537_ 24-1Sistem juring ganda meningkatkan produksi tebu 30-60%.

Petani tebu di Kecamatan Jaken, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, M Tarmidjan, tampak semringah. Pasalnya, panen tebu pada akhir Juli 2014 diprediksi meningkat. “Produksi tebu naik sekitar 10 ton,” ujarnya. Ia memperkirakan panen Saccharum officinarum itu mencapai 80 ton per ha. Produksi tebu tahun ini memang menurun akibat curah hujan tinggi. Jika cuaca mendukung, ia memprediksi mampu menuai lebih dari 100 ton per ha. Angka produksi tebu Tarmidjan lebih tinggi dibanding petani di sekitarnya, 60-65 ton per ha.

Peningkatan produksi tebu karena penggunaan sistem juring ganda. “Jika musim mendukung, apalagi didukung dengan penggunaan sistem juring ganda produksi tebu pasti lebih baik lagi,” kata Tarmidjan optimis. Juring ganda adalah cara menanam tebu dengan membuat dua alur tanam atau juring. Petani membuat juring memanjang dengan jarak antarbaris 50 cm sementara jarak antarjuring 135 cm (lihat ilustrasi). Kedalaman tanam 30-40 cm.

Produktivitas tebu nasional rata-rata 80 ton per hektar

Produktivitas tebu nasional rata-rata 80 ton per hektar

Meningkat 30%

Menurut kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian, Dr Ir M Syakir, “Juring ganda terinspirasi dari sistem tanam jajar legowo pada padi.” Jika menggunakan sistem juring tunggal, produksi tebu di lahan Tarmidjan hanya 70 ton per ha. Petani tebu sejak 1985 itu mengadopsi sistem juring ganda di lahan seluas 1,07 ha sejak pertengahan 2013. Riset mengenai juring ganda pada tebu sejak 2010.

Para petani di 25 kabupaten di 11 provinsi di Indonesia mulai menerapkannya pada 2013. Prinsip teknologi juring ganda meningkatkan populasi tanaman dengan cara mengatur jarak tanam tebu. Dengan juring ganda, populasi menjadi 36.000 tanaman   per ha. Pada budidaya konvensional, populasi hanya 20.000-30.000 tanaman per ha. Meski populasi lebih rendah, jarak tanam justru lebih rapat. Itu mengakibatkan persaingan antartanaman.

Dr Ir M Syakir MS, juring ganda dipergunakan untuk sistem penanaman tebu baru

Dr Ir M Syakir MS, juring ganda dipergunakan untuk sistem penanaman tebu baru

Selain itu tanaman juga menerima sinar matahari relatif sedikit. Akibatnya, tanaman tidak tumbuh optimal. Dengan sistem juring ganda, sirkulasi udara dan pemanfaatan sinar matahari lebih optimal. Akibatnya, “Produksi naik 30-60%,” ujar doktor Agronomi alumnus Institut Pertanian Bogor itu. Karena populasi pada sistem juring ganda meningkat, maka kebutuhan bibit tebu pun lebih tinggi 20% daripada sistem juring tunggal.

Baca juga:  Makasar Cegah Hipertensi

“Meski penggunaan bibit meningkat, hasil yang diperoleh lebih banyak, sehingga tetap untung,” ujar petani tebu berumur 46 tahun itu. Tarmidjan menggunakan bibit tebu bermata tunas tiga. Idealnya, bibit tebu yang digunakan bermata tunas dua. Namun, untuk menghemat tenaga kerja dan menghindari kekeringan bibit, ia menggunakan bibit bermata tunas tiga.

Tanam baru

Syakir menjelaskan, juring ganda dipergunakan untuk sistem penanaman tebu baru, bukan ratun atau tanaman yang tumbuh dari tunggul yang telah dipanen. Dari sisi perawatan tanaman, sistem juring ganda tidak berbeda dengan perawatan tebu pada umumnya. Sebelum penanaman tebu, Tarmidjan membenamkan

pupuk kandang 10 ton per ha dan limbah tebu 15 ton per ha. Kemudian ia menanam tebu di alur penanaman dengan jarak tanam antarbaris 50 cm dan 135 cm.

Penanaman tumpangsari antara kedelai dan tebu pada sistem juring ganda

Penanaman tumpangsari antara kedelai dan tebu pada sistem juring ganda

Dua bulan pascapenanaman atau pada awal musim hujan ia memberikan pupuk ponska dan ZA sebanyak 1,5 ton per ha. Pascapemupukan, ia menyiangi lahan dari gulma yang tumbuh. Pemupukan dan penyiangan kedua pada Desember-Januari dengan jenis dan dosis pupuk sama dengan pemupukan sebelumnya. Ia juga menyemprotkan herbisida 2 kali pada masa tanam tebu. Panen ketika tebu berumur 13 bulan. Untuk memanen lahan seluas itu ia membutuhkan 8 orang pekerja selama sepekan.

Menurut Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI), Arum Sabil, produktivitas rata-rata tebu nasional 80 ton per hektar dengan rendemen sekitar 7,8% pada 2011. Harga tebu rata-rata sekitar Rp35.000 per 100 kg. Sementara rendemen tebu yang dihasilkan Tarmidjan 6,3-6,5%. Selain produksi tebu naik, penggunaan sistem juring ganda juga menghemat tenaga kerja hingga 30%. “Penggunaan pupuk juga efisien karena pupuk diberikan pada dua alur terdekat,” ujar Tarmidjan.

Baca juga:  Pasar Bagus Gabus Ternak

Menurut Syakir penggunaan pupuk pada sistem juring ganda lebih efisien, pemeliharaan tanaman mudah, sinar matahari dapat terdistribusi dengan baik, kelembapan lancar, dan pemupukan efisien. Oleh karena itu produksi tanaman akan naik. “Pola penanaman sistem juring ganda dapat berupa tumpangsari,” ujar peneliti asal Makassar, Sulawesi Selatan, itu. Contoh tanaman yang dapat ditumpangsarikan dengan tebu pada sistem juring ganda di antaranya kedelai, kacang tanah, dan jagung. Sistem juring ganda bisa diaplikasikan di berbagai lahan di Indonesia. Dengan penggunaan sistem juring ganda produksi tebu petani dapat terkerek. (Desi Sayyidati Rahimah)

Juring Ganda

537_ 25-3

Buat dua alur tanam atau juring. Juring memanjang jarak antar barisnya 50 cm, sedangkan jarak antar juring 135 cm. Kedalaman tanam 20-40 cm. Penggunaan bibit naik 20%. Produksi tebu naik 30-60%

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d