Ariocarpus retusus, batu hidup mutasi idaman para kolektor

Ariocarpus retusus, batu hidup mutasi idaman para kolektor

Cara tepat rawat ariocarpus.

Ariocarpus memang bak magnet bagi para pencinta kaktus. Sosoknya unik dan eksotis. Meski berkarakter lambat tumbuh (kurang dari 1 cm per tahun), si batu hidup-julukan ariocarpus-tetap memesona. Pehobi kaktus di Sidoarjo, Jawa Timur, Muhammad Faris Adrianto, menuturkan ariocarpus merupakan anggota keluarga kaktus yang paling bergengsi. “Seorang pehobi belum bisa disebut sebagai pencinta kaktus bila belum mengoleksi ariocarpus,” ujarnya.

Wajar, bila ariocarpus menjadi idaman. Apalagi jenis variegata dan mutasi. Harga tanaman mencapai puluhan kali lipat dari jenis biasa. Keberadaannya di pasaran pun sangat terbatas dan langka sebab perbanyakannya sulit. Lantaran keistimewaan itulah Faris kepincut untuk mengoleksi ariocarpus. Namun, ternyata merawat si batu hidup bukan perkara gampang. “Dibandingkan keluarga kaktus lain ariocarpus agak manja,” ujarnya. Jika tidak telaten maka ariocapus bisa busuk dan mati. Faris berulang-ulang gagal mempertahankan tanaman yang hidup di padang pasir Cihuahua, Meksiko, itu.

Kempis

Faris, dosen di Fakultas Farmasi, Universitas Airlangga, itu menuai gagal sejak pertama kali merawat ariocarpus empat tahun silam. Ia harus merelakan ariocarpus berdiameter 4 cm yang diperoleh dari nurseri di Jakarta, itu perlahan mati akibat busuk. “Ariocarpus itu jika terlalu banyak air maka cepat busuk, tetapi bila kurang air dan paparan matahari terlalu terik malah membuatnya kempis sehingga kurang cantik,” kata Faris. Ia menuturkan tampilan ariocarpus terbaik yakni memiliki turberkel alias batang yang gemuk, pendek, dan tebal.

Para kolektor kaktus menyukai penampilan ariocarpus yang sehat. Cirinya setiap tuberkel menggembung penuh, tersusun rapat, dan kompak. “Untuk mempertahankan tuberkel agar tetap gendut itu susah,” tutur Faris. Ia menuturkan pemilihan media tanam sangat mempengaruhi pertumbuhan si batu hidup. “Akar ariocarpus sangat sensitif,” tutur pehobi sejak 2010 itu. Jika media terlalu banyak menyimpan air, memicu busuk.

Baca juga:  Mulsa Tingkatkan Panen

Untuk mempertahankan kemolekan si batu hidup, Faris memilih media tanam berupa campuran pasir malang kasar, pecahan batu kapur, dan pupuk organik dengan perbandingan 7:2:1. Ia sengaja menambahkan kapur meniru habitat asli ariocarpus di alam yakni bukit kapur berpasir. Sementara penggunaan pupuk kandang dihindari sebab khawatir terkontaminasi hama dan penyakit. Faris memanaskan pasir dan kapur selama 30 menit dahulu untuk memastikan agar media steril.

Pria berusia 29 tahun itu menempatkan ariocarpus di dalam rumah tanam beratap plastik ultraviolet dengan persentase cahaya yang masuk 75%. Saat musim kemarau, ia menyiram tanaman setiap 3 hari, sedangkan pada musim hujan cukup setiap pekan. Ariocarpus juga rawan terhadap serangan kutu putih yang kerap menyerang akar. “Kutu putih bisa membuat tuberkel kempis,” kata Faris. Untuk mencegahnya, ia melarutkan 1 ml insektisida sistemik dalam 5 liter air. Selanjutnya, ia mencelupkan ariocarpus bersama dengan pot ke dalam larutan itu hingga menyentuh bibir pot. Faris memberikan perlakuan itu rutin setiap 3 bulan.

Ariocarpus furfurateus sehat memiliki tuberkel gendut, berisi, dan mengeluarkan bunga setiap musim kemarau

Ariocarpus furfurateus sehat memiliki tuberkel gendut, berisi, dan mengeluarkan bunga setiap musim kemarau

Kunci

Dwi Wahyu Setyono, pehobi kaktus di Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, menuturkan setiap kolektor memiliki cara berbeda untuk membuat si batu hidup merasa nyaman. Ia menggunakan media tanam campuran pasir malang, tanah, kompos, dan sekam bakar dengan perbandingan 7:1:1:1. Ia menambahkan pupuk lambat urai sebanyak satu sendok teh sebagi nutrisi tanaman. Selain itu, ia juga meletakkan batu apung di permukaan atas media agar tetap kering. Dwi mengatakan ariocarpus menyukai tempat hidup yang kering dan panas. “Mereka juga menghendaki sinar matahari langsung sepanjang hari,” ujarnya.

Itu sebabnya Dwi menyimpan klangenannya di dalam rumah kaca berlapis plastik ultraviolet tanpa jaring. Suhu udara di dalam rumah kaca mencapai 33°C. Jarak antara atap dengan permukaan ariocarpus hanya 1,5 m. Dengan begitu ariocarpus mandi surya setiap hari. Saat menyiram, Dwi hanya membasahi permukaan media tanpa mengenai tubuh tanaman. “Jika tuberkel ariocarpus terkena cipratan air maka berisiko karat,” ujarnya.

Baca juga:  Cemara Udang ke Pelaminan

Sugita Wijaya, kolektor kaktus di Surabaya, Jawa Timur menuturkan setiap pehobi memiliki ramuan media tanam berbeda bergantung pada lokasi tempat tinggal. “Pastikan media yang digunakan kering dan lingkungan tempat penyimpanan bersuhu panas,” ujarnya. Untuk menjaga ariocarpus koleksinya tetap cantik dan gendut, Wijaya menggunakan media campuran pasir malang, arang, dan tanah dengan perbandingan 8:1:1. Ia menyimpan tanaman eksotis itu di dalam rumah tanam beratap plastik ultraviolet dengan persentase cahaya 60%. Ia memastikan sirkulasi udara lancar sehingga lingkungan kering dan tidak lembap.

Suhu di dalam rumah tanam harus panas sehingga air cepat menguap. Patokan ariocarpus sehat yakni mengeluarkan bulu baru berwarna putih setiap musim panas. Selain ariocarpus, jenis kaktus eksotis lain yang membutuhkan perhatian ekstra yakni lophophora. Perlakuannya sama seperti ariocarpus sebab di habitat aslinya mereka hidup berdampingan. Dengan kedua kunci itu, si batu hidup dan peyote-sebutan lophophora-pun tumbuh sehat dan gemuk. (Andari Titisari)

Manjakan Batu Hidup

537_ 33-1

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d