Swari Haryati membudidayakan puyuh french quail.

Swari Haryati membudidayakan puyuh french quail.

Lulus sarjana ekonomi 17 tahun lalu Swari Haryati justru memilih beternak puyuh. Kini kegiatan memasarkan telur puyuh, puyuh induk pedaging, dan pupuk kandang mendatangkan omzet puluhan juta rupiah.

Omzet besar dari telur kecil. Itulah Swari Haryati yang mendulang omzet Rp48,1 juta per bulan dari perniagaan telur puyuh. Peternak di di Desa Bintaos, Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, itu memelihara 7.000 puyuh. Produktivitas burung-burung anggota famili Phasianidae itu 85% sehingga setiap hari ia memanen rata-rata 5.950 butir. Artinya dalam sebulan produksi telur mencapai 178.500 butir.

Menurut Yati—sapaan Swari Haryati—harga sebutir telur Rp270 sehingga omzetnya Rp48,1 juta sebulan. Peternak berusia 34 tahun itu mengatakan, pemberian pakan mencapai 50 kg per hari senilai Rp280.000. Peternak menghabiskan hingga 1.500 kg pakan sebulan. Yati menjual semua telur puyuh ke PT Peksi Gunaraharja. Standar mutu telur permintaan pasar harus utuh atau tidak retak dan kulit telur harus memiliki corak blirik.

Ciri telur puyuh berkualitas antara lain berat karena terisi penuh tanpa rongga udara.

Ciri telur puyuh berkualitas antara lain berat karena terisi penuh tanpa rongga udara.

Populasi meningkat
Petugas dari PT Peksi Gunaraharja mengambil telur dari peternak mitra seperti Yati setiap 7 hari. Itulah sebabnya Yati tak perlu memasarkan telur ke luar. Peksi mengambil telur sekaligus mengantarkan pakan puyuh. Perusahaan itu sejatinya tak membatasi pasokan telur dari Yati. Itulah sebabnya Yati akan meningkatkan populasi hingga 10.000 puyuh. Dengan populasi itu, produksi telur akan meningkat hingga 255.000 butir per bulan.

Perusahaan itu membolehkan peternak mitra seperti Yati menjual sebagian hasil panen ke pasar umum. Syaratnya jumlah pasokan telur ke perusaahaan inti mesti tetap. Harga di Peksi relatif stabil, berada sedikit di bawah harga pasar. Itu wajar lantaran peternak juga mendapat subsidi pada harga pakan. Menurut Yati puyuh bertelur perdana pada umur 28 hari. Namun, ia memundurkan waktu bertelur hingga unggas itu berumur 35 hari.

Jika umur puyuh yang bertelur kurang dari 30 hari berpotensi memperpendek masa hidup burung itu karena anusnya rentan terluka. Menurut Yati produksi puyuh turun setelah berumur 1,5 tahun. Itulah sebabnya ia mengapkir puyuh-puyuh petelur pada umur itu. Setiap bulan ibu satu anak itu mengapkir 330 puyuh dan menjual kepada pengusaha rumah makan. Puyuh petelur itu kini berubah menjadi pedaging yang tersaji di restoran.

Sosok puyuh koleksi PT Peksi Gunaraharja yang berukuran lebih besar daripada puyuh lokal dan biasa disebut manuk londo.

Sosok puyuh koleksi PT Peksi Gunaraharja yang berukuran lebih besar daripada puyuh lokal dan biasa disebut manuk londo.

Keruan saja Yati mendapat tambahan pendapatan hingga Rp1.320.000 per bulan dari penjualan puyuh apkir. Tambahan pendapatan lain berasal dari penjualan pupuk kandang yang mencapai 1.260 kg per bulan. Harga pupuk kandang puyuh mencapai Rp17.500/10kg kg. Artinya sumber pendapatan Yati terdiri atas tiga hal, yakni telur puyuh, induk puyuh, dan pupuk kandang. Perempuan kelahiran Palembang, Sumatera Selatan, itu memodifikasi pemberian pakan untuk puyuh berumur 31—34 hari.

Baca juga:  Pandan Antidiabetes

Yati mencampur BR starter lazim untuk puyuh berumur 1—28 hari) dan pakan layer atau pakan puyuh produktif. Tujuannya membiasakan puyuh sebelum sepenuhnya beralih ke pakan layer. Tepat pada hari ke-35, puyuh milik alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta itu pun mulai bertelur. Puncak bertelur pada bulan ke-5 dengan tingkat produksi mencapai 85%. Saat itu 7.000 puyuh menghasilkan sekitar 178.500 telur sebulan.

Hambatan
Swari beternak puyuh sejak 2012. Sarjana Ekonomi itu memutuskan tidak bekerja kantoran. Ia memilih terjun ke bisnis puyuh sambil menjaga ibunya yang saat itu sakit. Swari merasa ternak puyuh cocok di daerah Tepus yg tanahnya tandus (hanya cocok untuk tanaman keras yg perlu waktu lama sampai bernilai ekonomis tinggi). Selain itu, ia tertarik dg sistem kemitraan Peksi Gunaraharja yang mendukung plasma untuk berkembang bersama. Aturan-aturan dalam sistem juga relatif fleksibel karena tiap tahun dievaluasi oleh kedua pihak.

Swari Haryati beternak puyuh sejak 2012.

Swari Haryati beternak puyuh sejak 2012.

Terlebih sang ayah yang pensiunan pegawai PUSRI Palembang mendukung. Bahkan saat membangun kandang, ayahnya yang saat bekerja di bidang kelistrikan membantu membuat rangkaian listrik yang rumit. Ia menuturkan pada tahun pertama beternak beberapa permasalahan muncul seperti kotoran puyuh yang menggunung dan berbau tidak sedap. Saking bingungnya ia meminta tolong tetangga untuk menggali lubang untuk menimbun kotoran. Tidak puas dengan cara itu, Yati pun mendatangi peternak puyuh mitra PT Peksi Gunaraharja demi mendapatkan solusi yang lebih baik.

Yati mengunjungi peternak mitra di Purworejo dan Wonogiri, Jawa Tengah serta Sleman dan Bantul, Yogyakarta, setiap Rabu selama 2 bulan. Hasilnya Yati memperoleh trik mengatasi kotoran puyuh. Caranya ia mencampur abu dan obat pengurang kandungan zat amonia sehingga kotoran kering dan bau tidak sedap berkurang signifikan.

Gasolec cocok untuk masa pembesaran day old quail chicks (DOQ) supaya suhu lingkungan hangat.

Gasolec cocok untuk masa pembesaran day old quail chicks (DOQ) supaya suhu lingkungan hangat.

Selama kunjungan itu Yati pun mempelajari manajemen pemberian air, kebersihan kandang, dan alat-alat penunjang peternakan puyuh. Kini ia meggunakan nipple, alat pemberi minum unggas yang hanya akan mengeluarkan air saat ditekan paruh. “Tujuannya supaya pemberian air lebih efisien,” kata pemilik Arie Puyuh itu. Atas prestasi itu PT Peksi Gunaraharja menganjurkan peternak mitra untuk belajar penanganan kotoran puyuh kepada Yati.

Baca juga:  Menjemput Khasiat Jamur Tari

Ia pelopor budidaya puyuh di Kecamatan Tepus. Semula mata pencaharian warga berpetani padi, jagung, dan singkong. Beberapa warga juga menekuni budidaya ternak seperti kambing dan domba. Kini budidaya puyuh menjadi salah satu sumber pendapatan warga di Kecamatan Tepus, Kecamatan Mentel, dan Tanjungsari, semua di Kabupaten Gunungkidul. Ada sekitar 5 peternak puyuh di ketiga kecamatan itu.

Para warga kepincut beternak Coturnix sp. alias silangan puyuh lokal dengan puyuh asal Perancis lantaran berlaba relatif tinggi seperti pengalaman Swari Haryati. Yati mengawali bisnis puyuh dengan meminjam Rp95 juta pada orang tuanya. Ia memang bertekad mandiri dan profesional pada kegiatan bisnis yang tengah ia rintis. Modal itu untuk membeli 7.000 bibit Harga day old quail chicks atau puyuh umur sehari Rp3.200 per ekor atau total Rp 22,4 juta.

Manajemen air dan pakan penting untuk menjamin kesehatan puyuh selama masa bertelur.

Manajemen air dan pakan penting untuk menjamin kesehatan puyuh selama masa bertelur.

Selain itu Yati juga membelanjakan modal untuk pembelian paket pakan ternak dari perusahaan inti. Pinjaman itu ia lunasi dalam 8 bulan. Yati mengatakan beternak puyuh tidak sekadar memerlukan uang sebagai modal awal. “Kesabaran, niat kuat, dan pikiran positif juga mesti dimiliki peternak puyuh,” kata ibu satu putra itu.

Puyuh mesti mendapat pakan cukup untuk agar tumbuh optimal.

Puyuh mesti mendapat pakan cukup untuk agar tumbuh optimal.

Harap mafhum pada bulan pertama puyuh belum menghasilkan. Sudah begitu bibit justru memerlukan perhatian dan perawatan ekstra. Itulah masa paling kritis lantaran peternak mesti memastikan kelangsungan hidup puyuh berumur sehari. Peternak juga harus menentukan alat pemanas ruangan untuk menjaga bibit puyuh tidak kedinginan dan mati.

Swari Haryati, Palembang, 4 Februari 1983 (34 tahun)

Swari Haryati, Palembang, 4 Februari 1983 (34 tahun)

Ia menggunakan pemanas berbahan bakar gas elpiji yang lazim dipakai peternak ayam ras. Satu pemanas menghangatkan 1.000 bibit puyuh. Penyebab kematian bibit puyuh lainnya yakni berebut pakan. Oleh karena itu, ia menyarankan peternak memastikan pakan cukup.

Kotoran puyuh menjadi rebutan petani sebagai pupuk kandang berkualitas.

Kotoran puyuh menjadi rebutan petani sebagai pupuk kandang berkualitas.

Yati bahkan tidak tidur 3 hari saat bibit puyuh datang agar tidak ada perebutan pakan. Pada umur 25 hari ia memindahkan anakan puyuh ke kandang bertingkat. Saat itu puyuh french quail itu relatif kuat tanpa pemanas ruangan dan beberapa hari kemudian memasuki masa bertelur. Yati menunggu momentum itu karena rekening tabungannya terisi fulus alias uang dari hasil penjualan telur. (Muhammad Hernawan Nugroho)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d