Gama ayam pedaging baru, bongsor dan tahan penyakit.

563_128-1Ayam milik Sukiyo lebih cepat tumbuh. Dalam 7 pekan bobot seekor ayam 0,5 kg. Bandingkan dengan bobot ayam kampung biasa, bobot itu baru tercapai pada umur 4 empat bulan. Itulah saah satu kelebihan ayam gama. Peternak di Desa Beji, Kecamatan Patuk, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, itu memiliki 150 ayam gama. Ia mulai memelihara gama sejak 2012.

Ayam gama hasil silangan Dr Budi Setiadi Daryono, M.Agr.Sc, ahli genetika dan pengajar di Fakultas Biologi Universtias Gadjah Mada. Budi Setiadi berangan-angan dapat menghasilkan ayam dengan kualitas daging bagus seperti ayam kampung, dan cepat tumbuh seperti ayam ras atau broiler. Budi menggunakan induk ayam pelung dan ayam parent stock broiler strain Cobb-500, ayam ras unggul untuk pedaging.

Keturunan pelung

Penampilan fisik ayam gama tetap mencirikan ayam kampung jenis pelung, tetapi pertumbuhannya lebih pesat.

Penampilan fisik ayam gama tetap mencirikan ayam kampung jenis pelung, tetapi pertumbuhannya lebih pesat.

Setelah melewati berbagai tahapan penelitian sejak 2009, mimpi Budi Setiadi Daryono menjadi kenyataan pada 2012. Ayam lokal itu berbobot rata-rata 1.200 g pada umur 7 pekan. Munculnya sifat cepat tumbuh dan bobot maksimal akibat percampuran sifat genetis bawaan dari kedua induk. Menurut Budi Daryono pertumbuhan ayam dipengaruhi oleh 3 macam hormon, growth hormone (GH), insuline-like growth factor (IGF), dan IGF binding protein (IGFBP).

“Konsentrasi hormon pertumbuhan pada ayam broiler lebih banyak daripada konsenttrasi pada ayam kampung. Tingginya konsentrasi hormon itulah yang menyebabkan pertumbuhan broiler lebih cepat dibanding dengan ayam lain,” ujar Budi. Adapun sumbangan sifat baik dari ayam tipe pedaging seperti pelung adalah pada percepatan pertumbuhan otot. Budi mengatakan, jaringan otot terdiri atas banyak miofiber yang menjadi komponen utama otot.

Baca juga:  Atasi Karat Kopi

Jumlah miofiber di dalam otot ayam memiliki hubungan dengan percepatan bobot tubuh. Ayam yang cepat tumbuh memiliki lebih banyak miofiber pada otot dibandingkan dengan dengan ayam yang lambat pertumbuhannya. Menurut periset di Balai Penelitian Ternak, Dr Ir Tike Sartika MSi, ayam pelung salah satu ayam lokal yang patut dikembangkan lantaran berbobot tubuh lebih besar daripada ayam lokal lain dan produksi daging yang unggul.

“Mungkin selama ini masyarakat lebih mengenal pelung sebagai ayam dengan suara yang khas. Namun, dibalik itu juga tersimpan kelebihan berupa daging berkualitas bagus,” ujar Tike Sartika. Perkawinan silang antara ayam pelung dan ayam ras salah satu upaya untuk meningkatkan pertumbuhan ayam lokal. Terkait dengan usaha percepatan pertumbuhan, peran pakan sangat penting.

Pengagas ayam gama, Dr Budi Setiadi Daryono.

Pengagas ayam gama, Dr Budi Setiadi Daryono.

Menurut Sukiyo ayam gama bisa mengonsumsi pakan apa saja dan tidak tergantung pakan pabrikan. Sejak memelihara ayam gama pada 2012, peternak Sukiyo memanfaatkan sisa makanan manusia yang masih segar dan dedak. Ia memberikan campuran itu setelah ayam berumur lebih dari sebulan. Di bawah itu ayam tetap memerlukan perlakuan pakan yang intensif dan komposisi nutrisi tertentu. Itu lazim dilakukan pada budidaya ayam pelung.

Pakan
Menurut Budi Daryono pakan untuk anakan ayam berumur sehari day old chick (DOC) selama 4 pekan menggunakan pakan pabrikan berkadar protein tinggi, yaitu 22—24%. Perbandingannya adalah 75% pakan jadi dan 25% dedak kualitas bagus berkadar protein 12%. Bisa juga 50% pakan jadi, 25% dedak, dan 25% sumber bahan pakan lokal, sehingga biaya pakan bisa lebih murah.

Baca juga:  Aral Berbisnis Mocaf

Menurut Tike Sartika peran protein pada awal masa budidaya ayam pedaging sangat penting. “Protein itu tidak dimanfaatkan sebagai sumber energi utama, tetapi sebagai sumber asam amino. Asam amino dalam jumlah besar dapat meningkatkan penyerapan makanan dalam usus, sehingga ayam mengalami pertumbuhan yang optimal,” ujar Tike. Kelebihan lain gama, perawatan di kandang jauh lebih mudah daripada pada ayam broiler atau ayam ras.

Budi Setiadi Daryono mengatakan, itu karena sifat asli ayam pelung yang berkarakteristik ayam lokal adaptif di lingkungan tropis sejak beratus tahun. “Kandang gama dapat dibuat sama dengan kandang ayam kampung biasa. Beda dengan konstruksi kandang ayam broiler yang memerlukan kondisi khusus untuk mempertahankan lingkungan dalam kandang yang sejuk, karena ayam ras aslinya dari daerah subtropis dan beriklim sedang,” ujar Budi.

Setelah ayam gama berumur lebih dari 5 pekan sudah dapat diumbar dalam kandang bernaungan. Tujuannya untuk memelihara kebiasaan ayam lokal dan membuat ayam lebih sehat karena dalam perkembangannya dibuat sealami mungkin. Pada umur setelah 4 pekan kepadatan kandang maksimal 10 ekor per m². Itu pula yang membuat gama lebih tahan terhadap serangan berbagai penyakit.

Tahan penyakit

Ayam gama betina.

Ayam gama betina.

Menurut Sukiyo ayam hibrida baru itu jarang yang terjangkit penyakit berat. Bahkan saat sedang terjadi ledakan virus flu burung (H5N1) pada 2014, gama terbukti memiliki ketahanan yang bagus. “Sempat deg-degan juga karena di berbagai daerah banyak yang dimusnahkan, tetapi syukurlah gama tidak ada yang terjangkit flu burung,” ujar peternak 56 tahun itu. Sebagai ayam pedaging, gama memiliki kualitas daging yang bagus dan dapat diterima oleh masyarakat.

Baca juga:  Pencemar Berubah Pupuk

Oleh karena itu tim peneliti dari Fakultas Biologi UGM menguji daging produk ayam silangannya dengan cara membandingan dengan daging beberapa jenis ayam yang sudah banyak dijual seperti ayam broiler, kampung, kampung super, dan ayam pelung. Parammeter penguji kualitas adalah pH atau tingkat keasaman, persentase susut masak, keempukan, dan daya ikat air. Untuk analisis kmia daging menggunakan indikator kandungan kolagen, lemak, air, dan protein.

Hasilnya adalah susut masak gama paling rendah daripada yang lain, yaitu 27,45 % dan daging ayam broiler paling tinggi 38,40%. Itu menunjukkan pada saat pemasakan atau dipanaskan, penyusutan fisik daging juga paling rendah. Keempukan ayam juga lebih tinggi daripada ayam ras. Paling menarik adalah tingginya kandungan kolagen pada gama melebihi yang lain. Kolagen senyawa yang bermanfaat untuk memelihara keremajaan dan regenerasi sel.

Budi Daryono mengatakan, peternak harus dapat menjual dan masyarakat dapat menerima ayam gama karena karakteristik tetap ayam kampung dan berkualitas tinggi. “Itulah yang menjadi penyebab penelitian berjalan cukup lama. Kita harus menyeleksi ayam pelung yang memiliki karakter ayam kampung biasa. Salah satu contohnya adalah warna tungkai harus putih, sedangkan pelung rata-rata warnanya hitam,” ujar Budi. (Muhammad Hernawan Nugroho)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d