Hama Lada: Para Pelindung Raja Rempah 1
Memanfaatkan musuh alami hama adalah cara mengatasi serangan hama dengan murah.

Memanfaatkan musuh alami hama adalah cara mengatasi serangan hama dengan murah.

Atasi serangan hama lada dengan musuh alaminya.

Harapan pekebun memperoleh keuntungan dari penjualan buah lada musnah karena serangan hama penggerek batang Lophobaris piperis, pengisap bunga Diconocoris hewetti, dan pengisap buah lada Dasynus piperis. Serangan hama terjadi sejak di pembibitan hingga fase produktif. Penggerek batang dan pengisap buah menyerang hampir seluruh pertanaman lada di Indonesia, sedangkan pengisap bunga terdapat di sentra Sumatera, Kalimantan, dan Bangka.

Kehilangan produksi akibat serangan hama cukup besar, berkisar 20–50%. Serangan penggerek batang menyebabkan kerusakan batang dan cabang 42,83%; serangan pangkal batang menyebabkan kematian. Tingkat kerusakan buah oleh imago atau serangga dewasa penggerek juga mencapai 19,80%. Adapun tingkat kerusakan bunga oleh pengisap bunga berkisar 9,59—20,21%; kerusakan buah akibat serangan pengisap buah 14,72– 6,01%.

Sore hari
Serangga pengisap buah lada D. piperis merupakan kepik berwarna hijau kecokelatan dengan metamorfosis tidak sempurna yaitu fase telur, nimfa, dan dewasa berkisar antara 6—14 pekan. Stadium telur dimulai saat imago D. piperis betina meletakkan telur antara pukul 14.00–18.00 pada buah muda hingga masak. Induk betina meletakkan telur sejajar, 2—4 butir atau berkelompok 8—10 butir, maksimal 160 butir di permukaan daun, cabang, dan buah muda.

Buah lada kosong dan kering akibat serangan hama pengisap buah.

Buah lada kosong dan kering akibat serangan hama pengisap buah.

Telur paling banyak ditemukan di bagian tengah tajuk lada. Telur serangga itu juga bisa ditemukan di permukaan daun bayam, daun cabai, dan batang tanaman cabai yang tumbuh di sekitar tanaman lada. Stadium telur berlangsung 7—8 hari. Stadium selanjutnya adalah nimfa instar 1 berukuran ± 2 mm, tidak bersayap, dan berwarna kuning kecokelatan. Ciri lainnya dua ruas di bagian antena menebal, dan selalu lebih panjang dari tubuhnya.

Nimfa menyebar dan mencari makan secara berkelompok di tanaman yang berbuah muda. Mereka akan menyebar pada saat hampir masak. Nimfa mengalami pergantian kulit empat sampai lima kali dalam 3—4 pekan. Lama stadium nimfa tergantung pada umur buah. Semakin muda buah semakin panjang stadium nimfa. Saat umur buah 4,5—6 bulan, lama stadium berkisar 26–33 hari, sedangkan jika umur buah 6—9 bulan, maka lama stadium nimfa hanya 19—25 hari.

Baca juga:  Panen 10 Kali Lipat

Stadium dewasa atau imago ditandai dengan warna hijau kecokelatan dengan panjang tubuh berkisar antara 12—13 mm dan lebar 4—5 mm. Ukuran imago jantan lebih kecil dan ramping daripada betina dengan lama hidup berkisar 3 bulan. Imago betina meletakkan telur pertama kali setelah berumur 14 hari sejak masuk fase imago. Kemampuan bertelur 160—200 butir.

Imago D. piperis biasanya mengisap buah pada pagi dan sore. Serangga itu bersembunyi di dalam mahkota pohon pada siang hari. D. piperis memiliki tipe mulut pencucuk pengisap dan merusak tanaman dengan cara mengisap cairan buah, bunga, pucuk muda, dan tangkai daun. Akibatnya buah kosong dan rusak. Buah biasanya membusuk akibat kehadiran mikroorganisme lain seperti cendawan dan bakteri.

Asystasia ganggetica salah satu tanaman inang untuk mengembangkan parasitoid.

Asystasia ganggetica salah satu tanaman inang untuk mengembangkan parasitoid.

Musuh alami
Buah yang terserang menjadi hitam dengan gejala bercak-bercak bekas lubang tusukan, lalu gugur. Serangan pada buah muda mengakibatkan untaian buah gugur sebelum tua, sedangkan serangan pada buah tua mengakibatkan buah menjadi kering. Umur buah yang paling disukai adalah saat 6—9 bulan. Saat itu lada mengandung karbohidrat yang tinggi. Pengendalian hama utama lada sesuai dengan konsep Pengelolaan Hama Terpadu (PHT) atau Integrated Pest Management.

PHT merupakan konsep pengendalian hama dengan menggunakan lebih dari satu komponen pengendalian. Menerapkan teori ekologi sehingga populasi hama selalu berada dalam kondisi yang tidak merugikan secara ekonomis, dan aman terhadap lingkungan. Salah satu komponen PHT adalah pengendalian biologis dengan parasitoid, predator, dan patogen serangga untuk meminimalisir penggunaan insektisida kimiawi.

Musuh alami D. piperis adalah parasitoid telur yaitu Anastatus dasyni, Ooencyrtus malayensis, dan Gryon dasyni dengan tingkat parasitisasi mencapai 70—80%. A. dasyni merupakan parasitoid yang paling dominan di antara parasitoid telur D. piperis. Dominasi itu karena A. dasyni memiliki ukuran tubuh yang paling besar dibandingkan dengan parasitoid telur lainnya. Panjang A. dasyni betina 2,16 mm dan lebar 0,53 mm, sedangkan panjang tubuh jantan 1,53 mm dan lebar 0,39 mm.

Baca juga:  Tarsius Terus Terancam

Jika pakan melimpah, A. dasyni betina dapat hidup selama 37,7 hari. Selama hidupnya mampu menghasilkan keturunan 99,45 ekor. Parasitoid telur D. piperis dapat diperbanyak pada inang alternatif, seperti telur hama pengisap polong kedelai Riptortus linearis, Nezara viridula, dan Physomerus grossipes. Keperidian atau kemampuan individu betina untuk menghasilkan sejumlah telur A. dasyni pada telur R. linearis sebesar 79,3 ekor, sedangkan keperidian O. malayensis pada telur N. viridula sebesar 85,50 ekor.

Pelestarian musuh alami khususnya parasitoid dapat dilakukan dengan penyiangan terbatas dan membiarkan beberapa gulma berbunga menjadi inang parasitoid D. piperis. Misalnya Arachis pintoi yang dapat berbunga sepanjang tahun. Beberapa vegetasi liar yang menghasilkan nektar bunga sebagai sumber pakan parasitoid, antara lain babadotan Ageratum conyzoides dari famili Asteraceae, Cleome aspera (Capparaceae), dan Asystasia ganggetica (Acanthaceae).

Di samping itu beberapa tanaman berbunga lainnya dapat meningkatkan populasi dan tingkat parasitasi parasitoid. Contoh kopi Coffea arabica, sentrosema Centrocema sp., kalopogonium Callopogonium sp., dan kumis kucing Orthosiphon aristatus. Pengembangan lada bukan hanya di Lampung dan Bangka, kini tersebar di Kalimantan dan Sulawesi. Data Kementerian Pertanian 2014 menyebutkan lada diusahakan dalam bentuk perkebunan rakyat sebesar 99,89% dan sisanya sebesar 0,11% berbentuk perkebunan besar oleh pengusaha swasta.

Rusaknya hasil buah komoditas yang sohor dengan julukan raja rempah itu di daerah sentra menyebabkan tidak stabilnya produk lada nasional. Pengendalian hama lada secara terpadu menggunakan musuh alami organisme pengganggu tanaman adalah pilihan yang aman, murah, dan mudah dilakukan petani. (Dr Ir I Wayan Laba, MSc, peneliti Hama pada Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor)

VEL GABUNG.pdf

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments