Semula Kelurahan Pengadegan, Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan, kumuh dan miskin (kumis). Kini wilayah itu tampak asri, nyaman, dan menguntungkan bagi warganya.

Kampung Hidroponik di RT 03/RW 01.

Kampung Hidroponik di RT 03/RW 01.

Gang-gang di Pengadegan, Jakarta Selatan, tak seberapa lebar, hanya 2 meter. Semula gang-gang itu tampak kumuh dan kotor. Pagar tembok milik warga memberi kesan kering dan kasar. Namun, setahun terakhir gang-gang di Pengadegan itu hijau menyegarkan. Di kiri dan kanan gang berdiri instalasi hidroponik. Pakcoy, bayam, kangkung siap panen tumbuh di instalasi itu. Lurah Pengadegan, Muhammad Mursid, SIP. MM.,mengatakan Kelurahan Pengadegan sebagai labolatorium edukasi untuk masyarakat.

Penanaman terpadu komoditas sayuran dan perikanan merupakan upaya ketahanan pangan bagi masyarakat sesuai usulan Gubernur DKI Jakarta. Sebagai langkah awal mereka menyosialisasikan pentingnya hidup selaras dengan alam. Jajaran kelurahan, Palang Merah Indonesia (PMI), dan Siaga Berbasis Masyarakat (Sibat), membantu masyarakat untuk membenahi lingkungan yang terdiri atas 8 rukun warga (RW) dan 84 rukun tetangga (RT) itu.

Hidroponik

Sosialisasi yang dilakukan mengenai cara penanaman, serta keuntungan jika menerapkan teknologi hidroponik. Menurut Mursid membangun kampung hidroponik harus dimulai dari diri sendiri. Karena saat ini tidak bisa hanya memberikan arahan yang diperlukan itu bukti nyata. Jadi setelah adanya bukti, masyarakat akan mencontoh dan melakukan dengan sendirinya setelah diberikan penyuluhan dan edukasi.

Lurah Kelurahan Pengadegan, Muhammad Mursid, SIP. MM.

Lurah Kelurahan Pengadegan, Muhammad Mursid, SIP. MM.

Masyarakat akhirnya menerapkan inovasi hidroponik itu. Mereka membudidayakan beragam sayuran di halaman dan pinggiran gang. Keruan saja gang-gang di Pengadegan pun berubah hijau. Sejauh ini warga Kelurahan Pengadegan bisa rutin memanen beragam sayuran. Satu rangkaian media hidroponik minimal menghasilkan 4 kg sayuran seperti kangkung, caisim, sawi, dan pakcoi. “Apalagi kalau kangkung, dalam waktu 2—3 minggu saja kangkung sudah bisa dipanen,” ujar Sekretaris Kelurahan Pangadegan, Turniwati, S.KM.

Baca juga:  Potret Pasar Jeruk

Masyarakat Pengadegan mengonsumsi sendiri hasil panen sayuran. Sebagian dijual kepada pedagang sayuran keliling. Uang hasil panen digunakan untuk membeli benih sayuran dan ikan. Masyarakat merasakan dampak positif dan keuntungan berhidroponik. Selain mengolah menjadi sayuran, mereka juga memanfaatkan pakcoi sebagai bahan baku es krim. Ide itu datang dari salah satu anggota Sibat, yakni Lia. Nilai tambah pun ikut terdongkrak.

Ketua RT 03 RW 01, Zainal, misalnya, mendapatkan ilmu yang sangat bermanfaat berkat adanya kampung hidroponik. Sejak September 2017 Zainal berhasil panen beberapa kali dari hasil hidroponik di wilayahnya. Ia menanam kangkung, pakcoi, bayam merah, dan seledri. Tak hanya hidroponik, warga RT 03 RW 01 juga membudidayakan ikan lele di selokan. Mereka memodifikasi aliran selokan menjadi wadah budidaya ikan lele.

Bahkan Zainal mendapatkan keuntungan ganda berkat kerja kerasnya. Ia mendapat tawaran dari Ketua Polsek Pulaukelapa untuk membuat 10—20 rangkaian hidroponik. Semua peralatan dan bahan sudah disiapkan, jasa pembuatan hidroponik dihargai Rp800.000 per rangkaian. “Lumayan sekali untuk pemasukan dan itu salah satu manfaat dari kampung hidroponik ini,“ ujar Mursid.

Tanaman obat

Pakcoi tidak hanya berfungsi sebagai sayuran tetapi juga camilan segar seperti es krim.

Pakcoi tidak hanya berfungsi sebagai sayuran tetapi juga camilan segar seperti es krim.

Bukan hanya sayuran, warga Kelurahan Pengadegan juga membudidayakan beragam tanaman obat keluarga (toga) dan bumbu dapur seperti lengkuas, kunyit, bawang merah, bawang putih dan kumis kucing. Berkat perubahan itu maka pada akhir 2017, Kelurahan Pengadegan mendapatkan piagam penghargaan dari PMI atas partisipasi dan dukungannya dalam kegiatan Program Masyarakat Tangguh Banjir (Community Flood Resilience) yang dilaksanakan sejak 1 September 2014 – 31 Desember 2017).

Selain itu, Kelurahan Pengadegan juga masuk dalam tiga besar peraih penghargaan Adipura, “Semoga tahun ini dengan banyak perubahan yang telah dilakukan, wilayah kami bisa mendapatkan juara pertama untuk penghargaan Adipura,” ujar Mursid. Kampung hidroponik salah satu solusi penataan wilayah yang menjadi langganan banjir itu. Mursid dan warga Kelurahan Pengadegan berhasil mencari solusi terbaik menghadapi masalah yang ada di lingkungannya.

Es krim pakcoi terbuat dari campuran pakcoi, tapai, whipe cream, susu kental manis, dan gula.

Es krim pakcoi terbuat dari campuran pakcoi, tapai, whipe cream, susu kental manis, dan gula.

Warga tergerak untuk membersihkan lingkungan dan melakukan penghijauan sehingga Pengadegan lebih bersih. Aliran air juga lebih lancar sehingga secara tidak langsung mampu mencegah banjir. Padahal semula setiap musim hujan tiba, Muhammad Mursid waswas. Harap mafhum banjir acap kali menyambangi tempat tinggalnya ketika hujan datang. Jika hujan deras air kiriman dari Bogor dan Depok selalu meluap ke daerah Pengadengan, Jakarta Selatan.

Baca juga:  Limbah Daun Jadi Baterai

“Pada 2015, air menerobos rumah warga hingga ketinggian lebih dari 2 m. Bukan hanya air yang memenuhi pemukiman, sampah pun berserakan di mana-mana. Belum lagi lumpur yang membuat lingkungan semakin kotor,“ ujar Mursid. Kejadian itu kini tidak terulang pada musim hujan atau dua tahun terakhir berkat kegigihan warga membangun kampung hidroponik. (Rizky Sandra Pratiwi)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d