Ferdinand Cheng: Cetak Lovebird Jawara

Salah satu lovebird indukan milik Acong

Salah satu lovebird indukan milik Acong

Ferdinand Cheng alias Acong bertangan dingin hasilkan lovebird jawara.

Warna bulu Mayang Sari sungguh aduhai: kepala merah dan tubuh hijau. Tidak hanya penampilannya yang cantik, lovebird itu juga bersuara indah. Buktinya Mayang Sari kerap masuk 10 besar pada kontes burung berkicau tingkat nasional pada 2010—2012. Prestasi terbaik burung cinta itu meraih juara ke-1 pada kontes burung Piala Presiden 2010 dan juara ke-2 Piala Gamako.

Mayang Sari merupakan hasil penangkaran Ferdinand Cheng, penangkar di Kramatjati, Jakarta Timur. “Keunggulan Mayang Sari bersuara panjang dan volume suaranya besar,” ucap Acong—sapaan Ferdinand Cheng. Mayang Sari mampu berkicau selama 1 menit 15 detik. Rata-rata lovebird berkicau kurang dari 1 menit.

Anakan lahir setelah induk mengeram selama 21 hari

Anakan lahir setelah induk mengeram selama 21 hari

Turunan juara
Kepiawaian Ferdinand mencetak lovebird jawara patut diacungi jempol. Selain Mayang Sari, Ferdinand juga memiliki Unyu Unyu, Nilam Sari, Angel, dan Putri Keraton yang juga mengukir prestasi di beberapa adu kicau tingkat nasional. Putri Keraton, misalnya, meraih posisi ke-8 di kelas Lovebird Ebod Vit A saat Lomba Burung Berkicau Tingkat Nasional Piala Jayakarta di Lapangan Banteng, Jakarta, pada November 2013. Sementara Unyu Unyu mulai menunjukkan kualitasnya dengan masuk 10 besar pada latihan prestasi pada 2 Februari 2014 di Jakarta.

Acong mengenal lovebird pertama kali pada 1996. Namun, pehobi burung berkicau sejak 1990 itu baru serius menangkarkan lovebird pada 2006. “Sebelum 2006 minat saya hanya ikut lomba,” kata Acong. Kebetulan saat itu lovebird sedang naik daun. Selain itu, “Beternak lovebird lebih mudah ketimbang jenis lain seperti kenari besar,” kata pria kelahiran Pekalongan, Jawa Tengah, itu. Acong memulai dengan menangkar 3 pasang lovebird yang dibeli dari Surakarta, Provinsi Jawa Tengah.

Saat ini Acong memelihara 12 pasang indukan lovebird di ruang berukuran  8 m x 3 m di Kramatjati, Jakarta Timur. Jumlah indukan itu tergolong kecil, beberapa penangkar lovebird lainnya bahkan memiliki 100 indukan. Meskipun begitu, Acong menjamin indukan lovebird miliknya burung jawara. Acong memang tidak sembarangan memilih indukan. “Indukan lovebird harus pernah menjuarai beberapa kontes nasional. Itu karena anakan juara berasal dari indukan yang juara juga,” kata Acong.

Ferdinand Cheng alias Acong bertangan dingin hasilkan lovebird juara

Ferdinand Cheng alias Acong bertangan dingin hasilkan lovebird juara

Lazimnya harga lovebird jawara tinggi, mencapai Rp25-juta/ekor. Untuk menyiasati itu, Acong membeli indukan mantan juara yang dibanderol Rp5-juta—Rp7,5-juta/ekor. “Meskipun bekas, lovebird itu tetap memiliki kualitas juara,” kata Acong. Lovebird mantan juara merupakan burung yang sudah tidak mengikuti kontes lagi. Indukan lovebird miliknya meliputi Cemong, Wonder Women, Thoyib, Muntah Lahar, Miss X, Velin, Chelsea, Kanjeng, Dewi Lanjar, dan Si Buta.

Selain pernah juara, indukan lovebird juga harus memiliki suara melengking yang panjang, di atas 1 menit. Suara melengking panjang itulah yang menjadi sandaran Acong menghasilkan lovebird berkualitas. Ia bahkan berani menjamin kualitas anakan lovebird sama dengan induknya. “Bila kicauannya pendek, anakan boleh dikembalikan dan diganti dengan yang lebih baik,” kata alumnus STIE Yogyakarta itu.

Tags:
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x