Hama pun Bertekuk Lutut 1
Hamparan kopi super hasil rekayasa akar dan grafting di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao, Jember Jawa timur

Hamparan kopi super hasil rekayasa akar dan grafting di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao, Jember Jawa timur

Kopi super tahan serangan nematoda dan toleran kekeringan.

Sebanyak 100 tanaman kopi berumur 3 tahun itu tumbuh subur dengan daun rimbun dan hijau segar. Dompolan bunga dan buah muncul silih berganti di cabang-cabang. Setiap tahun, produksi biji kering mencapai 1,8—2 kg per pohon. Itu kontras dengan kondisi 100 pohon terdekat yang hanya terpisah jarak  tiga meter. Pohon-pohon itu daunnya menguning lalu mati. Itu terjadi di kebun percobaan Sumberasin, Kecamatan Sumber Manjing Wetan, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Biang keladinya adalah nematoda Pratylencus coffeae dan Radopholus similus.

Kedua jenis nematoda liliput itu merusak akar muda. Akibatnya kemampuan tanaman menyerap nutrisi menurun. Proses fotosintesis dan transpirasi terganggu sehingga  tanaman mudah terserang penyakit. Daun menguning dan rentan terserang penyakit karat daun. Menurut Ika Mustika, peneliti Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor, Jawa Barat, dalam risetnya pada 2005 hampir semua kebun kopi di Sumatera hingga Sulawesi terinfeksi nematoda parasit dan menyebabkan produksi kopi turun 28—78% dan pada tahun ketiga tanaman mati. Penggunaan bahan kimia untuk mengendalikan kedua parasit itu cukup mahal dan tidak efektif. Dengan bahan organik pun, hama akan menyerang kembali setelah efek bahan organik hilang.

Sembilan bulan pascatanam kopi super sudah mulai berbuah

Sembilan bulan pascatanam kopi super sudah mulai berbuah

Sambung pucuk

Di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (Puslitkoka), Jember, Jawa Timur, Ir Sudarsianto menawarkan solusi. Ia menyambungkan klon kopi tahan nematoda dengan klon kopi produktivitas tinggi. Hasilnya, serangan nematoda berkurang hingga 90%, akar lebih kuat, dan produktivitas mencapai 1,8—2 ton per ha. Produksi kopi rata-rata maksimal 1 ton per ha.

Baca juga:  Air Panas Vs Kutu Perisai

Sudarsianto menggunakan klon robusta tahan nematoda BP 308. Klon itu mengeluarkan eksudat atau cairan hasil metabolisme sekunder yang bersifat toksik terhadap nematoda. Dengan klon itu serangan nematoda dapat teratasi, tetapi masalah lain muncul, yakni buah kecil dan rasanya tidak terlalu disukai. Sebanyak 50—60% buah berbiji tunggal.

Untuk memperbaiki kualitas buah, Sudarsianto menyambung dengan dengan klon kopi robusta atau arabika produksi tinggi. Pascapenyambungan itu menghasilkan bibit kopi agak tahan nematoda dan produksi tinggi, di atas 1 ton per ha. Produktivitas tanaman kopi kurang dari 1 ton per ha. Toh, ia belum puas. Serangan nematoda hanya menurun 50%. “Artinya produksi kopi belum maksimal,” kata Sudarsianto.

Ia lantas merekayasa perakaran dengan kultur jaringan atau in vitro somatik embriogenesis (SE). Bagian yang digunakan yaitu daun muda kopi klon BP 308 sebagai eksplan untuk ditanam dalam media. Ia menambahkan hormon auksin dan perlakuan tertentu untuk memperbanyak jumlah perakaran. Hasilnya jumlah akar meningkat 6 kali lipat dibandingkan tanpa penambahan hormon auksin.

"Teknik grafting dan rekayasa perakaran memberi keunggulan berlipat," kata Ir Sudarsianto

“Teknik grafting dan rekayasa perakaran memberi keunggulan berlipat,” kata Ir Sudarsianto

Selain merekayasa perbanyakan akar, Sudarsianto menerapkan teknologi somatik embriogenesis (SE). SE adalah pembentukan embrio dari bagian tanaman bukan sel kelamin tanaman. SE termasuk teknologi perbanyakan tanaman secara in vitro. Tujuannya untuk menghasilkan individu dengan sifat menyerupai induk dengan jumlah melimpah. Pasalnya, potongan daun berukuran 1 cm x 1 cm mampu menghasilkan ratusan calon individu baru. “Hanya saja, perlu waktu lama. Perlu waktu setahun agar bibit tumbuh setinggi 2—4 cm,” kata Ir Saleh, anggota staf laboran SE Puslitkoka.

Kebal nematoda

Sudarsianto kemudian menyambung dengan batang kopi arabika atau robusta produktif setinggi 2—3 cm. Jenis robusta, ia menggunakan klon BP 939 atau BP 936. Adapun untuk jenis arabika Sudarsianto menggunakan AS2K atau komasti. Tinggi batang bawah paling baik 2 cm dengan persentase keberhasilan 90%. “Semakin panjang batang tingkat keberhasilan menurun hingga 50%,” kata Sudarsianto. Sementara semakin pendek batang, tidak memungkinkan untuk dilakukan penyambungan. Ukuran batang atas menyesuaikan batang bawah. Selama 3—4 bulan bibit sambungan diletakkan di tanah ternaungi untuk melindungi dari sinar matahari langsung. Setelah bibit setinggi 15—17,5 cm, bibit siap tanam ke lahan.

Teknologi somatik embriogenesis mampu menghasilkan calon tanaman kopi berkapasitas besar sekali produksi

Teknologi somatik embriogenesis mampu menghasilkan calon tanaman kopi berkapasitas besar sekali produksi

Menurut Ir Retno Mastuti, MAgr Sc DAgr Sc, dosen Jurusan Biologi, Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, pada metode menyambung, pemilihan batang atas dan bawah sangat penting. “Pekebun harus tahu karakter masing-masing tanaman yang akan disambung,” kata Retno. Leonard Stoltz dan John Strang dari Universitas Kentucky, Amerika Serikat, menyatakan batang bawah harus adaptif, tahan hama dan penyakit, dan sesuai dengan batang yang akan disambung.

Baca juga:  Sosok Anyar Ayam Poland

Itu sesuai yang dilakukan Sudarsianto. Batang atas memiliki potensi produksi tinggi tetapi rentan serangan nematoda. Sementara batang bawah tahan terhadap nematoda parasit ditambah teknologi rekayasa perakaran. Hasilnya pun terbukti di lahan percobaan dengan populasi 1.000 tanaman produksi mencapai 1,8—2 ton. “Saya meneliti selama 4 tahun sampai bibit kopi super itu dirilis pada Oktober 2013,” katanya. Saat ini ia menyiapkan bibit itu untuk memenuhi permintaan dari berbagai perusahaan di Indonesia. Permintaan mencapai 4—5 juta bibit per tahun pada 2013 dan tidak terpenuhi karena tidak ada persediaan. (Lutfi Kurniawan)

532_137

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *