa pulang ikan yang mereka tangkap. Artinya, ikan hanya tinggal sesaat di kolam.

Baca juga:  Pisang Perbaiki Jelantah

Hal itu tentu berbeda dengan kolam pemancingan galatama yang rata-rata menggunakan air bersih atau air irigasi. Itu karena ikan akan dilepaskan kembali ke kolam setelah dipancing lalu ditimbang. Agar ikan mampu bertahan hidup dalam jangka waktu yang lama, air yang digunakan pun harus memenuhi kriteria habitat ikan itu sendiri.

Nurirfansyah (kiri) dan Ahdar Kusnandar memiliki prinsip jujur, tegas, dan disiplin untuk memajukan pemancingan Kujang 2

Nurirfansyah (kiri) dan Ahdar Kusnandar memiliki prinsip jujur, tegas, dan disiplin untuk memajukan pemancingan Kujang 2

Terbesar

Pemancingan yang diasuh oleh koperasi Primkop Brigif 15 itu juga menjadi fenomenal karena memiliki 86 lapak. “Sepengetahuan saya ini adalah kolam pemancingan semigalatama terbesar,” ujar Al Saban, pengunjung Kujang 2. Agus Subarnas, pehobi mancing semigalatama di Bandung, Jawa Barat, berpendapat serupa. “Umumnya pemancingan semigalatama hanya memiliki 50-70 lapak,” kata Agus.

Menurut Kapten Infanteri Nurirfansyah, Manajer Kujang 2, kapasitas kolam itu sebenarnya 132 lapak. Namun, demi kenyamanan pehobi, ukuran setiap lapak diperluas menjadi 3,5 m sehingga jumlahnya hanya 86 lapak. Untuk memenuhi kebutuhan ikan, Kujang 2 menyediakan setidaknya 700 kg ikan setiap lomba harian.

Pada lomba besar yang diselenggarakan 3 bulan sekali, Kujang 2 menyediakan 2,5 ton ikan. Harga tiketnya pun tentu berbeda, yaitu Rp5-juta. Sementara lomba harian yang rutin diadakan pada Rabu dan Ahad tiketnya hanya Rp300.000. Pemasukan ikan pada setiap lomba dibagi menjadi 2 tahap untuk memacu semangat pemancing melihat ikan yang baru masuk.

Dalam setiap lomba, ikan yang tersisa umumnya berjumlah 15-20% dari total ikan yang dimasukkan. “Ikan tersebut akan dibagi 2 antara panitia dan peserta,” kata Nurirfansyah. Jenis ikan yang dipilih yaitu ikan mas Cyprinus carpio dengan ukuran 125-300 gram per ekor. Ikan-ikan itu berasal dari peternak di Cirata dan Jatiluhur, Jawa Barat. Untuk menjaga kondisi ikan, pembelian dilakukan sehari sebelum pelaksanaan lomba. Panitia lomba menempatkan ikan di 5 kolam penampungan masing-masing berukuran 4 m x 6 m x 1 m.

Al Saban alias Koboy Negong selalu mengikuti lomba yang diadakan Kujang 2

Al Saban alias Koboy Negong selalu mengikuti lomba yang diadakan Kujang 2

Agar ikan tidak terjangkit penyakit, Kusnandar memberikan 20 kg garam dan 2 botol kalium permanganat (PK) saat ikan datang. Dengan perlakuan seperti itu, ikan yang mati hanya 3-5 kg dalam setiap lomba. Pengurasan kolam dilakukan setiap kegiatan mancing selesai dengan membuang 25% air yang disertai dengan pemberian kapur untuk memberantas hama dan penyakit.

Baca juga:  Burung Mirip Bunga

Setiap pekan, Kujang 2 menganggarkan biaya perawatan kolam dan ikan Rp400.000. Kepuasan para pemancing di Kujang 2 tidak hanya karena kualitas ikan dan air, tapi juga karena ketegasan aturan yang berlaku. Pengelola tanpa pandang bulu, mendiskualifikasi peserta yang melanggar peraturan lomba. Untuk menjaga kepercayaan, pemancing pun selalu dilibatkan dalam setiap kegiatan seperti penimbangan ikan datang, ikan sisa, dan ikan mati.

“Saya senang mancing di sini karena aturannya tegas, nafsu makan ikan bagus, dan kolamnya luas,” ujar Al Saban, pehobi dari Cimahi. Pria yang akrab disapa Koboy Negong itu mengaku tidak pernah memancing di tempat lain setelah mengetahui Kujang 2. Keuletan Kusnandar dan 7 rekannya dalam menjaga kualitas ikan maupun air membuahkan hasil. Saat ini Kujang 2 memiliki 40 pemancing tetap yang tidak pernah melewatkan setiap lomba yang diadakan. (Rizky Fadhilah)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d