Lubang bekas inokulasi ditutup sumbat bambu.

Lubang bekas inokulasi ditutup sumbat bambu.

Nutrisi merangsang pembentukan gubal tanpa mematikan pohon.

Isyarat kematian itu datang melalui tunas daun mengering lalu gugur terempas angin. Daun-daun tua menyusul sehingga dalam 2 bulan pohon gaharu setinggi 7 m berdiameter 17 cm mati. Sebulan sebelumnya pekebun di Muarabungo, Jambi, Heru Warsita menyuntik pohon berumur 3 tahun itu dengan cairan inokulan berisi cendawan. Dua pohon yang ia inokulasi dengan fusarium bernasib sama, mati mengering 2 bulan pascapenyuntikan.

Padahal, ia merogoh kocek hampir Rp7-juta untuk menginokulasi kedua pohon itu dengan harapan bakal memperoleh kayu harum yang berharga fantastis. Itu belum memperhitungkan biaya memelihara pohon selama 3 tahun sejak bibit hingga siap inokulasi. Pekebun di Kota Depok, Jawa Barat, Ayub (67 tahun) juga menginokulasi 3 dari 700 pohon gaharu di kebunnya dengan cairan inokulan jenis baru yang berisi nutrisi.

Cendawan alami

Ayub, pekebun gaharu di Kota Depok, Jawa Barat.

Ayub, pekebun gaharu di Kota Depok, Jawa Barat.

Pada Januari 2017 lalu, Ayub menebang satu dari pohon yang diinokulasi setahun lalu itu. Setelah proses pembersihan dan penyerutan, purnatugas Kementerian Kehutanan itu memperoleh sekilogram gaharu kelas B. Tidak hanya itu, proses penyerutan menyisakan lebih dari 10 kg kayu berwarna putih—biasa disebut kelas abu—yang layak menjadi bahan penyulingan untuk memperoleh minyak.

Bahan-bahan itu belum ia jual karena masih sedikit. Lagi pula tujuan penebangan pohon berdiameter 20 cm setinggi 11 m itu sekadar memastikan keberhasilan inokulasi dan menghitung hasilnya. Percobaan metode inokulasi dengan cairan nutrisi itu pertama kali di Lampung Tengah pada 2015. Penemu inokulan nutrisi, Kusnadi, menyatakan kandungan utama inokulan itu nutrisi dasar seperti fosfor (P), potasium (K), kalsium (Ca), dan karbon.

Baca juga:  Sumpit Jemput Gubal

“Tanaman memerlukan nutrisi makro dan mikro, demikian pula cendawan inokulan. Ketersediaan bahan nutrisi mengoptimalkan pertumbuhan keduanya,” ungkap Kusnadi. Itu berarti gubal terbentuk tanpa mematikan pohon. Lantas dari mana cendawan yang menginfeksi pohon hingga membentuk kayu harum? “Pohon gaharu hidup dengan koloni cendawan inokulan secara alami,” kata Dr Supriyanto, peneliti tanaman kehutanan di Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.

Cairan nutrisi merangsang perkembangan cendawan tanpa mematikan pohon.

Cairan nutrisi merangsang perkembangan cendawan tanpa mematikan pohon.

Dalam kondisi normal, cendawan tidak menginfeksi, tapi kalau pohon stres maka cendawan punya peluang masuk ke dalam jaringan dan membentuk gubal di antara kayu. Di dalam jaringan tanaman, cendawan hidup dan memperbanyak diri dengan merampas aliran fotosintat (hasil fotosintesis) yang berupa gula sederhana. Jika infeksi terlalu parah sampai cendawan merampas terlalu banyak fotosintat, pohon justru mati.

Itu persis pengalaman Heru Warsita. “Pohon yang mati tidak akan membentuk gubal. Hanya pohon hidup yang mampu menghasilkan kayu harum,” kata Supriyanto. Menurut Supriyanto kayu harum terbentuk lantaran pohon menyusun metabolit sekunder untuk menghentikan penyebaran cendawan.

Manfaatkan daun
Sementara itu metabolit sekunder berfungsi menghalau infeksi parasit, termasuk cendawan inokulan. Itu sebabnya pohon justru harus hidup dan sehat. Menurut Kusnadi banyak keuntungan kalau pohon tetap tumbuh normal meskipun terinokulasi. Pohon bisa tetap berbuah sehingga pekebun bisa mendapatkan bibit untuk memperluas penanaman, dijual kepada pekebun lain, maupun sebagai bahan herbal.

Pekebun juga bisa mengolah daun menjadi bahan seduhan laiknya teh atau membuat kompos dari serasah daun. Setelah ditebang untuk dipanen gubalnya, bekas tebangan pohon dapat menghasilkan tunas air alias coppice. Tunas air itu kelak menjadi pohon baru yang lebih cepat mencapai ukuran ideal untuk inokulasi. Teknik inokulasi nutrisi serupa dengan inokulasi biasa. Lubangi batang pohon sedalam 5 cm dengan bor lalu masukkan cairan nutrisi.

Tunas air bisa lebih cepat diinokulasi

Tunas air bisa lebih cepat diinokulasi

Setelah itu tancapkan bambu yang juga dicelup cairan nutrisi untuk menutup lubang inokulasi. Sumbat bambu itu sekaligus membedakan lubang yang sudah diinokulasi dengan yang belum. Kusnadi menyarankan pohon yang diinokulasi minimal berumur 3 tahun atau berdiameter minimal 15 cm dan tinggi minimal 5 m. Jarak terdekat lubang inokulasi paling bawah dengan tanah 50 cm untuk mencegah kontaminasi patogen tanah yang memercik ketika hujan.

Baca juga:  Tiga Mutu Sarang Walet

Jarak menyamping dan vertikal antarlubang inokulasi 10—20 cm, disusun berselang-seling (zigzag). Hitung-hitungannya, untuk pohon berdiameter 20—30 cm setinggi 10 m dilubangi 400 lubang. “Lakukan inokulasi pada musim kemarau,” kata Kusnadi. Itu untuk mengurangi risiko infeksi patogen yang terbawa air hujan. Tanda keberhasilan inokulasi bisa tampak sepekan sesudahnya.

Caranya dengan menggoyangkan sumbat bambu, kalau terasa keras dan kencang berarti pohon membentuk metabolit sekunder yang nantinya menjadi kayu harum. Sebaliknya, kalau sumbat bambu longgar ketika digoyang-goyang, artinya inokulasi gagal. Kusnadi menyatakan sejauh ini belum ada yang melaporkan kegagalan atau pohon mati pascapenyuntikan nutrisi.

Gubal yang terbentuk di tengah batang.

Gubal yang terbentuk di tengah batang.

Menurut catatan pegiat inokulasi nutrisi di Provinsi Bangka Belitung, Idi Bantara, hingga saat ini lebih dari 800 l cairan inokulan nutrisi menyebar ke penjuru Nusantara. “Penggunanya tersebar di Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi,” kata pegawai Dinas Kehutanan Provinsi Bangka Belitung itu. Dengan asumsi seliter cairan menginokulasi 5 pohon, artinya lebih dari 4.000 pohon gaharu tersuntik cairan nutrisi itu.

Idi memastikan kesahihan data itu lantaran mereka rutin menghubungi pembeli setiap 3 bulan. Di samping pengecekan berkala, Kusnadi dan Idi yang melayani jasa inokulasi melalui koperasi HKMart, Kota Bandarlampung juga membekali pekebun dengan prosedur standar perawatan pohon pascainokulasi. Di antaranya perawatan dengan pemberian kompos 3—6 bulan sekali.

Kusnadi, inventor inokulasi nutrisi asal Lampung Timur.

Kusnadi, inventor inokulasi nutrisi asal Lampung Timur.

“Pohon sehat lebih berpeluang lebih membentuk kayu harum, itu sebabnya perlu pemupukan untuk memacu pertumbuhan,” kata Idi. Menurut direktur Lembaga Penelitian Tanaman Kehutanan SEAMEO Biotrop, Bogor, Dr Irdika Mansur MForSc, inokulasi tanpa mematikan pohon merupakan perkembangan baru yang menarik sekaligus menguntungkan bagi lingkungan.

Baca juga:  Propolis Tepis Kanker Serviks

Alumnus Universitas Ghent, Belgia, itu menuturkan, “Pohon hidup mampu menyerap karbon dari udara sehingga memperlambat pemanasan global sekaligus menangkap air hujan, yang berarti mempertahankan sumber air tanah.” Apalagi saat ini posisi Indonesia sebagai produsen utama gaharu mulai digoyang negara-negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, dan Vietnam.

Menurut eksportir gaharu di Bengkulu, Joni Surya, ketiga negara itu aktif memperluas penanaman dan mempelajari teknologi inokulasi. Inovasi gaharu tanpa tebang salah satu kunci menghasilkan kayu harum tanpa mengebiri kemampuan pohon menghasilkan bibit tanaman baru. (Argohartono Arie Raharjo)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d