Mesin pengering beragam komoditas seperti cabai, kentang, dan wortel

Mesin pengering beragam komoditas seperti cabai, kentang, dan wortel

Penyelamat ketika harga anjlok.

Misran terpaksa menerima harga Rp3.000 per kg. Pekebun cabai di Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, Nanggroe Aceh Darussalam, itu menjual total 5,6 ton hasil panen pada dua tahun silam. Ia masih “beruntung” menerima omzet Rp16,8-juta hasil penjualan Capsicum annuum. Beberapa petani lain di desanya malahan membiarkan cabai membusuk di lahan ketika harga jatuh. Sebab upah panen cukup mahal, Rp50.000 per hari.

Fluktuasi harga momok bagi pekebun cabai. Ketika stok barang di pasaran sedikit, harga melambung sehingga mereka untung. Namun, ketika pasokan cabai melimpah, harga anjlok. Kondisi itu membuat pekebun rugi. Pekebun terpaksa menjual cabai dengan harga rendah sebab buah pedas itu mudah rusak. Setelah panen proses metabolisme seperti respirasi dan transpirasi tetap berlangsung sehingga memicu layu.

Cabai kering tahan hingga 6 bulan

Cabai kering tahan hingga 6 bulan

Pengeringan
Apalagi kandungan air tinggi berkisar 55—85% sehingga gampang busuk. Salah satu cara untuk meningkatkan nilai ekonomi cabai merah saat panen melimpah adalah dengan mengolahnya menjadi bentuk kering, utuh, dan tepung. Menurut Dr Dedy A. Nasution, perekayasa madya di Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian, Badan Litbang Pertanian, olahan cabai memberikan nilai tambah hingga 80% dibanding produk segar.

Selain itu, cabai kering awet hingga 6 bulan. “Pengeringan cabai menggunakan mesin lebih higienis dan tidak mengandalkan sinar matahari,” ujar Dedy. Produk cabai kering beredar di pasaran bahkan menghiasi gerai-gerai pasar modern di kota besar seperti Jakarta, Medan, dan Aceh. Tepung cabai bahan baku industri makanan seperti makaroni, kecap, dan kerupuk.

Alat penepung cabai dengan kehalusan 97% pada ayakan 80 mesh generasi pertama tanpa teknologi cyclone

Alat penepung cabai dengan kehalusan 97% pada ayakan 80 mesh generasi pertama tanpa teknologi cyclone

Itu sebabnya, Dedy dan rekan merakit alat pengering cabai yang mampu menurunkan kadar air hingga 80%. Ia menuturkan alat juga digunakan untuk mengeringkan komoditas lain seperti wortel, kentang, dan singkong. “Namun, tidak disarankan untuk biji-bijian seperti kacang hijau dan kedelai,” ujarnya. Alat berukuran 248 cm x 69 cm x 115 cm itu terbuat dari bahan besi nirkarat food grade.

Baca juga:  Empat Strategi Tingkatkan Produksi Cabai

Di dalamnya terdapat rak berisi baki untuk menampung bahan yang akan dikeringkan. Ketebalan tumpukan maksimal 4 cm. Lama pengeringan tergantung pada bahan. Proses pengeringan singkong tentu lebih lama dibanding cabai. Mesin berbahan bakar gas itu bekerja dengan mengalirkan udara panas secara mendatar dari arah depan ruang pengering melewati celah-celah tumpukan cabai.

Penepungan
Dedy melengkapi pengering itu dengan kompor, kipas, dan tombol pengatur suhu. Kompor pemanas menggunakan bahan bakar gas. “Untuk sekali proses menghabiskan 3 kg elpiji,” ujar Dedy. Sementara itu, kipas pengembus udara digerakkan dengan motor listrik berdaya 750 watt. Untuk mengeringkan 42 kg cabai merah segar butuh waktu 11 jam. Kadar air yang tersisa dari 84% menjadi 7%.

Saat panen raya harga cabai anjlok membuat pekebun merugi

Saat panen raya harga cabai anjlok membuat pekebun merugi

Cabai hasil pengeringan berwarna cerah dan bersih. Selama proses pengeringan, suhu diatur pada kisaran 65—70°C. Ahli gizi dan pangan di Pusat Penelitian dan Pengembangan Gizi dan Kesehatan Bogor, Jawa Barat, Dr Mien Karmini menuturkan suhu optimal untuk mengeringkan bahan makanan adalah 70°C. Pada suhu itu kandungan gizi tetap terjaga dan tidak memakan waktu terlalu lama. “Jika suhu yang digunakan di atas 70°C maka kandungan gizi berkurang,” ujarnya.

Pekebun dapat langsung menjual cabai-cabai kering itu atau mengolahnya kembali menjadi tepung. Produk tepung memperkecil kerusakan dan meminimalkan biaya distribusi. Dedy dan rekan merancang alat penepung yang bekerja menggunakan prinsip disk mill yaitu bahan digiling di antara dua piringan yang berputar berlawanan dengan kecepatan tinggi. Dimensi mesin 248 cm x 69 cm x 115 cm. Ukuran disk mill berdiameter 229 cm dan lebar 4 cm.

Dr Dedy A. Nasution perekayasa mesin pengering dan penepung cabai di Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian, Badan Litbang Pertanian, di Serpong, Tangerang, Banten

Dr Dedy A. Nasution perekayasa mesin pengering dan penepung cabai di Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian, Badan Litbang Pertanian, di Serpong, Tangerang, Banten

Alumnus Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor, itu melengkapi mesin penepung generasi kedua dengan teknologi cyclone. Dampaknya saat keluar dari mesin tepung tidak beterbangan akibat dorongan angin dari perputaran gigi-gigi pada disk mill. Di dalam mesin terdapat ulir untuk mengatur jumlah masukan bahan. Mesin menghaluskan 30—50 kg bahan per jam dengan konsumsi bahan bakar minyak hanya 3 liter.

Baca juga:  Cabai Rawat Rambut

Kehalusan tepung yang dihasilkan pada ayakan 30 mesh, 60 mesh, dan 80 mesh, masing-masing adalah 43%, 61%, dan 97%. Kebisingan suara 90,73 db dengan putaran engine dan penepung masing-masing 3.700 rpm dan 7.400 rpm. “Mesin penepung itu juga dapat dimanfaatkan untuk meghaluskan sayur-sayuran kering,” ujar Dedy. Jadi ketika harga cabai anjlok, mesin penepung dan pengering dapat kita andalkan. (Andari Titisari)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d