Penanaman serai sebagai tanaman sela di antara avokad mengurangi kehadiran serangga pengganggu dan membuat kulit avokad mulus. Bau serai karena kandungan senyawa sitronellal sekitar hingga 32—45% tidak disukai hama.

Penanaman serai sebagai tanaman sela di antara avokad mengurangi kehadiran serangga pengganggu dan membuat kulit avokad mulus. Bau serai karena kandungan senyawa sitronellal sekitar hingga 32—45% tidak disukai hama.

Pemupukan dan perawatan secara intensif menghasilkan avokad berkualitas dan berbuah terus-menerus.

Sosok pohon avokad di sebuah kebun di Kecamatan Cariu, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, itu begitu memikat. Tingginya cuma 3 meter dengan buah lebat berwarna hijau mengilap dan mulus. Sosok buah relatif besar. Jika ditimbang sebuah berbobot 500—800 gram. Bahkan tak jarang ditemui buah berbobot 1 kg. Yang istimewa, tidak hanya sepohon itu yang berbuah lebat.

Di kebun seluas 11 hektare itu ada lebih dari 10.000 pohon avokad varietas miki. Saat ini hampir 5% populasi alias 500 tanaman berbuah. Pohon yang ditanam pada 2012 itu mulai berbuah pada umur 3—4 tahun. Produktivitas setiap tanaman 50—70 kg buah per tahun.

Panen 2 kali

Avokad miki di kebun Eflin Sirait berwarna hijau mengilap dan mulus. Bobot mencapai 500—800 gram per buah. Itulah alasan banyak konsumen menyukai avokad asal Beji, Kota Depok itu.

Avokad miki di kebun Eflin Sirait berwarna hijau mengilap dan mulus. Bobot mencapai 500—800 gram per buah. Itulah alasan banyak konsumen menyukai avokad asal Beji, Kota Depok itu.

Istimewanya lagi, penampilan dan citarasa buah juga memikat. Daging buah kuning, tebal, pulen, bercita rasa gurih dan legit, serta sedikit manis. Pantas bila empunya kebun, Eflin Sirait, tak jenuh datang ke kebun. Padahal untuk mencapai kebun ia menghabiskan waktu 2—3 jam melewati hutan dan jalan sempit.

Lantaran buah terlalu berat, Eflin memasang bambu di berbagai sisi pohon untuk menopang cabang. Akuntan di perusahaan multinasional itu memetik rata-rata 3—5 ton avokad sekali panen. Dalam setahun ia dua kali panen raya atau total 10 ton avokad per tahun.

Eflin membagi hasil panen buah kaya manfaat itu ke dalam 3 kategori: grade A, B, dan C. Buah masuk grade A jika bobot 600—800 g/buah, kulit hijau mengilap mulus, dan tanpa sedikit cacat; grade B jika bobot 500—700 g/buah dengan sedikit bintik hitam; dan grade C jika bobot 450—600 g/buah dan terdapat banyak bintik hitam. Total jenderal sebanyak 92% hasil panen masuk grade A, 5% grade B, dan 2—3% grade C.

Baca juga:  Kampiun Pengujung Tahun

Ia lalu menjual avokad kepada kerabat, rekan-rekan, dan pasar swalayan di kawasan Cibubur, Jakarta Timur dan Kota Bogor. Avokad grade A dibanderol dengan harga Rp50.000/kg, grade B Rp30.000—Rp40.000/kg, dan grade C Rp25.000—Rp30.000/kg. Ia meraup omzet Rp300-juta setahun atau rata-rata Rp25-juta per bulan dari 500 pohon.

Eflin Sirait mengebunkan avokad miki sejak 2012 di Kecamatan Cariu, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Ia panen hingga 10 ton setiap tahun.

Eflin Sirait mengebunkan avokad miki sejak 2012 di Kecamatan Cariu, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Ia panen hingga 10 ton setiap tahun.

Kuncinya pupuk
Menurut Eflin, salah satu kunci menghasilkan avokad berkualitas yaitu pemupukan tepat. Ia memberikan pupuk dasar berupa campuran pupuk kandang ayam, sekam, dan sejumput pupuk NPK Phonska. Komposisi 15:15:5. Dosis pupuk dasar 5 kg per lubang tanam.

Perlakuan pemupukan diimbangi dengan penyiraman rutin, terutama ketika kemarau. Frekuensi penyiraman 2—3 kali per minggu dengan volume 3—5 liter per tanaman. Penyiraman dengan cara manual memanfaatkan 2 bak penampungan berukuran 3 m x 3 m x 5 m. Pemupukan lanjutan ketika tanaman berumur 3 bulan pascatanam. Pupuk berupa pupuk kandang ayam, pupuk daun, dan NPK Phonska dengan konsentrasi 3 kg pupuk dilarutkan dalam 8 liter air untuk 2—3 tanaman. Frekuensi penyiraman sebulan sekali. Saat avokad sudah berbunga tambahkan pupuk kalium di sekeliling pohon. Dosis 500 g per tanaman setiap bulan.

Selain itu, ia menyemprotkan campuran fungisida dan zat pengatur tumbuh untuk mencegah serangan organisme pengganggu tanaman setiap bulan sejak tanaman umur lima bulan. Dosis 5 liter per pohon. Pengaplikasian dilakukan bersamaan saat memberikan pupuk susulan. Pada tahun ketiga tanaman mulai berbunga.

Salah satu kunci menghasilkan avokad berkualitas: pemupukan tepat. Pupuk dasar berupa campuran pupuk kandang ayam, sekam, dan sejumput NPK. Frekuensi pemupukan setiap bulan.

Salah satu kunci menghasilkan avokad berkualitas: pemupukan tepat. Pupuk dasar berupa campuran pupuk kandang ayam, sekam, dan sejumput NPK. Frekuensi pemupukan setiap bulan.

Kalium berperan mengatur proses fotosintesis, distribusi, pengangkutan, dan penggudangan karbohidrat. Ketika tanaman sudah berbuah, Eflin menaburkan pupuk kalium padat di sekeliling pohon avokad sebanyak 500—700 g.

Baca juga:  Peluang Pasar Puyuh Pedaging

Hama miki
Meski begitu, menanam miki bukan tanpa kendala. Memasuki masa berbunga, serangan hama mulai menghadang. Pada awal 2017 tanaman di kebun terserang kutu putih secara massal. Akibatnya pohon kering dan hampir mati. Sebab kutu putih mengisap cairan tumbuhan. “Butuh waktu 3—4 bulan untuk masa pemulihan,” kata Eflin. Untuk mengatasinya, Eflin menyehatkan kondisi tanaman dengan memberikan pupuk NPK dan zat pengatur tumbuh. Selain itu melakukan penyemprotan pestisida dan insektisida berbahan aktif fipronil yang ampuh mengatasi kutu putih.

Musuh lain avokad miki, hama ulat Cricula trisfenestrata. Menurut pengawas benih dan hortikultura, Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Jawa Barat, Endang Priyatna, sebenarnya miki tahan serangan ulat itu. “Namun, dalam kondisi tidak ada makanan lain, ulat menyerang avokad. Seluruh daun habis dimakan,” kata Endang Priyatna. Dosen Departemen Agronomi dan Hortikultura di Institut Pertanian Bogor (IPB), Sobir PhD, mengatakan beberapa varietas avokad tidak disukai ulat karena mengandung enzim antiprotease. Jika enzim itu masuk ke tubuh, ulat tidak bisa mengurai protein yang dibutuhkan untuk berkembang biak.

Hama Aphis gossypii menimbulkan bercak cokelat kehitaman. Buah terserang berpenampilan jelek sehingga mengurangi minat pembeli dan mengakibatkan harga jual turun.

Hama Aphis gossypii menimbulkan bercak cokelat kehitaman. Buah terserang berpenampilan jelek sehingga mengurangi minat pembeli dan mengakibatkan harga jual turun.

Saat bunga sukses menjadi buah, kendala lain menghadang. Sekitar 3—5% kulit buah tidak mulus akibat terserang hama Aphis gossypii. Hama itu mengeluarkan embun madu yang biasanya ditumbuhi cendawan jelaga sehingga menimbulkan bercak cokelat kehitaman. Tampilan buah yang terserang menjadi jelek sehingga mengurangi minat pembeli dan mengakibatkan harga jual turun.

Untuk mengatasi, Eflin menanam serai di sisi-sisi lahan. Serai berperan sebagai repellent alias penolak hama. Pengamatan Eflin, avokad miki yang ditanam dekat serai berkulit mengilap karena tidak ada serangan aphis. Berbeda dengan pohon avokad yang tumbuh berjauhan dengan serai, kulit buahnya tidak mulus karena gangguan aphis.

Menurut peneliti di Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian, Rofirma Manurung, serai mengandung senyawa sitronellal sekitar 32—45%, geraniol 10—12%, sitronellol 11—15%, geranil asetat 3—8%, dan sitronellal asetat 2—4%. Sitronellal merupakan senyawa aktif yang bekerja sebagai racun dan mengganggu sistem saraf serangga.

Saat aphis mendekati buah avokad, hama itu menghirup aroma serai yang mengandung sitronelall. Hama pun menjauhi tanaman dan buah avokad. Ketika hama tidak sengaja memakan serai, sistem saraf aphis akan rusak dan mati. Jika kendala budidaya dapat diatasi, niscaya avokad berbuah prima. Itulah yang terlihat di kebun Eflin. (Tiffani Dias Anggraeni)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d