Kandungan alkaloid dalam tapakdara membantu mengatasi sistem kelenjar air liur dan air mata.

Kandungan alkaloid dalam tapakdara membantu mengatasi sistem kelenjar air liur dan air mata.

Konsumsi herbal dan menjaga pola hidup sehat tameng bagi penderita sindrom sjogren.

Vertigo yang menyerang mengantarkan Nis—ia ingin ditulis demikian—ke ruang perawatan intensif (ICU) di sebuah rumah sakit di Jakarta untuk menjalani perawatan. “Saya pikir terkena strok,” ujar dokter spesialis anastesi itu. Hasil pemeriksaan dokter menunjukkan kadar kalium perempuan yang berdomisili di Bogor, Jawa Barat, itu di bawah normal, hanya 1,9 mEq/l. Normalnya kadar kalium di dalam tubuh 3,5—5,5 mEq/l.

Sejak itu Nis rutin mengonsumsi suplemen kalium. Nis mengonsumsi suplemen kalium sesuai kebutuhan, mulai dari 1 kali hingga 3 kali sehari. Jika kondisinya drop ia bisa menghabiskan 10 tablet sekaligus. “Minum kalium sudah seperti makan permen,” ujarnya. Kalium memiliki peran penting dalam tubuh.

Sindrom sjogren
Kalium berperan dalam fungsi sistem saraf, keseimbangan tekanan osmotik antarcairan di dalam sel dengan cairan pada ruang antarsel, filtrasi, dan ekskresi. Pada kasus Nis kekurangan kalium itu berpengaruh ke otot. Badannya lemah, sampai-sampai ia tidak bisa berjalan. Kadar kalium Nis hanya berkisar 2—2,2 mEq/l.

Valentina Indrajati, herbalis di Bogor, Jawa Barat.

Valentina Indrajati, herbalis di Bogor, Jawa Barat.

“Saya sudah tahu kalau badan saya mulai drop pasti kalium saya kurang dari 2,” ujar perempuan berusia 47 tahun itu. Jika bisa beraktivitas normal seperti sekarang saat ini kadar kaliumnya 2,3 mEq/l. Pada orang normal, kadar kalium 2,5 mEq/l saja sudah harus dirawat di ICU. Seorang rekan menyarankan Nis memeriksakan ke dokter imunologi. Ia pun menyambangi dokter imunologi di Jakarta pada 2013.

Hasilnya di luar dugaan, dokter mendiagnosis Nis mengalami sindrom sjogren. Sindrom sjogren merupakan penyakit autoimun yang menyerang kelenjar eksokrin. Menurut dokter spesialis penyakit dalam di Rumah Sakit dr. Sardjito Yogyakarta, Prof. Dr. dr. Nyoman Kertia, Sp.PD.-KR, pasien sindrom sjogren kerap mengalami mata, mulut, dan kerongkongan kering.

Baca juga:  Pamelo Pamer Buah

Nyoman menjelaskan akibat sindrom sjogren beragam. Pada mata, misalnya, lantaran kelenjar air mata mengalami masalah mata menjadi kering. Atau pada kelenjar ludah tidak produksi sehingga mengering. Bisa juga berimbas ke otot sehingga otot menjadi kencang. Sindrom sjogren biasanya terjadi karena penyakit autoimun yang luas. “Jadi efek paling bahaya adalah organ mana yang kena,” ujarnya.

Yang dikhawatirkan penyakit itu mengenai jantung, ginjal, atau paru. Karena, “Di balik sindrom sjogren sering terjadi penyakit yang menjadi penyebab dasarnya,” tutur guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada itu. Nis mengalami autoimun yang berkomplikasi ke ginjal. Ginjal mengalami kebocoran sehingga kalium keluar. Akibat kehilangan kalium itulah badan Nis menjadi lemah.

Ramuan herbal
Nyoman menuturkan, sindrom sjogren tergolong penyakit yang masih jarang. Penyakit yang pertama kali dilaporkan oleh Hadden, Leber, dan Mikulicz pada 1880 itu kebanyakan terjadi pada perempuan di atas 40 tahun. Nis menyadari penyakitnya tergolong spesifik sehingga ia enggan melakukan pengobatan lebih lanjut. “Buat saya penyakit autoimun itu misteri,” ujarnya.

Konsumsi daging menyebabkan lapisan di dalam usus menebal dan membuat kram.

Konsumsi daging menyebabkan lapisan di dalam usus menebal dan membuat kram.

Ibu dua anak itu hanya menambahkan apa yang kurang dalam dirinya, yakni dengan meminum suplemen kalium. Nis lebih memilih menjalani hidup lebih sehat. Ia mulai menjalani hidup sehat dengan menjaga pola makan, beralih ke makanan alami, menghindari daging, serta memperbanyak konsumsi bahan nabati.

Hingga pada 2017 seorang rekan menyarankan Nis menyambangi Valentina Indrajati herbalis di Bogor, Jawa Barat. Nis pun menuruti saran itu. Setelah memeriksa intens, Valentina meresepkan beragam herbal seperti tapakdara, daun dewa, daun sirsak, rimpang temuputih, pegagan, sambiloto, dan daruju. Dari berbagai herbal itu Valentina yang juga guru yoga itu memberikan tapakdara dan daun dewa 50%, sedangkan sirsak dan temu putih 35%.

Baca juga:  Rumah Kopi Mukidi

Sisanya, pegagan, sambiloto serta daruju 15%. Nis merebus satu saset serbuk herbal ke dalam 600 cc air. Setelah mendidih, ia mengaduk dan mengendapkannya. Rebusan herbal itu ia konsumsi 3 kali, masing-masing 200 cc. “Konsumsi rebusan herbal sebelum makan ketika perut kosong,” ujar anak bungsu dari tiga bersaudara itu. Nis memang hanya konsumsi herbal untuk mengatasi gangguan kesehatannya.

Gaya hidup sehat

Ilustrasi: Bahrudin

Ilustrasi: Bahrudin

Atas saran Valentina, setiap pagi Nis juga mengonsumsi jus campuran pisang, kol, sawi, dan jeruk. Valentina juga menyarankan untuk menghindari konsumsi hewan berkaki 4 atau daging merah. Itu karena daging menyebabkan lapisan di dalam usus menjadi tebal dan membuat kram. Daging juga menciptakan mukus sehingga usus menjadi tidak sehat. Selain itu Velentina menganjurkan Nis mengonsumsi makanan kaya serat dan protein tinggi seperti sayuran dan kacang-kacangan.

Nis juga menghindari konsumsi buah yang menimbulkan gas seperti durian, nangka, lengkeng, dan rambutan. Perlahan tapi pasti mulai Nis merasakan perubahan. “Badan terasa lebih segar,” ujarnya. Hingga kini Nis tetap mengonsumsi ramuan herbal itu. Setelah rutin 2—3 pekan konsumsi herbal, Nis berhenti minum kalium. Meski masih dalam proses terapi, tetapi Nis mulai merasa kondisinya lebih baik.

Valentina menjelaskan keseluruhan herbal yang ia berikan itu bekerja saling melengkapi. Tapakdara, misalnya, mengandung alkaloid yang membantu mengatasi sistem kelenjar air liur dan air mata yang terjadi pada kasus sindrom sjogren (lihat boks).

Adapun daun sirsak dan temuputih meningkatkan daya tahan tubuh, mempermuda sel, dan menguatkan fungsi lever. Dengan mengonsumsi herbal dan menerapkan polha hidup sehat membuat penderita sindrom sjogren menjadi lebih bugar. (Desi Sayyidati Rahimah)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d