Etno-Duriologi 1

547_ 61Awal Juni 2015 digelar simposium durian sedunia di Chantaburi, Thailand. Dua bulan sebelumnya ada simposium durian Nusantara di Bogor, Provinsi Jawa Barat. Paling sedikit 160 kepala dari tujuh komponen durian tanahair angkat bicara. Pertama, pekebun durian. Mereka pemilik pohon dan bisa memasok buahnya. Harus diakui, 85% pohon durian ditanam langsung oleh Tuhan, harimau, gajah, dan tumbuh alami di Indonesia.

Adapun budidaya–perkebunan durian baru 15%. Akibatnya ketersediaan durian bagi bangsa Indonesia hanya 3,4 kg per kapita. Jauh di bawah Thailand yang berkisar 25 kg, apalagi Malaysia yang lebih dari 32 kg per kapita per tahun! Jadi, pangsa pasar durian di Indonesia masih terbuka lebar bagi komponen kedua: pebisnis, eksportir, maupun importir durian. Gerai, grosir, dan retail durian ditunggu desa maupun kota.

Penggerak bisnis
Pemangku kepentingan ketiga adalah maniak durian, penggemar durian! Kelompok itu yang paling penting. Mereka melahap durian supertembaga yang dibanderol Rp500.000—Rp800.000 sebuah. Maniak durian penggerak ekonomi durian, wisata durian, teknologi durian, agronomi, agribisnis, dan agroindustri durian. Keempat, peneliti, pengamat, pakar, dan juri durian. Ada perorangan ada juga lembaga-lembaga.

Di antara mereka adalah Panca Jarot Santoso dari Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika dan Mohamad Reza Tirtawinata, pemimpin Yayasan Durian Nusantara. Kelima, regulator: pemerintah yang mengatur, merancang masa depan perniagaan, produksi, bahkan nasib pencinta durian. Mereka petugas kementerian pertanian, pemerintah daerah, aparat negara yang mengurus durian.

Patut dicatat ibukota negeri durian kita bukan Jakarta, tapi Balaikarangan, Provinsi Kalimantan Barat. Konon di pedalaman Kalimantan Barat itu bertakhta pikal, durian super tembaga yang paling lezat di dunia. Komponen keenam adalah penganut kelompok satu sampai lima. Termasuk wartawan yang meliput simposium dan bermacam aktivitas durian. Mereka terbilang konsumen tapi bukan maniak, suka membahas tapi bukan pakar. Suka mendapat gratisan, mungkin pemalu tapi penggembira.

Ketujuh adalah yang tidak tersangkut dengan semuanya, tapi penting dan harus dihormati. Mereka bisa kampanye antidurian dan memasang tanda dilarang bawa durian di mana-mana. Tanpa mereka, dunia tidak berputar sempurna. Dalam simposium durian sedunia, komponen itu membahas psikologi durian, hukum durian, dampak durian terhadap kesehatan.

Ilmu durian
Filsafat beranak Ilmu Alam bercucu Biologi bercicit Botani. Ilmu Tumbuhan (Botani) melahirkan Dendrologi atau Ilmu Pohon. Nah Dendrologi itulah yang melahirkan Duriologi, ilmu tentang durian. Saya hanya ingin menunjukkan salah satu cabangnya, yaitu etno-duriologi. Itu ilmu durian dari kacamata etnologi. Contoh di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, durian dipercayai berfungsi sebagai maskawin.

Baca juga:  Jitu Pilih Kucing Ras

Memang durian mengandung steroid (beta sitosterol, campesterol, stigmasterol). Pemberian ekstrak durian pada tikus menggairahkan perilaku seksual. “Bahkan tikus jantan menjadi lebih mesra kepada tikus betina,” kata Lutfi Bansir dari Pusat Penelitian Durian di Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur. Secara ilmiah, durian adalah buah untuk menggelorakan cinta.

Perlu dicatat, kebanyakan pakar ilmu durian kita berlatar-belakang doktor dalam Ilmu Botani, khususnya perkebunan, kehutanan, dan pertanian. Supaya pembahasan berimbang, kita tarik ilmu durian ke dalam Ilmu Pengetahuan Budaya. Dalam hal ini Etnologi, sebagai anak dari Antropologi, cucunya Sastra, dan cicitnya Filsafat. Tugas utama duriologi baik sebagai durio-etnologi atau durio-etnografi adalah memaknai durian sebagai konsumsi batin, santapan rohani yang abadi.

Etnologi dan etnografi durian adalah upaya terus-menerus untuk menggali inspirasi dan menemukan jasa-jasa durian. Dalam dendro-duriologi dikenal sembilan langkah budidaya durian. Langkah pertama penyediaan lahan yang tepat. Kedua, pengadaan dan pemilihan bibit yang bagus dan cocok. Langkah ketiga, penanaman dengan pucuk daun menghadap ke barat.

Langkah ke-4 sampai 7 adalah pemeliharaan, pemupukan, penjarangan bunga, sampai panen. Di setiap langkah ada aturan dan kiat sukses yang bisa diikuti. Langkah ke-8 adalah pascapanen termasuk transportasi, distribusi, dan pengolahan produk.

Langkah ke-9 adalah pemulihan kesehatan pohon dan lahan, kuratif. Perhatian intens diperlukan pada fase itu, bagaikan seorang ibu yang baru melahirkan. Simposium durian internasional maupun nasional mengalokasikan diskusi yang ketat pada sumber genetik dan bioteknologi. Bagi yang memperjuangkan durian sebagai basis karya seni harus bersabar. Kita belum membahas apalagi menggalang kekuatan melalui falsafah dan seni berbasis durian.

Politik durian
Presiden pertama RI, Bung Karno, merintis diplomasi durian. Ia mengirim durian sampai ke negara-negara di Eropa seperti Rusia dan Afrika. Presiden Abdurahman Wahid melahirkan falsafah dan menumbuhkan paham “Gus Durian”. Boleh tajam, keras, dan kuat di luar tapi lembut, harum dan penuh kasih di dalam. Sekarang, para pejuang dan diplomat durian yakin, Indonesia akan kembali berkibar berkat durian pelangi dan durian merah.

Baca juga:  Vanda Jiran Elok Nian

Strategi nasional dan internasional kita adalah menonjolkan durian lokal. Maklum saja, baik monthong maupun chanee, bahkan durian kanyao yang harga sebuah mencapai Rp3,8-juta pun sudah dapat ditanam di sini.
Untuk itu setiap bupati diharap melindungi pohon-pohon indukan. Jangan sampai pohon unik, dengan rasa buah yang khas ditebang begitu saja untuk dijadikan bangunan. Kalau sudah sangat tinggi dan besar, sebaiknya dipasangi penangkal petir. Tragedi durian petruk yang tewas tersambar pada 2014 lalu harus dicegah.

Sudah jelas bahwa durian adalah pohon pusaka yang bisa membuat rakyat makmur dan bahagia. Namun, perlakuan terhadap mereka– sejak ratusan tahun, belum memadai. Buah durian terpahat dalam relief candi Borobudur maupun Prambanan. Kalau komunitas pencinta durian di kota mengirim penangkal petir untuk pohon-pohon pilihan, kekayaan alam ini bisa diselamatkan.

Eka Budianta

Eka Budianta

Resep durian
Langkah lain adalah memperbanyak, menjaga keberlanjutan varietas durian yang dibanggakan. Setiap suku, bahkan hampir setiap desa punya nama khusus untuk pohon dan produk kebanggaan. Inilah modal awal etno-duriologi yang didambakan. Sekarang, festival durian sudah meluas dan menjadi mode di banyak daerah. Wonosalam di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, terkenal dengan “seni berebut durian”.

Ada trik khusus untuk berebut dengan aman. Misalnya dengan memakai helm (penutup kepala), sepatu dan sarung tangan khusus. Aneka ritual, seni menikmati, dan resep mengolah durian juga semakin marak. Kita mendapat pancake durian, es krim durian, pizza durian, mooncake durian, dan smoothie durian. Belum lagi resep-resep tradisional durian-ketan, durian ikan patin, durian sambal petai, sup durian, dan tempoyak durian.

Rekayasa bioteknologi penting untuk mendongkrak kualitas fisik dan manfaat duniawi. Adapun etno-duriologi menawarkan nilai-nilai seni, spiritual, yang memperkaya hidup. Ada durio-linguistik, ilmu bahasa berbasis durian. Contoh upacara memecah durian pemeo untuk pengantin baru. Pepatah mendapat durian runtuh, durian jatuh sarung naik, bagai durian dengan mentimun, dan banyak lagi.

Lagu, tari, lukisan, film, dan fotografi durian pun masih bisa dinikmati oleh orang yang tidak tahan aroma durian. Sampai akhir zaman durian ditakdirkan menjaga perasaan, jiwa dan raga bahkan rekening bank manusia. (Eka Budianta*)

*) Budayawan, pengurus Tirto Utomo Foundation, mitra utama Senior Living @D’Khayangan, kolumnis Trubus sejak 2001.

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *