Terpikat rupa amstrongii dan pilansii.

G. amstrongii bercorak totol-totol putih di permukaan daun.

G. amstrongii bercorak totol-totol putih di permukaan daun.

Kolektor tanaman sukulen di Surabaya, Jawa Timur, Sugita Wijaya pertama kali kepincut rupa gasteria pada 2010. Semula Sugita melihat sosok Gasteria amstrongii bertubuh belang alias variegata. Penampilan yang unik dan corak warna cantik membuat harga gasteria itu sangat mahal. Padahal amstrongii milik sebuah nurseri di Jepang itu berukuran mungil sekali. Tinggi tanaman hanya 2 cm dengan panjang daun 3 cm. Sang pemilik membanderol amstrongii belang itu Rp4,5-juta.

G. pillansii berdaun sangat lebar.

G. pillansii berdaun sangat lebar.

Bagi Sugita harga fantastis itu pantas diberikan sebab keberadaan gasteria variegata masih langka di pasaran. Apalagi gasteria yang memiliki corak variegata ekstrem. “Disebut esktrem apabila persentase warna kuning lebih dari 50%,” ujar Sugita. Karena masih jarang yang mengoleksi, ia semakin getol mengoleksi gasteria bertubuh belang. Mayoritas gasteria koleksinya merupakan klon terbaru dari nurseri-nurseri di Jepang.

Stabil
Sugita menuturkan pehobi gasteria di Negeri Sakura itu rajin melakukan meneliti dan menyilangkan untuk menghasilkan tanaman-tanaman baru yang eksklusif. Sosok dan corak tanaman perut—gaster dalam bahasa Yunani bermakna perut—yang diperoleh sangat cantik dan beragam. Lihat saja 4 variasi amstrongii milik Sugita yang begitu mempesona. Tanaman pertama berdaun bulat dengan persentasi warna kuning hingga 70%. Komposisi warna hijau dan kuning di setiap daun terlihat menarik, tegas, dan cerah.

Adapun tanaman kedua lebih unik meskipun pola variegata yang dimiliki kurang mendominasi. Tanaman berdaun agak kasar itu berjuluk amstrongii punggung unta. Sebutan itu diberikan lantaran setiap helai daun memiliki tonjolan samar mirip punuk unta. Anakan yang muncul pun berpunuk dan berdaun belang seperti sang induk. Ahli fisiologi tumbuhan dari Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor, Ir Edhi Sandra MSi menuturkan mutasi warna pada tanaman bisa diturunkan pada anakan bila bersifat mutagenik dan stabil.

G. pillansii berdaun lanset, kasar, dan bercorak variegata.

G. pillansii berdaun lanset, kasar, dan bercorak variegata.

Menurut Sugita tak melulu amstrongii belang yang berpenampilan elok. “Yang berdaun hijau pun tak kalah istimewa. Di kediamannya, pria yang berprofesi sebagai arsitek itu menyimpan amstrongii variegata silver “tiger spot”. Sebutan tiger spot diberikan lantaran corak tanaman mirip kulit macan. Gasteria berpenampilan nyentrik itu tampak semakin apik lantaran bedaun sangat tebal dan halus. Apalagi terdapat corak kekuningan yang menghiasi bagian tengah dan tepi daunnya.

G. pillansii ‘dinosaurus’ belang.

G. pillansii ‘dinosaurus’ belang.

Lain lagi dengan amstrongii yang berdaun cekung. Keindahan gasteria asal Jepang itu memikat lantaran memiliki warna perak yang mendominasi permukaan daun. Tekstur daun halus dan tebal. Sugita menuturkan amstrongii menyukai sinar matahari dan media tanaman porous.

Baca juga:  Juniperus Kampiun

Pilansii

G. amstrongii berjuluk punggung unta lantaran terdapat benjolan serupa punuk unta.

G. amstrongii berjuluk punggung unta lantaran terdapat benjolan serupa punuk unta.

Bukan cuma amstrongii yang menjadi kebanggan Sugita. Ia juga mengoleksi sejumlah G. pilansii yang bersosok rupawan. Lazimnya, pilansii berdaun bujur, panjang, dan berpermukaan kasar. Bila disentuh terasa seperti sensai tembok usai disemen halus. Sekadar menyebut sepot pilansii berdaun lebar yang diletakkan di rumah tanam beratap plastik ultraviolet. Gasteria itu tetap istimewa meskipun tidak berdaun belang. Embel-embel super dinosaurus disematkan lantaran ukuran daun lebih besar dibanding pilansii normal. Bentuk daun membulat, pendek, dan terususun rapat. Bintik-bintik kuning samar tersebar di permukaan daunnya yang berwarna hijau itu.

Sugita juga memiliki sepot dinosaurus berdaun belang. Wajah lain itu tentu saja membuat sang dinosaurus semakin istimewa. Garis-garis hijau menghiasi permukaan daunnya yang berwarna kuning cerah. Adapula pilansii berdaun lanset dengan permukaan kasar. Gasteria berjumlah daun 7 lembar itu istimewa sebab mencapai 95%.

G. amstrongii berdaun perak.

G. amstrongii berdaun perak.

Habitat pilansii tersebar di Afrika Selatan bagian barat hingga Namibia bagian selatan. Pilansii pertama kali dikoleksi oleh NS Pillans, ahli botani di Kota Clanwilliam , Provinsi Western Cape, Afrika Selatan, pada November 1906. Pilansii juga menyukai tanah-tanah subur, berbatu, dan berpasir, sebagai tempat hidup. Arah tumbuh daun pilansii “ngelancir” di alam. Mereka kerap ditemukan bersembunyi di balik bebatuan maupun semak-semak. (Andari Titisari)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d