Para pehobi semula sekadar gemar memelihara kucing ras, demi mengusir stres dan penat. Hobi mereka kini berubah menjadi bisnis.
558_ 13-10Ketika menetap di Ciledug, Kotamadya Tangerang, Provinsi Banten, Abu Saiful akrab dengan suasana macet. Begitu pindah ke Ciracas, Jakarta Timur, kemacetan tidak berkurang. Hampir setiap hari Abu terjebak macet setiap kali berangkat dan pulang kerja. Kemacetan ibukota itu membuat Abu kerap merasa stres. “Oleh sebab itu saya membutuhkan pelepas penat,” tutur Saiful.

Alumnus sebuah universitas di kawasan Asia barat itu memilih kucing sebagai teman pelepas penat untuk meredakan stres. Pada 2012 Abu membeli sepasang kucing jenis savannah. Kucing asal Amerika Serikat itu hasil persilangan antara kucing serval dan siam. Serval adalah kucing liar asal Afrika berukuran sedang yang bercorak bulu mirip citah, terutama di bagian wajah.

Berkembang biak

Endra Hermawan semula hanya merawat kucing di kos, kini punya cattery sendiri khusus menangkarkan maine coon.

Endra Hermawan semula hanya merawat kucing di kos, kini punya cattery sendiri khusus menangkarkan maine coon.

Abu membeli seekor savannah dari Negeri Abang Sam dengan harga fantastis, yakni USD10.500 setara Rp136-juta (kurs US$1 = Rp13.000). Ia langsung kepincut Felis silvestris itu setelah melihat sosoknya di sebuah situs di dunia maya. “Saya suka posturnya yang langsing, berotot, dengan motif bulu seperti citah,” katanya. Namum, meski berpenampilan sangar, savannah berkarakter bersahabat, mau dipegang, penurut, dan suka digendong.

Setelah savannah tiba di tanahair, karakter hewan anggota famili Felidae itu ternyata cocok dengan yang dideskripsikan si penjual. Pada 2013, ia membeli sepasang lagi dengan harga USD12.000 atau Rp156-juta. Kini Abu Saiful memiliki 2 induk savannah jantan dan 5 induk betina. Abu juga menambah koleksi kucingnya dengan membeli bengal. Karakter kucing asal Kalifornia, Amerika Serikat, itu sepintas mirip savannah.

Savannah di Muiza Cattery. Abu Saiful semula memelihara savannah untuk hobi. Kini ia juga menangkarkan savannah.

Savannah di Muiza Cattery. Abu Saiful semula memelihara savannah untuk hobi. Kini ia juga menangkarkan savannah.

“Tampangnya liar, tapi perilakunya kalem dan jinak,” ujarnya. Di kediaman Abu savannah dan bengal berkembang biak. Dari setiap induk menghasilkan 3—5 anakan setiap 6 bulan. Bertambahnya jumlah populasi akhirnya mendorong Abu membangun cattery di rumahnya. Ia juga mendaftarkan cattery miliknya ke organisasi kucing seperti Indonesian Cat Association (ICA), The International Cat Association (TICA), dan Federation Internationale Feline (FIFe) dengan nama Muiza Cattery.

Ia mengizinkan para pehobi untuk mengadopsi (istilah di kalangan para pehobi untuk memelihara kucing, tentu dengan biaya tertentu). Anakan siap adopsi pada umur 4 bulan ke atas, sudah mendapatkan vaksin lengkap, dan keping atau chip. Biaya adopsi seekor anakan savannah berkisar Rp20-juta—Rp70-juta. Kisaran biaya adopsi tergantung pada tingkat generasi (F) dan kualitas anakan.

Adapun biaya adopsi anakan bengal, relatif murah dibandingkan dengan adopsi anakan savannah, yakni berkisar Rp12-juta—Rp20-juta untuk anakan bertipe warna brown spotted dan brown marbles. Sementara biaya adopsi anakan bertipe warna snow alias putih, seperti seal lynx, mink, dan sephia, mencapai Rp18-juta—Rp30-juta. Kisaran biaya itu juga tergantung kualitas anakan.

Abu menawarkan anakan yang siap adopsi di media sosial dan situs pribadi. Para pehobi ternyata menggemari anakan savannah dan bengal hasil tangkaran Abu. Setiap kali menawarkan anakan yang siap adopsi, langsung habis diadopsi pehobi. Padahal, ia sudah menyeleksi para calon pengadopsi. “Yang mengadopsi harus benar-benar siap untuk memeliharanya,” ujarnya.

Baca juga:  Anto Widi: Omzet Bisnis Yakon Rp20-Juta Sebulan

Dari hobi

Muhammad Taufiq Hermawan, pemilik Hermawan Cattery, penangkar kucing di Pasuruan, Jawa Timur.

Muhammad Taufiq Hermawan, pemilik Hermawan Cattery, penangkar kucing di Pasuruan, Jawa Timur.

Nun di Yogyakarta, pasangan Ulfa Juliaty Herman dan Endra Hermawan semula juga hanya sekadar hobi memelihara kucing. Pada 2011, pasangan itu memperoleh seekor maine coon jantan berumur 3 tahun dari teman adiknya Endra. Setahun berselang mereka memperoleh maine coon betina berumur setahun. Tak berapa lama si betina bunting dan melahirkan 6 kitten.

Sayang, 2 di antaranya mati akibat sakit. Berikutnya sang induk juga mati akibat rahimnya terlipat pascamelahirkan. Kematian induk betina pertamanya itu tak membuat mereka putus asa. Endra membeli lagi maine coon betina umur 8—9 bulan berkualitas kontes dari sebuah cattery di Jakarta dengan harga Rp30-juta. Ia membeli kucing kualitas show karena sedang ketagihan mengikuti cat show.

Setelah kawin dan bunting, induk itu melahirkan 5 kitten. Namun, seorang rekan menyayangkan kitten dari Endra dan Ulfa berkualitas bagus, tapi nonpedigree lantaran tidak lahir dari cattery terdaftar. Sejak itu akhirnya Endra mendirikan cattery dengan nama Endefa Maine Coon Cattery dan mendaftarkannya ke organisasi Cat Fanciers Association (CFA) dan ICA. Lama-kelamaan jumlah kucing milik Endra terus bertambah.

“Kalau hanya beberapa kucing memang lucu, tapi waktu itu sampai ada 20 kucing. Ukurannya pun besar-besar. Semua minta perhatian, perawatan, dan harus menyiapkan dana untuk berjaga-jaga kalau ada yang sakit. Saat itulah kami mulai berpikir untuk mencari adopter (pehobi yang akan mengadopsi, red),” kata Endra. Ia juga kewalahan lantaran harus mengurus bisnisnya yang lain. Apalagi Ulfa juga berwiraswasta.

Meski melepas kitten untuk adopsi menjadi keharusan demi kelangsungan hobi mereka, pasangan muda itu tidak sembarangan menerima calon pengadopsi. “Paling tidak saya harus tahu alamat dan rumahnya seperti apa. Saya juga harus tahu kemampuan finansial mereka untuk memelihara maine coon,” kata Endra. Harap mafhum, biaya adopsi untuk kitten hasil tangkaran Endefa tergolong premium.

Kini mulai banyak yang menangkarkan kucing ras bengal.

Kini mulai banyak yang menangkarkan kucing ras bengal.

Itu karena mereka hanya melepas kitten berkualitas showbreed yang nantinya dapat menjadi induk berkualitas show. Biaya adopsi kitten lepas sapih berumur 4—10 bulan mencapai Rp10-juta—Rp15-juta per ekor. Sementara biaya kucing dewasa siap kawin minimal Rp20-juta. Setelah yakin dengan kemampuan calon pengadopsi, barulah Endra mengizinkan membawa kitten dari Endefa.

Meski belum genap 5 tahun menjalankan cattery, kualitas kitten dari Endefa diakui pembeli mancanegara. Endra 3 kali mengirim kitten ke pehobi di Brunei Darussalam dan 2 kali ke Malaysia. Pehobi dari mancanegara itu mengeluarkan biaya adopsi hingga US$3.000 atau Rp30-juta (kurs USD1 = Rp10.000) untuk kitten jantan umur 6 bulan. Biaya itu belum termasuk biaya perizinan sekitar Rp5-juta.

Tren meningkat

Apan Sopiandi, pemilik Dentin Cattery di Surabaya, Jawa Timur, rela menjual tiga sepeda motor klasik koleksinya demi membangun cattery.

Apan Sopiandi, pemilik Dentin Cattery di Surabaya, Jawa Timur, rela menjual tiga sepeda motor klasik koleksinya demi membangun cattery.

Menurut pakar kucing di Kota Bekasi, Jawa Barat, Cacang Effendi, dalam 5 tahun terakhir jumlah cattery di tanahair memang terus meningkat. “Awalnya mereka hanya sekadar hobi. Karena berkembang biak, akhirnya membangun cattery dan mulai melepas anakan yang dihasilkan untuk diadopsi,” kata Cacang. Menurut bendahara ICA Jakarta, Eka Sutrisna, jumlah cattery di Jakarta bertambah 2—5 cattery setiap bulan.

Baca juga:  Nyaman Dalam Tabung

“Hingga saat ini jumlah cattery bersertifikat ICA di Jakarta sekitar 100 cattery,” ujar Eka. Beberapa pehobi mendirikan cattery sebagai usaha sampingan. Contohnya Olivia Bertin. Selain mendapat penghasilan dari bidang musik, perempuan asal Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, itu rata-rata melepas seekor anakan maine coon berumur 3 bulan untuk diadopsi.

Biaya adopsi Rp9-juta—Rp11-juta, tergantung kualitas anakan. Pemilik Y-Live Cattery itu menghasilkan anakan dari sepasang induk maine coon yang ia rawat sejak 2013. Cacang menuturkan bertambahnya jumlah cattery dampak dari meningkatnya jumlah pehobi kucing. Itu terlihat dari jumlah penggemar kucing yang menjadi anggota grup Forum Diskusi Sukses Berternak Kucing Ras (SBKR) di media sosial hampir 36.000 anggota.

“Padahal grup itu saya buat baru 4 tahun lalu,” tutur presiden Cat Fanciers Society of Indonesia (CFSI) itu. Menurut Cacang pehobi kucing kini terbagi menjadi beberapa tingkatan. “Ada pehobi yang membeli kucing hanya untuk sebagai hewan peliharaan atau pet,” ujarnya. Pehobi seperti itu biasanya tidak terlalu mementingkan jenis dan asal-usul kucing yang diadopsi.

Cacang Effendi, pakar kucing di Bekasi, Jawa Barat, tren kucing meningkat dalam 5 tahun terakhir.

Cacang Effendi, pakar kucing di Bekasi, Jawa Barat, tren kucing meningkat dalam 5 tahun terakhir.

Cacang mengatakan bahwa pehobi tipe itu, “Yang penting kucingnya lucu, kalem, dan mudah untuk dirawat.” Mereka juga menginginkan kucing berbiaya adopsi lebih terjangkau, yakni berkisar Rp3-juta—Rp5-juta per ekor. Ada juga pehobi yang baru mulai mendirikan cattery. “Mereka biasanya mengadopsi kucing untuk indukan, tapi kualitasnya belum memenuhi kriteria yang layak untuk mengikuti kontes,” tutur Cacang.

Pemilik Chandra Cattery itu menuturkan, ada juga pehobi yang langsung membeli calon indukan berkualitas show. Contohnya Jimmy Terisno yang baru memelihara kucing jenis british short hair pada Oktober 2015. Pehobi asal Pluit, Jakarta Utara, itu mendatangkan seekor british short hair berkualitas kontes berumur 1 tahun dari Rusia.

Untuk mendatangkan kucing berbulu pendek dan berpipi gemuk itu Jimmy merogoh kocek hingga Rp50-juta rupiah. Pada kontes The 17th National Cat Show di Grand Mall Bekasi, Jawa Barat, Urian Jewel Sapphire—nama kucing ucing kesayangan Jimmy—sukses memborong 5 gelar sekaligus, yaitu best variety, best male cetegory III, best adult category III, best in category III, dan yang paling bergengsi adalah gelar best of best (BOB). “Pada kontes itu pertama kalinya kucing berbulu pendek meraih BOB,” tuturnya.

Marak kontes
Indikator lain tren memelihara kucing adalah frekuensi kontes kucing juga semakin meningkat. Selain kontes yang diselenggarakan oleh organisasi penggemar kucing seperti Indonesian Cat Assosiation (ICA) dan Cat Fanciers Society of Indonesia (CFSI), banyak juga kontes-kontes yang diselenggarakan komunitas penggemar kucing di berbagai kota. “Saat ini kota-kota kecil juga banyak yang menyelenggarakan kontes kucing. Pesertanya pun banyak, bisa lebih dari 100 peserta,” ujarnya.

Cacang sampai kewalahan melayani permintaan panitia kontes yang memintanya menjadi juri. “Hampir setiap bulan ada kontes kucing,” ujar Presiden Cat Fanciers Society of Indonesia (CFSI) itu. Itulah sebabnya kini Cacang tengah mempersiapkan para juri baru dengan memberikan pelatihan teknik penjurian kepada para calon juri. Menurut Cacang dalam 10 tahun terakhir ras-ras kucing baru juga berdatangan ke tanahair.

Baca juga:  Kunyit Setia

Dalam kurun 2005—2016, lebih dari 10 ras baru selain persia yang beredar di kalangan pehobi. Di antara ras-ras baru itu, beberapa di antaranya menjadi idola baru di kalangan para pehobi. Contohnya maine coon yang Cacang perkenalkan pertama kali pada 2007. “Saat ini jumlah penangkar yang khusus menangkarkan maine coon semakin banyak. Dalam kontes pun jumlah peserta maine coon hampir sebanding dengan persia,” ujarnya.

Bengal kini juga semakin populer. Beberapa cattery seperti Sweet Robo Cattery di Yogyakarta bahkan khusus menangkarkan bengal. Menurut Rio Boaz Wibowo, pemilik cattery, peminat bengal kini mulai banyak. “Orang yang inden banyak sampai saya tolak-tolak. Kadang yang inden sampai jengkel dan batal karena saya tidak mau memacu kucing untuk beranak,” katanya.

Itu karena Rio membatasi frekuensi kelahiran sang induk maksimal 2 kali melahirkan dalam setahun. Terkadang hanya sekali jika melihat kondisi induk belum siap untuk kawin lagi. “Saya paling enggan memacu kucing beranak. Jadi mungkin induk hanya melahirkan 2 tahun 3 kali,” kata Rio.

Jenis baru

Rumah mewah untuk perawatan kucing milik Ray Mananggar, pemilik Hurayra Cattery di Kota Bandung, Jawa Barat.

Rumah mewah untuk perawatan kucing milik Ray Mananggar, pemilik Hurayra Cattery di Kota Bandung, Jawa Barat.

Kini para pehobi kucing tersebar di kota-kota lain di luar Pulau Jawa. Nun di Pontianak, Kalimantan Barat, ada Hendy Arisono yang menangkarkan kucing khusus persia. Ia mempunyai 2 induk jantan dan 7 betina.

Menurut Apan Sopiandi, pemilik Dentin Cattery di Surabaya, Jawa Timur, banyak pengadopsi maine coon hasil tangkarannya yang berasal dari luar Pulau Jawa, seperti Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Selatan. Menurut Olivia saat ini jarak bukan lagi hambatan bagi para cattery untuk mengirimkan kucing ke para pengadopsi di berbagai kota.

“Kini sudah banyak perusahaan jasa pengiriman khusus hewan peliharaan ke berbagai kota di Indonesia, bahkan hingga ke luar negari,” ujarnya. Apa yang menyebabkan jumlah penggemar kucing meningkat? Menurut psikolog di Kota Bogor, Jawa Barat, Ika Soraya SPsi MS, memelihara hewan peliharaan berdampak positif bagi kondisi psikologis seseorang karena dapat menimbulkan rasa senang.

“Efek itu dapat meredakan stres warga perkotaan yang terlalu sibuk bekerja atau setiap hari terjebak macet,” tuturnya. Cacang menuturkan, kucing menjadi pilihan untuk dijadikan hewan peliharaan karena disukai semua kalangan. Apalagi dalam agama Islam, Nabi Muhammad SAW juga memiliki kucing kesayangan bernama muiza.

Kendala
Namun, menggeluti penangkaran kucing bukan berarti tanpa hambatan. “Perlu modal besar,” ujar Apan Sopiandi. Demi mendirikan cattery, ia sampai menjual 3 sepeda motor klasik koleksinya. Dari hasil penjualan itu ia mengumpulkan modal hingga Rp300-juta. Modal itu ia gunakan untuk membeli indukan maine coon, membangun fasilitas cattery, dan biaya perawatan. “Jika hendak mendirikan cattery harus bersiap-siap hidupnya berubah,” tutur Paramita Suri, pemilik Prabu Cattery di Kramatjati, Jakarta Timur.

Jika ada induk yang melahirkan, Endra dan Ulfa sampai bergantian untuk menjaganya. “Saya jaga sore sampai malam, Ulfa dari pagi sampai sore,” kata Endra. Penyakit masih menjadi ancaman utama para penangkar kucing (baca: “Kendala Rawat Kucing Ras”, halaman 14—15). Meski sarat kendala, para penangkar tetap bertahan. Beberapa penangkar bahkan memperbesar cattery miliknya.

Pemilik Hurayra Cattery di Batununggal, Kota Bandung, Ray Mananggar, membangun rumah mewah khusus untuk kucing-kucing kesayangannya. Cacang juga tengah membangun ruang perawatan kucing baru di lantai dua gedung utama. Padahal, Chandra Cattery milik Cacang sudah menampung sekitar 150 kucing berbagai jenis. Ia juga tengah mempersiapkan ras-ras jenis baru yang akan didatangkan ke tanahair. Semua itu ia persiapkan demi melayani para pencinta kucing di tanahair. (Imam Wiguna/Peliput: Andari Titisari, Argohartono Arie Raharjo, Bondan Setyawan, Muhammad Awaluddin, dan Muhammad Fajar Ramadhan)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d