Euphorbia labatii berdaun merah kecokelatan.

Euphorbia labatii berdaun merah kecokelatan.

Euphorbia tanpa bunga tetap elok. Berdaun eksotis dan bersosok unik.

Para pehobi gandrung Euphorbia milii karena sosok bunga nan elok. Mereka menyematkan julukan bunga delapan dewa. Kini incaran para pehobi justru euphorbia berdaun elok, meski tanpa bunga. Lihat saja sosok Euphorbia labatii berdaun merah amat sedap dipandang mata. Kolektor kaktus dan sukulen di Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur, Sugita Wijaya, mendatangkannya pada 2012.

Lazimnya daun tanaman endemik Provinsi Atsiranana, Madagaskar, itu bertepi keriting dengan tulang berwarna putih. Adapun warna daun ada dua yakni hijau di bagian atas dan merah di bagian bawah. Tanaman yang dideskripsikan oleh Werner Rauh dan Martine Bardot-Vaucoulon pada 1999 itu tumbuh di tanah-tanah porous dan kawasan bersinar matahari terik.

Varian labatii berurat tebal.

Varian labatii berurat tebal.

Corak aduhai
Sugita kepincut labatii berdaun merah yang tergolong langka. Ia pertama kali mendatangkan 2 varian labatii merah dari Madagaskar. Tanaman pertama berpenampilan sangat elok. Bonggol tanaman bulat penuh, berwarna cokelat muda, dan bertekstur agak kasar. Sebanyak 5 daun berbentuk oval dengan warna merah menyala muncul di ujung cabang.

Bercak kecokelatan tampak menghiasi permukaan atas daun. Tulang dan urat daun yang tipis semakin mempertegas corak. Tanaman kedua pun tak kalah rupawan. Bonggol berbentuk mirip guci, berwarna cokelat, dan bertekstur sangat kasar. Susunan daun terletak di 2 percabangan. Setiap helai daun berwarna merah hati. Begitu pula tulang dan urat daun yang agak menonjol ke permukaan.

Bila dibandingkan dengan tanaman pertama, ukuran daun tanaman kedua lebih pendek, berbentuk oval, dan mengilap. Daun eksotis dan bentuk yang unik seperti itu membuat Sugita ketagihan mengoleksi labatii berdaun merah. Pada 2014 pria yang berprofesi sebagai arsitek itu mendatangkan varian dari Jepang. Sosok tanaman sangat spesial sebab berdaun hitam.

Labatii berdaun hitam.

Labatii berdaun hitam.

Adapun tangkai dan tulang daun merah terang. Sementara bentuk daun lonjong dan berpermukaan halus. “Saya belum pernah menjumpai labatii bertulang daun merah,” ujar Sugita. Setahun kemudian, Sugita mendapat informasi dari seorang kawan bahwa ditemukan varian baru labatii berdaun merah di Madagaskar. Ia bergegas membeli dua varian labatii dari negara kepulauan di sisi timur benua Afrika itu.

Baca juga:  Penjernih Suara Walet

Daun varian pertama berbentuk elips. Komposisi warna daun apik, yakni merah marun dan merah terang. Merah marun mendominasi nyaris seluruh permukaan daun. Sementara merah terang terdapat di sekitar tulang daun. Adapun varian kedua lebih istimewa. Bentuk daun cenderung membundar. Warna merah pekat menyelimuti seluruh permukaan daun.

Yang menarik, terdapat bercak-bercak burgundi di setiap urat daun. Beberapa bulan berikutnya, Sugita kembali mendatangkan varian baru. Kali ini ia mendatangkan labatii berdaun seronok dari Amerika Serikat. Salah satu yang paling unik adalah labatii berdaun keunguan dengan corak merah terang di sekitar tulang daun.

Euphorbia ambovombensis berdaun mutasi.

Euphorbia ambovombensis berdaun mutasi.

Jenis lain
Sugita menuturkan labatii merah tergolong lambat tumbuh. “Dalam 4 tahun penambahan besar bonggol hanya 3 mm,” ujar Sugita. Seluruh labatii berdaun merah koleksinya rata-rata berdiameter bonggol 1,5—2,5 cm. Artinya umur tanaman sekitar 20—32 tahun. Pria penyuka kuliner itu menuturkan perawatan labatii berdaun merah sama dengan euphorbia lain.

Yang penting, tanam pada media porous dan letakkan di tempat bersinar matahari penuh. Selain labatii Sugita juga mengoleksi E. cremersii ‘curly horn’ dan E.cremersii ‘rainbow’ yang berdaun tak kalah cantik. “Kedua spesies euphorbia itu yang sangat langka,” ujar Sugita. Embel-embel curly horn lantaran memiliki bentuk daun mirip tanduk bertepi keriting.

Euphorbia cremersii ‘rainbow’.

Euphorbia cremersii ‘rainbow’.

Adapun tanaman kedua memiliki perpaduan warna daun lebih atraktif bak pelangi seperti merah, jingga, dan hijau. Dwi Wahyu Setyono, pehobi kaktus dan sukulen di Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, juga mengoleksi euphorbia berdaun menawan. Sebut saja E. ambovombensis yang dideskripsikan oleh Werner Rauh dan A. Razafindratsa pada 1987. “Ambovombensis memiliki beragam tipe dan warna daun,” ujar Dwi.

Baca juga:  Kelola 300 Ha Kebun Jati

Tipe daun ada yang lurus, bergelombang, dan keriting. Sementara warna daun hijau dan merah pucat. Dwi malahan menyimpan dua varian ambovombensis yang bermutasi daun. Keduanya berdaun kecil, sangat tebal, dan berbentuk mangkuk. Sekilas penampilan tanaman berbonggol itu mirip echeveria. “Lazimnya ambovombensis berdaun lanset dan tipis,” ujar Dwi. Ia patut bangga sebab kedua varian ambovombensis mutasi itu lahir dari tangannya.

Ayah dua anak itu menyemai puluhan biji indukan ambovombensis 5 tahun silam. Lantaran pertumbuhan tanaman sangat lambat, ukuran bonggol masing-masing 1,5 cm dan 2 cm. Euphorbia-euphorbia indah itu menjadi tanaman pujaan. Hasrat melihat keelokan euphorbia itu tak kunjung sudah. (Andari Titisari)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d