Kale populer sebagai sayuran bernutrisi tinggi dapat dibudidayakan dengan teknik hidroponik.

Tatag Hadi tercengang melihat label harga yang tertera di kemasan sayuran kale di sebuah pasar swalayan eksklusif di Jakarta pada Agustus 2014. Pada label tertera harga Rp100.000 untuk kale berbobot 250 g atau Rp400.000 per kg.

“Baru kali ini saya melihat ada sayuran harganya mahal sekali. Jika pasar swalayan sanggup menjual sayuran dengan harga semahal itu, ini peluang usaha bagus,” tutur pemilik PT Agro Duasatu Gemilang itu.

Sejak itu Tatag pun rajin berselancar di dunia maya untuk mengumpulkan berbagai informasi tentang kale. “Ternyata kale populer di berbagai negara di Benua Eropa dan Amerika sebagai pangan super karena mengandung nutrisi tinggi dan kaya antioksidan,” kata produsen sayuran dan konsultan hidroponik itu.

Dalam situs The World’s Healthiest Food yang dibuat oleh George Mateljan Foundation menyebutkan kale mengandung 45 jenis senyawa flavonoid yang merupakan antioksidan.

Teknik hidroponik

Tatag pun mendatangkan benih kale dari Inggris, kemudian membudidayakannya secara hidroponik di kebunnya di kawasan Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Sebagai tahap percobaan, ia menanamnya di 200 lubang tanam.

Menurut Tatag teknik budidaya kale hidroponik hampir sama dengan sayuran daun lain seperti selada, sawi, dan kangkung. Tatag menyemai biji kale di permukaan rockwool basah.

Tatag Hadi membudidayakan kale secara hidroponik.
Tatag Hadi membudidayakan kale secara hidroponik.

Masa berkecambah dan pertumbuhan Brassica oleracea var. Sabellica lebih lambat daripada sayuran daun lain. Pada umur 2 pekan setelah semai baru muncul dua daun. Sementara benih selada hanya perlu waktu sepekan untuk mengeluarkan dua helai daun.

Tatag memindahkan bibit kale berumur dua pekan ke netpot dan menempatkan di dalam perangkat hidroponik. Sebagai sumber nutrisi ia menggunakan larutan AB mix dengan nilai EC (electrical conducitivity) 1 mS/cm. Nilai EC itu sama dengan nutrisi untuk bibit sayuran daun lain seperti selada, sawi, dan kangkung.

Baca juga:  Siasat Untuk Berhemat

Tatag menaikkan nilai EC sesuai umur dan kondisi tanaman. “Jika tanaman terjadi gejala kekurangan nutrisi seperti warna daun yang pucat, maka konsentrasi larutan ditambah pada kisaran EC 1,5—1,8 mS/cm,” tutur Tatag.

Tatag mengatur tingkat keasaman (pH) pada kisaran 5,5—6,5. Pada saat kale dewasa, yaitu lebih dari umur 45 hari, ia kembali menaikkan nilai EC maksimal 2,5 mS/cm. Tanaman anggota famili Brassicaceae itu siap panen pada umur 55 hari.

Menurut ahli hidroponik di Jakarta, Yos Sutiyoso, kebutuhan nutrisi kale sama dengan kailan karena mempunyai karakter tanaman yang mirip. “Kale mirip kailan, tergolong sayuran daun dan batang. Daunnya panjang dan batangnya juga bisa terus tumbuh memanjang dan membesar,” kata alumnus Institut Pertanian Bogor itu.

Oleh sebab itu kale perlu asupan nutrisi lebih banyak dibandingkan dengan sayuran daun lainnya. Yos menyarankan untuk memberikan nutrisi AB mix dengan nilai EC 2,5 mS/cm.

Untung 100%

Bibit kale memunculkan 2 daun pada umur 2 pekan setelah semai.
Bibit kale memunculkan 2 daun pada umur 2 pekan setelah semai.

Menurut Yos pekebun kale sebaiknya menambah jumlah kandungan magnesium (Mg) pada nutrisi (lihat ilustrasi). “Magnesium merupakan bahan baku pembentukan klorofil,” ujar konsultan hidroponik di Jakarta itu. Dengan begitu kandungan klorofil yang selama ini menjadi sumber antioksidan pada kale menjadi optimal.

Tatag mengatakan, teknik pemanenan kale tergantung permintaan pasar. Pelanggan pasar swalayan meminta pasokan kale dalam bentuk utuh. Artinya, saat panen seluruh tanaman dicabut dan dikemas bersama akarnya. Sekilogram biasanya terdiri atas 8 tanaman utuh.

Tatag menjual kale segar utuh dengan harga Rp30.000 per kg. Harga jual itu jauh lebih murah daripada harga jual di pasar swalayan pada Agustus 2014.

“Ketika itu harganya sangat mahal karena hasil impor. Sekarang pihak pasar swalayan mengetahui kalau kale bisa ditanam di Indonesia sehingga mereka menekan harga,” tutur pria yang juga eksportir tanaman hias itu.

Baca juga:  Menanam Kangkung di Rakit Apung

Meski demikian dengan harga jual itu Tatag masih memperoleh untung dua kali lipat. “Biaya produksi kale hidroponik mencapai Rp15.000 per kilogram,” katanya.

Ada juga pelanggan yang menghendaki daun saja. “Biasanya untuk pelanggan produsen olahan” kata alumnus Jurusan Ilmu Tanah Universitas Brawijaya itu. Saat ini ada beberapa produsen yang mengolah kale menjadi berbagai olahan seperti smoothies dan keripik.

Tatag panen daun dengan memotong pangkal daun yang tumbuh di bagian terbawah dahulu, sampai disisakan hanya 5—6 daun di bagian pucuk. Untuk memperoleh sekilogram daun kale membutuhkan hingga 24 tanaman.

“Karena membutuhkan jumlah tanaman lebih banyak, maka harga jual daun kale lebih mahal yaitu Rp100.000 per kg,” kata Tatag. Jika hanya memanen daun, kale dapat dipertahankan berproduksi hingga umur tanaman setahun. “Sebetulnya bisa lebih dari setahun. Cuma ukuran batang terlalu besar sehingga tidak muat di lubang tanam di perangkat hidroponik,” katanya.

Tanaman yang semakin tinggi juga dapat membuat tanaman rebah jika tanpa penopang. Tanaman yang terlalu tinggi menyulitkan saat panen karena daun baru tidak tumbuh lagi di bagian bekas tumbuh daun, tapi hanya tumbuh di bagian pucuk.

Artinya, semakin bertambah umur tanaman, batang akan semakin tinggi dan makin tunggi pula letak pucuk sehingga menyulitkan saat panen. Meski kale tergolong sayuran baru dan berharga relatif lebih mahal, kale produksi Tatag selalu habis diserap pasar.

Itulah sebabnya ia menambah populasi tanaman kale dengan membudidayakannya di kebun hidroponik lain miliknya yaitu di kawasan Bintaro, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten dan kawasan Cipanas, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat. Kini Tatag mampu memasok hingga 40 kg kale per pekan.

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d