Herbal untuk Pita Merah 1
Prof Dr HC Mochammad Yusuf mengatakan virus HIV menyerang sistem kekebalan tubuh sehingga penderitanya mudah terserang penyakit ikutan lain

Prof Dr HC Mochammad Yusuf mengatakan virus HIV menyerang sistem kekebalan tubuh sehingga penderitanya mudah terserang penyakit ikutan lain

Kasus baru AIDS di Indonesia cenderung meningkat, setiap tahun muncul 6.000 kasus baru. Harapan kesembuhan pada beragam herbal.

Mawar Mewangi—ia enggan disebut nama sebenarnya—bagai menanti dentang lonceng kematian setelah dokter mendiagnosis positif AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome). Pada 2013 bobot badannya anjlok hanya 35 kg. Padahal, 2 tahun sebelumnya mencapai 67 kg. Prof Dr HC Mochammad Yusuf di Selabintana, Sukabumi, Jawa Barat, yang menangani Mawar mengatakan virus HIV menyerang sistem kekebalan tubuh sehingga penderitanya mudah terserang penyakit ikutan.

“Biasanya penderita HIV-AIDS mengalami diare, mual, gusi bengkak, sariawan, radang tenggorokan, dan kelenjar getah bening membesar,” kata pemilik Klinik Citra Insani itu. Keluhan lain, nafsu makan turun sehingga bobot badan turun drastis. Lantaran banyak penyakit ikutan, Yusuf pun memberikan ramuan komplet yang terdiri dari campuran beberapa herbal kepada pasien HIV-AIDS.

Pita merah sebagai simbol HIV-AIDS digunakan pertama kali sejak 1991

Pita merah sebagai simbol HIV-AIDS digunakan pertama kali sejak 1991

Kasus meningkat
Yusuf mengatakan, “Kalau infeksi virus sudah parah digunakan sekitar 25 jenis herbal. Tiga di antaranya herbal khusus mengatasi virus,” katanya. Ketiga herbal itu adalah ban lan gen Isatis tinctoria, ku shen gen Sophora flavescens, dan shan dou gen Sophorae tonkinensis. Ketiga herbal khusus virus itu mutlak diberikan. “Itu karena virus HIV merupakan virus kuat sehingga perlu 3 herbal antivirus,“ ujar ahli pengobatan herbal Cina itu.

Selain herbal minum, Yusuf juga meberikan infus imunoglobulin dan ginseng. “Ginseng untuk melancarkan peredaran darah, sedangkan imunoglobulin berfungsi menguatkan sel darah,” kata pejabat yang juga menangani penyakit kanker dan tumor itu. Selang 7 bulan terapi, tidak ada lagi virus HIV yang ditemukan di tubuh Mawar.

Penderita HIV-AIDS seperti Mawar memang kian meningkat. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat hingga Juni 2014 jumlah penderita HIV-AIDS (Human Immunodeficiency Virus-Acquired Immunodeficiency Syndrome) mencapai 55.623 kasus. Bandingkan dengan 5 tahun silam yang masih 24.691 kasus. Artinya, setiap tahun terjadi peningkatan kasus AIDS rata-rata 6.186 kasus. Tiga provinsi di Indonesia dengan jumlah kasus AIDS tertinggi adalah Papua (10.184 kasus), Jawa Timur (8.976), dan DKI Jakarta (7.477). Sementara prevalensi kasus AIDS per 100.000 penduduk tertinggi ada di Papua (359), Papua Barat (228), dan Bali (109).

Selain jumlahnya yang terus meningkat, terjadi pergeseran penyebab penularan HIV-AIDS. Saat ini sekitar 64% penularan HIV-AIDS disebabkan oleh hubungan seksual, baik heteroseksual maupun homoseksual. Padahal, menurut guru besar Fakultas Psikologi Universitas Katolik Atmajaya, Prof Irwanto PhD, hingga 2006, golongan terbesar terinfeksi HIV berasal dari kalangan pengguna narkoba jarum suntik. Namun, beberapa tahun belakangan tren penyebaran infeksi HIV berubah. “HIV yang  dipicu oleh perilaku seksual pasangan meningkat signifikan,” kata aktivis HIV sejak 1992 itu.

Akar Isatis tinctoria (1), Sophora flavescens (2), dan Sophorae tonkinensis (3), herbal khusus untuk mengatasi virus termasuk virus HIV

Akar Isatis tinctoria (1), Sophora flavescens (2), dan Sophorae tonkinensis (3), herbal khusus untuk mengatasi virus termasuk virus HIV

Seks berisiko
Data Survei Terpadu Biologi dan Perilaku (STBP) Kemenkes menunjukkan pria yang berprofesi sebagai sopir truk, tukang ojek, anak buah kapal/pelaut, dan tenaga kerja bongkar muat berisiko tinggi terkena HIV-AIDS. Sebanyak 70% responden berstatus menikah. Hasil survei pada 2011 menunjukkan 60% pria berisiko melakukan hubungan seks dengan wanita pekerja seks (WPS). Jumlah itu meningkat signifikan jika dibandingkan dengan 2007 yang hanya sekitar 40%.

Baca juga:  Bakteri Listeria Aman Makan Melon

Prof Dr Tjandra Yoga DTM&H SpP (K) dari Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (Ditjen PP & PL) Kemenkes dalam presentasinya berjudul Situasi Epidemiologi HIV-AIDS di Indonesia menunjukkan, laki-laki berisiko tinggi pembeli jasa seks meningkat dari 0,1% pada 2007 menjadi 0,7% persen pada 2011.

Laki-laki pengidap HIV pembeli jasa seks hampir pasti menularkannya kepada istri atau pasangannya. Ancaman penularan itu tergambar dari kenyataan bahwa pada 2012 jumlah perempuan penderita HIV mencapai 10.016 kasus. Jumlah itu meningkat menjadi 12.334 kasus pada 2013 dan pada triwulan II 2014, tercatat 16.092 kasus HIV positif pada perempuan. Angka itu pun akan terus naik pada Desember 2014.

Prof Irwanto PhD, “HIV yang  dipicu oleh perilaku seksual pasangan meningkat signifikan.”

Prof Irwanto PhD, “HIV yang  dipicu oleh perilaku seksual pasangan meningkat signifikan.”

Menurut Irwanto penyebaran HIV masih terkonsentrasi pada populasi kunci, di antaranya pekerja seks, pelangggan pekerja seks, laki-laki yang melakukan hubungan seks dengan laki-laki (LSL), waria, dan pengguna narkoba. Yang disebut terakhir pun tak luput dari perilaku seks bebas. Maklum, efek penggunaan narkoba menyebabkan pecandunya kehilangan kesadaran dan penalaran tentang akal sehat.

Menurut Irwanto narkoba jenis Amphetamine Type Stimulants (ATS) seperti sabu didesain untuk meningkatkan suhu pada permukaan kulit. Akibatnya penggunanya merasa enak dan nyaman kalau dipeluk dan dirangkul sehingga berlanjut ke hubungan seksual. “Itulah yang disebut love drugs,” katanya. Oleh karena itu pengguna narkoba tidak lepas dari seks bebas.

Herbal
Mantan Deputi Rehabilitasi Badan Narkotika Nasisonal (BNN), dr Kusman Suriakusumah SpKJ MPH, mengatakan, “Sudah pasti para pecandu itu melakukan seks bebas karena akalnya sudah tidak sehat,” ujar dokter di rumah sakit Mitra Kemayoran Jakarta itu. Masalahnya, hubungan seks yang mereka lakukan itu secara tidak aman. Misalnya, bukan dilakukan dengan pasangan resminya (suami-istri) atau tanpa kondom.

Baca juga:  Duit dari Duri

Harapan untuk mengatasi virus HIV antara lain pada herbal. Lihat saja kisah Bethari Drupadi—bukan nama sebenarnya—juga menggunakan herbal untuk mengatasi HIV/AIDS. Menurut ibu 2 anak itu pengobatan dengan herbal lebih aman dibandingkan dengan obat kimia seperti obat antiretroviral yang lazim digunakan penderita. Hasil berselancar di dunia maya ibu berusia 43 tahun itu menemukan informasi bahwa kulit manggis mujarab mengatasi HIV-AIDS.

Data Ditjen PP & PL Kemenkes Juni 2014 menunjukkan kasus AIDS berdasarkan transfusi darah sebanyak 129 kasus

Data Ditjen PP & PL Kemenkes Juni 2014 menunjukkan kasus AIDS berdasarkan transfusi darah sebanyak 129 kasus

Setelah konsumsi kulit manggis selama 7 bulan (air rebusan kulit manggis selama 5 bulan dan dilanjutkan kapsul kulit manggis selama 2 bulan) kadar CD4+ Drupadi naik hingga 800 dari semula 69. CD4+ merupakan jenis sel darah putih yang menjadi bagian penting sistem kekebalan tubuh. Menurut Drs James S Hutagalung MKes seseorang mengidap HIV jika angka CD4+ kurang dari 200.

Keampuhan kulit manggis menghambat HIV dibuktikan oleh Joseph J. Magadula, periset di Institut Obat Tradisional, Muhimbili University, Tanzania. Hasil penelitian Magadula terhadap 9 spesies kerabat manggis bergenus Garcinia itu menyimpulkan kulit buah Garcinia semseii mempunyai daya hambat terbesar melawan HIV dengan nilai IC50 hanya 5,7 µg/ml. Semakin kecil dosis, berarti kian kuat ekstrak dalam menghambat virus.

Riset juga membuktikan propolis dan nanas ampuh melawan HIV-AIDS. Hasil penelitian Genya Gekker dan rekan dari Minneapolis Medical Research Foundation, Minneapolis, USA menunjukkan pemberian propolis dosis 66,6 g/ml
mampu menghambat ekspresi virus HIV maksimal 85—98%. Tim peneliti menduga air liur lebah itu mengandung zat antiviral yang berperan menghambat masuknya virus ke dalam sel CD4+. (Baca: Propolis Pro Imun halaman 58—59).

Nanas mengandung enzim bromelain yang mampu memecah protein virus HIV

Nanas mengandung enzim bromelain yang mampu memecah protein virus HIV

Uluran tangan
Melalui penelitian pada 2012, periset di Universitas Surya, Tangerang Selatan, Provinsi Banten, Tutun Nugraha PhD membuktikan buah nanas berkhasiat mengatasi virus HIV. Ia memberikan jus buah nanas muda ke 7 penderita HIV. Konsumsinya, 2 kali sehari. Selang 3 bulan, hasil pemeriksaan membuktikan angka CD4+ mereka normal.

Tutun menuturkan nanas mengandung enzim bromelain yang mampu memecah protein virus HIV. Akibatnya, virus mati sehingga kekebalan tubuh pengidap HIV meningkat. Semakin banyak herbal berkhasiat mengatasi virus HIV, diharapkan laju pertumbuhan kasus penyakit yang bersimbol pita merah itu dapat ditekan hingga kurang dari 1%.

Pita merah simbol untuk seluruh warga di dunia sepanjang tahun, terutama pada hari AIDS demi menunjukkan kesadaran dan keprihatinan terhadap penderita HIV-AIDS. Simbol pita merah sekaligus untuk mengingatkan bahwa dukungan dan bantuan untuk penderita AIDS sangatlah penting. Bantuan itu antara lain herbal seperti nanas untuk mengatasi serangan virus HIV. (Rosy Nur Apriyanti/Peliput: Bondan Setyawan dan Sardi Duryatmo)

Tren Kasus AIDS di Indonesia

Tren Kasus AIDS di Indonesia

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *