Hidroponik Warga Rusunawa 1
Hidroponik bertingkat ala Kelompok Tani Marunda Hijau.

Hidroponik bertingkat ala Kelompok Tani Marunda Hijau.

Warga rumah susun sewa (rusunawa) membudidayakan sayuran hidroponik.

Greenhouse seluas 360 m2 berbentuk kubah ganda itu tampak mentereng. Begitu membuka pintu greenhouse tampak ratusan pipa polivinil klorida (PVC) berdiameter 3 inci berjajar rapi. Pipa-pipa sepanjang 6 meter itu dirangkai menjadi hidroponik bertingkat. Para penghuni rumah susun sewa (rusunawa) di Marunda, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, yang mengelola greenhouse itu menerapkan sistem hidroponik nutrient film technique (NFT) dan sumbu.

Nutrisi mengalir tipis, sementara untuk membantu akar menyerap nutrisi memanfaatkan sumbu dari kain flanel. Kelompok Tani Marunda Hijau menanam beragam komoditas seperti seledri, selada, bayam merah, bayam hijau, pakcoi, kangkung, kailan, dan sawi sendok. “Pemilihan komoditas disesuaikan permintaan pasar,” ujar Dea, wakil ketua kelompok tani Marunda Hijau.

Sayuran hidroponik Marunda dikemas dalam plastik kemasan berbobot 250 gram.

Sayuran hidroponik Marunda dikemas dalam plastik kemasan berbobot 250 gram.

Bantuan presiden
Berdirinya greenhouse hidroponik di rusunawa Marunda merupakan gagasan mantan gubernur Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Joko Widodo. Ketika meninjau rusunawa Marunda, “Pak gubernur naik ke lantai tiga rusun dan melihat kondisi sekeliling. Seminggu pascakunjungan dibangun greenhouse beserta rangkaian hidroponik,” kata Dea. Setelah pembangunan instalasi selesai, kebun pun mulai beroperasi pada Maret 2014.

Menurut Mangatas Manalu, ketua kelompok tani Marunda Hijau, hidroponik sayuran itu mampu memberdayakan masyarakat setempat. Meski awal pembangunan diprakarsai pemerintah, tetapi dalam pelaksanaan operasional kebun sepenuhnya diserahkan ke warga. Dari luasan itu, setidaknya kebun membutuhkan 10 tenaga kerja yang keseluruhannya warga rusun. “Program hidroponik sayuran juga berperan mewujudkan ketahanan pangan,” ujar Manalu.

Kelompok tani Marunda Hijau mengembangkan hidroponik bertingkat tipe terpisah. Artinya antara instalasi wadah atas dan bawah tidak terhubung secara langsung alias terpisah. Menurut pakar hidroponik di Jakarta, Ir Yos Sutiyoso, keunggulan model terpisah pekebun lebih mudah mengatur nutrisi untuk masing-masing tanaman. “Nutrisi yang keluar tiap menit pada masing-masing wadah mudah diatur,” ujarnya.

Penyemaian benih memanfaatkan nampan bermedia rockwool.

Penyemaian benih memanfaatkan nampan bermedia rockwool.

Model lain hidroponik bertingkat tipe S. Pada tipe itu wadah atas dan bawah saling menyambung. Untuk memaksimalkan penerimaan sinar matahari, pipa itu disusun dalam 5 tingkatan dari atas ke bawah secara menyerong pada masing-masing sisi. Kemiringan rak 45 derajat. Namun, Yos lebih menyarankan menggunakan NFT dengan model talang berjajar untuk mengoptimalkan pencahayaan dari sinar matahari.

Baca juga:  Seruni Tanpa Karat

Menurut Petty Pangalila, anggota kelompok tani Marunda Hijau, proses penyemaian hingga pascapanen dilakukan di dalam greenhouse. Petty menyemai benih menggunakan nampan bermedia rockwool selama sepekan atau muncul 3—4 daun. Ia lalu memindahkan kecambah ke pembibitan selama sepekan. Untuk pembibitan ia memanfaatkan 8 kit hidroponik berjarak tanam 5 cm.

Perawatan tanaman
Proses selanjutnya memindahkan sayuran ke rak pembesaran. Jarak tanam 10 cm. Perawatan tanaman juga tergolong mudah. Petty memberikan pupuk AB mix sehari dua kali, pada pagi dan sore. Konsentrasi pemberian pupuk tergantung fase pertumbuhan tanaman. Untuk pembibitan ia memberikan 300—500 ml per 200 liter air, sedangkan pembesaran 600—800 ml per 200 liter.

Menjelang panen konsentrasi pupuk meningkat menjadi 900—1.000 ml per 200 liter air. Kelompok tani Marunda Hijau tidak menggunakan pestisida dalam budidaya sayuran. Untuk mengatasi serangan hama dan penyakit, penanganan dilakukan secara mekanis. Misalnya dengan membuang tanaman yang terserang. Selain itu mereka juga memasang perangkap hama dari perekat yang ditempatkan di rak hidroponik.

Mangatas Manalu (berbaju hijau), Dea (berbaju cokelat), Petty Pangalila (berbaju merah muda) bersama para anggota kelompok tani Marunda Hijau.

Mangatas Manalu (berbaju hijau), Dea (berbaju cokelat), Petty Pangalila (berbaju merah muda) bersama para anggota kelompok tani Marunda Hijau.

Untuk mencegah serangan organisme pengganggu, penanaman sayuran dilakukan secara berseling. Seperti menanam selada bersebelahan dengan seledri. Sayuran siap panen setelah 21—31 hari di pembesaran. Kelompok tani itu panen pada sore hari. Dari satu rak hidroponik sepanjang 6 m dan terdiri atas 10 pipa menghasilkan 50 kg sayuran. Dalam sebulan mereka mampu memproduksi 2,5 ton sayuran. “Produksi paling banyak selada dan pakcoi,” kata Dea. Bobot rata-rata selada 150 gram per tanaman.

Dari jumah itu, 70% masuk pasar swalayan. Sisanya mengisi pasar tradisional. Kelompok tani itu memasarkan produk itu sendiri. Pertama kali mencari pasar Dea mengunjungi beberapa gerai dan memberikan contoh sayuran ke calon pembeli. Dengan cara itu ia mampu menembus pasar. Kini sayuran hidroponik Marunda mampu memasok beberapa pasar swalayan. Pasar tradisional di Jakarta pun tak luput dari tujuan pemasaran.

Baca juga:  Bertingkat Lalu Tamat?

Harga jual sayuran rata-rata Rp5.000 per seperempat kilogram. Untuk seledri harga jual lebih mahal, Rp7.000 per seperempat kilogram. Sementara harga jual seledri beserta pot Rp15.000. Jika panen telah selesai pekerja akan membersihkan paralon untuk menghilangkan lumut yaang muncul. (Desi Sayyidati Rahimah/Peliput: Muhamad Fajar Ramadhan)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments