Hidroponik Ala Greenhost 1
Hidroponik menjadi salah satu elemen utama di Hotel Greenhost, Yogyakarta.

Hidroponik menjadi salah satu elemen utama di Hotel Greenhost, Yogyakarta.

Memanen sayuran hidroponik di depan kamar hotel.

Selasar itu tampak tak biasa. Kesan hijau segera menyergap. Harap mafhum di atas lantai 30 m2 itu berdiri rak-rak hidroponik. Beragam sayuran seperti selada, pakcoy, dan seledri tumbuh subur. Panorama itu bukan di selasar rumah, tetapi di Hotel Greenhost Boutique, Prawirotaman, Yogyakarta. Semua selasar dari lantai 2 hingga lantai ke-4 menjadi kebun sayuran hidroponik.

Keruan saja panorama itu menyedot perhatian setiap tamu hotel yang menginap. Juru masak hotel, Jon Priadi, acap memetik beberapa pucuk daun mint yang tumbuh segar. Suatu ketika ia juga memanen selada, basil, dan adas untuk bahan baku salad pesanan tamu hotel. Ia hanya berjalan ke lantai 1 menuju kebun sayuran. Selain praktis, juru masak pun memperoleh sayuran segar yang baru saja dipetik.

Arbiter Gerhard M. Sarumaha, General Manager Hotel Greenhost.

Arbiter Gerhard M. Sarumaha, General Manager Hotel Greenhost.

Di depan kamar
Hotel 4 tingkat itu memang menjadikan hidroponik sebagai salah satu elemen utama. “Bukan sekadar mengikuti tren saat ini,” kata Sales & Marketing Manager Greenhost Boutique Hotel, Luz Ratri Swenantari. Bahkan hidroponik menjadi andalan Ratri saat menawarkan hotel dengan 96 kamar itu ke calon konsumen. Instalasi hidroponik lengkap dengan tanamannya memenuhi koridor hotel di setiap lantai.

Artinya kebun hidroponik itu persis berada di depan pintu kamar hotel tempat tamu menginap. “Tujuan konsep hotel hijau ini untuk mengingatkan pengunjung agar ramah lingkungan,” kata General Manager Greenhost Boutique Hotel, Arbiter Gerhard M Sarumaha. Pihak hotel mempercayakan konstruksi instalasi hidroponik kepada pemilik Toko Paktani Hydrofarm di Wonogiri, Jawa Tengah, Heru Agus Hendra.

Setiap lantai berisi 8 modul hidroponik. Satu modul hidroponik berisi lima susun pipa berdiamater 3 inci. Total jenderal terdapat 24 modul hidroponik. Pemasangan instalasi hidroponik di sepanjang koridor menyesuaikan bentuk hotel yang seperti huruf U. Posisi modul agak menjorok keluar agar tanaman terpapar sinar matahari. Kebetulan tidak ada atap yang menaungi bagian tengah hotel sehingga cahaya matahari bisa langsung mengenai tanaman.

Koki hotel memetik langsung tanaman aromatik atau herbs di kebun hidroponik.

Koki hotel memetik langsung tanaman aromatik atau herbs di kebun hidroponik.

Jadi pengelola tidak memerlukan lampu ultraviolet untuk cahaya tambahan. Manajemen hotel bekerja sama dengan Bayu Widhi Nugraha, Kartika N Issabella, dan Aldhi Fajar Maudhi dari komunitas Hidroponik Jogja mengelola kebun itu. Selada di dalam pipa bermacam-macam seperti butterhead, romaine, dan hijau. Selain selada, Bayu dan rekan juga menempatkan sayuran aromatik seperti basil, mint, dan seledri di koridor saat tanaman berumur 3 bulan.

Sistem NFT
Asupan air dan nutrisi untuk selada menggunakan sistem nutirent film technique (NFT). Bayu memasang pompa berkekuatan 2.000 l per jam untuk mengalirkan 60 l larutan nutrisi ke pipa. Terdapat tujuh pompa di setiap lantai sehingga total 21 pompa di tiga lantai yang berhidroponik. Larutan nutrisi tersimpan di pipa berdiameter 12 inci yang berada di bawah rangkaian.

Hidroponik untuk pembenihan dan pembibitan ala Hotel Greenhost.

Hidroponik untuk pembenihan dan pembibitan ala Hotel Greenhost.

Satu pipa nutrisi mengalirkan air dan unsur hara ke satu rangkaian. Pompa menaikkan air melalui pipa polivinil klorida (PVC) berdiameter 0,5 inci. Air mengalir dari pipa nutrisi ke pipa tanaman melalui dua selang plastik hitam berukuran 0,2 inci. Air mengalir dari pangkal ke ujung pipa lalu turun dan kembali ke penampung. Bayu dan rekan menggunakan kepekatan nutrisi 1.000 ppm karena tanaman berjenis sayuran daun.

Baca juga:  Pelangi Pedas Asal Bolivia

Aldhi dan Kartika memeriksa kepekatan nutrisi menggunakan TDS meter setiap hari pada pukul 08.00 dan 15.00. Jika nutrisi kurang dari 1.000 ppm, Bayu dan Aldhi menambahkan satu liter nutrisi A dan satu liter nutrisi B ke dalam pipa tandon. Tanaman selalu tampil segar karena hanya sayuran siap panen yang mengisi hidroponik di koridor hotel. “Lazimnya selada yang H-5 panen yang diletakkan di koridor,” kata Bayu.

Kebun produksi hidroponik berada di atap teratas.

Kebun produksi hidroponik berada di atap teratas.

Sejatinya hidroponik di koridor ditujukan untuk menampilkan sayuran siap panen. Aldhi menambahkan daun tanaman bisa rusak terkena hujan jika berada di koridor lebih dari 5 hari. Lokasi penyemaian di atap teratas hotel seluas 36 m2. Bayu dan rekan menyemai selada menggunakan media tanam berupa rockwool di atas nampan berukuran 55 cm x 28 cm. Penyemaian 150 selada dilakukan setiap hari.

Setelah 10 hari di persemaian, Aldhi memindahkan tanaman ke perangkat hidroponik dengan sistem air dan nutrisi yang tergenang setinggi 3 cm. Sistem itu dipilih karena agar pasokan nutrisi tercukupi dan merata. Perangkat hidroponik untuk tanaman muda berbentuk huruf A yang tersusun dari 5 tingkat pipa berdiamater 3 inci dengan panjang 5 m. Terdapat 3 perangkat sehingga total populasi 1.650 tanaman. Di tempat itu juga terdapat 4 modul hidroponik meja di area seluas 400 m2.

Manajemen hotel membagikan hasil panen hidroponik ke masyarakat di sekitar hotel.

Manajemen hotel membagikan hasil panen hidroponik ke masyarakat di sekitar hotel.

Tantangan
Dua meja tersusun atas 8 pipa dan dua lainnya terdiri atas 6 pipa berdiamater 3 inci. Masing-masing pipa panjangnya 12 m. Meja agak miring karena panjang kaki meja berbeda, paling tinggi 100 cm dan terendah 75 cm. Nutrisi dialirkan menggunakan sistem NFT. Lokasi penyemaian sampai tanaman remaja beratap antisinar ultraviolet. Bayu dan rekan memindahkan selada berumur 24 hari ke meja hidroponik itu.

Selada menghuni meja hidroponik itu hingga berumur 40 hari setelah tanam. Setelah itu selada pindah tempat ke koridor hotel. Setiap hari pada pukul 10.00 turun hujan buatan selama 5 menit. Cucuran air itu berasal dari 32 sprinkel yang menggantung di rangka atap teratas. Tujuannnya, “Agar selada tampak segar dan bebas debu,” kata Aldhi. Saat matahari terlalu terik Aldhi dan Kartika membuka sprinkle agar suhu di koridor hotel lebih sejuk. Jika cuaca terlalu panas daun baru sayuran menguning dan kering.

Bayu Widhi Nugraha (kiri), Kartika N Issabella (tengah), dan Aldhi Fajar Maudhi mengelola kebun hidroponik di Hotel Greenhost.

Bayu Widhi Nugraha (kiri), Kartika N Issabella (tengah), dan Aldhi Fajar Maudhi mengelola kebun hidroponik di Hotel Greenhost.

Saat tanaman berumur 45—50 hari setelah tanam Aldhi dan Kartika memanen selada di koridor hotel. Berkebun hidroponik di koridor dan atap teratas hotel bukan tanpa hambatan. Angin di lantai teratas kerap mematahkan selada sehingga pertumbuhan tanaman agak terganggu. Harap mafhum, meski lantai teratas beratap, tapi dinding gedung tidak sepenuhnya tertutup sehingga angin bebas masuk.

Baca juga:  Irigasi Tetes Cabai Penyelamat Saat Kemarau

Untuk menyiasatinya, Bayu meletakkan tanaman yang agak besar di bagian terdepan yang terkena terpaan angin. Sementara sayuran remaja agak di tengah modul. Tantangan lain adalah saat ada kunjungan. Rasa penasaran mendorong pengunjung untuk mengetahui lebih detail tentang hidroponik. Tidak jarang pengunjung mengangkat netpot berisi tanaman. “Lazimnya pengunjung kurang pas meletakkan netpot sehingga akar tidak cukup mendapat nutrisi,” ucap Bayu.

Hotel Greenhost mengisi selasar di depan kamar tamu dengan tanaman hidroponik.

Hotel Greenhost mengisi selasar di depan kamar tamu dengan tanaman hidroponik.

Lebih lanjut ia mengatakan aktivitas itu wajar. Sebab kebun hidroponik di hotel yang memiliki kolam renang itu bertujuan mengedukasi dan menghibur pengunjung, tidak semata-mata untuk produksi saja. Jika kebun hidroponik khusus produksi mesti seminimal mungkin bersentuhan dengan banyak orang. Menurut anggota staf Communication Marketing Hotel Greenhost, Gatot Susilo, pada panen selada perdana, 30% hasil panen untuk keperluan hotel.

Petik sendiri
Sebanyak 40% selada diberikan gratis kepada masyarakat sekitar hotel. Sisanya yang 30% dijual ke restoran sekitar hotel. “Kami juga mempersilakan tamu hotel yang ingin merasakan sensasi memanen dan mengonsumsi sayuran hidroponik,” kata Gatot. Sang tamu cukup memetik sayuran di depan kamar dan membawanya ke restoran. Selanjutnya juru masak hotel yang mengolah sayuran segar itu. Tamu pun boleh membawa pulang sayuran hidroponik seperti selada yang dijual Rp12.000 per kg.

Total 9.000 tanaman memenuhi lantai 2, 3, dan 4 hotel.

Total 9.000 tanaman memenuhi lantai 2, 3, dan 4 hotel.

Pembayaran dilakukan di resepsionis. Koki pun diberi kebebasan untuk mengambil tanaman aromatik atau sayuran langsung di kebun jika persediaan di dapur kosong. Menurut Ratri per Mei 2015 sekitar 30 kamar terisi setiap hari. Separuh penghuni kamar itu pasti mengunjungi kebun hidroponik. Restoran di dalam hotel terbuka untuk umum. Artinya pengunjung dari luar yang bukan tamu boleh menyantap hidangan ala Hotel Greenhost.

Jika pengunjung menghabiskan Rp200.000 untuk aneka sajian di restoran, mereka berhak mengunjungi kebun hidroponik di atap teratas sampai puas. “Kami menutup kebun hidroponik di atap teratas pada pukul 19.00 demi keselamatan pengunjung,” kata Ratri. “Setiap hari hampir selalu ada pengunjung restoran yang menyambangi kebun hidroponik.

Prof Dr Ir Hadi Susilo Arifin MS "Hidroponik dalam Hotel Greenhost cukup inovatif."

Prof Dr Ir Hadi Susilo Arifin MS “Hidroponik dalam Hotel Greenhost cukup inovatif.”

Hotel juga membuka diri jika ada anggota masyarakat yang ingin mengetahui lebih detail tentang hidroponik. Saban tiga bulan pihak hotel bekerja sama dengan komunitas hidroponik mengadakan pelatihan hidroponik selama 2 hari. Ahli pengelolaan lanskap dari Institut Pertanian Bogor, Prof Dr Ir Hadi Susilo Arifin MS mengatakan hidroponik dalam Hotel Greenhost cukup inovatif dan salah satu terobosan.

Lazimnya koridor hotel berisi tanaman hias. “Saya belum pernah menjumpai hidroponik di dalam hotel,” kata alumnus Graduate School of Natural Sciences & Technology, Okayama University, Jepang, itu. Kehadiran hidroponik bermanfaat untuk mengenalkan kepada pengunjung jenis-jenis tanaman dan cara berhidroponik. Aktivitas pengunjung yang memetik sayuran menjadi atraksi tersendiri. Agar hidroponik dapat berfungsi optimal, pihak hotel mesti memperhatikan beberapa hal seperti sinar matahari, nutrisi, dan instalasi hidroponik.

Tanaman memerlukan sinar matahari agar bisa berfotosintesis. “Tanaman memerlukan cahaya tambahan jika kurang terpapar sinar matahari,” kata pria kelahiran Cirebon, Jawa Barat, itu. Nutrisi juga perlu diperhatikan karena tanaman memerlukan unsur hara makro dan mikro. Selain itu, rancangan instalasi hidroponik harus memenuhi unsur estetis. Kehadiran hidroponik di selasar hotel itu terbukti multifungsi, berfungsi estetis untuk menghilangkan kesan keras sebuah tembok, sekaligus menarik perhatian pengunjung. (Riefza Vebriansyah)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *