Firdaus di Jantung Tokyo 1
Nanohana kerap disebut sebagai bunga musim semi. Di meja makan, bunganya menjadi perasa dan penghias menu udang

Nanohana kerap disebut sebagai bunga musim semi. Di meja makan, bunganya menjadi perasa dan penghias menu udang

Di sini musim semi sesungguhnya Negeri Sakura.

Yohei Morifuji mengirim surat elektronik menggoda di pertengahan April 2014. Mahasiswa Fakultas Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Chiba, Jepang, itu menunjukkan warna-warni bunga nan indah di sebuah taman mahaluas. Itu sepenggal surga seluas 180 ha di jantung Kota Tokyo. Showa Kinen Park itu memang bagai taman eden bagi pelancong mancanegara dan lokal yang berkunjung ke Tokyo. Hampir semua kartu pos berlatar belakang bunga dan tanaman yang beredar di Tokyo berlokasi di Taman Showa.

Maklum, dengan 4 musim yang datang silih-berganti, taman itu pun seolah memiliki 4 wajah berbeda: pohon berselimut salju pada musim dingin, bunga bermekaran saat musim semi dan panas, serta daun memerah ketika musim gugur menghampiri.

Pada 1978 penguasa Jepang yang bergelar Kaisar Showa itu membangunnya untuk mengenang 50 tahun pemerintahan. Showa dalam bahasa Jepang berarti periode damai. “Taman ini simbol perdamaian dan kemajuan bagi warga Jepang,” kata Yohei. Menurut Yohei, Kaisar Akihito membangun taman bunga itu karena kecintaannya pada tanaman. Akhirnya pada 1983 taman yang berlokasi di dekat Stasiun Tachikawa itu dibuka untuk umum.

Hinageshi dalam literatur Persia disebut bunga cinta. Ia perlambang kekasih yang abadi

Hinageshi dalam literatur Persia disebut bunga cinta. Ia perlambang kekasih yang abadi

Hamparan nanohana

Pengunjung cukup berjalan kaki 10 menit dari stasiun ke taman sang kaisar melewati pedestrian layang sambil menikmati megahnya bangunan modern di Kota Tokyo. Kini taman itu adalah 1 dari 16 taman nasional yang dikelola pemerintah. “Liburan sekolah ini kami mengajak anak-anak ke sana,” kata Julitawati Yuli, mantan pramugari sebuah penerbangan asing, yang kini bermukim di Tokyo. Menurutnya, hamparan bunga nanohana Brassica napus di tengah padang seluas lapangan sepakbola menjadi tempat paling diburu pelancong.

Baca juga:  Anthurium Variegata Anyar

Menurut Yohei, nanohana kerap disebut bunga musim semi. Ia sebetulnya juga dikebunkan untuk bahan makanan. “Bunganya dapat dimakan dan menjadi sumber minyak kanola,” katanya. Biasanya bunga nanohana digunakan sebagai topping masakan udang dan mayonaise.

Padang bunga lain yang juga mencolok adalah hamparan bunga hinageshi Papaver rhoeas yang berwarna-warni. Tanaman yang semula di alam tumbuh liar dan termasuk gulma di kebun jagung itu memikat karena sosoknya pendek dan bunganya berwarna cerah. Ketika beragam varietas berwarna putih, kuning, dan merah muda ditanam bersamaan di lapangan, maka mereka bagai karpet warna-warni.

Bunga peony berasal dari Cina. Sosok bunga meraksasa dengan diameter mencapai 30 cm

Bunga peony berasal dari Cina. Sosok bunga meraksasa dengan diameter mencapai 30 cm

Saking cantiknya literatur Persia kuno menyebutnya sebagai bunga cinta. Ia juga perlambang kekasih abadi yang bersatu hingga akhir hayat. Sementara Amerika Serikat dan Inggris pernah mengabadikannya sebagai bunga dalam prangko. Bangsa Rumania dan Kanada mencetak bunga hinageshi di mata uang.

Di taman itu juga dapat disaksikan hamparan azalea. Bunga itu pernah populer di Bandung pada era 1980-an. Pengelola membentuk tajuk bulat, kotak, atau hamparan luas sehingga tanaman asli Asia timur dan Amerika utara itu tampak indah saat banjir bunga. Kerap kali mereka menanam varietas bunga putih dan merah berdampingan sehingga warnanya kontras.

Pohon peony

Di taman itu bunga peony asal Cina juga penyedot utama perhatian pengunjung. Mahkota bunga yang bertumpuk mirip mawar tampak mencolok karena sosoknya meraksasa. Diameternya sejengkal tangan orang dewasa alias 20 – 30 cm. Sosok itu kontras dengan penampilan pohon yang lemah dan ringkih – karena banyak mengandung air – sehingga perlu ditopang tongkat.

Azalea berbunga serempak karena pengaruh musim. Di era 80—90 an banyak bermekaran di Bandung, Jawa Barat

Azalea berbunga serempak karena pengaruh musim. Di era 80—90 an banyak bermekaran di Bandung, Jawa Barat

Tanaman anggota keluarga Paeoniaceae itu mampu bertahan hidup pada musim dingin lalu memamerkan keindahan bunga saat musim semi. Menurut Yohei, masyarakat Jepang menyukai bunga peony setelah warga Cina mengenalkannya ratusan tahun silam. Di Cina Paeonia suffruticosa itu dijuluki raja bunga. Ia menjadi simbol kekayaan, kehormatan, dan kasih sayang sekaligus. Pantas lukisan bunga peony kerap menjadi objek lukisan di beragam aksesori di Jepang, contohnya keramik.

Baca juga:  Durian Daun Naik Daun

Di Kinen Showa Park bunga peony – yang akar dan kulitnya dipakai sebagai herbal – itu memamerkan bunga di 2 area. Yang pertama di area terbuka yang minim gulma dan ternaungi pohon besar. Di situ pengunjung bebas menikmati makanan dan minuman yang dibawa. Di tempat kedua bunga peony ditanam di Japanese Garden yang eksklusif. Pengunjung dilarang makan dan minum ketika menyaksikan keindahan bunga. Mereka hanya diizinkan menyantap di gazebo yang disediakan.

Tercatat di sana ada 6 varietas yang tumbuh berdasarkan warna: kuning, ungu, putih, merah, merah tua, dan merah muda. Di dunia saat ini terdapat lebih 600 kultivar bunga peony yang tersebar di Inggris, Perancis, Amerika Serikat, Cina, dan Jepang. Itu termasuk kultivar di alam dan silangan para penyilang di Eropa.

Menurut Yohei, keindahan di pertengahan musim semi di Showa Kinen Park itu bakal berganti wajah saat akhir musim panas dan awal musim gugur. Pada musim itu bunga kingmokusei Osmanthus fragrans yang saat musim semi monoton oleh daun bakal menyambut pengunjung yang datang. Tanaman asal Tiongkok itu memamerkan bunga warna putih, kuning, dan jingga.

Sementara pada musim gugur menjelang musim dingin wajah taman berubah menjadi merah dan kuning. Bedanya kali ini bukan karena warna-warni bunga, tetapi daun ginkgo Ginkgo biloba, mapel jepang Acer palmatum, nangkinghaje Sapium sebiferum, dan lindera Lindera umbellata yang berubah warna. Daun-daun tanaman memerahkan taman sang kaisar hingga ke jalanan dan tanah. Musababnya dedaunan yang rontok memenuhi tamah dan menyulapnya menjadi merah kekuningan. Itulah kisah sepenggal eden di jantung Tokyo. (Destika Cahyana SP, peneliti di Kementerian Pertanian dan mahasiswa pascasarjana diFakultas Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Chiba, Jepang)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *