Hidroponik melon di kompleks Bank Indonesia, jalan Ronggowarsito, Kecamatan Sail, Pekanbaru

Hidroponik melon di kompleks Bank Indonesia, jalan Ronggowarsito, Kecamatan Sail, Pekanbaru

Masyarakat Kota Pekanbaru, Provinsi Riau, gandrung hidroponik.

Pekerjaan Hendra Mulyadi Ali bertambah sejak April 2014. Ia tak sekadar bertugas sebagai pelaksana kasir Bank Indonesia (BI) kantor cabang Kota Pekanbaru, Provinsi Riau. Hendra juga bertugas mengawasi pertumbuhan 1.400 tanaman melon yang dibudidayakan secara hidroponik. “Ini mandat langsung dari kepala cabang,” ujar Hendra.

Setiap hari ayah satu anak itu menyempatkan mampir ke kompleks perumahan Bank Indonesia di Jalan Ronggowarsito, Kecamatan Sail, Kota Pekanbaru. Di sana, di lahan 300 m2, BI menanam rock melon di media tanam sabut kelapa dengan metode hidroponik tetes alias drip. Hendra mengunjungi kebun itu sebelum masuk kerja, yaitu pada pukul 06.00 atau sepulang kerja pukul 17.00.

Hendra Mulyadi Ali menjadi pelaksana harian budidaya hidroponik BI

Hendra Mulyadi Ali menjadi pelaksana harian budidaya hidroponik BI

Biaya iuran
Tanaman melon mendapat pengairan 5 kali setiap hari, yaitu sejak pukul 07.00—17.00 dengan interval dua jam. “Selain air, saya juga memberikan pupuk AB mix sebagai nutrisi tanaman dan pestisida untuk mengendalikan hama dan penyakit,” kata Hendra. Menurut Hendra biaya produksi melon hidroponik Rp7.000 per tanaman. Itu belum termasuk sewa lahan.

Jerih payah Hendra terbayar dua bulan setelah tanam. Melon berdaging jingga itu layak panen dan masuk pasar modern. “Ukuran mencapai optimal dan jaring sudah terbuka,” ujarnya. Bobot rata-rata buah anggota famili Cucurbitaceae itu itu mencapai 1,5 kg per buah. Setiap tanaman menghasilkan 1 buah. Pasar swalayan membeli Rp15.000 per kg, sehingga total omzet dari perniagaan itu mencapai Rp31,5-juta.

Modal untuk membangun percontohan hidroponik itu berasal dari iuran 50 karyawan BI Pekanbaru. Laba yang dihasilkan pun dibagikan kepada seluruh karyawan. “Sebagai perawat kebun adalah kawan-kawan bagian kasir yang berjumlah 14 orang,” ujar lelaki kelahiran 4 Oktober 1983 itu. Hingga Februari 2015, kebun melon hidroponik karyawan BI Pekanbaru dua kali panen. “Sekarang sudah memasuki penanaman ke-3,” kata Hendra.

Penandatanganan kerja sama penguatan klaster hidroponik oleh pemimpin BI perwakilan Provinsi Riau, Mahdi Muhammad dan Dinas Pertanian dan Peternakan Kota Pekanbaru Edwar Yunus

Penandatanganan kerja sama penguatan klaster hidroponik oleh pemimpin BI perwakilan Provinsi Riau, Mahdi Muhammad dan Dinas Pertanian dan Peternakan Kota Pekanbaru Edwar Yunus

Tren
Dari kebun di kompleks BI, tren hidroponik menyebar ke seluruh Pekanbaru. Bank Indonesia pun tanggap dan menggelar pelatihan untuk ibu-ibu rumah tangga di Pekanbaru. Sekitar 58 kelurahan mengikuti program pemberdayaan lahan sempit dengan memanfaatkan pekarangan rumahnya sebagai lahan budidaya hidroponik sistem tetes dan nutrient film technique (NFT).

Baca juga:  Aral Beratap Langit

“Dari kurang lebih 185 pelaku hidroponik di Pekanbaru, 85% berhidroponik sayuran di pekarangan,” kata Farah Mita dari Komunitas Hidroponik Pekanbaru (KHB) dalam sambutan pada acara penguatan kelembagaan klaster hidroponik oleh BI pada 6 Februari 2015. Dalam acara itu, hadir kepala BI cabang Provinsi Riau, Mahdi Muhammad. Menurut Mahdi budidaya sayuran secara hidroponik turut membantu program kemandirian pangan.

“Masyarakat bisa memenuhi kebutuhan sayuran sendiri dari pekarangan rumah,” ujar Mahdi. Pada tahap selanjutnya, perlu dibentuk pasar guna menambah pendapatan masyarakat. Menurut Mahdi, potensi itu terdapat pada komunitas yang dikelola bersama. “Dengan kebersamaan banyak yang bisa kita lakukan,” kata Mahdi Muhammad. Ia menambahkan, kesulitan terbesar mengembangkan hidroponik melalui komunitas adalah manajemen. “Dari segi teknik budidaya relatif lebih mudah dipelajari dibanding manajemen,” ujarnya.

Agrowisata
Masril Koto sebagai motivator nasional pada acara itu mengungkapkan sistem hidroponik menuntut kreativitas pelaku budidaya. Semakin kreatif, keuntungan semakin besar. Ia mencontohkan pemanfaatan barang bekas, antara lain gelas plastik, ember, atau kaleng biskuit, sebagai wadah budidaya. “Kebiasaan kita, kalau ada ember pecah sedikit langsung dibuang. Padahal masih bisa dimanfaatkan, misalnya sebagai pot,” kata Masril.

Hidroponik dengan kerangka kayu mudah dibuat masyarakat

Hidroponik dengan kerangka kayu mudah dibuat masyarakat

Namun, ia mengapresiasi tren hidroponik yang kini mewabah di Bumi Lancang Kuning—sebutan untuk Provinsi Riau—itu. Menurut Masril pertanian hakikatnya adalah pemberdayaan, dalam hal ini rumahtangga. “Budidaya sawi, selada, atau kangkung di pekarangan rumah bisa mengurangi belanja bulanan,” ujarnya.

Menurut M Syamsul Munir dari unit Akses Keuangan dan Usaha Mikro, Kecil, Menengah (UMKM) BI Pekanbaru, untuk percontohan, kerangka instalasi hidroponik di masyarakat Pekanbaru terbuat dari kayu. “Tujuannya masyarakat mudah meniru lantaran pembuatan kerangka kayu lebih sederhana,” ujarnya. Biaya pembuatan instalasi hidroponik NFT kapasitas 120 lubang tanam hanya Rp1,7 juta.

Baca juga:  Saat Bogor Penuh Bunga

Biaya itu mencakup netpot, ember, dan pompa. “Kami bercita-cita membuat agrowisata hidroponik di Pekanbaru. Di tempat itu pengunjung bisa memetik sayuran sendiri, memakannya langsung, dan berfoto-foto bersama keluarga atau teman-temannya. Dari sanalah sentra hidroponik di Pekanbaru bisa terwujud,” ujar Farah Mita. (Bondan Setyawan)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d