Hemat Rp35 juta

Hemat Rp35 juta 1
Serangan hama pada kubis meningkat pada musim kemarau.

Serangan hama pada kubis meningkat pada musim kemarau.

 

Penggunaan lampu penarik hama turunkan biaya produksi kubis.

Setiap kali kemarau datang Ardy Seno cemas akan serangan ulat Plutella xylostella pada tanaman kubis di lahannya. Serangan ulat berwarna hijau itu menggila pada musim kemarau. Petani di Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, itu membudiayakan kubis di lahan 8.000 meter persegi. Untuk mengendalikan serangan Ardy menyemprotkan insektisida 4—6 kali per musim tanam.

Lampu penarik hama kreasi peneliti di Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Ir. Tony Koestoni Moekasan.

Lampu penarik hama kreasi peneliti di Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Ir. Tony Koestoni Moekasan.

“Musim panas aplikasi insektisida lebih banyak daripada musim hujan. Jika musim panas 6 kali aplikasi insektisida, pada musim hujan hanya 4 kali aplikasi insektisida tergantung serangan,” kata Ardy. Ia menanam kubis sebagai penjeda tanaman tomat hitam indigo rose. “Jika sudah 2 kali tanam Solanaceae saya menanam kubis sebagai penjeda,” katanya. Ardy mengatakan pengendalian hama salah satu penyebab biaya produksi membengkak.

Lampu hama

Menurut Ardy biaya pengendalian hama minimal 13% dari total biaya produksi. Pria kelahiran Yogyakarta itu mencontohkan titik impas harga kubis Rp2.000 per kg. Artinya Ardy tidak mendapatkan untung. Namun, kini petani kubis dapat memanfaatkan lampu penarik hama kreasi Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa) untuk mengontrol hama utama tanaman anggota famili Brassicaceae itu.

Menurut peneliti di Balitsa, Ir. Tony Koestoni Moekasan, penggunaan lampu penarik hama mengurangi aplikasi insektisida. Tony mencontohkan, tanaman kubis berumur 5 pekan jika menggunakan lampu penarik hama hanya memerlukan 2 kali penyemprotan. Adapun cara konvensional lazimnya 10 kali penyemprotan pada waktu yang sama. Hal itu tentu memangkas biaya produksi pengendalian hama penyakit.

Menurut periset itu penghematan penggunaan bisa mencapai 70%. Artinya, jika biaya pengendalian biasanya Rp10 juta per hektare, dengan menggunakan lampu penarik hama bisa dipangkas menjadi Rp3 juta. Tony menambahkan lampu penarik hama kreasinya menggunakan tenaga surya atau solar cell. Oleh karena itu, petani tidak memerlukan listrik untuk mengoperasikannya.

Lampu bisa menarik hama hingga jarak 30 meter.

Lampu bisa menarik hama hingga jarak 30 meter.

Aplikasi lampu penarik hama juga aman bagi manusia dan hewan karena menggunakan arus listrik searah direct current (DC). Petani tinggal menggantung lampu menggunakan penyangga kayu di atas kanopi tanaman. Jarak antarlampu 30 meter. Sebagai tempat jebakan hama mengunakan baskom berdiameter kurang lebih 30 cm berisi air sabun. Adapun rata-rata keperluan satu hektare adalah 30 buah lampu.

Baca juga:  Manusia dan Anjing Berbagi Air

Tony menganjurkan mencabut bola lampu dari panel panel surya ketika tidak digunakan. Pasalnya, untuk menghindari matinya baterai kering yang terdapat pada panel surya. Cara kerja lampu otomatis menyala ketika sinar matahari tidak menyinari lahan. Lampu berwarna ungu itu menyala menarik perhatian hama. Hama tertarik mendekat ke lampu, kemudian terjatuh ke wadah baskom berisi air sabun.

Ragam komoditas

Peneliti di Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Ir. Tony Koestoni Moekasan.

Peneliti di Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Ir. Tony Koestoni Moekasan.

Menurut Tony harga seperangkat lampu beserta panel surya hanya Rp250.000. Harga itu belum termasuk baskom dan penyangga kayu. Lampu itu mampu menarik beragam hama di antaranya Plutella xylostella (ulat daun kubis), ulat krop Crocidolomia binotalis, ulat tanah Agrotis ipsilon, dan ulat jengkal Chryodeixis chalcites. Tony mengatakan, petani juga bisa menerapkan lampu penarik hama untuk komoditas lain di antaranya bawang merah, cabai, tomat, kentang, dan padi.

Petani bawang merah di berbagai sentra seperti di Cirebon, Provinsi Jawa Barat, Brebes, (Jawa Tengah), dan Enrekang, (Sulawesi Selatan) telah menggunakan lampu itu. Begitu juga petani padi di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Petani bawang merah di Enrekang, Subair, mengatakan, sangat terbantu dengan adanya inovasi lampu penarik hama kreasi Balitsa. Pasalnya penggunaan insektisida menurun.

Sebelum menggunakan lampu, Subair mengeluarkan biaya untuk pengendalian hingga Rp60 juta per hektare per musim tanam. Setelah menggunakan lampu biaya itu turun menjadi Rp25 juta per hektare per musim tanam. Artinya Subair bisa menghemat hingga Rp35 juta untuk pengendalian hama. Subair menggunakan 15 lampu di lahan 1 hektare. “Letak lampu disesuaikan dengan posisi lahan,” katanya.

Menurut Ardy penggunaan lampu penarik hama harus disesuaikan dengan komoditas. Apalagi penarik hama yang menggunakan listrik agar petani bisa meraih untung. “Jika komoditasnya kubis hijau tentu tidak masuk dari segi ekonomi. Namun, jika lampu menggunakan energi matahari mungkin lebih ekonomis,” kata Ardy.

Baca juga:  Inovasi Pertanian

Tony melakukan penelitian lampu penarik hama sejatinya sejak tahun lalu. Harapannya agar petani terbantu dengan memangkas biaya pengendalian hama penyakit lebih ekonomis. Menurut Tony inovasi lampu penarik hama memang sudah banyak yang memasarkan. Namun, harganya masih sangat mahal. Dengan beberapa modifikasi kreasi Tony harga lampu menjadi lebih ekonomis. Sehingga petani bisa merasakan langsung faedah lampu ungu penarik hama. (Muhamad Fajar Ramadhan)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Tags:
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x