Hepar Tanpa Radang 1
Minuman temulawak berkhasiat untuk kesehatan

Minuman temulawak berkhasiat untuk kesehatan

Temulawak berkhasiat melindungi hati dan menjaga stamina.

Anjuran tidur malam selama 8 jam agar bugar tidak berlaku bagi Atiar Lim. Buktinya, meski cukup tidur malam, ia kembali mengantuk menjelang pukul 10.00 keesokan hari. Padahal setiap pagi warga Kalideres, Jakarta Barat, itu meminum segelas kopi. Akibatnya, ia menyewa sopir untuk mengantar bepergian. “Takut kecelakaan kalau saya mengantuk di belakang kemudi,” ujar Atiar. Gangguan kesehatan itu mendorong Atiar untuk memeriksakan diri ke dokter spesialis penyakit dalam.

Dokter mendiagnosis Atiar menderita pembengkakan hati. “Terlambat berobat, risikonya kanker hati,” ujar Atiar menirukan ucapan dokter. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan kadar Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase (SGOT) mencapai 50 U/L dan Serum Glutamic Piruvic Transaminase (SGPT) tinggi, mencapai 60 U/L. Kadar normal SGOT 5—40 U/L dan SGPT 7—56 U/L. SGOT dan SGPT adalah enzim yang dipakai hati untuk bekerja jika kondisi hati rusak. Dalam uji SGOT dan SGPT, hati dikatakan rusak bila jumlah enzim itu dalam plasma melebihi kadar normal.

Prof Dr dr Nyoman Kertia SpPD-KR peneliti temulawak

Prof Dr dr Nyoman Kertia SpPD-KR peneliti temulawak

Pengganti kopi

Dokter spesialis penyakit dalam di Rumahsakit dr Soetomo, Surabaya, Dr dr H Arijanto Jonosewojo SpPD, mengatakan pembengkakan hati terjadi akibat inflamasi alias radang. Pemicu radang hati beragam seperti kurang istirahat, kebiasaan memaksa diri untuk terus bekerja meski lelah, sampai konsumsi obat maupun alkohol. Tanpa penanganan, peradangan menjadi kronis dan mengganggu fungsi hati. Dalam jangka panjang organ itu bakal rusak.

“Jika itu terjadi, tubuh penderita menjadi lemah lantaran racun dalam darah tidak ternetralisir,” kata Arijanto. Ada 2 jenis pembengkakan hati: akut dan kronis. Radang hati akut yang tidak segera ditangani menyebabkan kematian. Sementara radang hati kronis berpeluang berkembang menjadi sirosis atau kanker. Jenis kedua itu yang diderita Atiar. Untuk mengatasinya, dokter memberikan obat antiradang. Demi kesembuhan pria 65 tahun itu rutin mengonsumsi obat hingga 6 bulan.

Baca juga:  Kunci Petunjuk Petani Kentang

Sayang, kesembuhan ibarat jauh api dari panggang. Setelah disiplin mengonsumsi obat selama 6 bulan, Atiar memeriksakan diri ke sebuah rumahsakit di Singapura. Hasil diagnosisnya sama: pembengkakan hati dan kadar SGOT-SGPT tinggi. Jalan kesembuhan terbuka tanpa terduga. Saat mengantar istri berbelanja, pandangannya menumbuk poster berbahasa Mandarin yang artinya “sari temulawak, obat lever.” Atiar pun membeli 2 pak sari temulawak itu.

Beragam minuman fungsional yang terbuat dari ekstrak temulawak

Beragam minuman fungsional yang terbuat dari ekstrak temulawak

Ketika tiba di rumah, ia melarutkan sebungkus sari temulawak dalam segelas air dingin dan meminum sesudah makan. Frekuensi konsumsi dua kali sehari masing-masing 1 gelas sebagai pengganti kopi. Selama 2 pekan rutin mengonsumsi sari temulawak itu, kondisi Atiar berangsur membaik. Staminanya kembali normal. Atiar kembali memeriksakan diri ke Singapura 2 bulan pascakonsumsi sari temulawak. Hasilnya, kadar SGOT dan SGPT ayah 2 anak itu normal.

Atiar girang bukan kepalang mengetahui hasil diagnosis itu. ”Dokter yang dulu menangani saya terkagum-kagum sampai geleng-geleng,” ujarnya. Meski kondisi terus membaik, Atiar rutin mengonsumsi sari rimpang Curcuma xantorrhiza itu sampai searang. Tujuannya untuk menjaga kesehatan. “Saya tak pernah absen meminumnya 15 tahun terakhir,” kata Atiar.

Praktis

Menurut Maria Margaretha Andjarwati, herbalis di Kelapagading, Jakarta Utara, temulawak berkhasiat menetralisir racun dalam tubuh. Untuk menjaga kesehatan, sering-seringlah mengonsumsi temulawak. Apalagi produk suplemen berbahan temulawak semakin marak di pasaran. Keruan saja konsumsi temulawak menjadi mudah dan praktis. Bentuknya pun beragam seperti serbuk, kapsul, dan minuman temulawak instan. PT Citra Deli Kreasitama juga memproduksi ketiga jenis olahan rimpang manjur itu.

Atiar Lim terhindar dari kanker hati berkat sari temulawak

Atiar Lim terhindar dari kanker hati berkat sari temulawak

Olahan itu membuat konsumen tak perlu repot memarut rimpang. Cukup sobek kemasan, tuang ke dalam gelas, lalu seduh dengan air panas atau dingin sesuai selera. Minuman instan berisi serbuk temulawak dan gula tambahan yang dikemas dalam saset. Produsen minuman herbal instan berbahan temulawak sejak 1993 itu membuat 3 variasi rasa: natural, kombinasi rasa madu dan jeruk, serta madu dan lemon. “Variasi itu untuk memanjakan lidah konsumen. Mereka tinggal memilih mana yang lebih disukai,” ujar Hudioro Leonardo dari bagian pemasaran PT Citra Deli Kreasitama.

Baca juga:  Super Oranye Mutu Super

Nun di Surabaya, produsen herbal terstandar PT Helmig Prima Sejahtera juga enggan ketinggalan. Perusahaan itu memproduksi beragam suplemen temulawak, antara lain serbuk yang dikemas dalam saset, tablet, dan teh siap seduh. Untuk mendapatkan bahan aktif murni, PT Helmig Prima Sejahtera mengekstrak dengan teknologi tinggi. Itu menjamin dosis akurasi dosis bahan aktif. Dalam 25 mg ekstrak temulawak mengandung 2,8 mg kurkumin—senyawa aktif utama temulawak. Dengan takaran tepat, konsumsi kerabat jahe praktis dan tetap berkhasiat.

Menurut dokter dan pakar temulawak dari Universitas Gadjah Mada, Prof Dr dr Nyoman Kertia SpPD-KR, temulawak mengandung senyawa xantorizol dan gugus kurkuminoid yang berperan melindungi hati. Kurkuminoid adalah komponen pemberi warna kuning pada rimpang temulawak. Senyawa itu terdiri atas dua jenis yaitu kurkumin dan desmetoksikurkumin yang berkhasiat menetralkan racun dan mencegah terjadinya perlemakan dalam sel-sel hati.

Kurkumin juga berperan sebagai antioksidan penangkal senyawa radikal bebas. Xantorizol merupakan senyawa utama minyak asiri temulawak yang berperan sebagai antiinflamasi. “Kedua zat itu bahu-membahu meringankan kerja hati sehingga mencegah sirosis,” ujar Nyoman. Hasil penelitian Tri Handayani dari Fakultas Sains dan Teknologi, Universiti Kebangsaan Malaysia, juga menunjukkan keampuhan temulawak. Handayani menguji xantorizol—salah satu zat aktif dalam rimpang temulawak—melawan sel kanker hati.

Handayani memberi 4 μg xantorizol /ml kepada sel kanker hati selama 0 jam, 24 jam, 48 jam, dan 72 jam. Sebagai kontrol negatif, ia juga memberikan 1% dimetil sulfoksida pada sel kanker hati, sedangkan kontrol positif, 8 μg/ml sisplatin. Hasil riset ilmiah itu menunjukkan pada konsentrasi 4,17 μg/ml, xantorizol mengurangi 50% populasi sel kanker hati. Sementara nilai konsentrasi penghambatan (IC50) sisplatin terhadap sel kanker 7,41 μg/ml. Artinya xantorizol memiliki efek antiproliferasi lebih tinggi ketimbang obat kanker berupa sisplatin. (Kartika Restu Susilo)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *