Hemat Berkat Azola 1
Azola mengandung protein sehingga cocok sebagai pakan ikan

Azola mengandung protein sehingga cocok sebagai pakan ikan

Azola menghemat penggunaan pakan pabrik hingga 22%.

Omzet Suminto melambung hingga Rp12-juta dari penjualan 1 ton lele seharga Rp12.000 per kg. Peternak di Mandiraja, Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah, itu meraih laba bersih Rp1,7-juta per siklus pembesaran. Pada budidaya sebelum 2013, laba bersihnya Rp500.000—Rp1-juta. Peningkatan keuntungan hingga 70% itu karena Suminto mengganti pakan pabrikan dengan pelet berbahan baku azola, sejenis paku air.

Menurut Kepala Seksi Usaha Perikanan Bidang Perikanan pada Dinas Pertanian, Perikanan dan Peternakan (Dintankannak) Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, YAU Sugihardjo SPi, biaya pakan pada pembesaran lele sangat tinggi, mencapai 70—80% dari ongkos produksi. Akibatnya, “Margin lele sangat sedikit,” kata Sugihardjo. Apalagi harga pakan pabrik cenderung meningkat tiap tahun.

Suminto memanfaatkan azola sebagai pakan sejak 2013

Suminto memanfaatkan azola sebagai pakan sejak 2013

Protein tinggi
Akibat tingginya biaya pakan, beberapa peternak mencari beragam cara untuk menyiasatinya. Salah satu caranya memakai pelet azola. Suminto yang menggunakan azola sejak 2013 itu 5 kali panen dengan laba rata-rata Rp1,7-juta. Ia membudidayakan lele di kolam 10 m x 5 m dengan padat tebar 200 ekor per m2. Artinya dalam satu kolam ada 10.000 lele. Peternak di Mandiraja, Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah, itu menggunakan benih lele sangkuriang berukuran 7—9 cm.

Musababnya pelet azola yang berdiameter 2 mm itu cocok untuk mulut ikan berukuran 7—9 cm. “Lele berukuran di bawah 7—9 cm kurang pas karena ukuran pakan terlalu besar,” kata pria kelahiran Banjarnegara itu. Suminto yang memanfaatkan pelet azola sebagai pakan lele memerlukan waktu 70 hari untuk satu siklus pembesaran lele. Itu 10 hari lebih lama daripada menggunakan pelet pabrikan.

Baca juga:  Wiratani Muda 2017

Meski waktu pembesaran lebih lama, harga pelet azola lebih rendah ketimbang pelet pabrikan sehingga total biaya produksi lebih rendah. Hasilnya keuntungan penggunaan pelet azola pun lebih tinggi. Untuk membesarkan lele hingga ukuran konsumsi, sekilogram terdiri atas 8—10 ekor, ia memerlukan 1.300 kg pelet azola. Harga 1 kg pelet azola Rp6.000 per kg atau Rp7,8-juta per siklus.

Pelet azola menghemat pakan pabrikan hingga 22%

Pelet azola menghemat pakan pabrikan hingga 22%

Padahal, dengan pakan pabrikan ia harus merogoh kocek hingga Rp10-juta. Itu untuk pembelian 1.000 kg pakan seharga Rp10.000 per kg. Artinya, peternak yang memanfaatkan pelet azola menghemat biaya pakan hingga 22%. Suminto mengembangkan pelet berbahan azola sejak 2013. Sebelumnya ia menggunakan eceng gondok sebagai bahan pelet. Menurut peternak lele sejak 2000 itu fungsi eceng gondok dan azola pada pelet sama, membuat pakan terapung. Bedanya, “Kandungan protein azola lebih tinggi daripada eceng gondok,” kata Ketua Kelompok Pembudidaya Ikan Dumboys itu.

Bersimbiosis
Selain azola bahan baku lain pelet hasil kreasi Suminto adalah tepung bekatul, tepung ikan, dan silase ikan. “Kandungan azola pada pelet sebesar 30%, sementara sisanya bahan lain,” katanya. Ia memfermentasi azola sebelum digunakan sebagai bahan baku pelet. Caranya ia mencampur 50 kg azola segar dengan 1 liter molase dan 30 cc probiotik. Ia memasukkan campuran ketiga bahan itu ke dalam drum tertutup bervolume 200 l selama 15—20 hari. Setelah itu azola siap digunakan.

Lele berukuran 7—9 cm yang bisa mengonsumsi pelet azola

Lele berukuran 7—9 cm yang bisa mengonsumsi pelet azola

Hasil penelitian Nurfadhilah dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor mengungkapkan fermentasi meningkatkan kualitas nutrisi azola. Fermentasi mengakibatkan penurunan serat kasar 37% dan peningkatan protein 39%. Sementara hasil riset Hany Handajani dari Jurusan Perikanan Universitas Muhammadiyah Malang menunjukkan tepung azola terfermentasi mengandung protein 20%.

Suminto membudidayakan azola di kolam semen

Suminto membudidayakan azola di kolam semen

Peredaran pelet azola masih terbatas di kelompok peternak di Banjarnegara. Menurut peneliti azola dan dosen Fakultas Pertanian dan Peternakan, Universitas Muhammadiyah Malang, Dr Ir Aris Winaya MM MSi, azola cocok sebagai pakan ikan karena memiliki protein tinggi. Protein berperan dalam pertumbuhan lele.

Baca juga:  Dari Garasi Lalu Mendunia

Selama hidupnya azola bersimbiosis mutualisme dengan ganggang hijau biru Anabaena azollae. Ganggang itu mampu mengikat nitrogen di udara. “Simbiosis itulah yang membuat kandungan protein azola tinggi,” kata alumnus Institut Pertanian Bogor itu. Penggunaan pelet azola pun dapat menjadi pakan alternatif budidaya lele. (Riefza Vebriansyah)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *