Hidroponik Berpadu Organik 1
Selada dibudidayakan secara hidroponik organik

Selada dibudidayakan secara hidroponik organik

Teknologi hidroponik bertemu organik jadilah hidroponik organik.

Mungkinkah berhidroponik secara organik? Dede Martino di Kota Jambi membuktikan mampu menanam beragam sayuran hidroponik dengan pupuk organik. Dede membuat rak hidroponik bersusun tiga, empat, hingga lima tingkat. Panjang rangkaian mencapai 40 cm dan lebar 30 cm. Pria kelahiran Jambi 30 Mei 1965 itu menerapkan sistem hidroponik substrat dengan memanfaatkan media tanam arang sekam atau busa. Itu disesuaikan dengan kemudahan memperoleh bahan. Namun, di rak lain ia menerapkan sistem hidroponik nutrient film technique (NFT).

Alumnus Fakultas Pertanian Universitas Andalas itu menanam beragam sayuran seperti seledri, selada, sawi, pakcoi, bayam, dan kangkung. Dede memindahkan bibit tanaman berumur 7 hari pascasemai ke lubang tanam di rak susun. Penggunaan pupuk organik cair untuk hidroponik cukup mudah. Dede mengencerkan 1 cc pupuk organik ke dalam 1 liter air bersih. Pada rangkaian hidroponik 5 tingkat, ia menggunakan tandon nutrisi berukuran 20 cm x 2 m berkapasitas 25 liter. Dede menambahkan larutan nutrisi setengah kapasitas tandon setiap pekan. Frekuensi penyiraman 5 menit nyala dan 10 menit mati, lama penyiraman 12 jam.

SMK 12 Bandung bertanam sayuran hidroponik sistem NFT secara organik

SMK 12 Bandung bertanam sayuran hidroponik sistem NFT secara organik

Nutrisi sendiri

Dede Martino menciptakan pupuk organik cair sebagai sumber nutrisi tanaman hidroponik. Pupuk itu mengandung 16 unsur hara makro dan mikro. Selain itu pupuk juga mengandung senyawa organik seperti serat, karbohidrat, protein, lemak, asam amino, hormon tumbuh, dan vitamin. Bahan baku pupuk cair itu adalah beragam bahan organik seperti limbah sayuran dan buah. Dede Martino mengolah bahan padat itu menjadi pupuk cair dalam 3—4 hari.

Dede juga menambahkan azola dalam proses pembuatan pupuk. Tujuannya, klorofil dalam pupuk tetap tersedia. “Klorofil sebagai antiseptik yang berperan menjaga perakaran dari bakteri,” ujarnya. Menurut konsultan pertanian di Lampung Selatan, Provinsi Lampung, Hariri Baker, “Kandungan protein azola besar sehingga cocok ditambahkan sebagai bahan baku pembuatan pupuk,” kata Hariri. Azola mengandung 24–30% protein dan 9,1% serat dari total bahan kering.

Untuk memperoleh 1 liter pupuk cair, ia memerlukan bahan baku 1—3 kg (baca: Jus Bumi Dongkrak Produksi Trubus November 2010). Pupuk organik hidroponik produksi Dede memiliki NPK tidak setinggi AB mix yang lazim menjadi sumber nutrisi pada budidaya hidroponik. Oleh karena itu ia menambahkan 2% NPK. Pupuk itu memiliki pH 5,8—6,8.

Pupuk organik cair berbahan baku sampah rumah tangga

Pupuk organik cair berbahan baku sampah rumah tangga

Sepekan menjelang panen ia menaikkan konsentrasi nutrisi menjadi 2 cc per liter air. Hasilnya, “Pertumbuhan tanaman subur, sama seperti penggunaan AB mix,” ujar Dede Martino. Itu terlihat dari diameter selada yang mencapai 30 cm. Ketika tanaman selada berumur 3—3,5 pekan, ia memanennya. Bobot selada setara dengan tanaman hasil budidaya hidroponik konvensional yang memanfaatkan nutrisi campuran AB. Dede menerapkan budidaya hidroponik organik untuk menyiasati tingginya biaya pupuk campuran AB. Biaya pupuk campuran AB cukup tinggi memang menjadi kendala tersendiri bagi pekebun hidroponik, terutama pekebun di daerah seperti Dede Martino. Ia pernah menerapkan sistem hidroponik konvensional dengan pupuk AB pada 1996 dan merugi. Menurut perhitungan Dede Martino, biaya produksi hidroponik organik relatif rendah. Biaya pupuk hanya 50% dibandingkan hidroponik konvensional.

Baca juga:  Festival Kuliner, Kesenian, dan Pertanian

Nitrogen kipahit

Nun di Bandung, Jawa Barat, SMK 12 Bandung juga menerapkan budidaya sayuran hidroponik secara organik. Sekolah khusus penerbangan itu memodifikasi sistem NFT dengan media tanam floral foam. Sekolah meletakkan 6 unit kit hidroponik di halaman tengah sekolah, di lahan 50 m2. Panjang rangkaian 6 m dan 4 m; lebar 120 cm, dan tinggi 160 cm. Masing-masing kit berisi 6 tingkat pipa yang ditanami selada dan sawi jabung.

Penggunaan molases atau gula menimbulkan adanya endapan

Penggunaan molases atau gula menimbulkan adanya endapan

Untuk memasok nutrisi 6 kit hidroponik, mereka menggunakan 2 tandon nutrisi berkapasitas masing-masing 500 liter. Debit air 30 liter per menit. Sementara daya listrik yang digunakan 125 watt. “Kemiringan rangkaian 5 cm dan ketebalan nutrisi 5 milimeter,” ujar Charlie Tjendapati, pendamping kegiatan lingkungan hidup di SMK 12 Bandung. Budidaya tanaman secara hidroponik itu masuk dalam mata pelajaran Pendidikan Lingkungan Hidup dan ekstrakurikuler Klub Konservasi Sekolah.

Charlie juga mengolah sampah organik menjadi nutrisi cair. “Bahan baku pupuk berupa sampah sayur dan buah,” ujar Titi Juhaeti, pengajar mata pelajaran Pendidikan Lingkungan Hidup dan Klub Konservasi Sekolah SMK 12 Bandung. Beberapa jenis sampah yang digunakan, kulit nanas, kulit mangga, sawi, kubis, dan caisim dari pasar Ciroyom, Bandung, Jawa Barat.

 Titi Juhaeti, Charlie Tjendapati beserta para siswa SMK 12 Bandung

Titi Juhaeti, Charlie Tjendapati beserta para siswa SMK 12 Bandung

Mereka juga menambahkan kipahit dalam proses pembuatan pupuk. Itu untuk meningkatkan kadar nitrogen. Sebelum menggunakan kipahit, daun selada menguning pada hari ke tujuh pascapenanaman karena kekurangan nitrogen. Setelah penggunaan kipahit, daun kembali hijau dan pH pupuk meningkat menjadi 6,6—7, sebelumnya 4,5. Untuk membuat pupuk, mereka menyiapkan 25 kg bahan baku berupa sampah sayuran dan buah.

Charlie lalu mencampurkan 1 liter air cucian beras, 1 liter air kelapa, 7 liter air bersih, 0,5 liter air gula (campuran 0,5 kg gula dan 0,5 liter air), dan 5 liter urine kelinci. Charlie lantas mencampur larutan itu dengan cacahan sampah dan 5 kg kotoran domba. Tutup rapat hasil campuran itu, lalu fermentasi selama 7—10 hari. Ia kemudian menyaring pupuk hasil fermentasi itu. “Pupuk cair digunakan sebagai pupuk hidroponik sedangkan sisa padatan saringan sebagai kompos,” kata Titi.

Ir Dede Martino MP membudidayakan tanaman secara hidroponik organik sejak 2000

Ir Dede Martino MP membudidayakan tanaman secara hidroponik organik sejak 2000

Murah

Baca juga:  Harum Hoya 7 Hari

Menurut Hariri Baker membudidayakan tanaman secara hidroponik dengan cara organik sangat memungkinkan. Sebab, ”Ketika unsur tanaman terpenuhi, tanaman akan tumbuh dengan baik,” ujarnya. Dede menerapkan beragam sistem hidroponik yang ia tata di rumahnya. Mulai dari NFT (nutrien film technique), sumbu, irigasi tetes, dan DFT (deep flow technique).

Membudidayakan tanaman secara hidroponik organik memang relatif murah. Sebab, pekebun dapat memanfaatkan sampah organik di sekitar untuk membuat pupuk hidroponik. Untuk pupuk cair organik seperti Dede, harga jual Rp35.000 per 0,5 liter. Itu lebih murah daripada penggunaan campuran AB yang mencapai Rp60.000—Rp80.000 per kg, itu untuk harga di Jakarta.

Hariri sepakat. “Pupuk organik cair biaya pembuatannya cukup murah,” ujarnya. Bahan baku juga menyesuaikan ketersediaan di masing-masing daerah. Bila ketersediaan pisang melimpah, pekebun dapat menambahkan pupuk organik berbahan baku pisang. “Kandungan kalium dalam pisang tinggi, 500 mg per satu buah pisang,” ujarnya. Kalium berperan dalam proses fotosintesis, transpor hasil asimilasi, dan meningkatkan adaptasi tanaman.

Azola dapat ditambahkan sebagai bahan baku pupuk organik cair karena memiliki protein tinggi

Azola dapat ditambahkan sebagai bahan baku pupuk organik cair karena memiliki protein tinggi

Pekebun bisa memblender 1 kg pisang beserta kulitnya dengan 5 liter air. Lalu air saringan digunakan sebagai pupuk dengan mengencerkan 250 ml per 16 liter air. Aplikasi pada sayuran daun 1 pekan setelah pindah tanam ke rak hidroponik. Sementara sayuran buah 1—1,5 bulan pascapindah ke rak hidroponik. Frekuensi pemberian 3—7 hari sekali. Rumput laut pun dapat digunakan sebagai pupuk. Pekebun juga bisa menambahkan pupuk organik berbahan rumput laut 1,25 g/liter air.

Meski kualitas produksi baik dan biaya murah, tetapi membudidayakan sayuran secara hidroponik organik bukan tanpa hambatan. Di SMK 12, misalnya, penggunaan pupuk organik membuat adanya endapan di dasar pipa. Akibatnya, “Berisiko menyumbat aliran nutrisi,” ujar Charlie. Untuk mengatasinya, mereka rajin membersihkan pipa saluran setelah panen.

Namun hal itu tidak dialami Dede, pupuk yang ia gunakan tidak menghasilkan endapan. “Semuanya terserap tanaman,” katanya. Menurut Hariri, pembuatan pupuk organik cair menggunakan molases atau gula menimbulkan endapan. Sebab, “Terjadi perubahan glukosa menjadi protein yang akan memunculkan endapan,” ujarnya. (Desi Sayyidati Rahimah)

 Langkah Hidroponik Organik

  1. Pembibitan sayuran dilakukan di media arang sekam selama 7—20 hari
  2. Bibit berumur 7—20 hari siap pindah tanam ke rak hidroponik
  3. Pembuatan pupuk organik berbahan baku limbah sayuran dan buah menggunakan mesin pengompos Bioreaktor Pembangkit Pupuk Cair (BPPC)
  4. Encerkan pupuk organik cair 1 cc/liter air
  5. Seminggu menjelang panen naikkan konsentrasi pupuk 2 cc/liter
  6. Umur 3 minggu sayuran siap panen

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *