Kebun mangga berteknik ultra high density planting (UHDP) di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, yang dibangun pada Oktober 2017.

Kebun mangga berteknik ultra high density planting (UHDP) di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, yang dibangun pada Oktober 2017.

Meningkatkan volume panen mangga dengan teknik tanam rapat. Populasi per hektare naik 13 kali lipat.

Kebun mangga di Desa Jatisura, Kecamatan Cikedung, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, itu spektakuler. Di lahan seluas sekitar 1 hektare berisi 1.333 pohon mangga. Lazimnya populasi di lahan hanya 100—156 tanaman. Populasi lebih tinggi karena jarak tanam yang digunakan 2,5 m x 3 m, sedangkan kebun lainnya 8 m x 8 m atau 10 m x 10 m. “Sistem budidaya mangga itu disebut ultra high density planting (UHDP),” kata pemilik kebun berpopulasi tinggi itu, H Urip.

Ia mengetahui teknik budidaya UHDP sejak 2014. Saat itu ia tidak sengaja membaca informasi itu di dunia maya. Terbersitlah keinginan menerapkan pola itu di kebun sendiri. Semula Urip berencana mempraktikkan teknik itu pada 2016. Namun, persiapan belum lengkap sehingga hasrat berkebun mangga sistem UHDP baru terwujud pada Oktober 2017. Pemilik nurseri Agrimania Flora Indramayu itu menanam manguier—sebutan mangga di Perancis—beragam jenis dan ukuran. Ada kiojay yang berumur sekitar 3 tahun dan chokanan berumur sebulan.

Asal Afrika

Pekebun di Taiwan membudidayakan irwin menggunakan teknik high density planting (HDP) berjarak tanam 3 m x 4 m.

Pekebun di Taiwan membudidayakan irwin menggunakan teknik high density planting (HDP) berjarak tanam 3 m x 4 m.

Nun di Batang, Jawa Tengah, Yusron Hadi Nugroho, mengelola kebun berisi 200 kiojay dan 50 garifta merah berjarak tanam 4 m x 2 m. Rencananya ia akan menempelkan entres mangga varietas lain seperti red ivory ke kiojay. Nantinya kebun yang dibangun pada Desember 2017 itu akan memproduksi aneka jenis mangga. Menurut Shyam Prakash Singh dari Faculty of Agriculture, Bidhan Chandra Krishi Viswavidyalaya, Bengal Barat, India, UHDP teknologi teranyar bertanam mangga berjarak tanam 2,5 m x 2,5 m. Lebih lanjut dalam jurnal Indian Farmer edisi Mei 2017, Shyam menyatakan, teknik UHDP berasal dari Afrika Selatan. Beberapa tahun lalu para peneliti terkejut menyaksikan sekitar 2.250 amb—sebutan mangga dalam masyarakat Kashmir—memadati lahan 1 hektare, sedangkan di India hanya 100—175 mangga di lahan sama.

Baca juga:  Inovasi di Kolam Ghufron

Menurut Shyam UHDP meningkatkan produktivitas panen, kualitas buah, dan membuat ukuran buah seragam sehingga para peneliti mengadopsi teknik itu sesuai iklim di India. Melalui National Horticultural Mission Scheme, pemerintah India memberikan subsidi bagi pekebun yang ingin menerapkan UHDP. Peneliti mangga di Kebun Percobaan Cukurgondang, Kecamatan Grati, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, Ir. Karsinah, M.Si., mengatakan baru mengetahui tentang high density planting (HDP).

H Urip mengembangkan sekitar 1.333 mangga beragam jenis di lahan 1 hektare.

H Urip mengembangkan sekitar 1.333 mangga beragam jenis di lahan 1 hektare.

Di India teknik HDP berjarak tanam 2,5 m x 3 m dan 3 m x 3 m. Artinya terdapat sekitar 1.111—1.333 tanaman kerabat kedondong Spondias dulcis itu di lahan 1 hektare. Itu lebih longgar ketimbang UHDP, yang populasinya mencapai 1.333 tanaman per ha. “Yang bisa menerapkan HDP pekebun besar, bukan petani mangga,” kata Karsinah. Mangga berbuah 3 tahun setelah tanam sehingga standar operasional prosedur (SOP) jarak tanam membudidayakan mangga 8 m x 8 m atau 10 m x 10 m.

Tujuannya agar petani dapat berladang tanaman semusim seperti padi sebelum mangga berbuah. Menurut Karsinah teknik HDP meningkatkan produktivitas panen, tapi perawatan tanaman mesti lebih intensif lantaran populasi meroket.

Pekebun mesti kerap memangkas tajuk, memupuk, dan memperhatikan sanitasi kebun. Penanaman HDP pun mesti mempertimbangkan varietas tanaman yang dibudidayakan sejak zaman India kuno itu. “Agri gardina 45 salah satu jenis yang cocok untuk HDP karena bersosok pendek dan berbuah perdana 2 tahun setelah tanam,” kata alumnus Jurusan Agronomi, Institut Pertanian Bogor, Jawa Barat, itu.

Tantangan
Manggaboom—sebutan mangga di Belanda—lainnya yang kompatibel dengan HDP yaitu garifta merah dan marifta 01. Urip pun mengembangkan semua jenis mangga itu di kebunnya. Shyam juga menyarankan pekebun menggunakan irigasi tetes agar pengairan efektif dan efisien.

Sukses Tanam Rapat

Sukses Tanam Rapat

Tentu saja pekebun pun mesti merogoh kocek lebih dalam. Namun demikian, jika pekebun bisa mengatasi kendala UHDP berpotensi meningkatkan pendapatan. Berdasarkan pengalaman Shyam volume panen naik 200% dengan pemupukan intensif dan peningkatan populasi. Keuntungan lain UHDP yakni bentuk, warna, cita rasa, dan kesegaran buah seragam. Karakter buah yang seperti itu sesuai persyaratan ekspor. Selain itu perawatan dan pemanenan buah lebih mudah karena sosok tanaman relatif pendek.

Baca juga:  Cepat Lacak Jejak Elmaut

Ia berharap jika teknik itu berhasil bisa menjadi contoh untuk pekebun lain sekaligus pembuktian penanaman mangga secara superintensif. Selain India, negeri yang mempraktikkan penanaman mangga HDP adalah Taiwan. Trubus pernah mengunjungi kebun mangga bersistem HDP seluas 8.000 hektare di Tainan, Taiwan, yang berjarak tanam 3 m x 4 m.

Rata-rata tinggi tanaman yang masuk ke Afrika Timur pada abad ke-10 itu 1,5—2 m. Dengan begitu perawatan dan pemanenan pun menjadi lebih mudah. Shyam menyatakan HDP kali pertama dikembangkan di Eropa pada pengujung abad ke-19. Dengan UHDP dan HDP pekebun bisa membudidayakan lebih banyak tanaman anggota famili Anacardiaceae itu di lahan terbatas. (Riefza Vebriansyah)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d