Gairah Kebunkan Si Madu 1
Timotius Jongkie Gunawan memasarkan bibit lewat media sosial

Timotius Jongkie Gunawan memasarkan bibit lewat media sosial

Para pekebun di berbagai daerah menanam jambu madu hijau. Penangkar bibit menangguk untung. Apakah pasar mampu menyerap buahnya?

Berikut sebagian daftar inden di nurseri Kebun Buah hingga awal September 2014: Denpasar meminta kiriman 500 bibit jambu madu deli hijau, Riau (1.000), dan Makassar (2.000). Penangkar bibit tanaman buah di Serpong, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten, itu membuat daftar tunggu karena hanya mampu menempelkan mata 1.000 bibit ke batang bawah per bulan. “Setelah penempelan mata, ada waktu pembentukan sambungan selama 5—6 pekan sampai bibit tumbuh sempurna,” kata Solahuddin, pengawas lapangan nurseri Kebun Buah.

Tanaman berbuah pada umur 4—8 bulan setelah penanaman 

Tanaman berbuah pada umur 4—8 bulan setelah penanaman

Artinya kemampuan produksi nurseri Kebun Buah hanya 2.000 bibit per 3 bulan. Sementara permintaan bibit jauh lebih besar. Isto Suwarno mengalami hal serupa. Penangkar bibit buah di Desa Tlogo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah, itu juga kelimpungan melayani permintaan bibit jambu madu. Sebanyak 1.200 bibit tandas terjual hanya dalam 4 bulan. Banyak pengunjung mengincar 500 tanaman dalam kantung yang tengah berbunga itu.

Beragam cara
Isto hanya mampu menghasilkan rata-rata 300 bibit per bulan. Pangkal persoalan Solahuddin dan Isto sama: ketersediaan entres alias bahan sambungan. Kebun Buah hanya mempunyai 1 pohon induk setinggi 2 m. Bosir Gober—rekan Solahuddin, bagian pemasaran Kebun Buah—memperoleh 5 bibit jambu deli hijau hasil sambung pucuk setinggi 30 cm pada 2013. Dalam setahun, ia menghasilkan lebih dari 5.000 bibit dengan teknik okulasi (baca boks: Pohon Pengganda Bibit halaman 63).

Jumlah itu pun tidak mampu memenuhi tingginya permintaan. Solahuddin mengakali dengan membesarkan sebagian bibit yang belum terjual, memindahkan ke dalam kantung tanam berukuran 65 cm x 60 cm berkapasitas 200 l, dan menjadikannya sumber entres.

Kelebihan madu deli hijau: termanis, termudah berbuah, terlebat buahnya

Kelebihan madu deli hijau: termanis, termudah berbuah, terlebat buahnya

Sementara itu Isto mengandalkan ujung hasil pangkasan tanaman miliknya sebagai entres. Ia juga memanfaatkan hasil pangkasan dari rekan sesama pekebun jambu madu deli hijau di Yogyakarta. “Kalau dituruti, permintaan setiap bulan bisa mencapai 5.000 bibit berbagai ukuran,” ungkap pensiunan Taman Wisata Candi Prambanan itu.

Baca juga:  Daun Moringa Jadi Tepung

Isto membanderol bibit tergantung ukuran. Harga bibit setinggi 50—75 cm mencapai Rp75.000, 80—100 cm (Rp150.000). Adapun Kebun Buah membanderol bibit 25—30 cm seharga Rp60.000, ukuran lebih besar, Rp150.000—Rp500.000, tergantung bentuk tajuk dan umur tanaman. Jika permintaan rata-rata 500 bibit saja, omzet Kebun Buah mencapai Rp30-juta sebulan.

Para pekebun di Sumatera Utara budidayakan madu deli hijau di dalam kantung tanaman

Para pekebun di Sumatera Utara budidayakan madu deli hijau di dalam kantung tanaman

Buruan pekebun
Mengapa jambu deli hijau menjadi buruan para calon pekebun? “Pertumbuhan cepat, cepat berbuah, berbuah sepanjang tahun, dan buahnya enak,” ungkap Sunardi, pioner penanaman jambu madu di Kelurahan Payaroba, Kota Binjai, Provinsi Sumatera Utara. Sunardi menyebut kelebihan madu deli hijau dengan 3 ter: termanis, termudah berbuah, dan terlebat buahnya. Wajar buah Syzygium samarangense itu menjadi ikon baru Provinsi Sumatera Utara.

Setiap bulan, kelompok Mulia Tani yang dipimpin Sunardi menjual 3.000—4.000 bibit ke berbagai penjuru tanahair. Jika jarak ideal antartanaman 3 m x 3 m, jumlah itu setara luasan 0,9—3,6 ha. Sunardi dan rekan rutin menjual bibit jambu madu dengan volume setara itu sejak akhir 2012. Untuk alasan kepraktisan, mereka memprioritaskan penjualan bibit di Sumatera Utara antara lain ke Binjai, Medan, dan Langkat.

Sungkup komunal pascapenyambungan

Sungkup komunal pascapenyambungan

Dua tahun terakhir gairah masyarakat mengebunkan jambu madu memang luar biasa. Para penangkar pun menyambut permintaan ribuan bibit untuk melayani calon pekebun. Sayang, kemampun menghasilkan bibit—dengan berbagai penyebab—jauh lebih rendah dibanding permintaan.

Para penangkar bibit di Sumatera Utara lebih beruntung. Saat masyarakat belum mengenal jambu madu deli hijau, Sunardi dan kelompok Mulia Tani memproduksi puluhan bibit setiap hari sejak 6 tahun lalu. Pada 2012, popularitas jambu air hijau semanis madu itu meledak. Pembeli datang dari berbagai tempat. Buah renyah itu menjadi oleh-oleh khas Sumatera Utara. Efeknya permintaan setiap hari mencapai 500 kg, melebihi kemampuan pasok Sunardi dan ke-36 anggota kelompok Mulia Tani, yang paling banyak hanya 70 kg per hari.

Sunardi: Jambu madu tingkatkan kemampuan finansial pekebun

Sunardi: Jambu madu tingkatkan kemampuan finansial pekebun

Merembet
Pamor jambu madu hijau itu akhirnya merembet ke Jawa ketika berlangsung Pekan Flora Flori Nasional di Yogyakarta pada Oktober 2013. Ketika itu Isto Suwarno membeli sebatang bibit pada acara itu. Pada tahun sama, Bayu Ari Sidi—warga Yogyakarta yang bekerja di Sumatera Utara—mendatangkan 150 bibit setinggi 30 cm untuk mengisi lahan milik orangtuanya, Drs H Mukriyanto, di Banguntapan, Kabupaten Bantul, Provinsi Yogyakarta. Bayu kemudian menanam 2.000 tanaman siap produksi di Banguntapan. Tujuan mereka sama: memproduksi buah.

Baca juga:  Waspada Hama Persea

Timotius Jongkie Gunawan turut menanam 80 jambu madu di Wonokerto, Turi, Kabupaten Sleman, pada Februari 2013. Semua tanaman itu kini tengah berbuah. Lantaran produksi belum teratur, buah ia bagikan secara cuma-cuma kepada pembeli dan pengunjung yang datang ke kebun. Untuk menutup operasional, distributor bahan bangunan itu menjual bibit.

Hasilnya ia kewalahan. Tiga bulan terakhir, penjualan meningkat dari 200—300 bibit per bulan menjadi 500 bibit. “Kemampuan memperbanyak cuma segitu. Sebenarnya permintaan mencapai 1.200 bibit per bulan,” kata Jongkie. Nyatanya laba penjualan bibit tidak bisa dianggap remeh. Bayu Ari Sidi mengatakan biaya pembuatan kebun di Banguntapan kini hampir impas setelah rutin menjual bibit hasil pangkasan.

Isto Suwarno: Permintaan bibit terkendala ketersediaan entres 

Isto Suwarno: Permintaan bibit terkendala ketersediaan entres

Pohon anggota famili Myrtaceae itu berbuah perdana pada umur 4—8 bulan pascatanam. Ketika pohon berumur 3—4 tahun produksi mulai stabil, yakni 20—30 kg per pohon per musim (4 bulan). Meski kebun jambu madu hijau kian luas, produksi buah tetap terserap pasar. Para pekebun yang umumnya membudidayakan tanaman dalam pot cenderung kewalahan melayani permintaan konsumen. Di kebun, Sunardi mengelola 2.000 pohon, 600 di antaranya produktif dan menghasilkan 6kg per pohon setiap 4 bulan, sisanya masih belajar berbuah. Artinya setiap panen ia melego 3,6 ton buah yang semuanya terserap pasar. Saat ini harga jambu madu hijau di tingkat pekebun mencapai Rp25.000—Rp30.000 per kg.

Bagaimana dengan di Jawa? Menurut Bayu Ari Sidi, luas penanaman madu deli hijau di Jawa relatif kecil. Ia memprediksi 5—10 ha. Jika bibit-bibit itu berproduksi serentak pun, pasar masih mampu menampung. “Asal rasanya layak, warga Yogyakarta bersedia membayar dengan harga yang sesuai,” kata Isto memprediksi konsumen. Citarasa jambu kerabat cengkih itu preferensi: manis dengan kadar hingga 12,4obriks, renyah, dan lezat. Pas di lidah konsumen. (Argohartono Arie Raharjo/Peliput: Bondan Setyawan, Riefza Vebriansyah, dan Syah Angkasa)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments