Rojali memanfaatkan gulma kekembad menjadi aneka jenis kerajinan.

Smilax sp dikenal dengan nama kekembad oleh masyarakat Desa Namang, Kecamatan Namang, Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Bangka Belitung.

Smilax sp dikenal dengan nama kekembad oleh masyarakat Desa Namang, Kecamatan Namang, Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Bangka Belitung.

Tanaman menjulur hingga puluhan meter itu lazim tumbuh di kebun karet. Sekujur batang berduri. Warga Desa Namang, Kecamatan Namang, Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Bangka Belitung, menyebut tanaman itu kekembad. Mereka acap kali membabat gulma agar terhindari dari duri tajam meski tak lebih dari 1 cm. Namun, jika tidak hati-hati kaki atau tangan manusia bisa terluka jika tergores.

Selama ini warga setempat menganggap kekembad sebagai gulma. Namun, di tangan Rojali tanaman pengganggu itu justru mendatangkan faedah. Ia mengolah tanaman dewasa yang serat batangnya sudah mengeras menjadi aneka kerajinan untuk cendera mata. “Kalau tanaman muda yang belum berduri dan masih berbatang hijau tidak bisa diolah karena seratnya belum kuat,” kata pria yang mulai mengolah kekembad sejak 2014 itu.

Kerajinan

Smilax sp dewasa bahan untuk cendera mata.

Smilax sp dewasa bahan untuk cendera mata.

Sebelum membuat kerajinan, Rojali mengupas duri dan kulit luar batang kekembad menggunakan pisau raut. Setelah itu barulah ia menganyam menjadi aneka produk sesuai pesanan. Pehobi sepak bola itu menambahkan, jika hendak membuat kerajinan yang menggunakan pola tertentu sebaiknya jangan gunakan batang serat yang terlalu kering karena sulit untuk membentuk dan mengaturnya sesuai keinginan.

Setelah membentuk pola, barulah Rojali merekatkan serat Smilax sp itu dengan bantuan lem, lalu mengecatnya dengan vernis. “Pengecatan dengan vernis lebih natural sehingga pola serat tanaman tetap terlihat,” katanya. Pria berumur 30 tahun itu biasanya memanfaatkan kekembad untuk membuat kerajinan miniatur guci, lampu, aneka jenis wadah, hingga kerajinan berbentuk seperti tiang panjatan lada.

Baca juga:  Matahari Atasi Gulma

“Kecepatan pembuatan tergantung ukuran dan tingkat kesulitan,” kata Rojali. Jika berupa miniatur untuk gantungan kunci atau bros, bisa 10—20 buah per hari dengan kemampuan terampil. Jika berukuran lebih besar dan rumit bisa berhari-hari tergantung tingkat kesulitan. “Untuk menyelesaikan miniatur seperti tiang panjatan lada, guci, dan bentuk lain yang agak besar perlu waktu hingga sepekan untuk kualitas maksimal dan pengerjaan yang santai,” katanya.

Cendera mata berupa miniatur, bros, dan gantungan kunci berbahan baku kekembad.

Cendera mata berupa miniatur, bros, dan gantungan kunci berbahan baku kekembad.

Pria kelahiran Desa Namang itu menjual cendera mata dari kekembad dengan harga Rp20.000—Rp200.000 per buah, tergantung tingkat kesulitan membuatnya. Rojali kadang menjajakan cendera mata di sekitar Taman Keanekaragaman Hayati Hutan Pelawan, Desa Namang, Kecamatan Namang, Kabupaten Bangka Tengah. Kadang-kadang ada wisatawan lokal dan mancanegara yang sengaja datang ke rumah untuk mencari cendera mata.

Multifaedah
Menurut ahli botani asal Kota Bogor, Jawa Barat, Gregori Garnadi Hambali, tanaman bernama ilmiah Smilax sp itu memang dapat dibuat menjadi bahan tali-temali yang kuat. Kekembad banyak dimanfaatkan di berbagai belahan dunia. Menurut Greg—panggilan Gregori Garnadi Hambali—dalam buku karya David Mabberley, ahli botani asal Inggris, ada sekitar 350 spesies Smilax.

Tumbuh di areal perkebunan karet dan hutan, kekembad dianggap sebagai gulma.

Tumbuh di areal perkebunan karet dan hutan, kekembad dianggap sebagai gulma.

“Jika pada bawah daun agak berwarna putih atau hijau muda maka termasuk spesies Smilax leucophylla,“ ujar alumnus University of Birmingham, Inggris, itu. Dalam “Tumbuhan Berguna Indonesia” ahli botani asal Belanda, Karl Heyne, menyatakan setidaknya 4 spesies Smilax tersebar di berbagai daerah di tanahair, yaitu Smilax australis, Smilax china, Smilax leucophyla, dan Smilax macrocarpa.

Warga di beberapa daerah di tanahair kerap memanfaatkan kayu cina utan—sebutan kekembad dalam bahasa Melayu—sebagai pengganti rotan karena batangnya yang liat dan bisa mengeras ketika kering. Jika sudah kering batangnya bisa dipergunakan sebagai tongkat. Warga di daerah tertentu mengonsumsi pucuk muda kekembad. Beberapa di antaranya memanfaatkan Smilax china sebagai obat penyakit kulit.

Rojali mengolah kekembad sejak 2014.

Rojali mengolah kekembad sejak 2014.

Penduduk Sulawesi Tengah kerap mengonsumsi air seduhan rimpang peundang—sebutan kekembad dalam bahasa Aceh—untuk menyembuhkan penyakit patek atau frambusia. Menurut Kepala Dinas Kehutanan, Provinsi Bangka Belitung, Ir Nazalyus MSi, masyarakat Bangka Belitung masih jarang yang memanfaatkan kekembad. “Dengan memanfaatkannya sebagai cendera mata tentu sebuah inovasi yang bagus,” katanya.

Baca juga:  Rumput Gajah Cegah Gulma

Ia berharap inovasi serupa terus berkembang. “Kita tidak bisa memandang sesuatu dengan sebelah mata. Segala sesuatu yang diciptakan Allah pasti ada manfaatnya,” kata Nazalyus. Dengan ide kreatif, inovatif, dan adanya kemauan niscaya seonggok gulma pun bisa berguna. Rojali membuktikan gulma kekembad menjadi beragam cendera mata eksotis. (Muhamad Fajar Ramadhan)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d