Glamor Nusantara di Kahyangan 1
The Secret of Performing Papua karya Lucia Raras pada Singapore Dream Ball 2015.

The Secret of Performing Papua karya Lucia Raras pada Singapore Dream Ball 2015.

Persembahan agung para seniman bunga.

Fantastis. Begitulah bila seni merangkai bunga hadir dalam balutan busana. Keduanya berpadu menghasilkan pemandangan yang mengundang decak kagum. Bukti kepiawaian para seniman bunga itu dapat dilihat pada acara Singapore Dream Ball 2015. Perhelatan dua tahunan itu menyuguhkan kemegahan flora dalam busana. Beragam profesi seperti perangkai dan pemerhati bunga, pemerintah, dan pengusaha berukumpul di sana.

Pagelaran fesyen bertajuk Where Dreams Come Alive itu dipersembahkan oleh Floral Designer Society Singapore (FDSS). Sebanyak 36 desainer bunga dari 17 negara ambil bagian dalam acara yang berlangsung di Hotel Shangri-la (dalam bahasa Tibet berarti kahyangan) pada 19 April 2015 itu.

Kekayaan Nusantara
Yang membanggakan, pada acara bergengsi itu desainer bunga tanahair mendapat kehormatan sebagai pengisi acara. Saya bersama Andy Djati Utomo SSn AIFD CFD (ketua Ikatan Perangkai Bunga Indonesia), Wendy Mandik AIFD, Novembriati Semeru, dan Lily H. Sutanto mewakili Indonesia. Kami mempersembahkan karya yang terinspirasi dari keindahan alam dan kekayaan budaya Nusantara.

Lembaran daun woka tampil atraktif dalam busana karya Novembriati berjudul Fabulous Woka.

Lembaran daun woka tampil atraktif dalam busana karya Novembriati berjudul Fabulous Woka.

Lili Sutanto dan Novembriati mendapat mandat membawakan sesi Bold and Beautiful. Lili memberikan judul Rhapsody of Wonder Coloured Ulos pada karyanya. “Saya merancang busana bergaya kontemporer yang terilhami dari corak kain ulos,” ujarnya. Ia memanfaatkan bentangan kertas besar berhias warna-warni anyaman pita sebagai wujud ulos. Aneka anggrek bulan berwarna senada membuat penampilan semakin apik.

Kami sangat beruntung tinggal di negara yang menyimpan ribuan ide untuk dituangkan pada rangkaian. Flora-flora khas Nusantara memberikan sentuhan berbeda di setiap karya. Novembriati Semeru, misalnya, mempromosikan daun woka Livistona rotundifolia khas Sulawesi Utara. Di tanah asalnya, penduduk setempat memanfaatkan lembaran woka untuk bungkus nasi kuning.

Enchantment of Alor, Indonesia rancangan Wendy Mandik.

Enchantment of Alor, Indonesia rancangan Wendy Mandik.

Atiek, sapaannya, mengubah sedemikian rupa daun woka menjadi gaun, topi, dan tas nan mewah. Ia menyematkan bunga segar seperti kalalili, anyelir, anthurium, dan anggrek cymbidum sebagai aksesori. Perangkai bunga di Jakarta Selatan itu membuktikan flora khas Nusantara patut diperhitungkan dalam dunia merangkai bunga. “Saya bangga memperkenalkan daun woka sebagai salah satu aset flora yang berguna bagi desainer bunga,” ujarnya.

Rhapsody of Wonder Coloured Ulos rancangan Lily H. Sutanto.

Rhapsody of Wonder Coloured Ulos rancangan Lily H. Sutanto.

Boleh dibilang Dream Ball merupakan ajang bagi seniman bunga tanahair untuk pamer kemahiran merangkai bunga. Saya dan Wendy Mandik AIFD mendapat kesempatan unjuk kebolehan pada sesi Colours of Wonder. Pada acara itu janur berubah menjadi baju adat Papua bercitarasa moderen. Saya memberikan efek warna biru, jingga, dan hijau di permukaan gaun untuk menggambarkan keindahan laut dan tanah cendrawasih.

Baca juga:  Transfer Teknologi dan Inovasi

Selain itu, saya juga melengkapinya dengan ikat kepala agar kesan Papua semakin kental. Karya Wendy tak kalah memukau. Ia menampilkan rancangan yang terinspirasi dari pakaian khas Pulau Alor, Nusa Tenggara Timur. “Masyarakat Alor memiliki baju-baju etnik kaya warna,” ujarnya. Kekayaan itu terekspos dalam baju adat pria berjudul Enchantment of Alor, Timor, Indonesia, karyanya. Wendy menampilkan permainan warna yang apik dari suyok, janur, dan anggrek.

Miss Diagonal karya Harijanto Setiawan, presiden Floral Desaigners Society Singapore.

Miss Diagonal karya Harijanto Setiawan, presiden Floral Desaigners Society Singapore.

Makna
Persembahan paling membanggakan dalam acara dwi tahunan itu diberikan oleh Andy Djati Utomo. Ia menyuguhkan rancangan berjudul Wings of Kalpataru dalam sesi Fancy of Flight. Ketua IPBI (Ikatan Perangkai Bunga Indonesia) itu membentuk kalpataru menjadi gunungan raksasa yang dikaitkan pada lengan sehingga menyerupai sayap saat dikenakan. “Kalpataru adalah lambang pohon kehidupan, sedangkan gunungan yang berbentuk kerucut bermakna kehidupan manusia menuju kepada Tuhan,” ujarnya.

Wings of Kalpataru dalam sesi Fancy of Flight karya Andy Djati Utomo.

Wings of Kalpataru dalam sesi Fancy of Flight karya Andy Djati Utomo.

IPBI bangga menunaikan sebagian tugas sebagai anak bangsa untuk membawa keindahan Nusantara pada ajang bergengsi bertaraf internasional. Kami berharap Indonesia sebagai salah satu gudang kekayaan flora dunia mampu menggelar acara serupa. Selain sebagai sarana belajar bagi para desainer bunga, acara yang dikemas kreatif dan profesional mampu mendatangkan banyak wisatawan. (Lucia Raras, Ketua Ikatan Perangkai Bunga Indonesia Cabang Jakarta Selatan)

Delegasi Indonesia: Andy Djati Utomo, Wendy Mandik, Lucia Raras, Lily H. Sutanto, Novembriati (kiri ke kanan).

Delegasi Indonesia: Andy Djati Utomo, Wendy Mandik, Lucia Raras, Lily H. Sutanto, Novembriati (kiri ke kanan).

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments