Harta Karun Lamandau 1
Landaukantu dilalui jalan raya lintas Kalimantan.

Landaukantu dilalui jalan raya lintas Kalimantan.

Sejak kecil Semaun Zakarias Rangkap terbiasa membantu orangtua di kebun. Meskipun hanya berbalut pakaian berbahan kulit kayu, tubuh kecilnya mampu bergerak lincah dan leluasa. Dari kebun, ia membawa setumpuk kayu bakar yang terikat tali berbahan kulit kayu. Saat tidur malam, pria yang kini berusia 63 tahun itu masuk ke dalam kelambu dan menarik selimut—keduanya juga terbuat dari kulit kayu.

Kain kulit kapuak siap dibuat menjadi berbagai kerajinan maupun pakaian.

Kain kulit kapuak siap dibuat menjadi berbagai kerajinan maupun pakaian.

Hal nyaris serupa juga dirasakan Sri Rahayu (54 tahun), istri Semaun, pada masa kecilnya. Selain nyaman dipakai, pakaian dari kulit kapuak Artocarpus elasticus itu juga awet dan tidak mudah koyak. Kekurangan bahan itu hanya waktu mengeringkan yang lebih lama ketika basah. “Hampir sama seperti mengeringkan celana jins atau jaket tebal, sekitar 2—3 hari,” kata Semaun.

Sebagai selimut, kulit kapuak pun mampu menahan dinginnya udara malam Desa Landaukantu, Kecamatan Delang, Kabupaten Lamandau, Provinsi Kalimantan Tengah, itu. Sri Rahayu mengisi waktu sebagian masa remajanya mempelajari cara pembuatan kain dari kulit batang kapuak. Di masa mudanya, “Semua perempuan di sini harus bisa membuat kain dari kulit pohon itu,” ungkap Sri Rahayu.

Tunas baru dari bekas tebangan.

Tunas baru dari bekas tebangan.

Kemampuan itu diajarkan turun-temurun. Itu sebabnya hampir semua kaum ibu di Kabupaten Lamandau, Provinsi Kalimantan Tengah, mampu mengolah kulit kapuak segar menjadi kain. “Selimut dan kelambu untuk anak-anak pun saya buat sendiri,” ungkap perempuan berusia 54 tahun itu. Maklum, pakaian dari kulit kayu menjadi busana sehari-hari masyarakat etnis Dayak Delang yang mendiami Kecamatan Delang saat ini.

“Kain tidak perlu membeli, tinggal ambil dari kebun lalu dijahit sendiri. Memang repot, tapi dulu itu bagian dari pekerjaan sehari-hari. Apalagi waktu itu siaran televisi belum sampai ke sini,” ungkap Sri Rahayu. Kerajinan kulit kayu sejatinya mempunyai riwayat panjang di Kalimantan. K Heyne dalam Tumbuhan Berguna Indonesia yang disusun oleh pada 1930, menyebutkan bahwa sejak awal abad XX, pakaian dan kerajinan berbahan kulit kayu menjadi bahan mewah yang diekspor ke Eropa.

Saat kemarau, pakaian kulit kayu lebih nyaman dikenakan daripada pakaian berbahan katun. Namun, lantaran bahan katun murah dan mudah diperoleh, masyarakat Kalimantan waktu itu pun mulai meninggalkan pakaian kulit kayu. Padahal populasi pohon kapuak di kebun dan hutan Lamandau berlimpah. Biji dari buah yang tidak dipetik tumbuh menjadi pohon baru.

Buah mentawak dan durian di tepi jalan raya lintas Kalimantan.

Buah mentawak dan durian di tepi jalan raya lintas Kalimantan.

Sudah begitu, kapuak mampu memperbanyak diri dengan tunas anakan dari akar, seperti pohon sukun Artocarpus altilis. Antara kapuak dan sukun masih sekerabat, keduanya anggota famili Moraceae. Selain anakan, tunas pun muncul dari tonggak sisa tebangan. Saat Semaun mengajak Trubus ke kebun, tampak potongan batang kapuak berdiameter sekitar 30 cm di sisi jalan setapak.

Ia menunjuk tonggak sisa tebangan setinggi 1,5 m dari tanah yang memunculkan tunas baru alias coppice. “Pohon dari tunas lebih cepat besar ketimbang dari akar maupun biji,” kata Semaun. Itu sebabnya ia menebang setinggi lebih dari 1 m dari permukaan tanah agar tunas baru langsung mendapat sinar matahari sehingga cepat besar. Pohon kapuak alias tarap alias teureup berdaun mirip sukun maupun keluwih Artocarpus altilis.

Pedagang menjajakan mentawak di Pasar Balaikarangan, Provinsi Kalimantan Barat.

Pedagang menjajakan mentawak di Pasar Balaikarangan, Provinsi Kalimantan Barat.

Sosok kapuak mampu tumbuh besar setinggi lebih dari 10 m. Di kebun milik Semaun terdapat ratusan batang pohon kapuak yang tumbuh tanpa perawatan. Untuk membuat kain, batang harus bebas cabang atau jarak antarcabang berjauhan. Agar tanaman minim cabang, ia rutin membersihkan tajuk pohon dari pohon lain yang berdekatan. “Kalau cukup sinar matahari, pertumbuhan pohon lurus minim cabang,” kata pria berusia 63 tahun itu.

Baca juga:  Semarak Pesta Anggrek

Pohon mulai berbuah pada umur 7—10 tahun. Namun, buah kapuak tidak populer dikonsumsi masyarakat Lamandau. Warga di kabupaten hasil pemekaran Kabupaten Kotawaringin Barat pada 2002 itu lebih menyukai buah lain yang rasanya lebih enak seperti durian, cempedak, atau mentawak. Di Nanga Bulik, kota Kabupaten Lamandau—kota terdekat dari Delang, berjarak 3 jam perjalanan darat—buah kapuak sama sekali tidak tampak dijajakan.

Yang tampak malah buah impor seperti jeruk, apel, anggur, atau pir. Menurut Semaun masyarakat jarang mengonsumsi buah kapuak yang muncul 2 kali setahun—pada awal dan akhir musim hujan—dan membiarkan buah itu jatuh terserak di sekitar pohon. Padahal buah kapuak sejatinya nikmat disantap. Sebagian masyarakat mengolah buah kapuak muda menjadi sayur, seperti sayur nangka muda.

Bagian dalam buah kapuak mirip keluwih.

Bagian dalam buah kapuak mirip keluwih.

Sayang, selama 4 hari berada di Delang, Trubus tidak menemukan sayur kapuak muda. Sementara, “Buah matang manis dan lembut seperti cempedak dengan aroma kuat,” ungkap Semaun. Biji buah yang jatuh itu sebagian tumbuh menjadi tanaman baru. Itu sebabnya populasi pohon kapuak di kebun ayah 4 anak dan kakek 6 cucu itu nyaris ajek meski ia kerap menebang untuk memperoleh bahan membuat kain.

Menurut ahli fisiologi tanaman di Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, Edhi Sandra MSi, sejatinya hampir semua anggota genus Artocarpus berbuah sepanjang tahun. Syaratnya, mendapatkan cukup nutrisi, air, dan sinar matahari. Hal itu tidak diperoleh tanaman di kebun Semaun yang dibiarkan tanpa perawatan sehingga hanya berbuah 2 kali setahun.

Sekretaris Daerah Kabupaten Lamandau Drs Arifin Umbing.

Sekretaris Daerah Kabupaten Lamandau Drs Arifin Umbing.

Kebun Semaun seluas 10 ha di tepi hutan, selain kolam berisi ikan patin, juga ditumbuhi bermacam-macam tanaman. Selain kapuak, tanaman lain di antaranya cempedak, mentawak A. rigidus, jengkol, rambutan hutan Nephellium sp, dan durian. Semaun tidak sengaja menanam, pohon-pohon itu tumbuh sendiri sejak kebun itu masih berupa hutan. Beberapa pohon seperti durian, mentawak, atau cempedak, menghasilkan buah.

Jika kapuak lebih mirip keluwih Artocarpus communis, buah lokal lain lebih dekat dengan nangka, yaitu mentawak. Menurut Camat Sematujaya, Kabupaten Lamndau, Marinus Apau, mentawak salah satu buah lokal yang disukai masyarakat. Buah itu muncul hampir bersamaan dengan musim durian, sekitar September—Desember setiap tahun. Namun, ketika musim panen raya pun mentawak tidak tersedia di lapak pedagang maupun kios buah.

Busana tradisional dari kulit batang kapuak hanya digunakan dalam acara tertentu.

Busana tradisional dari kulit batang kapuak hanya digunakan dalam acara tertentu.

Nun di Kecamatan Balaikarangan, Kabupaten Sanggau, Provinsi Kalimantan Barat, “nasib” mentawak jauh lebih baik. Saat wartawan Trubus Imam Wiguna mengunjungi Balaikarangan pada Desember 2013, ia melihat tumpukan buah anggota famili Moraceae itu dijajakan di pasar setempat. Sebelum bertransaksi, pedagang mempersilakan pembeli mencicipi. Setelah sepakat, barulah mereka tawar-menawar.

Baca juga:  Demi Yaki Lestari

Namun di Lamandau, “Masyarakat tidak menganggap mentawak bernilai komersial,” kata Marinus. Padahal, Delang adalah sentra buah Lamandau. “Saat musim rambutan, durian, atau cempedak, belasan truk berbagai ukuran membawa buah dari Delang ke berbagai kota di Kalimantan,” ungkap Inyane S.AP, camat Delang. Potensi itulah yang diangkat pemerintah Kabupaten Lamandau.

Sejak 2015, Delang ditetapkan sebagai sentra wisata alam dan budaya. Bersama Desa Hulujojabo, Landaukantu dijadikan sentra kerajinan kulit kayu. Menurut Sekretaris Daerah Lamandau, Drs Arifin Umbing, pengunjung bisa melihat pengolahan kulit kayu menjadi kain serta pembuatan pakaian dan kerajinan lain berbasis kulit kayu di kedua desa sentra itu. Sementara itu, Kudangan—satu-satunya kelurahan di Delang—ditetapkan sebagai sentra wisata adat.

Kerajinan kulit kapuak menanti sentuhan dan pasar.

Kerajinan kulit kapuak menanti sentuhan dan pasar.

Kelurahan itu menyimpan beragam warisan budaya. Di antaranya upacara Babantan Laman, yang merupakan hari besar kepercayaan Kaharingan. Hari itu, pusaka-pusaka adat dikeluarkan dan dicuci. Penganut kepercayaan Kaharingan memanjatkan doa sekaligus memberikan sesaji kepada leluhur mereka. Makanan lokal seperti nasi bumbung atau kue sanga—terbuat dari ketan putih—pun tersaji pada hari itu.

“Pengunjung bisa mencicipi setelah menyaksikan upacara,” kata Inyane. Tantangan besar menghadang rencana itu. Arifin mengakui bahwa sumber daya manusia di Lamandau belum cukup mumpuni untuk mengemas potensi daerah mereka menjadi sajian manis yang bisa dinikmati. “Kami harus belajar ke kampung-kampung wisata di Jawa, contohnya kampung batik,” ungkap Arifin Umbing.

Tugu rusa, ikon Lamandau di kota Nangabulik.

Tugu rusa, ikon Lamandau di kota Nangabulik.

Tantangan itu juga terasa di Landaukantu. Dalam diskusi yang menghadirkan komponen-komponen masyarakat desa seperti perangkat desa, kader Posyandu, dan kelompok tani, masyarakat Landaukantu tampak gamang. Meski bersemangat, mereka tidak memiliki gambaran langkah yang harus mereka tempuh untuk mewujudkan desa mereka menjadi tujuan wisata.

Sudah begitu, generasi muda semakin jauh dari nilai tradisional mereka. Menurut Semaun, sekarang saja banyak anak muda Landaukantu tidak mampu membuat kain dari kulit kayu. Padahal, generasi yang saat ini berusia 20-an menggunakan selimut dan kelambu dari kulit kapuak. Menurut aktivis pemberdayaan masyarakat Yayasan Bina Swadaya, Benito Lopulalan, etnis Dayak di Lamandau mengalami gegar budaya.

Batang yang terlalu besar tidak bisa diambil kulitnya.

Batang yang terlalu besar tidak bisa diambil kulitnya.

Sebab, mereka tidak mampu mengikuti dan memanfaatkan kemajuan teknologi dan arus informasi. Saat mengunjungi Kecamatan Bulik Timur, Kabupaten Lamandau, warga setempat bercerita kepada Benito tentang keberadaan ikan toman yang ukurannya bisa sebesar paha orang dewasa di Sungai Nanga Bulik. “Saya mencatat ada puluhan ikan lokal yang bisa dikembangkan,” ungkap Benito.

Ternyata ketika waktu makan tiba, warga menjamu Benito dengan ikan mujair, yang bibitnya didatangkan dari Jawa. Gemas dengan kondisi itu, ia menantang masyarakat desa untuk membudidaya dan mengembangkan ikan lokal. “Masyarakat Lamandau terlalu bersemangat melihat keluar sampai melupakan kekayaan mereka sendiri,” kata Benito. Saat menerima Trubus, bupati Lamandau Ir Marukan mengungkapkan rencana menggandeng Yayasan Bina Swadaya untuk mengembangkan potensi daerah Lamandau melalui pembentukan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

Marukan sadar upaya itu tidak akan terlihat hasilnya dalam waktu singkat. “Hal besar pun harus dimulai dari satu langkah kecil, tidak bisa instan,” tutur Marukan. Meskipun demikian, ia optimis Lamandau bisa mengatasi ketertinggalan. Tradisi membuat pakaian, selimut, kelambu dari kulit pohon kapuak, beragam buah tropis, warisan budaya mereka adalah harta karun untuk kemajuan Lamandau.

Pohon mentawak di Landaukantu.

Pohon mentawak di Landaukantu.

Kabupaten yang baru berumur 14 tahun itu menyimpan banyak potensi dan tinggal menunggu polesan. Jangan kaget kalau suatu hari pakaian kulit kapuak digandrungi masyarakat Eropa dan dipentaskan dalam peragaan busana di pusat mode Paris, seperti yang terjadi seabad silam. (Argohartono Arie Raharjo)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *