Riau berhasil swasembada cabai dan menekan inflasi.

Riau berhasil swasembada cabai dan menekan inflasi.

Lokasi strategis dan pangsa pasar besar menjadi modal bagi Provinsi Riau untuk mengembangkan potensi pertaniannya.

Bank Indonesia melalui sejumlah kantor perwakilannya menginisiasi program penanaman cabai di berbagai daerah. Harap mafhum, cabai menjadi salah satu komoditas penyumbang inflasi. Sebab harga cabai kerap naik turun dengan drastis. Penyebabnya pada waktu-waktu tertentu produksi cabai tidak mampu memenuhi kebutuhan pasar sehingga harga melonjak. Pada saat lain ketika pasokan melimpah, harga langsung turun.

Namun, di Provinsi Riau cabai bukan lagi momok penyebab inflasi. “Sejak 1—2 tahun lalu cabai bukan lagi penyebab inflasi di Riau. Malah Riau sudah berhasil swasembada cabai,” tutur Ketua Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Provinsi Riau, Ir. Purwo Hadi Subroto. Provinsi Riau membutuhkan 30 ton cabai (terutama jenis merah keriting) per hari. Semula sebanyak 60% dari kebutuhan harian cabai provinsi dengan semboyan Bumi Bertuah Negeri Beradat itu dipasok dari Medan (Sumatera Utara) dan Padang (Sumatera Barat).

(kiri-kanan) Ketua KTNA Provinsi Riau, Ir. Purwo Hadi Subroto, Suci Puji Suryani (trubus), Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Provinsi Riau, Ir. H. Ferry HC, M.Sc, Gubernur Riau Ir. H. Arsyadjuliandi Rachman, M.B.A., Evy Syariefa (trubus), ketua umum KTNA Pusat, Ir. Winarno Tohir, dan wakil Sekretaris Jenderal KNTA Pusat, Kusyanto.

(kiri-kanan) Ketua KTNA Provinsi Riau, Ir. Purwo Hadi Subroto, Suci Puji Suryani (trubus), Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Provinsi Riau, Ir. H. Ferry HC, M.Sc, Gubernur Riau Ir. H. Arsyadjuliandi Rachman, M.B.A., Evy Syariefa (trubus), ketua umum KTNA Pusat, Ir. Winarno Tohir, dan wakil Sekretaris Jenderal KNTA Pusat, Kusyanto.

Sektor mapan
Itu sebabnya harga cabai di sana kerap berayun-ambing. “Kalau pasokan dari 2 daerah itu sedang tidak ada dipastikan harga cabai di Riau di atas Rp100.000 per kg,” kata Purwo. Di sisi lain ketika pasokan melimpah, harga cabai di tingkat petani bisa hanya Rp10.000 per kg. Kondisi itu terjadi karena semula Riau belum mampu memenuhi sendiri kebutuhan cabainya. Sebab produktivitas petani rendah akibat serangan hama dan penyakit.

Kini Riau berhasil berswasembada cabai dan menekan inflasi karena para petani mampu mengoptimalkan produksi. Mereka menggunakan varietas unggul lokal yang memiliki daya tahan terhadap serangan hama dan penyakit terutama thrips serta menerapkan budidaya intensif. Cara itu membuat potensi produksi 0,9 kg per tanaman tercapai sehingga pasokan petani mampu memenuhi kebutuhan pasar. “Salah satu indikator kemandirian cabai, harga cabai tidak pernah lagi lebih dari Rp50.000 per kg,” tutur Purwo. Bahkan cabai produksi Kota Dumai mampu mengisi pasar Medan.

Riau penghasil sawit utama di indonesia.

Riau penghasil sawit utama di indonesia.

Keberhasilan Riau dalam berswasembada cabai sekaligus menekan inflasi hanya salah satu gebrakan dunia pertanian di provinsi beribukota Pekanbaru itu. “Pertanian Riau sedang maju dan berkembang,” tutur Gubernur Riau Ir. H. Arsyadjuliandi Rachman, M.B.A., dalam pembukaan acara Temu Tugas Penyuluh dan Mimbar Sarasehan KTNA di Pekanbaru pada 11 Oktober 2017. Itu seiring dengan pertumbuhan ekonomi di provinsi itu. “Semua industri tumbuh, jumlah penduduk semakin meningkat sehingga masih banyak yang dibutuhkan Riau dan sektor pertanian harus memberi kontribusi,” papar gubernur. Terlebih posisi Provinsi Riau yang strategis di jalur perdagangan regional dan internasional.

