Garuda dari Golodewa 1

Sinar mentari menembus celah kabut yang masih menggelayut di Perkampungan Ranggawatu, Desa Golodesat, Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Fernandus Jawa mengendarai mobil bergardan dua menyusuri trans Flores yang berkelok-kelok. Saat memasuki Desa Golodamu, Bas van Ballen mendadak meminta Fernandus memperlambat laju mobil. Fernandus lantas menepikan mobil. Bas van Ballen bergegas mengeluarkan binokuler dari dalam tas ranselnya. “Coba lihat di depan sana. Seekor elang besar sedang bertengger,” kata ahli burung asal Belanda yang sudah tersohor di dunia itu.

534_ 112Sosok elang yang ditunjuk Bas tampak gagah. Kakinya kokoh mencengkeram cabang pohon matoa Pometia pinata yang hampir mati. Dadanya putih membusung. Sorot matanya tajam, penuh kewaspadaan. Perlahan kami mengendap-endap agar tidak mengusik keberadaannya yang bertengger sekitar 200 meter di hadapan kami. Begitu dekat, akhirnya Bas yakin bahwa sosok kharismatik itu memang elang flores Nisaetus floris yang kian langka.

“Jenis ini memang elang flores,” tutur penulis buku “Burung-burung di Sumatera, Jawa, Bali dan Kalimantan” yang menjadi rujukan para pengamat burung itu. Ucapan pria yang 35 tahun mengamati burung di Indonesia itu membuat kami bersemangat mengamati gerak-gerik elang setinggi pinggang orang dewasa itu. Bagi kami, itulah kali pertama menjumpai elang flores yang berhabitat di hutan dataran rendah dan submontana hingga ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut. Ia gemar berburu dari tempatnya bertengger lalu terbang mengangkasa dengan memanfaatkan aliran udara panas—biasa disebut thermal soaring.

Status burung yang berbulu putih itu juga menarik. Pada 2004 para ahli burung menelaah genetika, morfologi, pola persebaran dan survei lapangan untuk mengevaluasi keberadaan anak jenis elang brontok Nisaetus cirrhatus. Wilayah yang diteliti mencakup India, Srilanka, Kepulauan Andaman, Filipina, Semenanjung Malaysia, Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Para ahli berkesimpulan, Nisaetus cirrhatus floris anak jenis elang brontok yang hidup di Nusa Tenggara (Flores dan sekitarnya), memiliki karakter morfologi yang berbeda.

534_ 114-2Akhirnya, para ahli menetapkan jenis itu sebagai spesies yang berbeda dan kini dikenal sebagai elang flores. Dunia mengakui bahwa Nisaetus floris merupakan jenis yang hanya hidup alias endemik di Nusa Tenggara. Selain di Flores, anggota suku Accipitridae itu juga hidup di Pulau Lombok dan Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, hingga Satonda (dekat Sumbawa), serta Pulau Rinca (dekat Pulau Komodo, Nusa Tenggara Timur). Samuel Rabenak, anggota staf Burung Indonesia Program Mbeliling, menuturkan bahwa berdasarkan penelusurannya selama empat tahun, elang flores jarang dijumpai.

Pada 2009, misalnya, Rabenak menemani Mickhael Sackhelfor, pengamat burung asal Texas, Amerika Serikat. Selama lima hari mereka mencari keberadaan elang bersayap cokelat itu. Sayang, hasilnya nihil. Padahal mereka “bergerilya” menyusuri berbagai lokasi hutan di Manggarai Barat misalnya hutan Mbeliling hingga Ruteng, Gololusang, Pocoranaka, dan Ranamese di Manggarai Timur. Namun, tanpa diduga Samuel melihat elang flores kala melakukan pengamatan di Puarlolo, Mbeliling, pada pengujung 2011.

Hutan di kawasan itu merupakan habitat berbagai jenis burung seperti kehicap flores Monarcha sacerdotum, satu dari empat jenis burung endemik Flores. Ketika itu, Samuel yang menemani Barend van Gemerden, pengamat burung asal Belanda, melihat elang flores bertengger di atas cabang pohon nagasari Palaquium rostratum. Jaraknya sekitar lima puluh meter dari jalan raya trans-Flores. Untuk meyakinkan amatannya, ia mengirimkan foto burung itu kepada Bas van Ballen. Menurut van Ballen, apa yang dilihat Rabenak memang elang flores, setelah dicocokkan dengan spesimen di museum.

Kehicap ranting

Kehicap ranting

Kami terus berjalan menuju puncak Mbeliling berketinggian 1.270 meter di atas permukaan laut. Setelah beristirahat, kami putuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Danau Sano Nggoang yang terletak di Desa Wae Sano. Kira-kira dua jam kemudian kami tiba di Nunang, salah satu kampung di Desa Wae Sano yang berada tak jauh dari bibir Danau Sano Nggoang. Fernandus Jawa memarkir mobil di tepi jalan di bawah rindang pohon sawo kecik Manilkara kauki yang sedang berbuah. Dari Nunang, kami tidak bisa menahan diri untuk segera melihat wujud Sano Nggoang dari atas puncak Golodewa. Kami berjalan kaki menuju hutan Golodewa yang juga merupakan habitat beragam burung. Golodewa merupakan puncak bukit terjal di kaki Gunung Tewasano dan Gunung Pocodedeng. Puncak itu menjadi bagian dari hutan Sesok di sisi selatan Sano Nggoang.

Baca juga:  Mulsa untuk Kentang

Sano dalam bahasa lokal berarti danau, sedangkan nggoang bermakna membara. Padahal, danau vulkanik itu permukaannya hijau. Secara administratif, letak Danau Nggoang diapit Desa Waesano dan Sano Nggoang, Kecamatan Sano Nggoang, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT). Luasnya sekitar 513 ha, dengan kedalaman mencapai 600 m. Sayang, jalan menuju Golodewa amat rumit: menanjak, sempit, dan curam. Itu membuat napas tersengal-sengal. Namun, bagi Hendrikus Habur yang menemani kami, jalan terjal dengan rute menanjak dilaluinya bak padang datar.

Danau Sano Nggoang yang terlihat hijau

Danau Sano Nggoang yang terlihat hijau

Langkah tegapnya tanpa henti tidak menunjukkan usianya yang sudah berkepala lima. ”Ayo bergerak. Bila sudah siang, puncak Golodewa panas. Nuansa hijaunya memudar,” kata Hendrik. Itu memacu kami untuk mempercepat langkah. Tak peduli semak dan batu menghadang. Dengan bersusah payah selama satu jam berjalan kaki, kami tiba di puncak Golodewa. Hendrik menuturkan Sano Nggoang merupakan kisah dua perempuan bersahabat bernama Lemor yang lumpuh dan Lamur (buta). Seekor anjing, Nggitu Mole, menemani hidup mereka guna membantu kebutuhan sehari-hari.

Kehicap flores, salah satu burung endemik Flores

Kehicap flores, salah satu burung endemik Flores

Suatu ketika, kala dua sahabat beranjak tua, Lemor yang sudah tidak dapat bergerak lagi memerlukan api. Lamur pun memberikan api dengan cara mengaitkannya pada ekor Nggitu Mole. Namun, api justru mengenai dinding rumah dan membakar seluruh isinya. Dalam kondisi itu, muncul kakek yang menawarkan mereka dua pilihan: nasi atau bubur. Lemor dan Lamus memilih bubur. Maka, bubur pilihan mereka itu berubah menjadi Sano Nggoang seperti yang sekarang ini. Masyarakat Mbeliling hingga kini percaya, dua sahabat itu tinggal di dalamnya.

Dari puncak Golodewa, tampak keindahan Mbeliling. Pepohonan hijau menghiasi kawasan hutan seluas 30.000 hektar di barat daya Flores, Nusa Tenggara Timur. Hutan itu rumah bagi beragam burung. Erwin Schmutz, pater asal Jerman yang kini berdiam di Australia, adalah perintis lingkungan hidup yang peduli akan keragaman hayati. Perhatian besarnya terfokus pada burung dan berbagai jenis tumbuhan. Selama tinggal di Kampung Nunang pada 1963—1985, ia menemukan burung kehicap flores dan pohon yang kulitnya dapat dimanfaatkan untuk meracuni ikan sebelum dijala. Sympetalandra schmutzii pohon tersebut dinamakan untuk mengenang jasa-jasanya.

Burung madu matari. Masyarakat Mbeliling menjulukinya peti yang berarti burung kecil

Burung madu matari. Masyarakat Mbeliling menjulukinya peti yang berarti burung kecil

Tiburtius Hani, pemimpin tim Burung Indonesia Program Mbeliling, menuturkan bahwa kehicap flores dapat dijumpai di hutan Sesok, dekat Danau Nggoang. Wilayah itu merupakan habitat berbagai jenis burung seperti serindit flores Loriculus flosculus, gagak flores Corvus florensis, dan celepuk flores Otus alfredi. Tikus-raksasa flores Papagomys armandvellei berukuran superbesar, panjang dari kepala hingga badan 41—45 cm dengan panjang ekor 33—37 cm. Sebagai perbandingan tikus besar sulawesi yang memiliki panjang sekitar 14—16 cm dengan panjang ekor 15—17 cm berbobot 70—98 gram.

Kakaktua-kecil jambul-kuning yang hidup bertetangga dengan elang flores

Kakaktua-kecil jambul-kuning yang hidup bertetangga dengan elang flores

Kami menelusuri hutan di lereng menuju Kampung Nunang. Selain sebagai sumber pangan, hutan di sekitar Danau Nggoang itu merupakan sumber air bersih. Dua jam berselang, kami mampir ke rumah Maria Sumur. Ketika menyeruput secangkir kopi panas, seekor srigunting wallacea alias cerciak terbang rendah di atas kepala kami. Seekor caladi tilik Dendrocopos moluccensis sibuk menelisik lubang pohon mati di depan rumahnya. Burung anggota famili Picidae itu tengah mencari serangga sebagai pakan. Beberapa jenis seperti kehicap ranting Hypothymis azurea dan burung madu matari Nectarinia solaris juga hinggap santai di pohon mangga.

Baca juga:  Terbaik di Kota Pahlawan

Burung-burung itu merasa tidak terusik akan aktivitas warga. ”Di sini, burung bersahabat dengan manusia. Kami hidup berdampingan,” ujar Hendrik. Saat senja tiba, kami kembali menikmati keelokan Danau Nggoang. Aroma belerang menguar dari danau yang memiliki tiga sumber mata air panas. Sumber air panas pertama bersuhu 30°C. Masyarakat memanfaatkannya untuk berendam. Adapun sumber air panas kedua, bersuhu 70°C untuk mengusap muka atau membasuh bagian tubuh tertentu. Yang ketiga, bersuhu 100°C untuk merebus telur.

Di atas permukaannya yang hijau, empat itik benjut Anas gibberifrons hilir-mudik. Sementara di pohon beringin yang tepat di bibir Sano Nggoang, beberapa ekor kepodang-kuduk hitam Oriolus chinensis berkicau tanpa henti. Mudah mengenali sosok burung itu karena berwarna kuning yang kontras. Masyarakat Manggarai Barat menyebut kepodang sebagai gadis rupawan. Julukannya leros karena bulunya yang cantik dan suaranya yang khas. ”Burung adalah sahabat manusia” kata Hendrik. (Rahmadi, Feri Irawan, dan Fahrul Amama, pegiat di Burung Indonesia)

Sejak ditetapkan sebagai jenis tersendiri, status elang flores mengkhawatirkan. Saat ini total populasi burung anggota famili Accipitridae itu diperkirakan hanya 100—240 ekor. Oleh karena itu Badan Konservasi Dunia (IUCN  International Union for Conservation of Nature) menetapkannya sebagai jenis kritis karena kecenderungan populasinya yang terus menurun.

Ahli burung dari Universitas Padjadajaran, Prof Dr Djohan Iskandar mengatakan, merosotnya populasi elang flores kemungkinan karena habitat alaminya yang terganggu. Penyusutan luas tutupan hutan serta perburuan dan perdagangan ilegal turut memicu turunnya populasi elang itu. Artinya elang flores tinggal selangkah lagi menuju kepunahan. “Sejatinya jenis itu telah dilindungi oleh pemerintah melalui PP No.7/1999. Namun, dugaan saya masih ada perburuan liar untuk perdagangan atau klangenan,” tutur Dr Dewi Malia Prawiradilaga, ahli elang dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Elang flores saat ini kritis

Elang flores saat ini kritis

Sayangnya, menurut Dewi masih belum ada penelitian tentang elang flores. Laporan terbaru terkait jenis itu didapat dari pengamatan Peter Collaerts serta para peneliti dari Belgia dan Australia yang tengah mengamati elang flores di Alor. Berdasar laporan mereka, sebaran elang flores rupanya mencapai pulau kecil di timur Flores itu. Hasil pengamatan tim itu menunjukkan, elang flores di Alor menghuni fragmen-fragmen hutan tropis yang berbatasan dengan perkebunan Eucalyptus sp dan tanaman produksi lain.

Habitat semacam itu kurang produktif untuk berburu mangsa sehingga elang flores di Alor diduga memiliki daerah jelajah luas dan kepadatan populasi rendah. Para peneliti itu memperkirakan populasi kecil elang flores kemungkinan juga dapat ditemukan di pulau-pulau yang menghubungkan Flores dan Alor yaitu Solor, Adonara, Lembata, dan Pantar. Dewi menuturkan pentingnya pelestarian jenis itu misalnya melalui pemantauan jangka panjang di kantong-kantong populasi yang banyak ancamannya.

Terlebih elang flores di Alor, Mbeliling, dan lokasi lain, hidup bersama jenis-jenis keragaman hayati lain baik yang terancam punah maupun tidak. Di Alor, misalnya, burung itu “bertetangga” dengan kakaktua-kecil jambul kuning Cacatua sulphurea yang juga berstatus kritis. Oleh karena itu, jika elang flores dan habitatnya terselamatkan, harapannya  keragaman hayati lain juga turut lestari. (Feri Irawan dan Rahmadi, pegiat di Burung Indonesia)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *