Euphorbia francoisii, kian berkualitas.

Euphorbia francoisii, kian berkualitas.

Analisis pelaku tanaman hias Thailand: tren yang menggeliat mulai 2017 berlanjut pada 2018. Gymnocalycium paling diminati.

Minimal sekali dalam dua bulan Fernando Manik berkunjung ke Thailand. Ia bukan datang untuk menikmati keindahan alam Negeri Siam, apalagi sekadar icip-icip kuliner Thailand. Warga Sumurbatu, Jakarta Pusat itu rela ulang-alik demi memantau pergerakan tanaman yang sedang tren di sana. Selain itu, ia berbelanja kaktus dan sukulen untuk diperbanyak dan memenuhi permintaan para pehobi.

Harap mafhum, Negeri Gajah Putih masih menjadi barometer perkembangan tanaman hias Asia Tenggara. Komoditas yang tren di Thailand, biasanya menular ke negara lain, termasuk Indonesia. Pelaku bisnis dari India dan Filipina juga kerap mengintip ke Thailand. John Franklin Roosevelt, pencinta tanaman asal India yang Trubus temui di Pameran Cactus and Succulent di mal Nine, Bangkok mengaku, ia datang ke Thailand untuk mengetahui tren tanaman hias pada 2018.

Gymnocalycium, tren 2017-2018.

Gymnocalycium, tren 2017-2018.

Saat ini di negaranya, kaktus dan sukulen pun sedang disukai masyarakat. Namun, menurut Roosevelt, kualitas gymnocalycium—salah satu jenis kaktus kelas premium—di India kurang bagus karena hasil grafting alias penyambungan, bukan alami. Salah satu tujuan Roosevelt datang ke Thailand mencari gymnocalycium nirsambung.

Barometer pameran
Geliat tren tanaman hias 2017 dan 2018 tergambar di dua pameran tanaman yang diselenggarakan dalam sepekan di Bangkok. Pameran pertama berlangsung di mal Nine di Kota Bangkok, pada 25—26 November 2017 yang menyajikan kaktus dan sukulen. Sekitar 200 lapak menjajakan beragam tanaman eksotis itu.

Pameran kaktus dan sukulen di Thailand diserbu pengunjung.

Pameran kaktus dan sukulen di Thailand diserbu pengunjung.

Sejak pukul 09.00, pengunjung mulai memadati arena pameran. Mereka mengincar kaktus cantik dengan harga terjangkau. Aliran pengunjung masuk nyaris tidak pernah surut hingga pukul 16.00. Yang menarik, sebagian besar pengunjung merupakan anak muda atau pasangan muda. Namun, anak-anak, warga senior, serta penyandang disabilitas juga datang untuk membeli tanaman. Harap mafhum, sejak dahulu warga Thailand memang pencinta tanaman.

Tanaman hias melengkapi koleksi di rumah, menghias tempat peribadatan, hingga gedung-gedung perkantoran. Pameran di Mal Nine menawarkan pilihan komoditas sangat beragam. Mulai dari kaktus mammillaria berharga puluhan baht, Euphorbia francoisii hibrida berharga ribuan baht, kabuto dan astrophytum berharga belasan ribu baht, serta gymnocalycium berharga 100.000 baht. Konsumen tinggal memilih sesuai selera dan kemampuan membeli.

Deaw dan amazing deaw, gymnocalycium langka tembus harga Rp40 juta.

Deaw dan amazing deaw, gymnocalycium langka tembus harga Rp40 juta.

Pameran kedua berlangsung di Taman King Rama IX, Suan Luang, Bangkok. Pameran di Suan Luang itu merupakan kalender tahunan setiap Desember. Total jenderal ada 500 gerai memamerkan dan menjual buah dan tanaman hias. Di pameran tanaman hias dan buah terbesar di Thailand itulah hadir lebih banyak lagi pengamat tren tanaman dari berbagai negara.

Baca juga:  Cara Budidaya Sayuran dalam Polybag yang Mudah

Anak muda
Dari dua pameran itu terlihat kaktus gymnocalycium paling tren saat ini. Hal itu diakui oleh Surawit Wannakrairoj, Ph.D., ahli tanaman hias di Kasetsart University, Bangkok, dan ketua asosiasi pengembangan tanaman hias Thailand. “Kaktus dan sukulen saat ini paling tren dan mungkin bertahan pada 2018,” kata Surawit. Hal itu tidak lepas dari geliat tren di kalangan muda untuk membeli tanaman penghias ruangan di rumah.

Supat Worawongwasu, kaktus dan sukulen menjadi pemuncak tren di Thailand pada 2017-2018.

Supat Worawongwasu, kaktus dan sukulen menjadi pemuncak tren di Thailand pada 2017-2018.

“Kebanyakan keluarga baru tinggal di kondominium berukuran kecil sehingga mereka pun memilih tanaman kecil,” lanjut Surawit. Meski berukuran kecil, penampilan tanaman harus tetap menarik dan mudah dirawat dalam ruangan. Sebab meski mencintai tanaman, kesibukan bekerja membuat mereka tidak punya cukup waktu untuk merawat koleksi.

Gymnocalycium mihanovichii salah satu tanaman yang memenuhi syarat itu. Ukurannya kecil, warnanya ciamik, dan gampang dirawat. Tanaman ini pun menarik dibisniskan karena variasinya tersedia mulai dari harga belasan baht hingga puluhan ribu baht. Mihanovichii jadi buruan pedagang dan kolektor di dalam dan luar Thailand karena langka. Dari ribuan benih yang disemai paling 2—3 bibit yang istimewa.

Keberlanjutan tren kaktus dan sukulen di Thailand pada 2017 dan 2018 diungkapkan pula oleh Supat Worawongwasu. Menurut pekebun di Nakormpathom, semua orang “gila” kaktus dan sukulen. Memang tidak semua kaktus menjadi tren. “Hanya yang unik-unik yang diburu, yakni multicolour dan kristata,” kata Noi, nama panggilan Supat. Salah satu faktor tren bisa bertahan lama adalah banyaknya varian tanaman. Cactus and Succulent Club Thailand merilis buku berisi 130 varietas gymnocalycium terbaik di Thailand.

Sukulen bercaudex disukai kolektor.

Sukulen bercaudex disukai kolektor.

Bila varian satu jenis tanaman sedikit, peminatnya cepat turun. Contohnya dracaena. Semula tanaman anggota family Liliaceae itu sempat digadang-gadangkan naik daun. Namun, karena tidak ada varian baru, permintaan mulai turun. Demikian pula aglaonema. Varian baru tidak muncul dan harga drop sehingga peminatnya pun berkurang. Bahkan tanaman yang dulu menjadi juara dan berharga mahal, sekarang dapat dibeli hanya dengan 1.000 baht atau Rp400.000. Pantas jika kolektor sudah tidak bangga memilikinya.

Franco
Menurut Fernando Manik, gymnocalycium mencapai puncak ramai pada tahun 2017. Kaktus berduri itu menggeser astrophythum yang ngetren tahun sebelumnya. Karena permintaan naik, harga gymno pun terkerek hingga 100%. Tahun lalu, hampir tidak dijumpai harga gymno di atas 10.000 baht.

“Sekarang harga 20.000—30.000 baht itu biasa. Bahkan ada juga yang harganya 100.000—150.000 baht,” kata Fernando. Sebaliknya, harga astrophytum cenderung stabil. “Mungkin karena barangnya sudah mulai banyak,” ungkap pehobi kaktus sejak 2008 itu. Selain gymno, tanaman yang diminati dan mungkin bertahan pada 2018 ialah hibrida dari Euphorbia francoisii.

Surawit Wannakrairoj, PhD, Tanaman kecil, cantik, dan bandel jadi incaran untuk hiasi rumah.

Surawit Wannakrairoj, PhD, Tanaman kecil, cantik, dan bandel jadi incaran untuk hiasi rumah.

Namun, franco—sebutan E. francoisii—mudah diperbanyak dari biji sehingga cepat banyak. Akibatnya, harga jadi turun. Oleh karena itu, menjadi penting dan menarik perburuan franco jenis berkualitas dan varian baru. Jenis baru dan berkualitas harganya masih cukup mahal. Itulah salah satu resep yang dipraktikkan Santiporn alias Lek. Penyilang di Bangkruai, Nonthaburi tetap mendapat harga tinggi karena terus memperbaiki kualitas tanaman.

Baca juga:  Mawar Bau Usir Kanker Usus

Franco yang diinginkan, daunnya kompak dan tersusun rapat. Warna dan tulang daun bagus, daun kian lebar sehingga hampir bulat. Bentuknya pun unik, bercangap tiga atau lima. Dengan penampilan demikian harga franco relatif tinggi 1.000—3.000 baht atau Rp400.000—Rp1.200.000 per pot. Perawatannya pun mudah. Tasson Theeraprapha, kolektor di Bang Bon, Bangkok, mengungkapkan, franco cukup mudah dipelihara. Euphorbia itu menyukai area yang lembap dan keperluan tempatnya pun sedikit. Ed, sapaan Tasson, memelihara franco di antara anthurium dan sukulen. “Franco ini cocok ditanam di Indonesia karena lembap,” ungkap lelaki tinggi besar itu.

Tanaman lain yang tetap ramai yaitu sukulen berbonggol. Menurut Cherry Phongsan Keeratikiat, meski tidak pernah meledak, peminat sukulen berbonggol tetap ajek. Sukulen berbonggol itu disukai karena memiliki caudex (bonggol). Namun, diakui oleh Cherry, jenis itu hanya ramai di tingkat kolektor dan pedagang. Pasalnya, tanaman itu cukup mahal bagi pehobi pemula. Jenis itu juga sulit diperbanyak yakni harus dengan biji (generatif).

Fernando Manik (kanan), setiap 2 bulan ke Thailand untuk pantau tren.

Fernando Manik (kanan), setiap 2 bulan ke Thailand untuk pantau tren.

Cherry mengimpor tanaman dewasa dari Meksiko, Madagaskar, dan negara-negara Amerika Latin lainnya. Berbeda dengan tanaman hias lain, konsumen sukulen bercaudex lebih menyukai tanaman besar. “Konsumen saya tidak sabar untuk melihat tanamannya besar,” ungkap Cherry.

Orientasi ekspor
Selain kaktus dan sukulen, jenis pakis-pakisan dan sansevieria juga layak dilirik. Pramote Rojruangsang, penyilang sansevieria di Pathumthani, menyilangkan sansevieria untuk menghasilkan yang bersosok kecil tetapi bergerombol. Contohnya, beberapa hasil silangan dari indukan S. rorida dan boncel. Sansevieria pun mudah dirawat.

Menurut Surawit, tanaman hias lain yang tidak booming, bukan berarti dilupakan. Para pekebunnya tetap bertahan dan terus mengembangkan tanaman. Sebut saja aglaonema. Meski pamor ratu daun itu sudah surut lebih dari 5 tahun silam, tetapi pekebun tetap mengembangkan. Kalau semula target pasar mereka para konsumen di Asia Tenggara, kini pasarnya ekspor ke Tiongkok.

Sansevieria mini, pilihan baru hobiis.

Sansevieria mini, pilihan baru hobiis.

Masyarakat negeri Tirai Bambu itu menyukai aglaonema kochin yang warnanya merah. Sedangkan pekebun sansevieria mengekspor tanaman lidah mertua ke Taiwan. Untuk anthurium peminatnya kolektor. Kehadiran anthurium eksklusif menjadi simbol status. Mereka mencari anthurium unik yang daunnya berwarna pink, merah, atau tricolor.

Namun, Thailand bukan sekadar piawai menciptakan tren. Pebisnis negeri Siam itu juga mampu mengendus komoditas tren di negara lain dan mengembangkan bisnisnya. “Bila Indonesia tren agave, mereka dengan serta merta mengeluarkan koleksi agavenya. Bila perlu mereka menyiapkan tanaman tren di suatu negara,” tutur Fernando Manik. Oleh karena itu tak ada salahnya jika para pelaku bisnis dan pehobi tanaman hias Indonesia mengintip tren dari Thailand. (Syah Angkasa)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d