Hasilkan Dekopon Bermutu 1
Standar mutu jeruk dekopon berbobot 330 gram per buah untuk memasok pasar swalayan.

Standar mutu jeruk dekopon berbobot 330 gram per buah untuk memasok pasar swalayan.

Tepat dosis dan cara pemberian pupuk hasilkan dekopon berkualitas.

Panen perdana dekopon pada 2014 membuat Ino Suwarno girang bukan kepalang. Petani di Desa Cigugurgirang, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, itu menuai 2 ton dari 70 pohon jeruk dekopon. Sebanyak 90% atau 1.800 kg sesuai standar pasar swalayan, yakni berbobot 330 gram per buah. Kulitnya mulus berwarna kuning semburat jingga. Citarasa manis dengan sedikit masam.

Ino menjual buah asal Jepang itu ke perusahaan pemasok buah pasar swalayan. Dengan harga jualnya Rp60.000 per kg, omzet Ino Rp108-juta. Ia juga menjual 200 kg—bobot 250 gram per buah—dengan harga Rp45.000 per kg. Panen pada tahun berikutnya meningkat menjadi 2.500 kg. Persentase buah layak pasar swalayan juga 90%.

Penanaman dekopon di dalam greenhouse.

Penanaman dekopon di dalam greenhouse.

Greenhouse
Untuk menghasilkan dekopon bermutu itu, Ino membudidayakannya di dalam greenhouse seluas 1.750 m2. Sejatinya Ino sekadar memanfaatkan greenhouse yang semula untuk menanam paprika. Rumahtanam itu berkerangka bambu setinggi 3,5 meter. Sementara dinding dan atapnya memanfaatkan plastik ultraviolet. Plastik itu mampu meneruskan 80% sinar matahari yang diterima.

Dengan jarak tanam 5 m x 5 m, populasi dekopon sebanyak 70 pohon. Ia menanam jeruk dekopon di antara paprika. Saat dekopon berumur 2 tahun Ino berhenti mengebunkan paprika. “Tajuk dekopon mulai rimbun sehingga menghalangi sinar matahari,” tutur pekebun dekopon sejak 2011 itu. Di kebun lain yang berlokasi di Kecamatan Cihideung, Kabupaten Bandung Barat, Ino juga menumpangsarikan paprika dengan dekopon. Populasi sekitar 75 pohon dan berumur 2 tahun.

Menurut Ino budidaya dekopon dalam greenhouse menghasilkan buah dengan kualitas lebih baik. “Warna kulit buah lebih cerah dan mulus karena terhindar dari serangan lalat buah dan cendawan jelaga,” ujarnya. Meski begitu Ino tetap membungkus buah dengan plastik transparan. Sebab, tidak menutup kemungkinan lalat buah bisa saja menyerang. Ia juga menempatkan beberapa perangkap lalat buah di dalam greenhouse.

Ino Suwarno mengebunkan dekopon sejak 2011.

Ino Suwarno mengebunkan dekopon sejak 2011.

Menurut Ino menanam dekopon di dalam greenhouse tergolong ekonomis. Biaya pembuatan greenhouse berkerangka bambu menghabiskan Rp50.000—Rp60.000 per m2. Greenhouse berkerangka bambu itu tahan hingga 10 tahun. “Kalaupun ada yang rusak hanya mengganti tiang yang rusak saja, tidak perlu membuat dari awal lagi,” tuturnya. Sementara dinding dan atap plastik tahan 4—5 tahun.

Baca juga:  Kelola 300 Ha Kebun Jati

Sebagai sumber nutrisi Ino menggunakan pupuk AB mix yang lazim digunakan oleh petani hidroponik. Pemberiannya secara otomatis menggunakan selang mini berwarna hitam. Sarana fertigasi itu sebelumnya digunakan untuk pemupukan paprika. Fertigasi dekopon secara otomatis juga dilakukan Ir Irwan Margono MSc, pekebun dekopon di Ciwidey, Bandung. “Penggunaan fertigasi mengefisienkan pupuk dan penyiraman,” katanya.

Ramu sendiri
Sebagai sumber nutrisi untuk fertigasi, Irwan menggunakan nutrisi A dan B hasil ramuan sendiri. Berdasarkan literatur yang ia baca, kebutuhan nutrisi tiap tanaman tidak sama. Menurut Irwan penggunaan pupuk paprika pada dekopon menyebabkan buah lebih masam. Oleh sebab itu ia meramu pupuk sendiri dengan menambahkan kalium dan magnesium lebih banyak. Dengan begitu, “Kemanisan dekopon terasa pas,” ujarnya.

Menurut Irwan pada masa vegetatif tanaman tetap membutuhkan kalium dan magnesium. Unsur lain tetap dibutuhkan secara proporsional. Jika pada fase vegetatif tanaman kekurangan unsur kalium, produksi akan rendah. Selain itu, “Daun cenderung menguning,” ungkapnya. Pemberian kalium dan magnesium yang tinggi pada fase generatif akan sia-sia karena pengisian buah sudah terjadi.

Oleh karena itu, pada masa vegetatif tanaman perlu unsur kalium, magnesium, kalsium, dan fosfor secara proporsional tergantung jenis tanaman. Ahli pupuk di Jakarta, Yos Sutiyoso, sepakat. Dengan menambahkan kalium dan magnesium tinggi akan memaniskan buah. Hara kalium mengatur proses fotosintesis, distribusi, dan penggudangan karbohidrat. Adapun magnesium berperan meningkatkan jumlah dan kualitas klorofil untuk proses fotosintesis.

Pemberian nutrisi secara otomatis menggunakan selang mini.

Pemberian nutrisi secara otomatis menggunakan selang mini.

Penggunaan kalium, magnesium, fosfor, dan nitrogen dari nitrat (NO3) yang tinggi, ditambah penyinaran matahari optimal akan memaksimalkan produksi buah. Itu pula yang dilakukan Irwan, ia memilih KNO3 dan Ca(NO3)2 sebagai sumber nitrogen. “Penggunaan nitrat menjadikan sel yang terbentuk kompak, padat, kuat, dan tahan serangan penyakit,” kata Yos.

Baca juga:  Virus Maut Versus Kolostrum

Irwan mendesain fertigasi secara otomatis. Dalam satu tanaman terdapat 2—4 selang, tergantung ukuran tanaman. Pekebun berusia 51 tahun itu mencampurkan 40 liter larutan A dan 40 liter larutan B dalam 200 liter air. Kebutuhan nutrisi 4 liter per tanaman setiap hari. Dengan debit rata-rata 1,4 liter per jam, pemupukan itu ia bagi menjadi 3 kali, yakni pada pagi, siang dan, sore.

Pemupukan lain berupa 4 genggam bokasi per pohon tiap tiga bulan. Irwan tidak melakukan pemangkasan pada jeruk dekopon. Alasannya jika daun banyak berkurang, dekopon menjadi masam. Oleh karena itu ia hanya menyeleksi buah. “Jumlah buah disesuaikan dengan kelebatan daun,” ujarnya.

Ino pun demikian. Ia menyeleksi buah untuk cabang yang buahnya terlalu banyak. “Buah yang terlalu banyak membuat ukuran buah kecil-kecil,” katanya. Padahal Ino menginginkan satu kilogram setidaknya berisi 3 buah. Itu adalah syarat yang diminta pasar swalayan agar dekopon Ino bisa masuk ke pasar swalayan. (Desi Sayyidati Rahimah/Peliput: Imam Wiguna)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *