Lumba-lumba menyeimbangkan rantai makanan dan daur nitrogen.

Lumba-lumba menyeimbangkan rantai makanan dan daur nitrogen.

Berenang berputar berpasangan, melompat, dan “berjalan” dengan ekor hanya 3 dari banyak kemampuan lumba-lumba yang mengejutkan manusia. Hal itu membuat banyak peneliti tergelitik menguji kecerdasan mamalia laut itu. Salah satu peneliti itu adalah Lori Marino PhD, ahli Biologi Perilaku dan Ilmu Saraf di Departemen Psikologi Universitas Emory, Atlanta, Amerika Serikat. Bersama Diana Reiss, rekannya dari Laboratorium Ilmu Kelautan Osborn, New York, ia melakukan pengujian dengan meletakkan cermin di salah satu sudut kolam lumba-lumba—prosedur yang berjuluk tes cermin.

Lori dan Diana merancang 2 kolam pengujian. Kolam pertama berbentuk persegi panjang berukuran 13 m x 18,5 m sedalam 3,05 m dengan 3 dinding kaca. Di salah satu dinding kaca, yang disebut dinding 1, Lori memasang latar gelap sehingga dinding itu memantulkan bayangan.

Ia juga memasang cermin berukuran 41,9 cm x 101,6 cm di dinding seberangnya, yang selanjutnya disebut dinding 6 (lihat Uji Cerdas dengan Cermin). Kolam kedua terbagi 2, bagian oval berukuran 13 m x 21 m sedalam 3,66 m dan bagian bulat berdiameter 8,9 m sedalam 3,05 m. Seluruh dinding kolam kedua tidak memantulkan bayangan. Di bagian bulat Lori memasang cermin berukuran 89 cm x 119,4 cm.

Hewan uji adalah sepasang lumba-lumba hidung botol Tursiops truncatus yang lahir di penangkaran berumur masing-masing 13 tahun dan 17 tahun. Lumba-lumba muda menjadi subjek uji primer. Keduanya telah dibiasakan dengan kolam dengan 3 dinding yang memantulkan bayangan selama 4 tahun sebelum dan selama pengujian. Untuk membuktikan pengenalan bagian tubuh, subjek uji diberi tanda dengan tinta nontoksik di beberapa bagian tubuh, antara lain atas mata kanan, belakang kepala, dan di atas sirip samping.

Subjek uji dilatih untuk diam di satu sisi kolam sebelum diberi perintah untuk bergerak mengitari kolam. Pengujian dilakukan dalam 3 tahap, tanpa tanda, dengan tanda, dan setelah tanda dibersihkan. Lori menyimpulkan, lumba-lumba sangat mengenali diri mereka di cermin, bahkan menggunakan cermin untuk mengamati tanda di bagian tubuh yang sulit terlihat tanpa cermin.

Baca juga:  Datang, Kontes, dan Menang

Pembuktian lain kecerdasan lumba-lumba dilakukan oleh Dianne Cameron, manajer mamalia laut di taman satwa Six Flags Discovery Kingdom, Sacramento, Amerika Serikat. Dianne adalah pengasuh seekor lumba-lumba bernama Liberty yang lahir di sana 25 tahun silam. Untuk menguji kecerdasan Liberty, sang manajer memasukkan bola gelatin yang dapat dikonsumsi ke dalam pipa setengah terbuka yang dirangkai berkelindan sedemikian rupa.
Rangkaian pipa itu hanya mempunyai 1 lubang masuk dan 1 lubang keluar. Tugas Liberty adalah menggiring bola ke lubang keluar sehingga sang hidung botol bisa menikmati gelatin itu. Dalam beberapa menit, ia menyelesaikan tugasnya tanpa kesulitan.

Dalam Dolphin Intelligence Explained yang diterbitkan oleh laman maya Discovery News, Lori Marino menyatakan perbandingan otak lumba-lumba dan ukuran tubuhnya 5 kali lebih besar ketimbang hewan lain dengan ukuran sama. Itu lebih kecil ketimbang perbandingan otak dan tubuh manusia, yang 7 kali lebih besar ketimbang makhluk lain berukuran sama. Lori menduga bahwa otak besar itu berguna untuk mengendalikan echolokasi, yaitu kemampuan lumba-lumba mengenali lingkungan sekitar menggunakan gelombang suara.

Riset Gregory Berns MD PhD, kolega Lori di Universitas Emory, membuktikan bahwa otak lumba-lumba memiliki 2 bagian yang berhubungan dengan sistem pendengaran. Itu mirip dengan struktur pendengaran pada kelelawar, yang sama-sama mengandalkan echolokasi untuk “melihat” lingkungannya. Mamalia lain hanya memiliki 1 bagian otak yang berhubungan dengan sistem pendengaran. Itu sebabnya kegiatan manusia yang menggunakan suara dengan intensitas tinggi seperti pengeboran minyak lepas pantai atau aktivitas militer berpotensi mencederai, bahkan membunuh lumba-lumba.

Menurut peneliti lumba-lumba di Loka Pengembangan Kompetensi Sumber Daya Manusia Oseanografi Pulau Pari, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Sekar Mira Cahyopeni MAppSc, kasus lumba-lumba terdampar akibat kesalahan navigasi yang dipicu oleh kebisingan laut semakin sering tercatat. “Jika terjadi di pantai yang berpenghuni, penyelamatan bisa segera dilakukan. Tapi kalau terdampar di pantai yang terpencil, kecil kemungkinan mereka selamat,” kata alumnus Jurusan Biologi Kelautan Universitas James Cook Australia itu.

Perahu nelayan kerap diikuti lumba-lumba yang mengharapkan makanan gratis.

Perahu nelayan kerap diikuti lumba-lumba yang mengharapkan makanan gratis.

Sudah begitu, beberapa pihak sengaja menangkap lumba-lumba untuk dijadikan hewan atraksi atau sekadar peliharaan. “Pemeliharaannya sering asal-asalan, entah ukuran kolam terlalu kecil, pemberian makan tidak mencukupi, kolam hanya berisi air tawar yang diberi garam, bahkan ada yang memelihara lumba-lumba di kolam renang yang airnya berklorin,” ungkap Sekar Mira.

Baca juga:  Adenium Tumpuk Baru

Ia mengingatkan, lumba-lumba termasuk hewan yang dilindungi oleh undang-undang. Upaya penangkaran untuk tujuan penelitian hanya boleh dilakukan lembaga yang berkepentingan dan mempunyai personil terlatih untuk merawat makhluk cerdas itu. Di lautan, si hidung botol itu memegang peranan penting sebagai penyeimbang rantai makanan dan daur nitrogen.

Tanpa lumba-lumba, populasi ikan tertentu bakal melebihi daya dukung sehingga merusak keseimbangan alam. Itu sebabnya daerah yang menjadi habitat lumba-lumba seperti Teluk Kiluan sebaiknya menjadi cagar alam agar tetap lestari. Lumba-lumba lestari, manusia pun sejahtera. (Argohartono Arie Raharjo)

Uji Cerdas dengan Cermin

549_ 107-3

 

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d