Baca juga:  Dunia yang Lebih Baik

Perkebunan kelapa sawit merupakan salah satu andalan pertanian Riau dan sudah berjalan mapan. Data Statistik Perkebunan Indonesia Komoditas Kelapa Sawit 2014 menunjukkan luas tanam dan produksi kelapa sawit di Provinsi Riau terbesar di Indonesia. “Dengan bisnis yang sudah matang seperti itu, saatnya tenaga dan pikiran pemerintah Riau diarahkan untuk mengembangkan sektor lain,” kata gubernur.

Hidroponik juga mulai berkembang di Riau.

Hidroponik juga mulai berkembang di Riau.

Salah satunya yakni pemanfaatan lahan gambut untuk pengembangan produk pertanian. “Kita memiliki sagu yang cocok di lahan gambut dan bisa menyokong ketahanan pangan,” ujar gubernur (baca wawancara Gubernur Riau Ir. H. Arsyadjuliandi Rachman, M.B.A.: Riau Dukung Lumbung Pangan Dunia halaman 60). Sektor pertanian potensial lain yakni hortikultura yaitu buah-buahan. Gubernur menunjukkan keprihatinan dengan banyaknya buah impor masuk hingga ke pelosok kecamatan. “Ini menjadi potensi misal desa dikonsentrasikan menjadi sentra untuk buah tertentu,” paparnya.

Komoditas baru
Harapan gubernur itu sejatinya tidak sulit diwujudkan. Potensi hortikultura Riau begitu besar. “Apa saja yang dijual di sini pasti laku dan harganya mahal,” tutur Purwo yang berkebun hortikultura sejak 2000 menggambarkan besarnya peluang pengembangan hortikultura di Riau. Syaratnya produk berkualitas dan kontinu. Produksi pepaya misalnya bukan hanya untuk memasok pasar lokal Riau tapi juga hingga ke Jakarta. Itu belum termasuk permintaan 20 ton per bulan yang belum terlayani. Produk hortikultura unggulan lain seperti pisang dan jagung manis

Pepaya salah satu produk hortikultura andalan Riau.

Pepaya salah satu produk hortikultura andalan Riau.

Selain itu ada komoditas-komoditas baru seperti jambu madu deli hijau, matoa, butternut squash, dan sayuran hidroponik. Trubus menemukan matoa unggul di kediaman Purwo di Rumbai. Sosok buah besar, berkulit mulus, dan warna cerah: muda hijau, tua merah. Cita rasa buah manis dan daging tebal. Harga matoa merah mencapai Rp45.000—Rp55.000 per kg di tingkat pasar swalayan.

Menurut si empunya sejumlah pasar swalayan di Jakarta juga sudah meminta pasokan, tapi belum dilayani karena produksi belum banyak. Sebab pasokan hanya mengandalkan hasil panen dari pohon di sekitar rumah dan petani lain yang menanam 1—2 pohon. Oleh karena itu Purwo mengebunkan 200 pohon yang sekarang mulai belajar berbuah. Di Kabupaten Rokan Hulu petani menyilangkan salak sidempuan dan salak pondoh sehingga menghasilkan salak baru yang enak: manis, berair dan sekarang penanamannya berkembang. Pekebun sayuran hidroponik skala rumahan juga bermunculan. Mereka menanam di pekarangan dan dak.

Sungai Kampar mulai dikembangkan sebagai lokasi pengembangan ikan air tawar dalam keramba.

Sungai Kampar mulai dikembangkan sebagai lokasi pengembangan ikan air tawar dalam keramba.

Gairah perkembangan hortikultura Riau juga tercermin di tengah-tengah masyarakat. Dalam perjalanan dari Bandara Sultan Syarif Kasim II menuju Kecamatan Rumbai, Kota Pekanbaru, Trubus melihat deretan kios buah di beberapa ruas jalan. Mereka menjajakan aneka buah, yang paling mencolok buah naga dan jambu madu deli hijau.

Baca juga:  Tanpa Rumah Bermutu Tinggi

“Jambunya dari Sumatera Utara, tapi petani Riau juga mulai banyak yang mengebunkan,” kata Kusyanto. Wakil Sekretaris Jenderal Kelompok Tani Nelayan Andalan (KNTA) Pusat yang juga petani kelapa sawit di Kabupaten Kampar itu menjemput kami di bandara. Trubus datang bersama ketua umum KTNA Pusat, Ir. Winarno Tohir.

Jambu madu deli hijau primadona baru pekebun buah. Sebab tanaman produktif dan kualitas buah manis sehingga disukai pasar. Harga jual juga relatif masih tinggi. Di beberapa titik lain nurseri-nurseri tanaman hias menjual aneka tanaman hias seperti bonsai dan pucuk merah Syzygium oleana dan perlengkapan taman. Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Provinsi Riau, Ir. H. Ferry HC, M.Sc, mengatakan untuk mengoptimalkan pengembangan pertanian menuju Indonesia yang agraris perlu kerja sama sinergis antara para pemangku kepentingan dalam hal ini antara lain KTNA dan dinas.

Patin produk perikanan unggulan Riau dengan pasar domestik hingga ekspor.

Patin produk perikanan unggulan Riau dengan pasar domestik hingga ekspor.

Kampung patin
Peternakan dan perikanan juga menjadi perhatian. Pemerintah misalnya mendorong pengusahaan sapi dengan sistem tumpangsari dengan komoditas yang sudah ajek seperti kelapa sawit. Selain itu mendorong penerapan teknologi yang mempercepat peningkatan hasil dan produksi seperti inseminasi buatan. Di bidang perikanan, patin menjadi produk unggulan dengan sentra utama di Kabupaten Kampar.

Trubus mengunjungi Desa Pulaugadang dan Kotomasjid di Kabupaten Kampar yang disebut sebagai Kampung Patin. Harap mafhum, hampir semua penduduk desa mengusahakan patin. “Di sini ada banyak segmen usaha patin. Mulai pembenih, peternak pembesar, penyedia pakan alami dan buatan, pedagang, pengolah ikan jadi selai, sampai pembersih kolam,” kata tokoh masyarakat dan pelopor patin di Kampung Patin, Hasan Basri, SPi.

Tokoh Patin, Hasan basri, SP, (kiri) dan Ketua KTNA Kabupaten Kampar Ir. Julizar.

Tokoh Patin, Hasan basri, SP, (kiri) dan Ketua KTNA Kabupaten Kampar Ir. Julizar.

Total produksi patin segar 10—15 ton per hari. Total produksi ikan salai juga sama. Pemasaran patin segar mencapai Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Jambi. Sementara patin salai hingga ekspor ke Malaysia. Dengan harga ikan segar Rp16.000 per kg omzet berputar di Kampung Patin mencapai Rp160 juta per hari atau Rp4,8 miliar per bulan dari ikan segar saja. Pemerintah turut mendorong pengembangan kawasan patin antara lain dengan menyediakan fasilitas pengolahan salai patin yang bisa digunakan oleh masyarakat.

Perjalanan dari Pekanbaru menuju Kampar ditempuh sekitar 2 jam melewati aliran Sungai Kampar. “Peternak memanfaatkan aliran sungai untuk beternak ikan dalam keramba,” tutur Ketua KTNA Kabupaten Kampar, Ir. Julizar. Jenis yang diternak ikan mas dan jelawat. Kampar memang pusat perikanan darat di Riau.

“Riau itu diberkahi 4 sungai dan 800 anak sungai. Allah meletakkannya tidak sia-sia. Setiap detik airnya terbuang ke Selat Malaka. Alhamdulillah sekarang mulai dimanfaatkan satu per satu,” ujar gubernur saat wawancara bersama Trubus. Gubernur mengajak seluruh pemangku kepentingan di Riau bersama-sama membangun pertanian secara lengkap. (Evy Syariefa)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d