Hidroponik Tomat Ceri: Produktif di Dataran Rendah 1
Tomat ceri kini bisa ditanam di dataran rendah.

Tomat ceri kini bisa ditanam di dataran rendah.

Dengan mengatur kelembapan, tomat ceri yang lazim tumbuh di ketinggian 1.000 meter, produktif di ketinggian 6 meter di atas permukaan laut. Produktivitas 9 kg per tanaman.

Sepintas tak ada yang istimewa di greenhouse seluas 3.000 m2 itu. Di dalamnya berbaris rapi ribuan tanaman tomat yang sedang berbuah lebat. Buah eksklusif seukuran koin Rp500 itu merah menyala. Keistimewaan Solanum lycopersicum itu tumbuh di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, berketinggian 6 meter di atas permukaan laut. Tomat ceri lazimnya tumbuh di dataran berketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut (m dpl) atau lebih.

“Kuncinya budidaya intensif seperti sortasi, mengatur nutrisi, dan mengatur kelembapan,” ujar Tatag Hadi Widodo, yang mengebunkan tomat itu di Desa Jemundo, Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur. Proses itu dimulai sejak fase pembibitan. Tatag menggunakan benih tomat ceri unggul asal Kanada varietas super sweet. Ia menyemai benih itu di media tanam campuran arang sekam dan cocopeat perbandingan 1 : 1.

Produktivitas tomat ceri Tatag Hadi mencapai 9 kg per tanaman.

Produktivitas tomat ceri Tatag Hadi mencapai 9 kg per tanaman.

Plum atau cluster
Tatag Hadi menyortir sejak pembibitan. Ia memilih benih yang tenggelam, tidak ada noda hitam saat tanaman sudah berkecambah. “Titik hitam itu biasanya gejala penyakit,” kata Tatag. Dari semua benih yang ia semai rata-rata 85% masuk kriteria seperti pertumbuhan seragam, tidak cacat, dan bebas dari penyakit. Selain itu ia mempertahankan kelembapan 85%, electrical conductinity (EC) 1,5—2, dan pH 6,2.

Bibit siap pindah tanam saat berumur 20 hari pascasemai atau sudah memunculkan daun. Tatag menggunakan teknologi irigasi tetes atau drip irrigation. Dalam budidaya itu, ia menggunakan kantong tanam ukuran 35 cm. Per kantong terisi satu tanaman. Media tanam sama dengan di persemaian yaitu serbuk sabut kelapa plus arang sekam. Ia menggunakan jarak tanam rapat yaitu 30 cm x 70 cm, sehingga populasi per m2 mencapai 5 tanaman.

Dengan jarak tanam rapat, Tatag tidak mencabangkan tanaman alias tumbuh tunggal. Ia menggunakan EC menyesuaikan kondisi alam. “Saat mendung dan matahari bersinar hanya 2—3 jam, EC mencapai 5. Sementara jika matahari terik EC di bawah 3,” kata pemain hidroponik sejak 1991 itu. Untuk penyiraman, ia menggunakan teknik irigasi tetes dengan intensitas 3 kali sehari saat mendung dan 5 kali saat terik—masing-masing selama 5 menit.

Hidroponik tomat ceri di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.

Hidroponik tomat ceri di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.

Tujuannya agar kelembapan media tanam stabil di angka 70%. Untuk memenuhi irigasi, ia menggunakan 2 pompa air berkekuatan 1,5 PK. Tanaman mulai memasuki fase generatif pada umur 3 pekan pascapindah tanam. Saat itu bunga pertama mulai muncul. Namun, Tatag malah memangkas bunga itu. “Agar fase vegetatifnya lebih maksimal yang ujung-ujungnya produksi dan kualitas buah ikut optimal juga,” ujarnya.

Pada bunga kedua, Tatag menunggu 20 hari hingga siap panen. Ia membagi dua tipe panen yaitu dalam bentuk plum atau butiran dan tangkai atau cluster. Pengkategorian itu sesuai permintaan pasar. “Tipe plum biasanya untuk hotel dan restoran. Sementara cluster untuk pasar swalayan,” ujarnya. Untuk cluster biasanya ia panen dengan tingkat kematangan 60—70%.

Tomat Ceri Turun Gunung

Tomat Ceri Turun Gunung

Produksi 12 kg
Tatag mengatakan, “Pemasok biasanya simpan dulu digudang, sehingga butuh yang belum matang sempurna.” Harapan pemasok, tomat itu merah sempurna saat sampai di tangan konsumen. Sejatinya panen matang pun pemasok tak perlu khawatir busuk. Menurut Tatag, tomat ceri yang ia tanam bisa awet sebulan dalam ruang berpendingin. Sementara di dalam lemari pendingin, tomat itu bisa tahan hingga 2 bulan.

Budidaya tomat ceri di negeri 4 musim mampu berproduksi 18 kg per tanaman.

Budidaya tomat ceri di negeri 4 musim mampu berproduksi 18 kg per tanaman.

Maka wajar pasar tomat ceri Tatag hingga di luar Sidoarjo seperti Jakarta, Bali, hingga ke Batam. Ia membagi hasil panenannya dalam dua spek yaitu kelas A dan B. “Grade A berdiameter 2,5 cm lebih, grade B di bawah 2,5 cm,” ujarnya. Penggolongan itu hanya untuk memudahkan pengemasan dan konsumen dalam memilih produknya. Tatag menjual dua kelas tomat ceri itu dengan harga yang sama yaitu Rp30.000 per kg.

Baca juga:  Manjakan Para Penarik Kail

Harga itu terbilang murah dibanding tomat ceri yang di pasaran, Rp70.000 per kg. “Bahkan di Singapura sudah menembus Rp250.000 per kg,” ujarnya. Tatag dengan bendera PT Agro Duasatu Gemilang ingin memasyarakatkan tomat ceri, sehingga memberikan harga murah untuk dalam negeri. Ia juga membuka kebun itu sebagai agrowisata petik buah tomat ceri.

“Untuk agrowisata petik buah, kami jual buahnya Rp50.000 per kg karena memerlukan pendampingan agar pengunjung tidak sembarangan memanennya,” ujar Djadmiko Pambudi, manajer wilayah Indonesia timur PT Agro Duasatu Gemilang. Produktivitas tomat yang ia tanam paling minim 6 kg per tanaman. “Rata-rata 9 kg, dan kami berusaha menembus 12 kg per tanaman,” ujar Tatag.

Jebakan sebagai insektisida alami.

Jebakan sebagai insektisida alami.

Teknologi Belanda
Menurut Tatag produktivitas itu masih jauh jika dibanding produktivitas pekebun tomat ceri hidroponik mancanegara terutama di daerah asalnya yang tergolong iklim subtropis. “Rata-rata produktivitas pekebun mancanegara sudah menembus 18 kg per tanaman. Artinya kita baru setengahnya,” kata alumnus Ilmu Tanah, Universitas Brawijaya itu. Faktor utama tentu saja iklim dimana tanaman tomat sejatinya introduksi dari negara subtropis.

Lihat saja Jos Looije, pemilik greenhouse di Belanda mengebunkan 6,5 hektar tomat ceri. Ia menggunakan lampu ultraviolet agar tanaman tetap dapat berfotosintesis meski berkurang sinar matahari karena musim dingin. Untuk membudidayakan tomat manis itu, Jos menggunakan media rockwool. Per meter blok rockwool terisi 3 kotak penanaman yang masing-masing ia isi 2 bibit.

Setiap tanaman merambat pada seutas benang setinggi 7 m. Setelah menyentuh atap, batang tomat ia juntaikan ke bawah, begitu seterusnya. Selain itu, pria 61 tahun itu memangkas daun kering dan memberikan pupuk dengan irigasi tetes. Uniknya, Jos “mempekerjakan” lebah untuk membantu penyerbukan. Dua bulan pascatanam, Jos memanen tomat ceri.

Airi tanaman dengan intensitas 3 kali sehari saat mendung dan 5 kali saat terik. Masing-masing selama 5 menit.

Airi tanaman dengan intensitas 3 kali sehari saat mendung dan 5 kali saat terik. Masing-masing selama 5 menit.

Ia memetik dompolan buah yang matang sempurna dan berukuran seragam. Pekerja memetik buah tomat dengan naik diatas tangga yang bisa naik-turun setinggi greenhouse. Pemanenan dilakukan sangat hati-hati hingga tak ada buah yang terpisah dari tangkainya. Produktivitas tomat di kebun Jos mencapai 18—20 kg tomat per 6 tanaman. Hasil itu terbilang rendah jika dibandingkan rata-rata tomat ceri di Belanda yang mencapai 70 kg per m2. Itu karena Job menyeleksi buah dengan ketat.

Baca juga:  Cuncun Wijaya: Tak Surut Tanam Padi

Musim kedua
Menurut Tatag, biaya produksi budidaya tomat ceri dengan teknik irigasi tetes per m2 mencapai Rp700.000. Pada musim kedua, Tatag mengebunkan 3.500 tanaman. Dengan produksi minim yakni 6 kg per tanaman dan harga jual Rp30.000 per kg, omzet Tatag Rp630-juta.

Setelah dikurangi biaya produksi senilai Rp490-juta, pendapatan bersihnya Rp140-juta. Menurut pria kelahiran 1958 itu, dua musim tanam yang ia lalui membuktikan bahwa budidaya tomat ceri di dataran rendah bukan sesuatu yang mustahil. Pakar hidroponik di Jakarta, Ir Yos Sutiyoso, menuturkan hal senada. “Pada dasarnya tomat ceri bisa produksi dengan teknik hidroponik di dataran rendah. Namun perlu perlakuan khusus agar tanaman tumbuh optimal. Atur EC di angka 3, dan sebaiknya jangan lebih dari 3,5,” ujarnya.

Ir Yos Sutiyoso mengatur EC persemaian 1,5.

Ir Yos Sutiyoso mengatur EC persemaian 1,5.

Menurut Yos pada EC yang terlalu tinggi akan terjadi kombinasi yang tak baik antara kalsium dari larutan A dan sulfat dari larutan B. “Akan terjadi reaksi sedimentasi atau pengendapan kalsium,” kata Yos. Hal itu membuat tanaman kekurangan kalsium sehingga rentan terserang busuk ujung buah atau blossom end rot (BER).

Selain itu ia meningkatkan aliran air yang biasanya 1 liter per menit menjadi 2,5 liter per menit. Selain itu, pada saat persemaian bibit tetap membutuhkan nutrisi AB mix dengan EC 1,5. “Tujuannya agar tanaman tumbuh tegap dan pendek,” ujar Yos. Alumnus Institut Pertanian Bogor itu membuktikan sendiri dengan menanam tomat mini itu di Manisjaya, Kecamatan Jatiuwung, Tangerang, Provinsi Banten, yang berketinggian 30 m dpl. Menurut Tatag Hadi dataran rendah kerap dipandang sebelah mata untuk menjadi sentra hortikultura terutama sayuran.

Pangkas bunga pertama untuk memaksimalkan fase vegetatif.

Pangkas bunga pertama untuk memaksimalkan fase vegetatif.

Namun, dengan hidroponik semuanya berubah. “Dataran rendah sejatinya unggul karena kadar gulanya lebih tinggi dan serangan hama dan penyakit lebih sedikit. Selain itu, dengan teknologi hidroponik yang sejatinya memodifikasi iklim, banyak tanaman yang awalnya hanya ditanam di dataran tinggi, kini sudah bisa dibudidayakan di dataran rendah,” ujarnya.

Ucapan Tatag bukan isapan jempol. Terbukti, dengan tekun mengembangkan teknologi budidaya tanpa tanah itu, para pemain hidroponik telah banyak melakukan terobosan. Dari yang awalnya tak mungkin menjadi mungkin. Kuncinya terus belajar. Meminjam ucapan analis kejiwaan asal Jerman, Fritz Perls, “Belajar adalah penemuan bahwa segala sesuatu itu mungkin.” (Bondan Setyawan)

COVER 1.pdfUntuk mengontrol hama, pekebun tomat ceri hidroponik, Tatag Hadi, menyemprotkan herbal yang mengandung bakteri antagonis seperti Tricodherma sp untuk pengendalian penyakit. Bakteri itu bersifat antagonis terhadap cendawan penyebab penyakit busuk pada tomat. Konsentrasinya 1—3 ml per liter air. Untuk mengatasi hama kutu putih, ia menggunakan insektisida nonkimia yang ia impor dari Jepang.

Saking amannya insektisida itu, manusia pun bisa mengonsumsinya. “Bahkan dengan konsumsi rutin tiap pagi bisa menyehatkan tubuh terutama untuk pencernaan,” ujar Tatag. Harap mafhum, herbal itu mengandung saripati beragam tanaman berkhasiat yang sudah lazim di masyarakat seperti jahe, bawang merah, bawang putih, lada, dan cabai. Tatag menyebutnya insektisida herbal, bukan organik. “Kita tidak tahu, apakah sistem budidaya tanaman sebagai bahan herbal itu organik,” ungkapnya. Dosisnya sama dengan fungisida bakteri antagonis.

Tatag tidak rutin melakukan penyemprotan pestisida alami itu. Ia melihat tingkat serangan hama dan penyakit di lapang terlebih dahulu. “Kalau serangan sudah lebih dari 5% baru kita aplikasi herbal,” ujarnya. Ia enggan menggunakan pestisida kimia karena khawatir ada residu yang membahayakan konsumen bila dikonsumsi kelak. Selain itu, menjaga kesohoran teknik hidroponik sebagai sistem budidaya tanaman bebas pestisida kimia. (Bondan Setyawan)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments