Hiu Anyar 1

Menurut pakar hiu dari Pusat Penelitian Oseanografi (P2O), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Fahmi M.Phil, terdapat lebih dari 110 jenis hiu yang hidup di perairan Indonesia. Kemungkinan jumlah itu terus bertambah seiring berlanjutnya penelitian tentang ikan bertulang rawan itu. Itu terbukti pada 2015 ketika Fahmi dan William T. White dari Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation (CSIRO) Oceans & Atmosphere Flagship, National Research Collections of Australia menemukan hiu tokek Atelomycterus erdmanni.

Nama hiu baru itu mengacu pada nama peneliti dari organisasi nirlaba bidang lingkungan asal Amerika Serikat, Conservation International, Mark V. Erdmann, yang menemukan dan mengumpulkan spesimen hiu tokek erdmanni kali pertama. Selain Selat Lembeh, Kota Bitung, Sulawesi Utara, habitat hiu tokek baru itu juga meliputi Pulau Bunaken (Manado, Sulawesi Utara) dan Ambon (Maluku). Berdasarkan penelitian Fahmi dan William, hiu tokek erdmanni berbeda dari spesies serupa yakni hiu tokek bali A. baliensis dan hiu tokek A. marmoratus.

Hiu tokek Atelomycterus erdmann anyar yang ditemukan pada 2015 di Selat Lembeh, Kota Bitung, Sulawesi Utara.

Hiu tokek Atelomycterus erdmann anyar yang ditemukan pada 2015 di Selat Lembeh, Kota Bitung, Sulawesi Utara.

Riset yang termaktub dalam Journal of the Ocean Science Foundation 2015 Volume 14 itu mengungkapkan perbedaan antara hiu tokek erdmanni dan hiu tokek bali yakni adanya bintik putih di tubuh bagian atas. Selain itu sirip dorsal pertama hiu tokek erdmanni lebih besar ketimbang milik hiu tokek bali. Sementara pembeda hiu tokek erdmanni dengan hiu tokek marmoratus antara lain memiliki lebih sedikit bintik putih dan juga sirip dorsal pertama yang lebih besar.

Hasil tes deoxyribonucleic acid (DNA) atau asam deoksiribonukleat pun meneguhkan hiu tokek erdmanni sebagai spesies baru yang berbeda dari dua kerabat dekatnya. Selain hiu tokek erdmanni, pada 2013 Gerald R. Allen dari Western Australian Museum, Mark V. Erdmann (Conservation International Marine Program), dan Christine L. Dudgeon (University of Queensland) menemukan hiu berjalan baru Hemiscyllium halmahera. Penemuan hiu berjalan anyar itu cukup mengejutkan lantaran hiu sejenis sebelumnya lazim ditemukan di kawasan Papua dan Australia. Sementara Erdmann menemukan hiu berjalan halmahera saat menyelam di perairan Pulau Ternate, Maluku Utara.

Baca juga:  Siasat Logan Merebut Pasar

Hasil pengamatan yang termuat dalam International Journal of Ichthyology 2013 itu juga menyebutkan habitat lain hiu berjalan antara lain pulau-pulau di bagian barat Pulau Halmahera dan Teluk Weda (bagian selatan Pulau Halmahera). Penyebaran hiu berjalan itu terbatas lantaran kemampuan berenang yang rendah. Disebut hiu berjalan karena biota laut itu meletakkan siripnya di terumbu karang untuk mencari makan sehingga terlihat seperti berjalan. Perbedaan signifikan antara hiu berjalan halmahera dengan hiu sejenis antara lain pola warna dengan banyak klaster yang terdiri atas 2—3 bintik poligonal gelap dan sepasang bintik besar di bagian ventral kepala. (Riefza Vebriansyah)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments