Empati untuk Felis Jalanan 1
Kucing jalanan yang sehat dan terawat

Kucing jalanan yang sehat dan terawat

Sosok kucing di kolong lapak yang lembap itu jauh dari menarik. Bulu hitam kucing itu kusut dan kusam. Tatapannya nanar. Saat mencoba berjalan, ia tersungkur lantaran tidak mampu mengendalikan gerakan keempat kakinya. Pertumbuhannya terhambat dan tubuhnya menjadi lebih kecil ketimbang kedua saudaranya. Diam-diam dr Sri Hardojo MSc mengamati tingkah laku kucing di sebuah pasar tradisional di Kota Surakarta, Jawa Tengah, itu.

Dosen berusia 38 tahun di sebuah perguruan tinggi negeri di Jawa Tengah itu mengantarkan sang ibunda berbelanja, di pasar itu. Ia iba menyaksikannya sehingga membawa pulang dan merawat kucing malang itu. “Kalau tidak saya bawa pulang, dia akan mati karena tekanan lingkungan dan kalah bersaing dengan kucing lain,” kata dokter alumnus Universitas Sebelas Maret, Surakarta, itu.  Setelah tiba di rumah di bilangan Gladak, Surakarta, Jawa Tengah, Sri Hardojo lantas memandikan satwa malang dan memberikan pakan. Lambat-laun kondisi kesehatan Wulung—begitu ia memberi nama—pun membaik. Dalam bahasa Jawa wulung berarti hitam.

Sulung dua bersaudara itu. memang berasal dari keluarga pencinta binatang. Meski kerap berpindah rumah lantaran orangtuanya belum memiliki rumah sampai ia lulus kuliah, keluarga Sri selalu memelihara kucing atau anjing. Belakangan, mereka tidak lagi memelihara anjing lantaran tetangga kerap memrotes. Kini, Sri memelihara 14 kucing lokal di kediamannya. Setiap hari ia juga merawat dan memberi pakan beberapa kucing yang hanya muncul di rumahnya  pada jam tertentu.

Tya Ariestya: Hobi kucing menjadi bisnis

Tya Ariestya: Hobi kucing menjadi bisnis

Pada saat jam makan itu setidaknya enam kucing berdatangan. “Jam makan” kucing-kucing liar itu pada pagi dan sore hari. Dengan demikian ia merawat 20 kucing. Pria kelahiran 3 Mei 1976  itu menyimpan kisah penemuan kucing jalanan itu. Selain Wulung, ia pernah menyelamatkan kucing di sebuah jalanan dekat kampus tempat ia mengajar. Selama beberapa hari ia memang mengamati perilaku kucing itu. Keesokan hari ia mempersiapkan kandang jinjing untuk mengangkut kucing berbulu cokelat bergaris putih itu ke rumahnya.

Sri Hardojo tekun merawat kucing-kucingnya. Ia memandikan, mengeringkan dengan handuk, lalu menyisir satu per satu Felis silvestris catus peliharaannya setiap akhir pekan. Penggemar makanan pedas itu lantas membedaki kucing-kucing lokal koleksinya. Kegiatan itu baru rampung selewat tengah hari. Praktis perawatan kucing menyita waktu antara sarapan dan makan siang. Jika ada yang mendadak sakit, sepulang kerja ia mesti memeriksakan ke dokter hewan.

Nun di Bandung, Jawa Barat, ada Suri Galuh Ajeng yang merawat 8 kucing lokal. Seperti Hardojo, Suri juga mudah iba melihat kucing telantar di jalanan. Perempuan 36 tahun itu pernah menyelamatkan kucing sakit di tepian jalan pada Desember 2013. Perut kucing berbulu putih itu mengeluarkan cairan sehingga Suri bergegas membawanya ke dokter hewan. Desi—nama kucing itu—sempat bertahan hingga 7 hari sebelum akhirnya meregang nyawa. Suri mengafani satwa malang itu dan menguburkan di belakang rumahnya.

Kucing menjadi hewan klangenan sejak zaman Mesir kuno

Kucing menjadi hewan klangenan sejak zaman Mesir kuno

Mengapa kucing lokal?  “Selain lincah dan menggemaskan, kucing lokal biasanya bandel terhadap penyakit. Tidak perlu sering-sering ke dokter hewan,” kata Suri. Ibu 2 anak itu bergabung dengan sesama pencinta kucing dalam Bandung Cat Lovers dan kerap mengadakan berbagai acara. Suri dan anggota lain Bandung Cat Lovers rutin berkumpul setiap bulan. Kegiatan mereka beragam, mulai dari sekadar bertukar informasi, mengedukasi masyarakat melalui pameran atau kontes, sampai memberikan vaksin dan sterilisasi murah.

Dua kegiatan terakhir menjadi agenda bulanan Bandung Cat Lovers. Untuk itu mereka bekerja sama dengan dua klinik hewan di Bandung. “Murah karena dokter bekerja sukarela. Namun, tidak gratis karena vaksin, obat-obatan, dan berbagai bahan lain tetap harus dibeli,” kata Lukman Suprapto, rekan Suri di Bandung Cat Lovers. Sebagai gambaran, biaya “normal” sterilisasi kucing betina di Bandung minimal Rp250.000.  Angka itu bakal bertambah kalau kucing mesti opname di klinik.

Baca juga:  Nangkadak Masuk Swalayan

Dalam program sterilisasi murah yang digelar Bandung Cat Lovers, pemilik cukup membayar Rp170.000 untuk mensterilkan klangenan mereka. Seperti Suri, Sri Hardojo juga mensterilkan kucing peliharaannya yang berkelamin betina. Tujuannya agar kucing tak berkembang biak. Ia tidak segan merogoh kocek Rp300.000 per ekor untuk sterilisasi kucing. “Sterilisasi mutlak agar jumlah kucing liar tidak semakin banyak,” kata perempuan kelahiran 3 Mei 1976 itu. Maklum, merawat kucing cukup menyita waktu. Jika jumlah kucing peliharaannya bertambah, Sri jelas kewalahan.

Kucing lokal lebih tahan penyakit

Kucing lokal lebih tahan penyakit

Sterilisasi juga memperkecil peluang lahirnya kucing-kucing cacat atau telantar seperti yang Sri pungut dari pasar beberapa tahun silam. Itu sebabnya Garda Satwa, komunitas pencinta binatang di Jakarta, juga menjadikan sterilisasi sebagai salah satu agenda rutin. Dengan melibatkan 2—3 dokter hewan, setiap 2 pekan mereka mensterilkan 5—7 kucing. Di negara maju, pengendalian populasi kucing dengan sterilisasi kucing liar. “Istilahnya TNR (trap, neuter, return, red) tangkap, mandulkan, lalu lepas kembali,” kata dr Susana Somali SpPK, spesialis patologi klinik pendiri penampungan hewan Pejaten Shelter di Jakarta Selatan.

Meski demikian tidak serta merta kucing liar yang baru ditangkap, langsung disterilkan. Pejaten Shelter akan merawat dan menyembuhkan semua penyakitnya. Setelah disterilkan, Pejaten Shelter akan melepas mereka kembali . “Tanpa sterilisasi, bisa-bisa terjadi gesekan antara manusia dengan kucing, seperti kelinci di Australia. Semula peliharaan lalu berubah menjadi pengganggu lantaran populasinya tidak terkendali. Bayangkan saja. kucing betina setiap 3 bulan beranak 2—6 ekor. Dalam setahun, minimal seekor betina melahirkan 8 anak,” kata dokter alumnus Universitas Indonesia itu.

Edukasi masyarakat menjadi kegiatan rutin bulanan Bandung Cat Lovers

Edukasi masyarakat menjadi kegiatan rutin bulanan Bandung Cat Lovers

Menurut drh Slamet Raharjo MP, anggota staf pengajar Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, sterilisasi menjadikan kucing lebih sehat karena tidak mengalami siklus ovulasi. “Makanya kucing menjadi gemuk pascasterilisasi. Sterilisasi juga disukai pemilik kucing rumahan lantaran peliharaan mereka lebih betah di rumah, tidak berkeliaran mencari pasangan atau berkejaran malam hari di atap rumah tetangga,” kata Slamet. Kucing juga terbebas dari penyakit fisiologi maupun infeksi yang berkaitan dengan organ genital.

Garda Satwa melakukan sterilisasi di kampung-kampung. “Jumlah kucing lebih banyak di perkampungan padat karena di sana banyak makanan. Kampung menjadi titik awal pengendalian populasi kucing lokal perkotaan,” kata Davina Veronica, salah satu pendiri Garda Satwa. Kegiatan rutin lain adalah penyelamatan dan pemberian pakan satwa telantar. Mereka juga melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah untuk menumbuhkan simpati terhadap binatang.

Vaksinasi kucing mutlak untuk mencegah penyakit

Vaksinasi kucing mutlak untuk mencegah penyakit

Davina dan Garda Satwa mengutamakan penyelamatan satwa tersiksa, telantar, atau ditinggal pemiliknya.  Untuk itu mereka menjalin kerjasama dengan lembaga peduli satwa lainnya, seperti Jaringan Peduli Satwa Jakarta (JAAN), Penyelamat Satwa dalam Banjir Jakarta (JFAR), atau komunitas lain di Jakarta, Yogyakarta, dan Bali. Mereka memperoleh laporan keberadaan satwa telantar dari sosial media, laporan masyarakat, maupun melihat langsung ketika melakukan pemberian pakan satwa terlantar di jalan.

Setiap bulan mereka melakukan pemberian pakan di lokasi berbeda. Sekali turun ke jalan, Davina menghabiskan berkarung-karung pakan kering. Sekarung berisi 18 kg pakan. Pemeran tokoh Angel dalam film “Lovely Luna” itu tergugah turun ke jalan untuk menyelamatkan satwa lantaran melihat semakin banyak kucing dan anjing telantar. Sejak kecil, Davina terbiasa memelihara satwa. Ia memperlakukan nyawa satwa seperti manusia dan menganggap satwa peliharaan sebagai teman. Artis kelahiran Jakarta 35 tahun lalu itu bahkan sempat bercita-cita menjadi dokter hewan.

Davina Veronica: Pengendalian populasi kucing lokal berawal dari areal perkampungan

Davina Veronica: Pengendalian populasi kucing lokal berawal dari areal perkampungan

Berbeda dengan Davina, Ariestya Noormita Azhar justru menjadikan kecintaan sejak kecil terhadap kucing sebagai bisnis. Bersama sang kekasih, artis yang terkenal dengan nama Tya Ariestya itu mendirikan cattery. Maklum, Tya terbukti bertangan dingin dalam merawat kucing. Kucing koleksinya kerap menjuarai berbagai kontes.

Baca juga:  Bendera Kuning Wereng Hijau

Lain lagi pengalaman Qori Soelaiman, pendiri Yayasan Peduli Kucing. Kegemarannya memelihara kucing sempat mendapat tentangan dari orangtua. “Mereka tidak suka kucing,” ungkap perempuan kelahiran 38 tahun lalu itu. Ia bergeming dan menyempatkan berjalan ke stasiun Klender Baru, Jakarta Timur, untuk memberi makan kucing-kucing liar. Itu ia lakukan rutin sejak setiap hari sejak 2006. Saat ini Qori memelihara 32 kucing lokal yang ia pungut di jalanan. Pada 2010, bersama rekan-rekan sesama pencinta kucing, Qori mendirikan Yayasan Peduli Kucing.

Qori Soelaiman: Membuang satwa peliharaan sama dengan membunuh mereka

Qori Soelaiman: Membuang satwa peliharaan sama dengan membunuh mereka

Yayasan itu fokus merawat kucing tanpa pemilik. Itulah sebabnya Qori mengimbau pemelihara kucing untuk tidak membuang satwa ketika mereka tidak lagi suka. “Komitmen dengan satwa peliharaan berlaku seumur hidup. Jalanan bukan tempat satwa peliharaan, mereka tidak akan mampu bertahan. Artinya membuang satwa peliharaan sama dengan membunuh mereka. Di Indonesia sangat sedikit masyarakat yang ramah satwa. Yayasan Peduli Kucing mungkin menyelamatkan 1.000 kucing, tapi di luar ada ratusan ribu, bahkan jutaan orang yang ingin membuang kucingnya,” kata Qori.

Pernyataan itu bukan tanpa dasar. Setiap hari, laman media sosial Yayasan Peduli Kucing dipenuhi penawaran orang yang ingin melepas kucing peliharaannya. “Setiap hari bisa 20 orang yang menawarkan kucing untuk diadopsi,” kata Qori. Miris melihat kondisi itu, Qori memutuskan bertindak. Lewat yayasannya, ia melakukan kampanye lewat media sosial, melakukan kegiatan amal, sampai masuk-masuk ke SD dan SMP. Pada November 2013, ia meluncurkan buku yang berisi kisah-kisah penyelamatan kucing dari jalanan sampai akhirnya menjadi peliharaan di rumah. Ia mendonasikan keuntungan dari penjualan buku itu untuk menyelamatkan lebih banyak kucing.

Bandung Cat Lovers rutin mengadakan bakti sosial bekerja sama dengan dokter hewan dan klinik

Bandung Cat Lovers rutin mengadakan bakti sosial bekerja sama dengan dokter hewan dan klinik

Menyelamatkan satwa telantar bukan sekadar hobi, tetapi menjadi panggilan hidup. Itu yang dirasakan Susana. Saat membuka Pejaten Shelter di Pejaten, Jakarta Selatan, ia bertujuan membuat persinggahan untuk anjing liar sebelum memperoleh pengadopsi. Seiring perjalanan waktu, tempat itu justru menjadi penampungan lantaran banyak orang yang membawa satwa telantar, termasuk kucing, untuk dirawat.

Pejaten Shelter menyediakan kandang besar berukuran 5 m x 6 m setinggi 3 m untuk merawat 60 kucing. Kebanyakan kucing cacat: berkaki 3, juling, sampai lumpuh setengah tubuh akibat ditabrak mobil. Paling banyak kucing lokal, mencapai 58 ekor, sisanya kucing ras. Susana memang fokus merawat kucing-kucing yang tidak akan mampu bertahan tanpa bantuan manusia. “Kucing lebih baik dibiarkan bebas lantaran masyarakat lebih mudah menerima kucing ketimbang anjing,” kata Susana.

Kucing telantar menarik simpati para penyayang binatang lantaran satwa-satwa itu rentan perlakuan kasar dari manusia maupun satwa lain. Jalan raya pun turut menjadi pembunuh tanpa perasaan, Menurut Iman Budhi Santosa, budayawan di Yogyakarta, terjadi degradasi nilai dalam masyarakat sekarang. “Dahulu orang naik mobil kalau menabrak kucing sampai mati pasti menyempatkan berhenti untuk menguburkan. Mereka takut kualat. Namun sekarang, menabrak orang juga tidak berhenti,” tutur Iman. Kucing mempunyai sejarah panjang sejak masa Mesir kuno sebagai hewan klangenan. Semestinya satwa itu tidak dibiarkan telantar di kolong lapak pasar tradisional. (Argohartono Arie Raharjo/Peliput: Kiki Rizkika, Lutfi Kurniawan, Riefza Febriansyah, dan Rizky Fadhilah)

532_87-8

  1. Tangkap kucing liar tanpa menyakiti dengan melibatkan unsur masyarakat
  2. Sehatkan, sembuhkan penyakit, vaksinasi, lalu sterilkan
  3. Lepaskan kembali ke tempat kucing ditangkap. Lakukan pemberian pakan rutin untuk menjamin hidupnya

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *