Harapan Selamatkan Datuk 1
Area Hutan Harapan terdiri atas 23% hutan sekunder rendah, 27% sedang, dan 37% tinggi

Area Hutan Harapan terdiri atas 23% hutan sekunder rendah, 27% sedang, dan 37% tinggi

Hampir tiga jam Andrew Warsap dan 5 rekannya menyusuri hutan. Hari itu mereka membuka transek untuk meneliti biodiversitas di area Hutan Harapan—menghampar seluas 101.355 ha di Provinsi Jambi dan Sumatera Selatan. Untuk mempercepat pekerjaan, Andrew membagi tim menjadi 3 dan menentukan transek masing-masing. Setiap tim bertugas menganalisis vegetasi dan satwa dalam transek mereka. Cuaca hari itu cerah dengan matahari musim kemarau menyorot garang.

Hutan sekunder berketinggian kurang dari 100 m di atas permukaan laut itu senyap. Hanya terdengar langkah kaki dan senda gurau di antara mereka. Mendadak, sesosok babi hutan berlari kencang dari gerumbul terna. Sus scrofa itu kabur tanpa hirau keberadaan Andrew dan rekan-rekannya. Berikutnya kesunyian hutan pecah: beruk dan monyet berteriak-teriak di pohon, sedangkan burung beterbangan sembari riuh berkicau parau. Lahir dan tumbuh besar di Britania Raya, Andrew tidak tahu yang ia hadapi.

Harimau sumatera melintasi sungai di hutan. Predator utama itu memerlukan hutan yang menyediakan pakan sekaligus tutupan di lantai hutan

Harimau sumatera melintasi sungai di hutan. Predator utama itu memerlukan hutan yang menyediakan pakan sekaligus tutupan di lantai hutan

Pensiunan angkatan darat Kerajaan Inggris itu tetap asyik mengamati dan mencatat. Saat hutan kembali sunyi, telinganya menangkap geraman pendek dan berulang dari gerumbul di depannya. Berikutnya ujung mata Andrew menangkap sosok sebesar anak sapi dengan corak loreng berkelebat di balik semak. Andrew beserta rombongan yang ketika itu bergeming pun sempat melihat harimau menoleh ke arahnya.

Setelah sang datuk—sebutan untuk harimau di Sumatera pergi, ia beserta tim bergegas mengemasi perlengkapan dan menyingkir berlawanan arah dari sang raja hutan. “Berjumpa harimau di hutan adalah pengalaman luar biasa, tetapi saya tidak ingin mengalaminya lagi,” kata Andrew dengan wajah serius.

Ahli satwa liar dari Institut Pertanian Bogor, Prof Dr Ir Hadi S Alikodra MS pernah berpengalaman serupa. Ia dan tiga rekannya berpapasan dengan sang raja rimba di hutan dekat Sungai Musi pada 1978. Alikodra mengisahkan, ia dan tiga rekannya berdiri rapat dan terus menatap kucing besar itu. Harimau mengaum, berjalan bolak-balik untuk menakuti mereka yang berjarak hanya sekitar 7 meter. Meski takut Alikodra terus berdiri dan menatap mata harimau.

Kamera jebakan mengungkap kehadiran harimau di Hutan Harapan

Kamera jebakan mengungkap kehadiran harimau di Hutan Harapan

Detik-detik menegangkan itu usai 2 jam kemudian ketika harimau itu memilih meninggalkan mereka. Alikodra mengatakan, “Jika bertemu harimau di hutan, jangan lari. Kalau lari harimau menyangka kita musuhnya sehingga akan mengejar dan menerkam dari belakang. Tatap terus mata harimau.” Menurut Alikodra jika kita tidak mengganggu, harimau juga tidak akan mengganggu kita.

Hutan Harapan yang dikelola PT Restorasi Ekosistem Indonesia (REKI) itu termasuk “rumah” bagi harimau sumatera. Data Kementerian Kehutanan menyebutkan, pada 1992 terdapat 400 harimau di seluruh Sumatera. Dua belas tahun kemudian angka itu merosot menjadi 250 ekor pada 2004. Kehadiran manusia melalui alih fungsi hutan membuat Panthera tigris sumatrae itu tersingkir. Data International Union for Concervation of Nature (IUCN) menyebutkan 51 harimau sumatera dibunuh setiap tahun.

Menurut Sunarto, spesialis satwa liar Badan Penyelamatan Satwa World Wildlife Fund (WWF Indonesia), harimau memerlukan hutan yang menyediakan 2 parameter kunci: mangsa dan tutupan di area lantai hutan. “Tutupan lantai hutan vital karena ia mengandalkan sergapan ketika menangkap mangsa,” kata Sunarto. Itu berbeda dengan kucing besar lain, seperti cheetah Acinonyx jubatus di Afrika yang mengandalkan kecepatan lari untuk mengejar mangsa atau singa Panthera leo yang berburu secara berkelompok.

Harimau meninggalkan jejak di tanah yang basah akibat hujan

Harimau meninggalkan jejak di tanah yang basah akibat hujan

Saat melihat calon mangsa, raja hutan itu mengikuti sampai sedekat mungkin. Begitu jaraknya memungkinkan, ia langsung menerkam dan membunuh korban. “Tutupan di lantai hutan menyamarkan kehadiran harimau sehingga calon mangsa tidak sadar tengah diincar,” ujar Sunarto. Harimau mempunyai banyak pilihan mangsa antara lain babi hutan, rusa, kijang, kancil, kerbau liar. monyet, beruk, bekantan, ayam hutan, landak, bahkan durian (baca: Raja Rimba Gemar Durian 92—93).

Baca juga:  Surganya Buah Tropis

Sunarto mengatakan, satwa anggota famili Felidae itu cenderung memilih mangsa besar dengan bobot lebih dari 20 kg. “Setiap kali berburu, harimau mengeluarkan banyak energi. Itu sebabnya ia memilih mangsa besar yang bisa menggantikan tenaga yang terkuras,” kata pria kelahiran 43 tahun lalu itu. Untuk mencerna mangsa itu, harimau memiliki struktur gigi yang mengagumkan. Menurut Didik Raharyono dari Komunitas Peduli Karnivora Jawa (PKJ), gigi harimau tercipta untuk menyobek, mematahkan leher, memegang, mengoyak, atau menyeret mangsa yang kadang lebih besar ketimbang ukuran tubuhnya.

Junaedi: Ketersediaan mangsa dan tutupan hutan mengurangi potensi konflik antarharimau

Junaedi: Ketersediaan mangsa dan tutupan hutan mengurangi potensi konflik antarharimau

Susunan geligi itu juga mampu menembus tulang keras dan membetot otot atau urat sampai terlepas dari tulang. “Itu berbeda dengan beruang yang bisa mengonsumsi buah atau madu untuk memenuhi kebutuhan energinya,” kata alumnus Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, itu. Hutan tanaman industri (HTI) seperti akasia, karet, atau sawit juga kerap dikunjungi babi hutan, salah satu mangsa harimau. “HTI menyediakan mangsa, tetapi lantai hutan bersih dari tutupan. Harimau tidak akan datang karena ia tidak bisa berburu di sana. Ia akan menunggu sampai mangsanya kembali ke dalam hutan,” tutur Sunarto.

Namun, kalau terlalu lama tidak mendapat mangsa, ia bakal masuk perkebunan atau perkampungan dan menyerang ternak atau manusia. Kasus serupa terus terulang dan berakhir dengan kematian sang harimau. Penelitian Elva Gemita, spesialis keaneka ragaman hayati PT REKI, setiap harimau memerlukan daerah jelajah dengan luasan 10—50 km2. “Luas daerah jelajah tergantung kondisi hutan dan ketersediaan mangsa,” tutur Elva.

Jika hutan menyediakan banyak mangsa dan mendukung pergerakan mereka, daerah jelajah bisa menyempit. “Ketersediaan mangsa mengurangi potensi konflik. Harimau tidak perlu saling berebut makanan,” kata Junaedi, anggota Divisi Penelitian Lingkungan (ERD) PT REKI. Ketersediaan mangsa itu juga meningkatkan peluang hidup anak harimau alias gogor. Menurut Elva, induk harimau sumatera mengasuh gogor selama 1,5—2 tahun.

Sir Graham Wynne (kiri, anggota Dewan Penasehat dari Inggris) dan Boedi Mranata: Hutan Harapan satu-satunya hutan dataran rendah Sumatera yang tersisa

Sir Graham Wynne (kiri, anggota Dewan Penasehat dari Inggris) dan Boedi Mranata: Hutan Harapan satu-satunya hutan dataran rendah Sumatera yang tersisa

“Lamanya masa pengasuhan lantaran gogor harus mempelajari banyak hal, seperti teknik mengintai calon mangsa, teknik menerkam, dan cara menghindari musuh atau harimau lain,” tutur Elva. Masa pengasuhan lebih lama kalau jumlah gogor semakin banyak. Penelitian Prof Dr Gono Semiadi dan drh Taufiq Purna Nugraha dari Pusat Penelitian Biologi LIPI, Bogor pada 2006 menunjukkan, harimau sumatera mampu melahirkan 1—6 gogor.

Namun, tidak semua gogor bisa bertahan hingga menjadi harimau dewasa. Data dari periode 1942—2000 yang dikumpulkan Gono menyebutkan, mortalitas gogor berumur kurang dari 5 bulan mencapai 59%. Sementara tingkat kematian gogor berumur 5—24 bulan hanya 9,3%. Di penangkaran, penyebab kematian gogor antara lain desain kandang yang tidak sehat, diabaikan oleh induk, atau serangan penyakit. Sementara di alam liar penyebabnya beragam: cacat bawaan lahir, serangan penyakit, kebakaran hutan, induk dibunuh manusia, atau dibunuh harimau jantan dewasa.

Baca juga:  Kendali Joran Panjang

Saat menjumpai harimau betina yang tengah mengasuh gogor, pejantan dewasa tidak segan membunuh sang gogor. Tujuannya agar harimau betina kembali birahi dan mau berkopulasi. Namun, menurut Anderi Satya, asisten komunikasi PT REKI, ancaman terbesar datang dari manusia. Maklum, hampir semua bagian tubuh harimau mempunyai peminat di pasar gelap. Kulit, cakar, taring, bahkan tulang kucing besar itu laku dijual. Untuk menangkap sang raja rimba, pemburu memasang jerat dari kawat baja di jalur lintasan harimau.

Sebagian hutan tropis beralih fungsi menjadi kebun kelapa sawit. Harimau enggan memasuki kebun sawit karena tidak ada tutupan lantai hutan untuk persembunyian

Sebagian hutan tropis beralih fungsi menjadi kebun kelapa sawit. Harimau enggan memasuki kebun sawit karena tidak ada tutupan lantai hutan untuk persembunyian

Begitu terperangkap, harimau tidak akan bisa lepas. “Harimau yang pernah terjerat akan cacat sehingga tidak bisa lagi berburu. Jika nasibnya baik, ia bakal berakhir di taman safari atau kebun binatang,” kata Elva. Tak terhitung berapa kali Anderi dan rekan-rekannya membongkar jerat yang dipasang pemburu. Ancaman lebih besar datang dari perambahan. Menurut Boedi Mranata, anggota dewan penasehat PT REKI, seperempat dari 101.355 ha area konsesi Hutan Harapan beralih fungsi menjadi hunian, kebun sawit atau karet, dan lahan yang dibiarkan terbuka. Padahal Hutan Harapan adalah satu-satunya hutan dataran rendah Sumatera yang tersisa.

Anderi menyatakan, di dalam area konsesi terdapat masyarakat asli penghuni hutan, yang disebut komunitas Batin Sembilan. “Mereka mempunyai kebijakan lokal untuk memanfaatkan hutan secara lestari dan menghindari konflik dengan satwa liar,” kata Didi—panggilan Anderi. Kehadiran Batin Sembilan tidak merusak hutan. Itu berbeda dengan perambah yang berasal dari luar area konsesi Hutan Harapan. Perambah membuka hutan, menyingkirkan semua satwa di dalamnya, dan mengubah lahan menjadi kebun tanaman produksi.

“Bagi perambah, satwa liar seperti harimau, beruang madu, atau gajah menjadi musuh yang harus dihabisi tanpa ampun. Sementara mamalia herbivora seperti kancil, rusa, atau kijang menjadi santapan gratis. Burung-burung pun diburu untuk tambahan penghasilan,” ujar Elva. Padahal PT REKI bertujuan merestorasi fungsi hutan yang rusak akibat eksploitasi oleh pemegang hak pengusahaan hutan (HPH).

Menurut Didi, area Hutan Harapan terdiri atas 23% hutan sekunder rendah, 27% sedang, dan 37% tinggi. “Tumbuhan hutan sekunder dominan jenis pionir seperti paku resam, bambu, dan kayu cepat tumbuh,” kata pria kelahiran Palembang itu.

Adapun hutan primer dominan pohon besar seperti bulian alias ulin, keruing, kempas, balam, atau meranti. Menurut Urip Wiharjo, manajer umum Hubungan Sosial dan Pemerintahan PT REKI, pertumbuhan jenis-jenis itu sangat lambat. Sudah begitu, beberapa jenis mamalia seperti babi hutan, rusa, kijang, atau monyet menyukai tunas mudanya. Itulah peran penting harimau: mengendalikan populasi pemakan tumbuhan. “Tanpa pemangsa, binatang pemakan tumbuhan bakal mengalami ledakan populasi yang justru mengancam kelestarian hutan,” ungkap Elva.

Urip Wiharjo: Tanpa dukungan pemerintah dan masyarakat, kehancuran Hutan Harapan hanya soal waktu

Urip Wiharjo: Tanpa dukungan pemerintah dan masyarakat, kehancuran Hutan Harapan hanya soal waktu

Menurut Elva, sebagai top predator, harimau menjadi pengontrol terhadap ledakan populasi mangsa. Satwa yang menjadi mangsanya adalah jenis ungulata atau herbivora. Jika terjadi ledakan populasi terhadap satwa mangsa maka ekosistem tidak seimbang dimana ada satu rantai makanan yang putus. Saat itu perlu dilakukan pengurangan jumlah satwa herbivora di alam secara manual oleh manusia
“Kini harimau sumatera hidup dalam kantung-kantung populasi yang tersekat oleh aktivitas manusia. Lama-kelamaan mereka akan punah akibat kerusakan genetik karena perkawinan sedarah,” kata koordinator divisi ERD PT REKI itu.

Untuk mencegahnya, pemerhati lingkungan mengusulkan pembuatan koridor penghubung antarkantung populasi. “Keberhasilannya tergantung ukuran koridor itu. Panjang dan lebar koridor serta jenis dan kerapatan vegetasinya harus benar-benar diperhatikan,” kata Sunarto. Tidak kalah penting, dukungan dari semua pihak, termasuk pemerintah dan masyarakat lokal. Pemerintah bekerja sama dengan Amerika Serikat menyediakan dana US$12-juta untuk program perlindungan harimau sumatera—termasuk pelestarian habitat.

Dana tersebut ditambahkan pada program Tropical Forest Conservation Action for Sumatera (TFCA-Sumatera). “Tanpa penyelamatan, kehancuran total Hutan Harapan hanya soal waktu,” tutur Urip. Hutan Harapan bagaikan keping mozaik terakhir rimba Sumatera. Jangan biarkan harimau sumatera menyusul harimau jawa dan harimau bali yang punah akibat ulah manusia. (Argohartono Arie Raharjo/Peliput: Bondan Setyawan dan Rosy Nur Apriyanti)

Harimau Dunia

Harimau Dunia

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *