Gairah Hijaukan Mojodeso 1

Menghijaukan desa dengan tanaman buah dan sayuran.

Mojodeso berprestasi tingkat nasional.

Mojodeso berprestasi tingkat nasional.

Sehat, mandiri, dan sejahtera (SMS) menjadi jargon andalan Desa Mojodeso, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Jargon itu menjadi kenyataan. Sejak 2012 desa di tepi jalan penghubung Bojonegoro—Lamongan itu menata pekarangan rumah warga dan tanah-tanah kosong. Masyarakat desa itu membudidayakan berbagai tanaman buah seperti sawo, lengkeng, dan sirsak di lahan kosong dan tepi gang. Tiga tahun berselang tanaman itu berbuah. Setelah merasakan nikmatnya buah dari pekarangan sendiri, warga makin antusias.

Pada 2013 pemerintah kabupaten membagikan bibit sirsak, lalu tahun berikutnya membagikan bibit lengkeng. Warga pun kembali menanam kedua jenis bibit itu di pekarangan masing-masing. Tanah kas desa (bengkok) pun disulap menjadi kebun buah. Tanaman nonproduktif seperti randu diganti pohon buah. Saking semangat menanam, sebagian warga memanfaatkan sisa lahan untuk menanam sayuran di polibag. Ketika Trubus berkunjung pada September 2017, tidak ada pekarangan yang terbuka tanpa tanaman.

THR dari sampah

“Sekarang warga kurang mampu pun bisa makan lengkeng, yang harganya cukup mahal,” kata Kepala Desa Mojodeso, Warsiman. Sepanjang tahun, warga Mojodeso menikmati buah yang tidak mengenal musim seperti sirsak atau sawo. Selain pohon buah, warga Mojodeso juga memperindah pekarangan dengan membudidayakan tanaman hias tahan panas di tepi jalan, antara lain pucuk merah Syzygium oleana, puring, atau adenium. Tepian jalan desa diperindah dengan umbul-umbul.580-H135-1

Kebetulan, Bupati Bojonegoro, Suyoto, mengadakan program pengerasan jalan desa dengan paving blok. Hasilnya jalan desa tidak lagi becek pada musim hujan atau berdebu ketika kemarau. Jalan berpaving itu juga mempermudah pelaksanaan acara tahunan seperti ekspo untuk memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia. Tidak sekadar mengibarkan bendera di rumah, warga Mojodeso merayakan hari kemerdekaan dengan mengadakan kirab budaya. Sumber dananya dari kas desa.

Baca juga:  Air Hujan untuk Hepatitis

Pemerintah desa juga mengatur pengelolaan sampah warga. Desa seluas 117 ha itu mempunyai bank sampah di setiap RT. Bank sampah Mojodeso, bernama Payung Sejahtera, mengkoordinir bank-bank sampah tingkat RT itu untuk mengumpulkan sampah nonorganik bernilai jual seperti botol, plastik, atau kertas. Sampah nonorganik tidak bernilai jual seperti pecahan kaca disetorkan kepada Dinas Kebersihan Kabupaten. Sampah organik diolah menjadi kompos di tingkat rumah tangga.

Bahkan ketika ada acara seperti pengajian atau kirab, “Warga membawa kantong plastik untuk mengambil gelas plastik atau sampah komersial lain,” kata Warsiman. Bank sampah membeli sampah yang warga bawa. Warga tidak mendapat bayaran seketika, mereka hanya membawa pulang catatan sebagai bukti tabungan. Menjelang hari Idul Fitri, simpanan di bank sampah itu mereka cairkan.

“Seperti tunjangan hari raya (THR) tapi dari sampah,” kata Warsiman. Menurut Kepala Bagian Perekonomian Bojonegoro, Rahmat Junaidi, MPH, cara itu efektif mengubah pandangan terhadap sampah yang semula dianggap tidak bernilai sama sekali. “Dengan koordinasi yang baik dan efektif, sampah memberikan penghasilan tambahan,” kata Rahmat. Cara itu terbukti efektif menggerakkan warga menjaga kebersihan desa bersama-sama.

Modal manusia

Kekompakan warga Mojodeso memelihara kebersihan dan keindahan lingkungan desa mereka memperoleh ganjaran setimpal. Pada 2017, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan memberikan penghargaan Program

Pembuatan batik tulis bermotif khas Bojonegoro di Mojodeso. Perangkat desa Mojodeso memegang trofi Proklim 2017 dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Pembuatan batik tulis bermotif khas Bojonegoro di Mojodeso.
Perangkat desa Mojodeso memegang trofi Proklim 2017 dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Kampung Iklim (Proklim) kepada Mojodeso. Program itu menyoroti kesuksesan penataan lingkungan melalui

penanaman pohon buah sebagai upaya menghambat perubahan iklim. Menurut Rahmat, tanaman buah menyerap karbon dari udara dan menghasilkan udara segar.

“Selain buah ‘gratis’ dari pekarangan, warga juga menikmati udara sehat,” ujar Rahmat. Maklum, ketinggian yang nyaris sejajar muka laut menjadikan iklim Bojonegoro panas dan cenderung kering. Namun pada musim hujan, sungai Bengawan Solo yang bermuara di Laut Jawa meluap dan menggenangi sebagian bekas wilayah Kadipaten Jipang itu.

Kepala Desa Mojodeso, Warsiman

Kepala Desa Mojodeso, Warsiman

Gempita penanaman pohon buah itu menjadi peluang bisnis bagi salah satu warga, Djamal. Ia membibitkan berbagai tanaman buah sekaligus mengusahakan madu dari lebah Apis cerana. Desa itu menjadi pelopor penanaman beras organik di Bojonegoro. Inisiator pertanian organik di Mojodeso, Abdul Mu’in, menggunakan kompos dari warga dan mengaplikasikan pestisida

Baca juga:  Pesona Sumatera Utara

nabati untuk memproduksi beras organik khas Mojodeso dengan label Beras Payung.

Perajin batik tulis dengan motif khas Bojonegoro, Asiah, juga menetap dan berkarya di Mojodeso. Menurut Warsiman, aset terbesar Mojodeso adalah sumber daya manusia.

Sayuran polibag di pekarangan warga.

Sayuran polibag di pekarangan warga.

Maklum, desa itu tidak memiliki lahan luas seperti sentra belimbing Desa Ngringinrejo atau Desa Mojo. Salak wedi khas Bojonegoro juga tersentra di Tanjungharjo, Bendi, dan Wedi, tidak tumbuh di Mojodeso. “Lahan pertanian tidak terlalu luas sehingga profesi masyarakat pun beragam. Namun, semua mau aktif menjaga lingkungan,” kata Warsiman. Itulah aset terbesar yang terbukti menjadikan Mojodeso sebagai desa berprestasi tingkat nasional. (Argohartono Arie Raharjo)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *