Pengolahan sagu secara tradisional

Pengolahan sagu secara tradisional

“Sagu adalah makanan masa depan yang bisa menjamin kedaulatan pangan Indonesia.”

Bupati Kepulauan Meranti, Provinsi Riau, Drs Irwan Nasir MSi, menyampaikan pernyataan optimis itu saat membuka Festival Pangan Sagu Nusantara di Jakarta pada 3—4 Mei 2014. Pernyataan itu menyanggah persepsi masyarakat bahwa makanan pokok beras tak bisa tergantikan. “Sagu sangat potensial mensubtitusi beras yang selama ini menjadi pangan pokok masyarakat Indonesia,” ujarnya.

Menurut Ketua Umum Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI) sekaligus sebagai Bupati Kutai Timur, Ir H Isran Noor MSi, Festival Pangan Sagu Nusantara itu acara yang menyentuh hal mendasar yaitu pangan. “Ini adalah salah bentuk dukungan terhadap program pemerintah, untuk mengantisipasi dan mengatasi persoalan pangan Indonesia,” ujarnya. Menurut Isran Noor hampir semua lahan di Indonesia cocok untuk pengembangkan sagu karena sesuai dari segi agroklimat.

Sagu multimanfaat

Sagu multimanfaat

Pangan nasional
Isran Noor mengatakan, “Saat ini ada lahan menganggur sekitar 45—juta hektar di seluruh Indonesia. Jika kita ambil 10% saja sekitar 4—juta untuk pengembangan sagu, maka sejatinya sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan warga Indonesia. Karena 1—juta hektar lahan sagu dapat memenuhi kebutuhan pangan 400—juta orang. Dengan jumlah penduduk Indonesia sekitar 245—juta, maka itu sudah cukup,” ujarnya.

Menurut Wakil Menteri Pertanian Republik Indonesia Dr Rusman Heriawan pada 1950, masyarakat Indonesia tidak bergantung pada beras. “Beras hanya memenuhi 50% dari kebutuhan pangan nasional, sisanya ubi-ubian dan tanaman lain seperti sagu,” ujarnya. Namun, kini konsumsi beras meningkat begitu tajam hingga 90% memenuhi kebutuhan karbohidrat rakyat Indonesia. “Bisa dikatakan konsumsi beras saat ini berada di stadium 4. Kita meski segera melakukan diversifikasi pangan salah satunya dengan sagu,” ujarnya.

Baca juga:  Adenium Baru: Jatuh Cinta pada Fall in Love

Indonesia memiliki areal sagu terbesar di dunia dengan luas sekitar 1,1—juta hektar atau 51,3% dari total luas penanaman sagu di seluruh dunia yang mencapai 2,2—juta hektar. Di Indonesia, sebaran lahan pohon sagu terdapat di beberapa wilayah yaitu Papua, Maluku, Riau, Sulawesi Tengah, dan Kalimantan. Sekitar 90% tanaman sagu di Indonesia terdapat di Papua dan Maluku. Itu yang menyebabkan sagu menjadi makanan pokok masyarakat Papua.

Menurut Irwan, produksi sagu mampu mencapai 12 kali lipat produksi padi. “Artinya 1 hektar sagu setara dengan 12 hektar padi,” kata Irwan. Menurut Irwan, dalam 1 hektar lahan bisa ditanam 156 pohon sagu, sementara 1 pohon bisa menghasil 200 kg pati sagu, maka dalam 1 hektar pohon sagu mampu menghasilkan 30 ton tepung sagu. Oleh karena itu potensi sagu sangat besar untuk pangan Indonesia.

Bioetanol
Sejak 2009 Kabupaten Meranti mengembangkan tanaman potensial itu. Menurut Irwan Nasir, ada sekitar 159.000 hektar lahan di Kabupaten Meranti yang dialokasikan untuk mengembangkan sagu. Jika sehektar saja mampu menghasilkan 30 ton tepung sagu, maka potensi produksi sagu kabupaten itu mencapai 4.770.000 ton.

Irwan Nasir menuturkan meski luas kebun sagu di Meranti jauh lebih sempit daripada hutan sagu di Papua dan Maluku, tetapi produktivitas sagu meranti tinggi. Sebab, sagu dibudidayakan secara intensif. “Sagu sudah menjadi komoditas pertanian bukan tanaman hutan,” ujarnya. Di Kabupaten Meranti, sagu sudah diolah dengan maju oleh Perusahaan Nasional Sagu Prima, anak dari Perusahaan Sampoerna Agro.

Pembukaan acara Festival Pangan Sagu Nusantara oleh Bupati Kepulauan Meranti Drs Irwan Nasir MSi (kiri)dan Wakil Menteri Pertanian Republik Indonesia Dr Rusman Heriawan, Tumang penganan khas Papua

Pembukaan acara Festival Pangan Sagu Nusantara oleh Bupati Kepulauan Meranti Drs Irwan Nasir MSi (kiri)dan Wakil Menteri Pertanian Republik Indonesia Dr Rusman Heriawan, Tumang penganan khas Papua

Irwan Nasir mengungkapkan pengembangan sagu tak hanya menjadi bahan pangan, tetapi juga bisa menjadi bahan industri. “Sagu sejatinya bisa dikembangkan untuk beragam produk Industri seperti bahan kosmetik, obat, dan bioetanol,” ujarnya.
Dengan demikian sagu merupakan tanaman multimanfaat yang patut dikembangkan. Sumaryono dari Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia, menuturkan pati sagu sangat berpotensi menjadi bioetanol. Potensi produksi sagu di Indonesia sekitar 5—juta ton pati kering per tahun. Sementara konsumsi pati sagu dalam negeri hanya 210 ton atau baru 4—5% dari potensi produksi. Jika tabungan karbohidrat di hutan sagu dimanfaatkan secara optimal untuk bioetanol maka dapat diperoleh bioetanol 3 juta kilo liter per tahun dengan asumsi faktor konversi 0,6.

Baca juga:  Awetkan Krisan

Kebutuhan premium nasional diperkirakan 16 juta kiloliter per tahun. Bila bioetanol dapat menggantikan premium sekitar 10%—campuran premium dan etanol 90 : 10—maka diperlukan etanol sebanyak 1,6—juta kiloliter. “Kebutuhan itu sudah dapat dipenuhi dari pati sagu saja,” ujarnya. Menurut Sumaryono, pengolahan pati sagu menjadi etanol serupa dengan pembuatan tapai dari ubi kayu.

Pati sagu diubah menjadi gula menggunakan mikrob dan difermentasi lebih lanjut menjadi etanol. “Etanol yang diperoleh dimurnikan dengan destilasi,” kata Sumaryono. Menurut Rusman Heriawan masih sedikit masyarakat Indonesia yang memanfaatkan sagu, bahkan hanya untuk dikonsumsi. “Masyarakat Indonesia hanya 10% yang mengonsumsi sagu sementara sisanya masih menjadikan beras sebagai bahan kebutuhan karbohidrat mereka, padahal potensi sagu sangat luar biasa untuk pangan maupun bahan industri,” katanya. (Bondan Setyawan/Peliput: Evy Syariefa dan Suci Puji Suryani)

 

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d