Warga Srumbung, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Sudarlis, rutin menampung air hujan dan mengolahnya dengan elektrolisis selama 8—12 jam. Proses itu menghasilkan dua jenis air, yakni air basa dengan pH di atas 7 dan air asam (pH kurang dari 4). Ia dan anggota keluarga mengonsumsi air basa sebagai air minum. Lantas untuk apa air asam? Sudarlis, memanfaatkan air asam untuk mencuci muka, membasuh luka, atau berkumur ketika sariawan maupun sakit gigi.

Trubus Edisi Juli 2018 Highrest.pdf
Kegunaan lain, untuk menyiram tanaman, salah satunya pisang kepok. Menurut Sudarlis setelah rutin menyiramkan air asam, buah dan jantung pisang lebih besar daripada biasanya. Arsitek di Cinere, Depok, Ir Sanggam Sibarani, memanfaatkan air asam untuk membasuh kaki. Menurut Sanggam setelah seharian terbungkus sepatu kerja, kaki terasa pegal, sementara kulit kaki terasa lembap dan kaku. Ia menuangkan air asam dalam ember kecil lalu merendam kedua kaki di dalamnya.

“Kotoran yang menyelip di sela kuku mudah keluar,” kata Sanggam. Ia juga mengandalkan air asam untuk membasuh luka ringan. Luka cepat sembuh sehingga ia nyaris tidak pernah membeli obat luka. Pegiat air hujan di Muntilan, Magelang, Jawa Tengah, Vincentius Kirjito, selangkah lebih maju. Air asam ia masukkan ke dalam botol semprot berkapasitas sekitar 100 ml. Botol kecil itu menjadi bawaan wajib ketika bepergian. Begitu wajahnya terasa lengket atau berminyak, ia menyemprotkan air itu dan membiarkannya menetes lalu mengering sendiri.

Tidak melulu untuk tubuh, air asam juga efektif sebagai pembersih. Seorang konsumen air hujan terelektrolisis, Fransisca Budiati, menggunakan air asam untuk mengepel, sedangkan suaminya memanfaatkan sebagai pembersih jendela rumah dan mobil. Pengguna lain, Widasari, melarutkan detergen dalam air asam untuk mencuci pakaian. (Argohartono Arie Raharjo)

Baca juga:  Kista Tumor Jinak

Tags: air asam, air basa, air hujan, hujan, langganan trubus, majalah trubus, penelitian, trubus

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d