Jalur kereta api, jalan, dan lapangan olah raga yang rukun bertetangga dengan jembatan dan cagar alam

Jalur kereta api, jalan, dan lapangan olah raga yang rukun bertetangga dengan jembatan dan cagar alam

Bekas tambang pasir di Kota Hilversum, Belanda, kini menjadi tempat tetirah yang indah.

Kabut pagi belum tersibak, tetapi kehidupan sudah terbangun sejak dinihari di cagar alam Goise (Gooise Natuurreservaat, GNR). Burung berkicau bersahutan di dahan pohon. Rusa merah menyusuri rumput sembari sesekali mendongakkan kepala. Kelinci liar yang tengah mencari pakan berlarian mendengar suara manusia. Di kejauhan, orang-orang mulai berdatangan untuk berolahraga.

Bekas galian pasir menjadi cagar alam

Bekas galian pasir menjadi cagar alam

Cagar alam seluas 65 ha itu relatif muda. Pembangunannya dimulai pada 2002 dan baru rampung empat tahun kemudian. Luasan itu terbilang mungil untuk ukuran cagar alam. Namun, bagi negeri Belanda yang berukuran kecil, luasan itu sangat berarti untuk pelestarian keanekaragaman hayati. Daerah itu menjadi hunian berbagai jenis burung, reptil, amfibi, dan mamalia. Tidak kalah penting adalah serangga, karena menarik sebagai santapan burung. Tempat itu juga disukai kelelawar, yang termasuk satwa dilindungi di Belanda.

Warga Hilversum memanfaatkan cagar alam untuk rekreasi

Warga Hilversum memanfaatkan cagar alam untuk rekreasi

Terbengkalai
Sebelum menjadi cagar alam, GNR adalah bekas tambang pasir atau zanderij crailo dalam bahasa Belanda. Pengerukan pasir berlangsung sejak 1843. “Pasir untuk tanggul-tanggul dan jalur kereta api di Amsterdam datangnya dari sini,” ungkap Edwin van Oevelen, kepala komunikasi GNR. Selain diangkut ke Amsterdam, pasir itu juga dimanfaatkan sebagai pemberat kapal-kapal VOC yang berlayar tanpa muatan menuju Hindia Belanda, cikal bakal Indonesia. Kapal tanpa muatan terlalu ringan sehingga mudah karam ketika diterjang badai.

Setibanya di pelabuhan Tanjungpriok, Jakarta Utara, pasir diganti dengan berbagai muatan berharga, antara lain rempah-rempah. Pala, lada, cengkih, atau vanili dari tanahair pada masa itu sangat berharga bagi masyarakat Eropa. Semula mereka membeli melalui saudagar asal India yang berniaga ke bandar-bandar utama Eropa. Namun, kebutuhan yang semakin meningkat mendorong orang-orang Eropa—termasuk Belanda—menjelajah samudera untuk mencari penghasil utama rempahrempah.

Pemandangan dari atas jembatan alam. Tampak lapangan golf di sisi rel kereta api

Pemandangan dari atas jembatan alam. Tampak lapangan golf di sisi rel kereta api

Penambangan pasir berlanjut hingga 1970, selanjutnya lahan dibiarkan terbengkalai. Ternyata alam mengambil alih pemulihannya. “Pengerukan pasir yang begitu lama membuat daerah ini menjadi sebuah cekungan besar,” kata Edwin van Oevelen. Lantaran dasarnya dekat permukaan air tanah, cekungan itu lantas berubah menjadi semacam rawa. “Tanaman lantas tumbuh dengan sendirinya. Begitu juga ikan-ikan di sini, mungkin terbawa burung,” ujar Edwin.

Baca juga:  Refleksi Perjalanan RSPO

Edwin menyaksikan sendiri perubahan dari lahan terbengkalai menjadi alam cantik. Itulah yang terjadi jika alam dikembalikan kepada pemiliknya. Rawa itu berair jernih karena air tanah seperti ditapis oleh lapisan pasir. Sejak rawa terbentuk, serangga berkembang biak sehingga mengundang beragam satwa seperti burung, reptil, amfibi, dan mamalia. Siklus kehidupan pun muncul.

Jembatan alam
GNR yang mengelola lokasi itu, mengambil dua keputusan besar: mengubah kawasan itu menjadi cagar alam dan membangun sebuah jembatan alam. Setelah studi mendalam, pada 2002 pembangunan cagar alam itu dimulai. Tanah dikikis sehingga terbentuk semacam kolam dangkal dan tanah yang berlebih dipakai untuk membuat tanggul. Kemudian dibiarkan sehingga alam yang menentukan.

Zanderij crailo itu dilengkapi sebuah jembatan alam. Jembatan itu menghubungkan 2 cagar alam yang terbelah oleh jalanan dan jalur kereta api. Jembatan layang dari konstruksi beton sepanjang 800 m dengan lebar 50 m itu ditumbuhi padang rumput, perdu dan semaksemak. Pembangunannya dimulai pada 2002 dan menelan €14,7-juta setara Rp224—triliun. Pada 3 Mei 2006, jembatan alam itu diresmikan oleh ratu Kerajaan Belanda ketika itu, Ratu Beatrix Wilhelmina Armgard.

Pagar pemisah antara jalur penyeberangan satwa dan manusia

Pagar pemisah antara jalur penyeberangan satwa dan manusia

Jembatan alam itu memperluas habitat satwa yang hidup di cagar alam yang terbelah oleh rel kereta api dan jalan raya. Itulah tujuan membangun jembatan mahal itu. “Kebijakan lingkungan di Belanda dari dekade 1980-an adalah menggabungkan kawasan alam yang terpisah-pisah. Satwa yang hidup di alam terbuka harus leluasa berpindah dan berkembang biak,” kata Edwin. Jembatan itu memungkinkan kijang, sapi, kelinci pindah ke cagar alam di seberang.

Dengan demikian mereka bisa berkembang biak dengan pasangan dari seberang dan itu berarti darah segar untuk generasi berikutnya. Kehadiran jembaban alam berdampak positif bagi beberapa jenis satwa. Bukan hanya satwa, warga Hilversum pun menikmati cagar alam itu. Maklum, posisi cagar alam dekat perumahan dan warga
mudah menjangkau untuk berekreasi di sana.

Baca juga:  Sembuh Luka sang Ratu

Menurut Edwin, pelajaran penting yang bisa ditarik adalah menggabungkan kepentingan manusia dan kepentingan alam. Manusia dan hewan sama-sama bisa menikmati cagar alam itu. (Yanti Mualim, pengamat lingkungan, mantan editor senior Indonesian Department of Radio Nederland Wereldomroep, Belanda)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d