Erna Witoelar Berkebun di Atap 1
Erna Witoelar mengonsumsi sayuran dari kebun di atap rumah

Erna Witoelar mengonsumsi sayuran dari kebun di atap rumah

Menteri Permukiman dan Pengembangan Wilayah Kabinet Persatuan Nasional, Erna Witoelar, menanam sayuran di atap rumah.

Lazimnya dak rumah panas dan kering lantaran dirancang untuk mengeringkan pakaian. Namun, dak rumah kediaman Erna Anastasia Witoelar justru sejuk penuh tanaman. Lantai dak bukan semen cor kering yang panas, melainkan rumput hijau yang subur menghampar. Berbagai tanaman sayur, antara lain bayam, tomat, terung, dan peria tumbuh subur dan berbuah lebat. Ada juga tanaman herbal seperti sambiloto, pandanwangi, daun dewa, dan pegagan.

Tidak semua bagian kebun atap itu digunakan untuk produksi. Di salah satu sudut, tampak pot-pot dari potongan talang polivinil klorida (PVC) sepanjang 0,5 m. Fungsinya sebagai wadah pembibitan. Semua tanaman yang tumbuh di kebun atap itu berasal dari pembibitan itu. “Kebanyakan sayuran adalah tanaman semusim sehingga harus diganti secara berkala,” kata Erna. Di lahan itu tampak benih cabai yang diangin-anginkan. Setelah kering, biji itu akan ditanam untuk menggantikan tanaman cabai yang mulai layu lantaran terlalu tua.

Di sudut lain tampak kolam berukuran 2,5 m x 4 m sedalam 1 m. Dalam kolam itu terdapat ikan gurami. Untuk pakan, Erna menanam daun alokasia alias senthe di sisi tembok. “Semua untuk memenuhi kebutuhan keluarga,” kata Erna. Semua tanaman di kebun atap seluas kurang lebih 150 m2 itu tumbuh secara organik, tanpa pupuk maupun pestisida kimia. Perempuan kelahiran 67 tahun lalu itu menggunakan kotoran hewan sebagai penyubur. Media tanam untuk tanaman yang tumbuh di pot menggunakan tanah dan arang sekam.

Indonesia hijau

Pot khusus untuk pembibitan tanaman

Pot khusus untuk pembibitan tanaman

Kegemaran menyantap sayuran segar menitis kepada salah satu cucu Erna, Jada Shafiqa Witoelar. Bocah mungil kelahiran November 2008 itu lebih gemar menyantap bayam, sawi, atau kangkung ketimbang makanan​ dari gerai cepat saji. Musababnya, sejak kecil sang cucu kerap melihat neneknya memetik sayuran dari kebun lalu meletakkan di piring makan. “Rasa sayuran segar pascapetik lebih kuat ketimbang barang pasar yang sudah melalui berbagai proses. Itu yang membuat anak-anak suka,” kata perempuan kelahiran 6 Februari 1947 itu.

Baca juga:  Kontes Durian Jawara dari Narmada

Erna tidak hanya menanam di atap. Saat memasuki gerbang rumah di Kebayoran Baru itu, beragam tanaman dalam pot tersusun rapi di teras rumah. Di sana ada pegagan, daun dewa, dan bawang merah. Selain untuk menyambut tamu, tanaman di teras memudahkan keluarga mantan Menteri Negara Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar ketika akan mengonsumsi sayuran yang mereka inginkan. “Keluarga saya lebih sering menyantap bahan makanan dari kebun sendiri. Jika tidak ada di kebun, baru membeli,” kata alumnus  Departemen Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung itu.

Salah satu stan SIKIB expo Januari 2014 lalu

Salah satu stan SIKIB expo Januari 2014 lalu

Di setiap sudut rumah 2 tingkat seluas 400 m2 itu terdapat tanaman hijau seperti diffenbachia, zodia, atau sansevieria. Rumah yang dihuni pasangan Erna dan Rahmat Witoelar sejak 1970 itu tidak menggunakan pendingin ruangan. Kolam renang berukuran 3 m x 10 m yang memisahkan ruang makan dan musala mempertahankan kesejukan udara dalam rumah. Tepi kolam itu tidak dibiarkan kosong: Erna menanam tanaman hias tahan naungan seperti sansevieria atau aglaonema.

Erna tidak bergerak sendirian. Gerakan menghijaukan lahan ia tularkan kepada para tetangga dan masyarakat. Kebun pembibitan di dak rumahnya kerap menjadi tempat praktik ibu-ibu tetangga di sekitar kediaman Erna. Tidak berhenti di sana, Ibu 3 anak itu menyebarkan pesan menghijaukan lingkungan rumah tangga melalui program Indonesia Hijau Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu (SIKIB). Erna melibatkan anggota PKK lantaran program Indonesia Hijau sejalan dengan program tanaman obat keluarga PKK.

Melalui SIKIB, Pendiri Wahana Lingkungan Hidup Indonesia, Walhi, itu menggandeng Kementerian Pertanian, Badan Pengembangan Teknologi Pertanian (BPTP), dan PT Unilever Indonesia dalam program kawasan rumah pangan lestari (KRPL) di setiap kabupaten dan kota. “SIKIB menggandeng BPTP untuk membantu penyediaan benih tanaman di daerah,” kata anggota dewan pengurus Lembaga Keanekaragaman Hayati (Kehati) itu.

Tanaman peria di salah satu sudut kebun atap

Tanaman peria di salah satu sudut kebun atap

Komersial

Baca juga:  Sekam Tingkatkan Produksi

KRPL bertujuan meningkatkan asupan gizi masyarakat melalui lingkungan terkecil, yaitu rumahtangga. Menurut Erna, saat ini KRPL fokus di pelatihan pelatih dan memberikan insentif berupa benih dan bibit. Para pelatih itulah yang akan mengajari masyarakat untuk menanam sayuran bernilai komersial di lahan mereka, sesempit apapun lahan tersisa. “Masyarakat dilatih untuk memilih komoditas berharga tinggi di pasar sehingga membantu perekonomian,” kata Erna.

Aktivitas Erna di SIKIB hanya salah satu bentuk kepeduliannya terhadap lingkungan dan masyarakat. Berbeda dengan kebanyakan perempuan kelas atas yang lebih suka menganut gaya hidup sosialita, Erna lebih senang mengisi waktu senggang dengan berorganisasi dan menanam. “Melalui hobi menanam, masyarakat bisa mengurangi ketergantungan terhadap pasokan pasar,” tutur mantan dutabesar khusus Perserikatan Bangsa Bangsa Bidang Pembangunan Milenium di Asia Pasifik itu.

Sejak dibentuk pascatsunami Aceh pada 2004, SIKIB bersama Erna telah menanam lebih dari 200-juta pohon di seluruh tanahair. Erna juga mengubah seremoni penanaman di birokrasi. Biasanya seremoni penanaman hanya dilakukan seorang pejabat tinggi. Sejak 2004, Erna mengubahnya menjadi program tanam massal dan pelihara pohon. Gerakan penghijauan, yang biasanya hanya fokus kepada tanaman keras, ia perluas dengan tanaman pangan. Semua demi Indonesia hijau yang dimulai dari lingkungan rumahtangga. (Argohartono Arie Raharjo)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *