Hapus Sakit Kepala Menahun 1
Mengkudu pulihkan sakit kepala akibat sistem kekebalan tubuh yang lemah

Mengkudu pulihkan sakit kepala akibat sistem kekebalan tubuh yang lemah

Mengkudu sirnakan sakit kepala menahun.

Kepala berdenyut, terasa berat, dan mudah pusing menjadi bagian hidup Chaerul Sumarwanto sejak remaja. Namun, ia menganggapnya hanya karena masuk angin dan mengatasinya dengan kerokan. Setiap pekan minimal sekali ia terserang sakit kepala. Berarti sepekan sekali pula garis-garis merah gelap menghiasi punggungnya. Sialnya, sakit kepala acap datang bersama pusing dengan sensasi kepala berputar atau perut kembung, mual, dan terasa penuh meski hanya terisi air minum.

Setiap bangun dari tidur, pria yang kini berusia 52 tahun itu tidak pernah merasa segar. Agar aktivitas lancar, Chaerul selalu menyediakan obat sakit kepala yang ia beli dari warung. Ia segera menelan tablet pereda nyeri setiap kali penyakitnya kambuh. “Kadang sampai 2 tablet sekali minum baru berefek,” kata Chaerul. Puncaknya terjadi pada 2009 saat merasa lapar karena waktu makan terlewat hampir 3 jam. Lantaran merasa pekerjaannya hampir selesai, ia bertahan dan memutuskan menunda makan siang.

Usai menuntaskan tugas, Chaerul mengarahkan kemudi menuju kediamannya. Ternyata rasa lapar kembali bertandang. Ia berhenti di rumah makan untuk sekadar mengganjal perut. Saat menikmati makanan, rasa mual menyerang tak tertahankan sampai akhirnya muntah. Setelah tiba di rumah, ayah 2 anak itu segera menjalani ritual rutin: kerokan. “Setelah itu badan enak dan nafsu makan normal kembali,” tutur Chaerul.

Hari Utomo: Mengkudu lokal lebih berkhasiat

Hari Utomo: Mengkudu lokal lebih berkhasiat

Sehari 2 kali
Istilah masuk angin sejatinya mencakup gejala dari bermacam-macam penyakit: flu, tukak lambung, penyakit empedu, sembelit, tifus, dan gangguan jantung ringan. “Itu sebabnya tidak ada obat yang ampuh mengobati semua gejala masuk angin,” kata dr Kosasi Kweek dari Rumahsakit Indrasari, Kabupaten Indragirihulu, Provinsi Riau. Lantaran merupakan “rangkuman” dari berbagai gejala penyakit, dunia medis pun tidak mengakui masuk angin sebagai penyakit.

Menurut Kosasi, pengobatan masuk angin mesti memperhatikan gejala dan tempat kemunculannya. “Jika perut kembung, bisa jadi itu gejala gangguan lambung,” ungkap alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara, Jakarta itu. Adapun batuk pilek menandakan gejala influenza, sementara sakit kepala atau pusing bisa menandakan keracunan asap, ketegangan otot, penurunan kadar gula darah, sampai konsumsi alkohol maupun rokok. Jika masuk angin kerap menyerang, maka penderita harus waspada kemungkinan gangguan jantung.

Baca juga:  Seminar Ikan Hias

Chaerul tidak pernah menyentuh minuman beralkohol dan rokok. Alumnus Universitas Padjadjaran, Bandung, itu tidak pernah memeriksakan diri secara medis. “Nanti malah kenapa-kenapa. Pakai obat warung dan kerokan saja sembuh,” kata Chaerul. Pada Juli 2010, Chaerul bertemu Hari Utomo, kenalan lama produsen sari mengkudu. Hari menyarankan Chaerul mengonsumsi sari mengkudu. Menurut Hari, mengkudu mengandung asam amino dan antioksidan yang meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit.

Kerokan hanya berefek sementara dalam memulihkan masuk angin akibat sistem imun lemah

Kerokan hanya berefek sementara dalam memulihkan masuk angin akibat sistem imun lemah

Semula Chaerul bermaksud membelikan sari mengkudu untuk sang istri yang menderita gangguan jantung. Atas anjuran Hari, mereka berdua mengonsumsi 30 ml sari mengkudu 2 kali sehari: pagi setelah bangun tidur dan malam menjelang tidur. Esoknya, ia langsung merasakan perubahan. Tubuh pria kelahiran Tangerang itu terasa segar, tidak lunglai seperti sebelumnya.

Merasakan kemajuan, Chaerul rutin mengonsumsi mengkudu. Sang istri pun terbebas dari rasa berdebar ketika gangguan jantungnya kambuh. Selang sebulan, Chaerul tidak pernah lagi mengonsumsi obat sakit kepala dari warung. “Badan terasa bugar setiap bangun tidur. Masuk angin, sakit kepala, pusing, kembung, atau mual juga tidak pernah terasa,” ungkap Chaerul.

Limfosit
Menurut Maria Margaretha Andjarwati, herbalis di Kelapagading, Jakarta Utara, mengkudu mampu mengatasi berbagai penyakit yang berhubungan dengan sistem kekebalan tubuh dan tekanan darah. Itu termasuk jantung, hipertensi, pemulihan pascastroke, asam urat, dan kolesterol. “Penurunan sistem kekebalan tubuh tidak hanya menyebabkan gangguan dari luar tubuh, tetapi juga dari dalam,” ungkap Andjarwati. Gangguan dari dalam antara lain berupa hambatan metabolisme sehingga beberapa bagian tubuh tidak memperoleh cukup oksigen. Efeknya tubuh mudah lelah dan rentan terhadap penyakit.

Pengalaman Chaerul sejalan riset Wang Mianying dari Sekolah Kesehatan Universitas Ilinois, Amerika Serikat. Wang menemukan peningkatan massa kelenjar timus—jaringan limfatik di rongga dada yang berfungsi memproduksi limfosit alias sel darah putih. Limfosit menetralkan ancaman dari benda asing dengan menelan bulat-bulat benda tersebut.
Menurut penelitian Wang, bobot kelenjar timus mencit yang diberi 10% ekstrak mengkudu dalam air minum 1,7 kali lebih berat ketimbang mencit yang tidak memperoleh mengkudu. Artinya, produksi limfosit lebih banyak sehingga kemampuan menghancurkan benda asing dari luar tubuh lebih baik. Tidak hanya itu, sel limfosit-T mampu mencegah penuaan dini dan menghambat penyakit degeneratif seperti diabetes mellitus atau hipertensi.

Tanaman mengkudu harus jauh dari jalan raya

Tanaman mengkudu harus jauh dari jalan raya

Riset lain oleh Anne Hirazumi dan Eiichi Furusawa dari Departemen Farmasi Universitas Hawaii menyebutkan, kandungan serotonin mengkudu memperbaiki kerusakan sel dan memperbaiki kekebalan tubuh. Menurut Hari Utomo, produsen sari mengkudu di Jakarta, kandungan zat aktif mengkudu lokal jauh lebih tinggi ketimbang impor. Ia mengutip riset Toshiaki Nishigaki PhD, kepala Pusat Penelitian Mengkudu Tokyo, Jepang.

Baca juga:  Beras Hitam Jaga Ginjal

Nishigaki membuktikan kandungan superoksida dismutase (SOD), iridoid, dan skopoletin dalam mengkudu tanahair 2—4 kali kandungan zat sama dalam mengkudu asal benua Amerika maupun kepulauan Pasifik. Itu sebabnya Hari menggunakan mengkudu lokal asal Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Menurut Andjarwati, sejatinya mengkudu bisa dikonsumsi langsung. “Gunakan mengkudu mengkal, parut dagingnya, lalu pisahkan airnya. Bagian daging itu bisa dikeringkan menjadi serbuk atau dikonsumsi langsung,” tutur Andjarwati.

Namun ia mewanti-wanti untuk menghindari biji. Biji Morinda citrifolia itu mengandung zat aktif yang berpotensi merusak ginjal. “Jangan mengonsumsi buah dari tanaman yang tumbuh di tepi jalan raya,” ujar Andjarwati. Musababnya, buah sangat mudah menyerap zat-zat dari udara, termasuk partikel polutan maupun logam berat emisi kendaraan. Oleh karena itu manfaatkan mengkudu yang tumbuh jauh dari lalu-lalang kendaraan bermotor. (Argohartono Arie Raharjo)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *