Fakta Sehat Konsumsi Air Hujan 1

Masyarakat memanen air hujan dan mengolahnya untuk konsumsi sehari-hari. Fakta empiris membuktikan, konsumsi air hujan terelektrolisis itu membantu mengatasi penyakit berat.

Kecelakaan itu menguak penyakit yang merongrong Drs. Henricus Suharto, M.Pd. Suatu pagi itu terjatuh dari sepeda motor ketika memasuki gerbang sekolah. Lutut kiri kepala SMP Negeri 1 Ngawen, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah, itu tergores sedikit. Namun, keesokan hari luka itu basah, membengkak, dan makin nyeri.

Melihat kondisi luka yang cukup parah, dokter langsung merujuk Suharto ke rumah sakit. Ketika itulah terkuak bahwa ia mengidap diabetes mellitus dengan gula darah 350 mg/dl dan tekanan darah 160 mmHg. Kadar gula darah normal 80—179 mg/dl dan tekanan darah normal 90—120 mmHg. Selama 3 hari, ayah 2 anak itu menjalani terapi suntik insulin sambil rutin dipantau.

Air hujan

Drs. Henricus Suharto MPd., sempat buta sesaat akibat diabetes, kini kadar gula darah normal dan kembali aktif berolahraga.
Drs. Henricus Suharto MPd., sempat buta sesaat akibat diabetes, kini kadar gula darah normal dan kembali aktif berolahraga.

Sepulang dari rumah sakit, Suharto rutin menyuntikkan insulin setiap hendak makan. Sejatinya sulung dari 7 bersaudara itu merasa gejala diabetes sejak 1996. Setiap pagi ia makan nasi sampai kenyang. Ternyata tiba di sekolah ia malah lemas seperti sepekan tidak makan.

Ketidaktahuan membuatnya mengabaikan gejala itu sampai memuncak pada 2013 ketika terjath dari motor di gerbang sekolah itu.

Untuk mengatasi kadar gula darah berlebih, Suharto mengonsumsi olahan air hujan. Pengurus gereja tempat Suharto beribadah menampung air hujan dan mengolahnya dengan cara elektrolisis.

Pria 59 tahun itu mengonsumsi 6 gelas per hari. Setiap kali haus, ia mengonsumsi air hujan elektrolisis itu. Sepekan berselang ia memeriksakan diri ke laboratorium.

Hasil pemeriksaan itu membuat Suharto bungah. “Semua parameter, terutama gula darah dan tensi normal. Padahal, semula melebihi batas,” kata Suharto.

Kadar gula darah Suharto hanya 124 mg/dl, tekanan darah 120 mmHg. Kondisi itu stabil hingga pemeriksaan berikutnya pada 3 bulan kemudian. Ia langsung memesan 2 alat elektrolisis kepada rekan yang paham elektronika. Ia hanya minum air basa hasil elektrolisis—selanjutnya hanya ditulis air basa.

Warga Desa Bringin, Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang, Sudarlis, mempunyai pengalaman nyaris serupa. Bedanya Sudarlis menderita komplikasi jantung koroner, hipertensi (190 mmHg), dan asam urat (lebih dari 10 mg/dl).

Ketika penyakit jantung kambuh, ia sulit bernapas, pusing, sampai kehilangan pandangan, bahkan tidak mampu duduk. Pemeriksaan di rumah sakit di Kabupaten Magelang menghasilkan rekomendasi agar Sudarlis menjalani pemasangan kateter.

Namun, ia menolak karena mempertimbangkan kondisi keuangan sehingga mencari pengobatan alternatif. Sebulan pertama, pria 51 tahun itu hampir putus asa lantaran semua gejala justru memburuk. “Semakin pusing, lemah, dan sulit berjalan,” katanya.

Ia nyaris mengalami strok. Sudarlis berdiri, merapatkan lalu menekuk jari-jari kaki ke bawah dan melangkah. “Waktu itu seperti ini kalau saya berjalan,” katanya mempraktikkan gejala strok yang menimpanya.

Kembali bugar

Sudarlis kini hanya minum air basa hasil pengolahan air hujan.
Sudarlis kini hanya minum air basa hasil pengolahan air hujan.

Semangat Sudarlis untuk sembuh berkobar-kobar ketika memperoleh informasi mengenai khasiat air hujan. Pria 51 tahun itu mengonsumsi 5—7 gelas air hujan per hari. Ketika pertama mengonsumsi air basa hasil elektrolisis itu ia kerap pusing dan agak limbung pada malam hari.

Ayah 2 anak itu berkemih setiap 10—15 menit. Meski demikian, Sudarlis tetap mengonsumsi air hujan. Alih-alih berhenti, ia malah semakin banyak minum.

Enam pekan setelah rutin mengonsumsi air hujan, anak ke-3 dari 4 bersaudara itu memeriksakan diri di laboratorium klinik di Magelang. Hasilnya tensi darah Sudarlis yang semula lebih dari 200 mmHg kembali normal, yakni 113 mmHg. Asam urat juga dalam batas aman.

Baca juga:  Bayam Merah Sumber Antioksidan

Di luar parameter kuantitatif, Sudarlis merasa kembali bertenaga. Saat tetangga mengajak bermain futsal, tanpa ragu pria kelahiran 9 Juni 1967 itu bergabung. Sebelumnya, berjalan saja ia harus sering berhenti karena sesak napas dan pusing.

Sudarlis dan Henricus Suharto hanya beberapa orang yang merasakan faedah air hujan untuk menjaga kesehatan. Selain mereka, banyak anggota masyarakat lain yang memperoleh khasiat serupa.

Sekadar menyebut beberapa, ada Sumaryanti yang mengidap hepatitis B, Wanti yang mengalami pendarahan akibat kista, dan Maria Yacinta Melati penderita osteoporosis atau tulang rapuh. Kondisi mereka juga membaik setelah disiplin mengonsumsi air hujan

Tangki besar sekaligus elektrolisator air hujan di pastoran Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.
Tangki besar sekaligus elektrolisator air hujan di pastoran Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Dua tahun terakhir kian banyak orang yang memanen air hujan, mengolahnya dengan elektrolisis, lalu mengonsumsinya untuk menjaga kesehatan atau kebugaran tubuh. Wawan Pratiknyo di Muntilan, Kabupaten Magelang, tak membiarkan hujan pergi begitu saja.

Wawan (58 tahun) membuat instalasi elektrolisis berbahan pipa polivinil klorida (PVC) abu-abu berdiameter 3 inci di dinding pagar rumah.

Air hujan dari talang mengalir ke tangki air berkapasitas 570 liter melalui pipa berdiameter tiga per empat inci dengan keran pengatur. Ketika hujan deras turun 15—30 menit, Wawan membuka kran sehingga air mengalir mengisi tangki lalu turun ke jalinan pipa PVC 3 inci dengan elekroda di dalamnya. Di bagian bawah jalinan pipa besar itu terdapat 2 keran dispenser, 1 untuk mengambil air basa, lainnya air asam.

Warna air basa (biru, kiri) dan asam (kanan) setelah ditetesi detektor pH.
Warna air basa (biru, kiri) dan asam (kanan) setelah ditetesi detektor pH.

Selain instalasi di dinding itu, alumnus Jurusan Sastra Inggris Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta itu menempatkan belasan tong besar volume 120 l di bawah kucuran atap. Saat hujan, air dari genting langsung mengisi tong-tong itu.

Wawan memanfaatkan air hujan yang tertampung itu untuk mengisi perangkat-perangkat elektrolisis di rumah. Ia memiliki belasan alat elektrolisis dengan berbagai kapasitas.

Wawan meletakkan perangkat elektrolisis di dapur, teras belakang, ruang makan, dan toko yang berjarak sekitar 500 m dari rumah. Pengelola toko bahan bangunan itu rutin mengonsumsi air hujan sejak 2015.

Sejak itu istri dan 2 anaknya pun ikut mengonsumsi air basa yang tersedia di rumah mereka. Ia lantas membuat lagi beberapa alat elektrolisis lantaran kerabat, tetangga, bahkan pegawai toko sekaligus keluarga mereka kerap meminta air basa.

Kampanye air hujan

Salah satu yang mengampayekan konsumsi air hujan adalah Vincentius Kirjito di Pastoran Sanjaya, Muntilan, Kabupaten Magelang. Ia giat mengampanyekan pemanfaatan air hujan sejak bertugas di Desa Kemalang, Kecamatan Deles, Kabupaten Klaten, pada 2001—2010.

Kirjito bertugas di daerah berketinggian 2.911 meter di atas permukaan laut itu selama 9 tahun. Desa yang hanya sekitar 5 km dari puncak Gunung Merapi itu tidak memiliki sumber air meski terletak di lereng gunung.

Vincentius Kirjito mengampanyekan pemanfaatan air hujan sejak 2001.
Vincentius Kirjito mengampanyekan pemanfaatan air hujan sejak 2001.

“Sehari-hari mereka hanya mengandalkan air hujan dari tampungan. Kalau habis, menunggu mobil tangki air bantuan dari berbagai pihak,” kata Kirjito. Ia melihat warga Kemalang sehat. Anak-anak pun lincah dan aktif. Ia menjadi yakin air hujan menyehatkan meski secara visual tidak sebersih air tanah.

Kini di kompleks pastor Sanjaya, Muntilan, Magelang, Kirjito merangkai 15 perangkat elektrolisis dengan berbagai kapasitas. Maklum, “Banyak orang datang meminta air basa,” ujar pastor kelahiran Kulonprogo 65 tahun lalu itu. Kirjito mengampayekan air hujan karena ia merasa faedahnya amat besar.

Pada 2010 dan 2011 Vincentius Kirjito menjalani operasi pemasangan cincin pada jantungnya. Sepulang operasi, seorang rekan, Joko Sutrisno, menganjurkan Kirjito mengganti air minum dengan air basa hasil elektrolisis.

Baca juga:  Efek Samping Konsumsi Buah Okra

Semula Kirjito ragu. Namun, ia tetap memenuhi saran Joko. Ia merasa tubuhnya lebih bugar setelah minum air basa. Ia lantas aktif mengampanyekan konsumsi air hujan terelektrolisis.

“Air hujan nyaris murni, rendah padatan terlarut (Total Dissolved Solid, TDS), dan hampir pasti bebas mikrob,” kata Kirjito. Pengamatannya, TDS air hujan berkisar 5—60 ppm. TDS air minum kemasan 100—200 ppm.

Bak penampungan air hujan di Kemalang, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.
Bak penampungan air hujan di Kemalang, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.

Badan kesehatan dunia WHO mensyaratkan TDS air minum 50—200 ppm. Selain itu, pH air hujan ternyata netral sampai basa.

Hujan asam hanya turun di permulaan, maka itu Kirjito menyarankan menampung hanya kalau hujan deras dan air sudah turun 15—30 menit. Itu yang dilakukan arsitek pegiat air hujan di Cinere, Kota Depok, Ir. Sanggam Sibarani. Sanggam dan istrinya, Nur Hidayah, mengeluarkan ember ketika hujan.

Sanggam tidak merebus air hujan. Ia menyaring air yang tertampung dalam ember itu lalu mengelektrolisis air. Sarjana Teknik alumnus Universitas Katolik Parahyangan, Bandung itu menyimpan air hujan dalam galon air minum kemasan dan tangki-tangki air.

Air itulah yang mereka minum sehari-hari. Rutin konsumsi air hujan terelektrolisis sejak September 2015, Sanggam dan Nur merasakan tubuh lebih bugar.

Penyeimbang asam

Periset elektrolisis Departemen Teknik Kimia Universitas Indonesia, Prof. Dr. Ir. Nelson Laksono, M.T.
Periset elektrolisis Departemen Teknik Kimia Universitas Indonesia, Prof. Dr. Ir. Nelson Laksono, M.T.

Pakar elektrolisis dari Departemen Teknik Kimia Universitas Indonesia, Prof. Dr. Ir. Nelson Saksono M.T., menegaskan air hujan terbukti bermanfaat, terutama bagi tanaman.

“Saat hujan terjadi interaksi molekul air, udara, dan plasma dalam bentuk petir sehingga nitrogen berubah bentuk menjadi unsur terikat,” kata pria berusia 50 tahun itu. Interaksi itu juga menyebabkan terbawanya ion dalam air hujan.

Kadar ion dalam hujan berfluktuasi tergantung kondisi lingkungan, intensitas atau frekuensi petir, serta periode hujan. Namun, Nelson meragukan efektivitas elektrolisis air hujan. TDS rendah menggambarkan minimnya partikel terlarut, termasuk elektrolit (ion penghantar listrik).

Padahal, “Elektrolisis hanya bisa dilakukan pada larutan elektrolit. Air murni hanya mengandung 1 molekul elektrolit per 10 juta molekul,” katanya. Jika menghantar listrik, berarti air itu mengandung elektrolit.

Bagaimana air basa memperbaiki tubuh? Dokter di Denpasar, Bali, dr. Frederik Kosasih, M.Repro, menyatakan bahwa tubuh manusia selalu menghasilkan asam. Buktinya, “Keringat, napas, dan sisa kotoran pun bersifat asam,” kata alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Bali itu.

Untuk menyeimbangkan keasaman itu diperlukan asupan basa. Namun, yang utama semua manusia memerlukan air yang sesuai dengan kandungan air dalam sel tubuh dan organel sel.

Salah satu cirinya, air itu menunjang kehidupan makhluk, termasuk jentik nyamuk. “Air yang cocok untuk hidup jentik nyamuk adalah air yang baik untuk kehidupan,” kata Frederik. Kuncinya adalah memperbaiki, bukan mengobati.

Sejak awal pun Kirjito mengingatkan air basa bukan obat penyembuh. Perbaikan kesehatan adalah reaksi tubuh yang berusaha kembali kepada kondisi normal. Air basa bukan penyembuh, hanya memperbaiki.

Selama ini air hujan, terutama di perkotaan, banyak terbuang menjadi limpasan atau run off. Ahli hidrologi dari Institut Pertanian Bogor, Dr. Ir. Hendrayanto, mengatakan bahwa di perkotaan area yang terbangun mencapai 80%. Area itu tertutup bahan seperti aspal dan beton yang sulit menyerap air.

Memanen air hujan upaya memanfaatkan air langit itu sebelum menjadi limpasan. Panen air hujan sangat murah dan mudah. Sudah begitu air hujan pun berkhasiat.

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *